
Banyak hal yang terjadi hari ini di acara syukuran yang diadakan Bagas dan Alea. Dimulai dari Leoni yang tidak sabar ingin menyampaikan kabar kehamilannya pada Galang dengan mengabaikan rencananya untuk memberikan kejutan.
Leoni mendekati Galang yang sedang mengayun-ayun Adzkiya sampai putri Alea dan Bagas itu tertawa kesenangan. "Mas aku mau bicara." ucap Leoni yang setelah menikah merubah panggilannya pada Galang.
"Bicara saja." jawab Galang sambil terus bercanda dengan Adzkiya.
"Jangan disini." pinta Leoni.
Mendengar ucapan Leoni, Galang menitipkan Adzkiya pada Alvaro lalu dia mengikuti istrinya yang berjalan sedikit menjauh dari orang-orang ke arah kolam berenang yang ada di kediaman Bagas dan Alea.
"Tadi Lea memintaku menggunakan ini." ucap Leoni memberikan test pack pada Galang.
"Apa ini?" tanya Galang yang tidak tahu benda apa yang dia pegang.
"Itu yang namanya test pack." jawab Leoni.
"Oh..." ucap Galang.
"Apa? Test pack." ucap Galang terkejut begitu dia sadar untuk apa alat itu digunakan.
Galang langsung memeriksa benda kecil yang ada di tangannya, sebagai pria dewasa tentu dia cukup tahu bagaimana mengetahui hasil dari alat itu.
"Kamu hamil? Sungguh?" tanya Galang tidak percaya begitu melihat garis dua.
"Iya itu positif, tapi kita harus kedokter agar lebih akurat." jawab Leoni.
"Kita kedokter sekarang sayang." balas Galang.
"Tidak sekarang, sore saja sepulang dari sini."
Galang mengangguk setuju, hatinya yang bahagia tidak dapat dibohongi. Galang memeluk erat Leoni, "Terimakasih, terimakasih sayang." ucap Galang.
Galang melepaskan pelukannya dan menatap lekat pada Leoni.
"Aku akan jadi ayah." ucap Galang sambil meloncat kegirangan dan byuur... Galang tercebur kedalam kolam.
Karena terlalu bahagia akan menjadi seorang ayah, Galang lupa jika dia berada dipinggir kolam. Hal tersebut sontak saja mengundang tawa semua orang yang menyaksikannya, termasuk para anak-anak ikut menertawakannya.
"Jangan hanya tertawa anak-anak, ayo kita berenang." ajak Galang untuk menghilangkan rasa malunya.
Anak-anak berjalan mendekati kolam berenang begitu mendengar ajakan Galang untuk bermain air, tentu saja mereka senang dengan ajakan itu. Sementara para orang tua hanya bisa menggelengkan kepala.
Belum juga selesai keributan yang dibuat Leoni, Deri dibuat panik oleh anak yang ada dalam kandungan Reina. Melihat Galang tercebur, Reina ikut tertawa bersama yang lain. Siapa sangka tawanya membuat dia merasakan kontraksi pada perutnya.
"Ada apa?" tanya Deri begitu melihat Reina yang meringis kesakitan.
"Putrimu sepertinya ingin melihat dunia Bang." jawab Reina.
Mendengar itu, Deri pun segera membawa Reina kerumah sakit.
__ADS_1
"Mau kemana?" tanya Alea begitu mereka berpapasan di pintu masuk. Alea baru saja mengantar salah satu tamunya pulang.
"Kontraksi." jawab Deri sambil terus berjalan merangkul Reina.
Alea ikut mengatar sampai Reina masuk kedalam mobil. "Nanti Lea menyusul." ucap Alea.
"Tidak usah, Abang titip Rio dan Ria saja." ucap Deri sebelum melajukan kendaraannya.
"Hati-hati Bang." teriak Alea karena kendaraan Deri sudah melaju.
Baru saja Alea melangkahkan kakinya untuk kembali masuk kedalam rumah, dia mendengar seseorang yang memanggilnya.
"Alea." panggil orang tersebut.
"Dokter Rian." panggil Alea begitu dia mengenali tamu yang memanggilnya.
"Maaf mengganggu." ucap dokter Rian, dokter rumah sakit jiwa yang merawat Tika.
"Tidak menganggu sama sekali, saya malah senang dokter mau berkunjung. Kebetulan sekali didalam keluarga dan sahabat-sahabat saya sedang berkumpul." jawab Alea.
"Saya tidak sendiri." ucap dokter Rian.
"Sayang, Kiya ma..." Bagas tidak melanjutkan ucapannya saat melihat ada tamu yang datang.
