
Ingin rasanya Alea mendekati Oma Sundari lalu memeluknya, tapi Alea menahan diri untuk tidak melakukannya. Terlebih lagi saat Alea melihat Alvaro segera mendekati oma Sundari dan memeluk neneknya itu.
Selama Alea mengenal oma Sundari, baru kali ini dia melihat wanita yang sangat dihormati suaminya itu terlihat rapuh. Entah apa yang terjadi dimasa lalu, Alea berharap tangisan oma Sundari bisa meluluhkan hati Alvaro dan menyadarinya dari prasangka buruk yang ada dipikirkan sepupu Bagas itu.
Sosok oma Sundari di mata Alea adalah seorang wanita yang kuat, bahkan dia disegani oleh para koleganya meskipun dia seorang wanita. Alea bahkan sangat mengagumi nenek suaminya itu, selain sukses sebagai pebisnis, oma Sundari juga bisa merangkul keluarganya bersatu dan tidak ada yang berebut kekuasaan.
Alea tidak menyangka, ternyata keluarga Buana memiliki masalah yang sama seperti keluarga pebisnis lainnya. Berebut kekuasaan, bahkan Alea sendiri sudah merasakan akibat dari perebutan kekuasaan yang di lakukan Sugeng. "Mengapa selalu ada saja salah satu anggota keluarga yang tidak terima dengan siapa yang menjadi pemimpin perusahaan di keluarga mereka, bahkan rela saling menghancurkan?" pertanyaan yang Alea ajukan untuk dirinya sendiri.
"Oma tidak pernah membedakan kasih sayang Oma antara kamu dan Bagas, Al" ucap oma Sundari.
Suara oma Sundari menarik kembali perhatian Alea yang sibuk dengan pikirannya sendiri sampai dia tidak sadar ada bu Tuti yang ikut berdiri disampingnya.
"Non." panggil bu Tuti membuat Alea hampir berteriak.
"Ibu buat Alea kaget." ucap Alea sambil berbisik.
"Maaf Non. Non Alea di cari den Bagas." ucap bu Tuti.
Alea memindai halaman belakang dan dia tidak menemukan suaminya disana. Dia yang larut dalam lamunannya hingga tidak menyadari Bagas yang telah pergi dari taman belakang.
"Kak Bagas sekarang dimana Bu?" tanya Alea.
"Sepertinya masuk ke kamar." jawab bu Tuti memberitahu.
Alea segera meninggalkan tempat itu untuk menyusul Bagas ke kamar. Tiba di kamar Alea bisa melihat Bagas duduk di sofa.
"Dari mana?" tanya Bagas.
"Maaf Lea lancang, menguping pembicaraan kalian." jawab Alea jujur.
"Sini." ucap Bagas sambil menepuk tempat kosong di sampingnya agar Alea duduk disana.
"Maaf Bee, Lea salah." ucap Alea lagi.
Bukan menjawab permintaan maaf Alea, Bagas justru membaringkan tubuhnya di pangkuan Alea, tempat ternyaman bagi Bagas saat hatinya sedang tidak baik-baik saja.
"Kamu mendengar semua yang dikatakan Al?" tanya Bagas.
"Iya." jawab Alea lagi dengan jujur. Untuk apa dia berbohong jika dia memang mendengar apa yang diucapkan Alvaro.
__ADS_1
"Tangan mu sakit tidak Bee?" tanya Alea sambil meraih tangan Bagas yang tadi dia gunakan untuk memukul Alvaro.
"Akan lebih sakit kalau dia sampai menyakiti kamu, sayang." jawab Bagas.
"Aku dan Alvaro sangat dekat sebagai saudara sepupu, tapi setelah kepergian mama, Alvaro ikut menjauh. Tidak ada yang memberitahu apa sebabnya, dan semua seperti membiarkan kami saling menjauhi. Sampai akhirnya kami benar-benar jauh. Alvaro ke Inggris dan kakak ke Aussie.
Satu minggu setelah pernikahan kakak dan Paula, Alvaro datang untuk memberikan ucapan selamat. Kakak menerimanya dengan senang hati, karena hari itu untuk pertama kalinya kami kembali bicara dan makan di satu meja setelah bertahun-tahun tidak melakukannya.
Siapa sangka perubahan Varo hari itu punya rencana busuk seperti yang kamu dengar, Lea." ucap Bagas menjelaskan pada Alea apa yang terjadi dimasa lalu.
"Dia menghancurkan harga diri Kakak sebagai seorang laki-laki. Bagaimanapun status Paula saat itu istri Kakak meskipun sudah ada niatan kakak untuk menceraikannya." Bagas melanjutkan ucapannya untuk memberitahu Alea.
"Lea mengerti apa yang kamu rasakan, Bee." jawab Alea menanggapi ucapan Bagas.
"Bee, apa keluarga tidak ada yang tahu?" tanya Alea penasaran.
