
Satu tahun kemudian.
"Mami Lea." panggil Rio dan Ria bersamaan, kedua anak kembar itu ikut memanggil mami pada Alea sama seperti Adzkiya.
"Sayang-sayang Mami sudah datang, sayang dulu." ucap Alea membalas panggilan kedua keponakannya sambil merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan keduanya. Kebiasaan yang dilakukan Alea sejak dulu bila dia akan bicara dengan anak-anak.
Rio dan Ria segera mencium punggung tangan Alea lalu mencium pipi kanan dan kiri mami mereka. Alea membalasnya dengan mencium pipi dan kening keduanya.
"Mana mama Rei sama papa Deri?" tanya Alea pada kedua anak kembar itu.
"Didepan, sama ante Oni dan om..." Rio tidak melanjutkan ucapannya, dia tidak ingat nama Galang karena tidak begitu mengenal suami dari Leoni itu.
"Om Galang namanya sayang." ucap Alea membantu Rio agar ingat.
"Iya om Galang ya Mi." ucap Rio.
"Adek Kiya mana Mi?" tanya Ria yang bicaranya juga sudah mulai jelas.
"Masih dikamar sama papi Bagas." jawab Alea sambil menunjuk kamarnya.
Kedua anak dari Reina dan Deri itu segera berlalu dari hadapan Alea menuju kamar yang ditunjuk Alea. Selepas kepergian si kembar, Alea berdiri. Belum juga berdiri dengan sempurna, dia dikejutkan oleh Leoni yang berlari diikuti Galang dibelakangnya.
"Leo kenapa, Pung?" tanya Alea pada Galang begitu melihat Leoni masuk ke kamar mandi.
"Masuk angin mungkin, sejak pagi muntah-muntah terus." jawab Galang sambil berjalan mengikuti Leoni.
"Sejak kapan kamu mual-mual?" tanya Alea begitu melihat Leoni keluar dari kamar mandi.
"Baru hari ini, dan nggak pernah gue kayak gini." jawab Leoni.
"Minum obat apa ya baiknya?" tanya Galang.
"Jangan sembarangan minum obat. Tunggu sebentar." jawab Alea.
Alea pergi meninggalkan Leoni dan Galang yang duduk di pantry. Dia ingat masih punya test pack yang dia beli untuk Lisa beberapa waktu yang lalu. Alea berharab semoga saja tebakannya benar.
"Pung, kamu bisa tunggu didepan." ucap Alea mengusir Galang.
"Leo gimana?" tanya Galang Ragu.
__ADS_1
"Udah biar aku yang ngurusin dia, sana kedepan. Sepertinya sudah ada tamu lainnya yang datang." jawab Alea memaksa Galang meninggalkan Leoni.
Hari ini Bagas dan Alea mengundang keluarga, kerabat dan juga para sahabat untuk berkumpul di kediaman mereka. Hanya sebuah syukuran kecil-kecilan yang Alea dan Bagas adakan untuk mengakhiri masa kerja Bagas di Buana Group.
Kemarin adalah hari terakhir Bagas bekerja menjadi pimpinan di Buana group, posisinya sebagai pimpinan Buana Group akan digantikan Alvaro yang dinilai oma Sundari lebih mampu mengantikan Bagas dibandingkan cucu laki-lakinya yang lain.
Bagas sendiri akan menggantikan Adam di Henry company seperti permintaan paman yang juga merangkap sebagai ayah mertuanya setahun yang lalu. Bagas akan memimpin Henry company dua minggu yang akan datang, suami Alea itu sengaja meminta waktu untuk istirahat sejenak. Dia ingin berlibur bersama Alea dan Adzkiya, menikmati waktu bersama keluarga kecilnya.
Sebagai pewaris satu-satunya Bagas tidak akan diributkan dengan masalah perebutan kekuasaan, permasalahan yang paling di benci oleh istrinya. Bagi Alea cukup dia saja yang pernah tersakiti dengan masalah seperti itu, dan berharap jangan sampai terulang pada anak cucunya kelak.
"Nih coba kamu pakai ini" ucap Alea memberikan test pack pada Leoni setelah Galang menghilang.
"Ini..." ucap Leoni tidak percaya melihat pada benda yang diberikan Alea.
"Tau cara pakainya, kan." ucap Alea lagi sambil memberikan mangkuk kecil pada Leoni.
Sekarang Leoni melihat pada Alea yang tersenyum dan mengangguk meyakinkan Leoni untuk mencoba menggunakan alat itu.
"Kamu yakin aku hamil?" tanya Leoni ragu.
"Di tes dahulu, nanti kita akan tahu hasilnya." jawab Alea lalu mendorong Leoni ke kamar mandi.
