Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya

Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya
41. Kamu...


__ADS_3

Mengabaikan rasa cemburunya, Alea ingin menikmati waktu bulan madunya bersama Bagas. Apa lagi suaminya sudah menjelaskan hubungannya dengan Paula dimasa lalu yang bahkan membuat Alea terkejut begitu mendengar penjelasan Bagas.


Alea tahu jika Bagas dan Paula menikah kerena dijodohkan, tapi dia baru tahu jika Bagas dan Paula menikah hanya selama satu bulan saja. Alasannya karena mereka tidak saling mencintai, tapi menurut Alea, Bagas dan Paula punya alasan yang dirahasiakan.


"Mengapa bisa begitu? Pernikahan itu bukan untuk permainan, Bee." tanya dan jelas Alea setelah mendengar penjelasan Bagas.


"Memang bukan permainan, karena itu bersamamu..." Bagas menatap Alea.


"Aku ingin kita menjalaninya hingga akhir, sampai aku menutup mata." jelas Bagas.


Alea diam mengaminkan ucapan Bagas di dalam hatinya. Dia juga ingin pernikahan keduanya ini jadi pernikahan terakhirnya. Bersama Bagas Alea membangun mimpi, mereka bersama buah hati mereka menjadi sebuah keluarga yang dipenuhi kebahagiaan.


"Ayo turun sayang, kita sudah sampai." ajak Bagas begitu mereka sampai di Bandara.


"Bee, kita sebenarnya mau kemana?" tanya Alea yang baru menyadari jika mereka ada di terminal keberangkatan internasional.


"Mau tahu aja atau tahu banget?" tanya Bagas menggoda Alea.


"Bee...."


Bagas terkekeh, dia suka sisi Alea yang manja seperti sekarang ini, meskipun dia juga suka dengan Alea yang tegar dan mandiri.


"Tuh." tunjuk Bagas pada papan nama yang tertera di layar yang ada di depan mereka.


"Paris? Kita mau ke Paris Bee?" tanya Alea tidak percaya.


Bagas menjawab dengan senyum, dia bahagia melihat Alea yang bahagia. Bagas harus berterima kasih pada oma Sundari yang sudah merencanakan ini semua.


"Bee, Lea tidak punya persiapan." ucap Alea, dia baru menyadari jika dia hanya membawa tas jinjing yang ada di tangannya saja saat ini.


"Tidak ada yang perlu kamu siapkan sayang." jawab Bagas merangkul istrinya. Bagas ingin menunjukkan pada semua jika saat ini dia bersama orang yang dicintainya.


Alea kembali terlelap setelah mereka makan siang yang disuguhkan oleh maskapai penerbangan yang mereka tumpangi.


Merapihkan selimut istrinya, Bagas mengingat bagaimana pertemuan pertama mereka. Sepuluh tahun yang lalu pertama kali dia bertemu dan berbincang dengan Alea, dan untuk pertama kalinya juga dia langsung jatuh cinta pada gadis berseragam putih abu-abu.


Sepuluh tahun yang lalu.


"Kakak tidak apa-apa?" tanya gadis yang berseragam putih abu-abu itu pada seorang pria yang baru saja dia lihat habis di pukuli oleh anak-anak jalanan yang menguasai jalanan yang ada di daerah tersebut.


"Saya baik-baik saja." jawab pria itu sambil menerima air mineral yang diberikan sang gadis padanya.

__ADS_1


"Cantik." gumam pria itu begitu dia memperhatikan sang gadis yang membantunya membersihkan luka di sudut bibirnya yang terkena pukulan.


"Kakak pasti baru pertama datang kedaerah ini." ucap gadis itu.


"Disini bukan tempat yang aman untuk orang baru Kak. Apa lagi Kakak pakai mobil mahal, terlihat sekali kalau kakak itu orang kaya." ucap dan jelas gadis itu.


"Memangnya mereka siapa?" tanya sang pria.


"Mereka anak-anak pengangguran daerah sini. Jadi Kakak harus hati-hati datang ke tempat ini." jawab dan pesan gadis itu.


"Kamu sendiri lewat sini, apa kamu tidak takut sama mereka?" tanya sang pria.


"Aku sudah biasa Kak lewat sini, ada ayah yang melindungi aku dan mereka takut sama ayah." jelas gadis itu.


"Kamu tinggal didaerah sini?" tanya sang pria lagi.


Gadis itu menggeleng. "Toko ayah ada di ujung jalan, setiap pulang sekolah aku ke toko untuk membantu ayah dan kakak." jawab gadis itu.


"Kak, lukanya sudah bersih tapi kepalanya... sebentar." ucap gadis itu. Dia mengambil sapu tangan yang dia simpan di saku roknya, lalu dia ikatkan sapu tangan itu di kepala sang pria.


"Kakak masih bisa bawa mobilnya, kan?" tanya Gadis itu.


"Sampai jumpa lagi." lanjut sang pria ucapannya sambil mencoba berdiri.


Bagas mengeluarkan sapu tangan dari saku celana nya, sapu tangan yang dia simpan sejak sepuluh tahun yang lalu. Sekarang dia berani menggunakannya lagi, karena Alea saat ini sudah menjadi istrinya.


"Apa kamu akan ingat jika melihat sapu tangan ini, sayang." gumam Bagas sambil menatap sapu tangan yang ada di genggamannya.


"Bee." suara Alea mengejutkan Bagas.


"Itu, darimana kamu dapat sapu tangan itu Bee?" tanya Alea yang mengenali sapu tangan itu.


Itu sapu tangan hadiah ulang tahun dari ayahnya. Alea punya tiga sapu tangan yang sama dengan tiga warna yang berbeda. Sapu tangan itu buatan ayahnya dan ada sulaman inisial namanya yang di sematkan sang ayah disana.


"Seseorang memberikannya padaku sepuluh tahun yang lalu." jawab Bagas.


"Sepuluh tahun yang lalu." beo Alea.


Hari ini sekolah sedang ada rapat, anak-anak kelas sepuluh boleh pulang lebih awal dari biasanya atau ikut melihat kakak kelas mereka yang latihan ekstrakulikuler di sekolah. Dari pada hanya jadi penonton, Alea lebih baik ke toko ayahnya untuk membantu disana seperti yang dia lakukan setiap harinya.


Dalam perjalanan pulang dia mendapati anak-anak pengangguran yang biasa duduk di jalan sedang memalak seseorang. Orang itu tidak menuruti keinginan mereka dan melawan. Meskipun dia punya ilmu bela diri, jika lawannya lebih dari satu tetap saja akan kalah dan terluka.

__ADS_1


"Jangan ganggu saudara saya." ucap Alea.


"Dia saudara kamu?" tanya anak-anak itu yang mengenal Alea.


"Iya dia saudara saya." jawab Alea sambil berjalan mendekat.


"Kamu..." ucap Alea setelah ingat kejadian sepuluh tahun yang lalu.


"Aku suami kamu, sayang." goda Bagas.


"Bee kamu pria yang di pukul waktu itu?" tanya Alea mengabaikan godaan Bagas.


"Menurut kamu?" Bagas balik bertanya.


"Bee." Bagas tersenyum lalu mencium pipi istrinya gemas.


"Terimakasih untuk bantuannya waktu itu" bisik Bagas.


"Bee, kenapa tidak memberitahu Lea sejak awal?" tanya Alea.


"Karena kamu sudah akan menjadi milik orang lain saat pertemuan kedua kita." jawab Bagas.


Alea terdiam, mengapa dia tidak bisa mengenali Bagas saat kembali bertemu denga pria itu lagi. Jika saja Bagas mengingatkannya di pertemuan kedua mereka tentu saja cerita mereka akan berbeda.


Bagas tidak tahu saja, jika pertemuan mereka sepuluh tahun yang lalu juga meninggalkan hal yang sangat berkesan bagi Alea. Dia bahkan tidak bisa tidur nyenyak setelah pertemuan itu, Alea jatuh cinta pada pertemuan pertamanya dengan sang pria. Wajah pria itu selalu hadir di pelupuk matanya, sayang mereka tidak sempat berkenalan dan tidak pernah lagi bertemu setelahnya.


Berbeda dengan Alea dan Bagas yang tengah mengingat masa lalu mereka, Paula sibuk terus menghubungi Bagas. Mantan suaminya itu tidak merespon panggilan telepon dan pesan yang dia kirim.


Paula tidak tahu, jika Bagas tidak ingin Paula menghubunginya lagi. Dia hanya membaca pesan mantan istrinya yang meminta mereka bertemu berdua saja, tanpa ada niatan untuk membalasnya.


Bagas bahkan segera menghapus pesan itu dan pesan-pesan Paula sebelumnya yang meminta bantuannya untuk mengakui anak yang pernah di lahirkan Paula sebagai anaknya, dia tidak ingin Alea membacanya dan berpikir buruk tentang dirinya.


Telepon masuk dari Paula saja Alea tidak suka apa lagi jika tahu dia menemui mantan istrinya itu dan meminta anak wanita itu diakui sebagi anaknya. Tidak ingin ada masalah dengan Alea, Bagas memblokir nomor Paula.


Mereka sepakat bercerai, setelah Paula mengaku pada Bagas jika dia memang sudah tidak perawan karena berhubungan intim dengan kekasihnya, bahkan telah melahirkan seorang anak laki-laki yang langsung dia kirim ke panti asuhan dengan meminta bantuan sepasang suami istri yang bekerja di kediamannya. Selain itu, Paula juga ingin melanjutkan karirnya diluar negeri dan Bagas tidak bisa melarangnya waktu itu. Apa lagi Bagas masih berharap dia kembali bertemu Alea.


"Aku butuh kamu saat ini Bagas." gumam Paula setelah mencoba menghubungi Bagas berkali-kali.


...💔💔💔...


...Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya...

__ADS_1


__ADS_2