"Entahlah Kakak tidak tahu, tapi seharusnya mereka tahu dan mencari tahu mengapa Kakak tidak pernah pulang ke rumah." jawab Bagas.
Alea mengira Bagas yang tidak pulang kerumah setelah pernikahannya dengan Paula hanya karena tahu Paula sudah memiliki anak diluar nikah dan berbohong padanya dan keluarganya, tapi ternyata karena Alvaro yang menginjak-injak harga dirinya.
"Kenapa Kakak hanya diam saja saat itu?" tanya Alea lagi.
Kakak tidak ingin membuat kondisi oma semakin parah dengan membongkar kelakuan keduanya." jawab Bagas yang mendapat anggukan setuju dari Alea. Kesehatan oma harus jadi yang utama tentunya.
"Seharusnya kita pergi berlibur saja dari pada berdiam diri dirumah." ucap Bagas membuat Alea terkekeh.
"Yang semangat ngabisin waktu dirumah saja tadi pagi siapa ya?" tanya Alea menggoda Bagas.
"Tujuannya biar bisa menghabiskan waktu berdua, tapi ternyata masalahnya datang ke rumah." jawab Bagas.
"Mungkin kesalah fahaman ini sudah waktunya diselesaikan, bukan didiamkan saja. Tanyakan baik-baik dengan Mas Varo, apa yang membuat dia menjauh. Katakan juga apa yang Kakak rasakan selama kalian terpisah." ucap Alea memberi saran.
"Kamu menyuruh suamimu ini untuk turun dan menemui dia?" tanya Bagas.
"Kenapa tidak suamiku tersayang. Ini untuk kebaikan kita, jika masalah ini selesai kita bisa tenang kedepannya." jawab Alea.
"Ingat pesan dokter Mery, ibu hamil nggak boleh stres." ucap Alea lagi mengingatkan Bagas.
"Ayo temui oma sama papa." ucap Bagas bangun dari pangkuan Alea lalu menggandeng tangan istrinya itu untuk ikut dengannya.
__ADS_1
"Oma mengirim kamu ke Inggris bukan karena oma mengusir atau membuang kamu. Oma ingin selama kamu disana, kamu bisa belajar banyak bagaimana mengurus perusahaan dengan baik seperti saudara-saudara ayahmu.
Tapi disana kamu hanya bermain-main dan bergonta-ganti pacar. Bagaimana Oma bisa mempercayakan Buana untuk kamu pimpin."
Suara oma Sundari kembali terdengar ditelinga Alea begitu dia tiba di teras belakang. Sepertinya Alea telah melewatkan sesuatu yang penting karena Alvaro tampak berbeda dari sebelumnya. Entah apa yang sudah oma Sundari bicarakan pada saudara sepupu Bagas itu, Alea berharap semua baik-baik saja dan berakhir dengan perdamaian.
"Oma." ucap Alea menyapa oma Sundari sambil meraih tangan oma Sundari untuk dia salimi.
"Oma ganggu istirahat kamu ya sayang." ucap oma Sundari membalas sapaan Alea.
"Enggak kok Oma, Lea malah senang Oma mau berkunjung." jawab Alea.
Alea berjalan mendekati Haikal, "Pa." sapa Alea pada ayah mertuanya lalu mencium punggug tangan Haikal.
"Kenapa tidak bicaranya didalam saja? Diluar mulai panas Oma, Pa." tanya Alea sambil menjelaskan.
"Yang punya rumahnya nggak ada." jawab Haikal membuat Alea tertawa.
"Sekarang yang punya rumah sudah ngajak papa masuk. Ayo kita kedalam, kebetulan Lea tadi buat banana cake yang pernah Lea bawaain untuk Papa waktu di kantor. Bu Tuti juga masak makanan kesukaan Papa, kita makan siang sekalian." jawab Alea merangkul lengan Haikal untuk masuk kedalam.
"Ayo Oma." ajak Alea menggandeng tangan oma Sundari dengan tangan satunya lagi.
"Maaf." ucap Alvaro, biarpun suaranya kecil tapi masih bisa di dengar Bagas.
"Aku juga minta maaf." jawab Bagas.
"Aku baru tahu dari oma kalau Tika itu punya kelainan. Dia yang menghasut aku untuk berbuat hal itu pada Paula." ucap Alvaro menjelaskan.
"Lupakan saja, sekarang dia ada di rumah sakit jiwa." jawab Bagas. Kini dia tahu biang dari masalah yang ada di keluarga Buana.
"Dia memintaku datang untuk membebaskannya dari tuduhan korupsi dan menghancurkan kamu dengan merebut Alea." ucap Alvaro memberitahu Bagas.
"Sebaiknya kamu kunjungi dia, apa masih bisa dia mengirim pesan itu padamu." ucap Bagas memberi saran pada Alvaro.
"Satu hal lagi, Alea tidak sama dengan Paula." ucap Bagas sambil berlalu pergi meninggalkan Alvaro.
...💔💔💔...
...Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya...
__ADS_1