Alea tersenyum begitu Leoni menunjukkan hasil tes pack yang bergaris dua. Alea menyarankan Leoni untuk periksa kedokter dan juga memberi tahu kabar bahagia ini pada Galang.
"Sekarang kamu tunjukkan hasil ini pada Galang, terus ajak dia ke dokter biar lebih pasti dan jelas." jawab Alea memberi saran.
"Nanti saja aku ingin memberi dia kejutan." jawab Leoni.
Sepuluh bulan sudah mereka menikah, tentu kehadiran anak sangat mereka harapkan. Leoni sempat cemas, takut Galang akan pergi meninggalkannya seperti Radit dulu yang selingkuh karena Alea tidak juga hamil.
"Mama Lea." panggil Zio begitu melihat Alea yang dia anggap seperti ibu kandungnya.
"Hei anak sulung Mama sudah datang, sini sayang." ucap Alea membalas panggilan Zio.
"Mana adik Dini, sayang?" tanya Alea yang tidak melihat keberadaan Dini.
"Zio sama papa Al datangnya" jawab Zio.
"Oh... Zio bobo di rumah mama Paula, ya?" tanya Alea lagi.
__ADS_1
Zio memang belum diberitahu siapa Paula sebenarnya, tapi Radit membebaskan Paula jika ingin bersama Zio bahkan mengizinkan putra mereka itu menginap. Alea senang dengan hubungan yang baik antara keduanya, karena itu juga akan berdampak baik pada Zio saat dia tahu yang sebenarnya.
"Iya." jawab Zio sambil melihat ke kiri dan ke kanan.
"Kamu cari adik Kiya?" tanya Alea yang dijawab dengan anggukan oleh Zio.
"Itu adik Kiya sama papa Bagas, sama Rio dan Ria juga." tunjuk Alea pada empat orang yang baru saja keluar dari kamar.
Zio yang melihat arah telunjuk Alea langsung mendekat. " Dedek Kiya." panggilnya.
Melihat Zio mendekati Bagas, Rio merentangkan tangannya menghalangi Zio. "Kiya adik aku, bukan adik kakak Zio." ucap Rio.
"Wah... sepertinya akan ada persaingan dari dua pria untuk merebut hati tuan putri." ucap Leoni terkekeh melihat pada Bagas yang terlihat mendamaikan Zio dan Rio.
Alea menggelengkan kepala menanggapi ucapan Leoni, "Mereka masih anak-anak Leo." jawab Alea.
Tidak menghiraukan jawaban Alea, Leoni kembali bertanya ."Kamu pilih yang mana saat keduanya dewasa nanti ternyata mencintai Kiya?" tanya Leoni.
"Leo sekarang pikirkan saja kejutan seperti apa yang akan kamu berikan pada Galang." ucap Alea mengalihkan pertanyaan Leoni.
Leoni diam, dia lupa dan belum punya rencana. "Bagaimana nanti saja." jawab Leoni.
Semua keluarga sudah berkumpul, begitu juga para sahabat. Alea tersenyum senang, dia dan Bagas mengadakan acara makan bersama bukan hanya untuk acara syukuran tapi juga mengundang keluarga kerabat serta sahabat untuk mempererat silaturahmi antara mereka. Agar semua bisa berhubungan baik dan melupakan masalah mereka di masa lalu.
Keluarga, kerabat dan para sahabat berbincang akrab satu sama lainya. Para pria berbincang di teras yang menyatu dengan ruang keluarga yang di tempati para wanita membahas kesibukan mereka sehari-hari. Sementara anak-anak memilih dimana saja mereka suka.
Bagas memangku Adzkiya yang bermain bersama Dini. Ada Radit yang menemani Dini duduk disamping Bagas. Sesekali mereka berdua terlihat berbincang, entah apa yang keduanya bicarakan Alea hanya bisa mengucap kata syukur dengan apa yang dia lihat saat ini.
"Mengenal kamu membuat aku bisa melihat pemandangan langka ini, Lea." ucap Paula melihat pada Radit dan Bagas duduk bersebelahan.
"Kamu benar Mbak, ini pemandangan langkah. Tapi akan semakin langkah jika mas Varo juga duduk disana." ucap Alea menanggapi ucapan Paula.
"Sayangnya kita gagal membawa Tika kembali berkumpul dengan keluarga ini." ucap Alea lagi.
"Maaf, aku dan Al tidak berhasil membujuk Tika." jawab Paula.
"Biarkan saja, hidup ini pilihan, dan Tika memilih jalan yang dia inginkan dengan hidup bersembunyi di balik kepura-puraan."
"Untung saja waktu itu aku memilih untuk berteman dan mengenal kamu, Lea. Terimakasih." ucap Paula.
__ADS_1
...💔💔💔...
...Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya...