
Seperti yang Bagas katakan pada Alea, dia memindahkan Lukman dari kantor cabang ke kantor pusat untuk membantu istrinya. Dengan kehadiran Lukman sebagai wakil dari Alea, tentu saja sangat membantu meringakan pekerjaan istri Bagas itu.
Lama bekerja sama dalam satu tim, serta kedekatan Alea bukan hanya dengan Lukman saja tapi juga dengan istri dan anak Lukman, membuat Bagas memilih mas bronya Alea itu sebagai orang yang bisa dipercaya membantu Alea. Lukman dan istrinya bukan hanya dekat karena pekerjaan, tapi mereka juga orang-orang yang ikut membimbing Alea belajar ilmu agama, berbekal ilmu yang keduanya dapati selama menjalani pendidikan di pesantren.
Meminta Alea untuk diam dirumah juga tidak mungkin, Alea pasti menolak untuk dirumahkan. Dia bukan wanita yang suka menghabiskan waktu tanpa memiliki kegiatan. Jika dipaksa tidak bekerja, Alea akan tidak nyaman dan bisa saja mempengaruhi kehamilannya.
Jika Alea di rumah, Bagas juga merasa itu bisa mengganggu pikirannya yang harus terbagi dua antara rumah dan kantor. Dengan membiarkan Alea bekerja, Bagas bisa tetap memantau istrinya. Bukan hanya itu, Alea juga bekerja sangat baik. Banyak ide-ide cemerlang Alea di bidang pengembangan properti meningkatkan banyaknya permintaan dalam beberapa bulan terakhir ini, dan tentu saja membuat nama Buana Group semakin besar.
Keberhasilan Alea bukan hanya dalam pekerjaan saja. Sebagai istri, Alea juga berhasil membuat hubungan Bagas dan Alvaro membaik beberapa hari ini. Alea berharap tidak akan ada lagi permusuhan antara keduanya, apa lagi hanya karena terpengaruh oleh orang ke tiga.
Selepas kejadian di kediaman Bagas dan Alea, oma Sundari kini menempatkan Alvaro sebagai wakil pimpinan mendampingi Bagas. Tentu saja karena oma Sundari ingin Alvaro bisa belajar banyak pada Bagas dalam menjalankan Buana Group. Bukan tanpa sebab, karena Bagas suatu saat harus meninggalkan Buana Group untuk memimpin perusahaan milik keluarga ibunya.
Perusahaan milik keluarga ibu kandung Bagas sama besar dengan Buana Group. Perusahaan itu saat ini masih dipegang oleh Adam, paman Bagas adik kandung ibu Bagas satu-satunya. Adam menduda sejak lama, dia memilih hidup sendiri setelah istri dan putrinya tewas karena kecelakaan pesawat. Bagas sebagai satu-satunya pewaris dari keluarga Henry kakek Bagas dari ibunya, mau tidak mau akan menerima tanggung jawab meneruskan usaha keluarga mereka.
Kesendirian Adam, paman dari Bagas itu menimbulkan satu ide dikepala Alea. Dia berniat menjodohkan Adam dengan Anita, sang ibu.
"Bagaimana menurutmu, Leo?" tanya Alea meminta pendapat Leoni yang sedang berada di ruangannya.
"Mengapa kamu berpikir untuk menjodohkan ibu?" tanya Leoni Yang masih belum paham maksud Alea.
"Aku akan sibuk dengan keluarga kecilku, apa lagi akan ada anak yang akan lahir. Tentu saja waktuku untuk memperhatikan ibu sangat sedikit.
Begitu juga dengan kak Riki, besok dia bertunangan lalu menikah. Dia juga akan sibuk dengan perusahaan dan keluarganya. Ibu akan kesepian dan merasa terabaikan.
Jika ibu menikah lagi, dia akan memiliki pasangan dan ibu akan ada teman yang selalu ada untuknya." jawab Alea.
"Kalau ibu tidak mau?" tanya Leoni lagi.
__ADS_1
"Itu pilihan ibu, dan aku sebagai anak akan menghargainya keputusan yang ibu pilih." jawab Alea.
"Coba saja kamu jodohkan, tapi bicarakan dulu dengan kak Riki." ucap Leoni memberi saran.
"Aku sudah bicara dengan dia, dia setuju dengan ideku. Bukan hanya kak Riki, kak Bagas juga setuju." jawab Alea.
"Kapan kamu akan mempertemukan mereka?" Leoni bertanya karena ingin tahu rencana Alea.
"Besok di acara pertunangan kak Riki." jawab Alea.
"Besok." beo Leoni tidak percaya.
Alea tersenyum sambil mengangguk menanggapi keterkejutan Leoni. "Aku sudah memikirkannya sejak lama, jadi sudah banyak mempersiapkan apa yang akan aku lakukan." jawab Alea.
"Apa aku menganggu?"
Leoni dan Alea sama-sama melihat kearah suara yang bertanya pada mereka.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Lea. Berdua saja." ucap Alvaro sambil melirik Leoni.
"Maaf Mas, kalau hanya berdua nggak bisa. Aku bisa bicara dengan lawan jenis jika ada yang menemani, yaitu suamiku atau orang-orang yang dekat denganku seperti Leoni salah satu orang yang aku percaya yang tidak akan membuat fitnah." jawab Alea.
"Aku tidak ada niatan jahat sama kamu Lea, hanya ingin bicara." ucap Alvaro lagi dengan nada sedikit tinggi.
"Mas Varo memang tidak akan berbuat jahat, tapi dengan kita bicara hanya berdua akan menimbulkan fitnah.
Lea wanita yang memiliki suami, tidak pantas bicara hanya berdua dengan lawan jenis. Apa lagi diruangan tertutup, meskipun masih ada hubunga saudara." jawab Alea.
__ADS_1
"Pilihannya hanya dua, bicara ada pihak ke tiga atau tidak bicara sama sekali." ucap Alea lagi.
"Bagaimana kalau bicaranya ditempat terbuka?" tanya Alvaro yang tetap ingin bicara berdua Alea.
"Bisa, tapi harus ada izin dari kak Bagas. Karena kemanapun seorang istri pergi dia harus izin pada suaminya." jawab Alea.
Alvaro terdiam, kini dia tahu maksud perkataan Bagas jika Alea itu berbeda dengan Paula. Karena itu Bagas sangat menjaga Alea, karena istrinya sendiri mampu menjaga kehormatannya yang juga berarti menjaga kehormatan suaminya.
"Kamu pernah bertemu Paula?" tanya Alvaro.
"Bukan hanya pernah bertemu, tapi kenal baik." jawab Alea.
"Nggak usah kaget gitu." ucap Leoni begitu melihat Alvaro tampak terkejut dengan jawaban Alea.
"Mas, besok hadir ya di acara pertunangan kakak Riki, kakak Lea." ucap Alea mengundang Alvaro untuk hadir.
"Itu kan acara keluarga." ucap Alvaro menolak. Dia tidak begitu suka berkumpul di suatu tempat dan bertemu banyak orang.
"Apa Mas Varo tidak menganggap Lea keluarga?"
"Bukan begitu." jawab Alvaro merasa bersalah mendengar ucapan Alea.
"Kalau begitu datang, Lea mau Mas Varo menemui seseorang." ucap Alea memaksa Varo untuk datang.
"Menemui siapa?" tanya Alvaro penasaran.
"Tunggu besok, jadi Mas Varo harus datang kalau mau tahu jawabannya." jawab Alea yang masih merahasiakannya dari Alvaro.
__ADS_1
...💔💔💔...
...Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya...