
Mendengar suara mobil yang di tumpangi Bagas, Alea segera keluar untuk menyambut suaminya yang hari ini pulang terlambat dan cukup larut Malam. Bagas sudah mengabarinya untuk tidak menunggu, sepuluh hari tidak masuk kerja banyak pekerjaan tertunda yang harus suaminya selesaikan. Meskipun Alea mengiyakan ucapan Bagas, tapi dia tetap saja menunggu suaminya pulang.
"Kenapa belum tidur sayang?" tanya Bagas begitu melihat Alea yang menyambutnya di teras.
"Belum mengantuk." jawab Alea berbohong. Padahal sejak tadi berapa kali saja matanya terpejam di ruang keluarga meskipun menyalakan televisi untuk menemaninya.
Bagas merangkul Alea setelah istrinya itu mencium punggung tangannya yang dibalas Bagas dengan mencium kening Alea.
"Bagaimana kunjungan kamu ke Global Pratama, sayang?" tanya Bagas sambil mereka berjalan masuk kedalam rumah.
"Kak Riki mengakui dia memesan cincin untuk melamar seseorang, tapi Kakak masih merahasiakan siapa wanita yang akan dilamarnya." ucap Alea menjawab pertanyaan Bagas.
"Tadi Lea juga bertemu Leoni di sana." lanjut Alea memberitahu Bagas.
"Leoni putri tante Meta? untuk apa?" tanya Bagas sambil menghentikan langkahnya, menatap Alea untuk meyakinkan pertanyaannya.
Alea tersenyum melihat suaminya yang kepo. " Iya Leoni sepupu kamu, Bee. Dia datang untuk menemui Kak Riki."
Bagas mengerutkan keningnya, "Sejak kapan mereka dekat?" tanya Bagas.
"Mereka dekat dari kecil. Kak Riki dan Leoni tinggal sama-sama di panti asuhan." jawab Alea menjelaskan sambil merangkul lengan suaminya, untuk kembali berjalan menuju kamar pribadi mereka.
"Menurut kamu, apa Leoni yang akan dilamar Riki?" tanya Bagas menebak seperti yang Alea pikirkan.
"Sepertinya begitu, kita lihat saja nanti, Bee." Bagas tersenyum sambil mengangguk.
"Kakak mandi dulu sayang." ucap Bagas begitu sudah di dalam kamar. Seperti biasa dia akan mencuri cium dengan mengecup bibir istrinya.
Alea hanya bisa tersenyum sambil menyiapkan pakaian ganti untuk Bagas, dia sudah tidak lagi terkejut bahkan sudah hapal kebiasaan suaminya. Menunggu Bagas selesai mandi, Alea memainkan ponselnya sambil duduk di sofa. Alea kembali membaca pesan yang dia terima dan dia kirim pada Reina.
Reina : [Ante udah pulang dari paris, oleh-oleh untuk si kembar mana?]. Reina mengirim pesan menagih oleh-oleh dari Alea.
Alea : [Double R yang ke rumah Ante dong] balas Alea meminta kedua keponakanya untuk datang.
Alea sudah meminta pada Bagas untuk menyiapkan satu kamar khusus untuk Rio dan Ria saat menginap di kediaman mereka.
Alea : send picture [Kalian berdua harus menginap di rumah Ante, Ante udah siapin kamar untuk kalian berdua] jelas Alea pada foto yang dia kirim, foto kamar tidur untuk si kembar Ria dan Rio.
Alea tersenyum saat Reina mengirimkan video si kembar yang loncat kegirangan karena di minta Alea menginap.
"Ante aku mau." ucap Rio yang juga diikuti Ria.
"Syukurlah sayang, mereka suka kita siapkan kamar untuk mereka." ucap Bagas begitu tahu Alea tersenyum mendengar suara si kembar.
__ADS_1
"Iya Bee." jawab Alea melihat kearah Bagas yang ikut duduk di sofa yang ada di kamar mereka.
"Ayo tidur, besok kamu sudah mulai bekerja, sayang." ajak dan ucap Bagas.
Sebenarnya Bagas ingin Alea dirumah saja, tidak perlu bekerja karena sebagai suami dia mampu mencukupi semua kebutuhan Alea. Tapi oma Sundari mengingatkan Bagas untuk tidak mengekang Alea.
"Alea itu wanita yang biasa mandiri, dia pintar, cerdas dan juga enerjik. Jika kamu melarangnya melakukan sesuatu, itu akan membuat dia seperti orang yang tidak berguna." ucap oma Sundari yang akhirnya membuat Bagas mengijinkan Alea tetap bekerja.
"Iya Bee." jawab Alea tersenyum senang.
Alea akan memulai pekerjaan baru di Buana Group. Oma Sundari memberikan pekerjaan sesuai dengan bidang yang Alea kuasai. Jika dulu dia yang merancang, ditempat yang baru dia yang akan menilai hasil rancangan dari setiap kantor cabang.
"Semoga Lea tidak mengecewakan oma." ucap Alea.
"Oma tidak pernah menempatkan karyawannya ditempat yang salah." jawab Bagas.
Hari pertama Alea berada ditempat kerja yang baru, karyawan disini cukup menghormatinya. Alea tahu, bukan karena dirinya, tapi siapa sosok yang ada di sampingnya lah yang membuat karyawan menghormatinya.
Bagas mengantar Alea ke ruang kerja istrinya itu. Sudah ada Leoni yang akan jadi sekertaris Alea dan David sebagai asisten Alea.
"Ini ruangan anda, Bu Alea." ucap David membukakan pintu untuk Alea.
"Terimakasih Pak David." jawab Alea lalu memindai seluruh ruangan.
"Ini lebih dari cukup Bee." jawab Alea. Bahkan terlalu besar dan mewah menurutnya.
"Baiklah Bu Alea, jika anda ingin menghadap pimpinan, anda bisa langsung keatas ke ruangan saya." ucap Bagas menggoda Alea dengan ucapan formal
"Baik Bapak pimpinan, terimakasih informasinya." balas Alea membuat Bagas mengingat saat mereka bertemu pertama kali di kantor cabang.
"Bilang aja klo Abang minta Lea sering-sering ke ruangan Abang." sahut Leoni.
"Leo." tegur Bagas.
Leoni menyengir kuda, "Maaf lupa." jawabnya. Ini kantor, mereka harus tetap saling menghormati antara atasan dan bawahan, biarpun mereka ada hubungan saudara.
"Selamat bekerja." ucap Bagas lalu meninggalkan ruangan Alea.
Menjelang istirahat siang, Alea naik ke lantai atas dimana ruangan Bagas berada. Suaminya yang meminta Alea untuk datang ke ruangannya. Alea selalu tersenyum setiap berpapasan dengan karyawan yang lain, belum banyak yang mengenal siapa Alea, sehingga mereka menganggap Alea hanya karyawan biasa.
Keluar dari lift, Alea langsung menuju ruangan Bagas, Leoni yang memberitahunya dimana ruangan Bagas berada.
"Mau kenana?" tanya seseorang mengejutkan Alea.
__ADS_1
"Saya mau ke ruangan Pak Bagas." jawab Alea.
"Sudah ada janji?" tanya wanita itu, yang Alea yakini jika wanita itu adalah sekertaris Bagas. Leoni juga sudah memberitahu Alea sosok sekertaris Bagas seperti apa.
Belum sempat Alea menjawab wanita itu kembali bicara.
"Ini perusahaan besar, anda pegawai biasa tidak bisa begitu saja menemui pimpinan jika tidak dipanggil atau sudah membuat janji." ucap wanita itu dengan wajah sombongnya.
"Saya tadi diminta datang oleh pak Bagas." jawab Alea.
"Jangan mengada-ada, memangnya kamu siapa? Semua karyawan yang dipanggil oleh Pak Bagas itu melalui saya, sekertaris pak Bagas dan juga kerabat keluarga Buana." ucap Wanita itu dengan sombongnya membanggakan dirinya sebagai sekertaris pimpinan dan juga memiliki hubungan kerabat.
Alea tidak menjawab, dia hanya tersenyum tipis. Alea meragukan ucapan Bagas tentang oma Sundari yang tidak akan salah dalam menempatkan karyawannya di perusahaan ini.
"Atau mungkin dia memang ahli dibidang pekerjaannya, hanya saja etika kesopanannya yang kurang berpendidikan" batin Alea menilai sekertaris suaminya.
"Lea." panggil Haikal begitu melihat menantunya.
Mendengar namanya di panggil oleh orang yang dia kenal Alea balas menyapa.
"Pa." sapa Alea lalu mencium punggung tangan ayah mertuanya.
"Tika, kamu sudah kenal Alea?" tanya Haikal.
"Dia pimpinan baru untuk perusahaan kita di bidang property." jelas Haikal.
"Dia juga istri Bagas." lanjut Haikal memperkenalkan Alea sebagai menantunya.
"Kamu ingin menemui Bagas?" tanya Haikal pada Alea.
"Iya Pa, kak Bagas ngajak Lea makan siang bareng." jawab Alea.
"Kenapa tidak langsung masuk saja. Kamu itu istri Bagas, tidak perlu izin sama Tika." ucap Haikal memberitahu.
"Tidak apa-apa Pa, takut di dalam ada tamu." jawab Alea membela Tika yang menghentikan langkahnya saat akan langsung ke ruangan Bagas.
"Ayo masuk, Papa juga ingin menemui suamimu." ajak dan jelas Haikal.
Alea tersenyum pada Tika dengan sedikit menundukkan kepalanya untuk pamit, membuat Tika terdiam dan hanya bisa melihat punggung Alea dan Haikal yang berjalan masuk ke ruangan Bagas.
...💔💔💔...
...Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya...
__ADS_1