"Maaf saya tidak tahu kalau ada tamu." ucap Bagas.
"Bee, ini dokter Rian." ucap Alea memberitahu Bagas yang memang belum pernah bertemu dokter Rian meski pernah mendengar namanya dari Alea.
"Panggil saya Rian saja." ucap dokter Rian membalas uluran tangan Bagas.
"Silakan masuk, kebetulan didalam sedang ramai." ucap Bagas ramah.
"Maaf saya sebenarnya hanya mengantarkan seseorang yang ingin bertemu kalian." ucap dokter Rian.
"Dokter bersama Tika." sahut Alea menebak orang yang dimaksud dokter Rian.
"Dimana dia?" tanya Alea setelah dokter Rian mengangguk.
"Ada di mobil. Sebenarnya dia malu untuk bertemu kalian, tapi saya yang memaksa. Saya hanya ingin dia menyelesaikan masalahnya sebelum menikah." jawab dokter Rian sambil menjelaskan.
"Ini kabar baik Dok." ucap Alea.
Dokter Rian hanya tersenyum menanggapi ucapan Alea yang sudah bisa dia duga. Tidak pernah ada dendam sedikitpun yang Alea tunjukkan mendengar dia menyebutkan nama Tika seperti biasanya, istri Bagas itu bahkan tampak senang begitu tahu dia datang bersama Tika. Karena itulah yang menjadi keinginan Alea selama satu tahun ini, Tika datang dan meminta maaf pada Bagas dan oma Sundari.
Tapi tidak dengan Bagas, suami Alea itu memasang wajah datar tanpa ekspresi mendengar nama Tika.
"Kamu yakin akan menerimanya dirumah ini?" tanya Bagas pada Alea begitu dokter Rian berjalan kembali ke mobilnya untuk mengajak Tika turun.
"Butuh keberanian untuk dia bisa menemui kamu, Bee. Bersikap baiklah, semoga saja ini seperti yang Lea harapkan." jawab Alea.
__ADS_1
"Lea ini Kiya mencari ka... Tika" ucap Alvaro tidak menyangka ada Tika.
Alea mengambil Adzkiya dari gendongan Alvaro, "Kalian bisa bicara didalam, maaf saya mengurus putri saya dulu." ucap Alea begitu dokter Rian dan Tika sudah berdiri di dekatnya.
"Lea," panggil Tika membuat Alea kembali berbalik melihat pada Tika.
"Terimakasih." ucap Tika tulus.
Tika mengetahui dari dokter Rian kalau selama ini Alea selalu bertanya kabar tentangnya lewat dokter Rian. Tidak hanya itu, Alea bahkan sering mengirimkan makanan kesukaan Tika. Alea juga orang yang pertama kali mengetahui perasaan dokter Rian pada Tika. Dia juga menjadi orang pertama yang setuju dokter Rian menjalin hubungan lebih dengan Tika.
Alea tersenyum dan mengangguk menjawab ucapan terimakasih Tika. "Masuklah, ada oma Sundari didalam." ucap Alea.
"Silahkan." ucap Bagas pada dokter Rian tanpa ada niatan melihat pada Tika sedikitpun.
"Tidak apa-apa." ucap dokter Rian agar Tika mengerti dengan sikap Bagas.
Paula, Leoni dan yang lainnya yang mengenal Tika langsung diam dan menatap tidak percaya dengan kehadiran wanita itu.
"Aku tidak bermimpi kan." gumam Leoni yang bisa didengar Paula.
Puk, Paula memukul lengan Leoni. "Auw, sakit." ucap Leoni.
"Kalau sakit berarti tidak bermimpi." jawab Paula.
Tika berjalan dimana oma Sundari duduk bersama Zaki, Anita, Adam, Haikal dan Helen.
"Kamu sudah keluar dari rumah sakit." ucap oma Sundari begitu melihat Tika.
"Oma." ucap Tika lalu duduk bersimpuh dihadapan wanita tua itu.
Tidak ada kata-kata yang terucap, hanya air mata dari keduanya. Bagaimanapun oma Sundari menyayangi Tika seperti cucu kandungnya.
"Seperti yang kamu inginkan, semua berakhir damai." ucap Anita sambil mengusap airmata karena terharu melihat oma Sundari dan Tika.
"Iya Bu, dan tugas Alea menyatukan kembali keluarga Buana juga selesai." jawab Alea dengan rona bahagia di wajahnya.
"Berbahagialah Nak." ucap Anita lagi.
"Alea bahagia Bu."
Mendapatkan suami yang sayang dan setia seperti Bagas ditambah Adzkiya putri kecilnya yang cantik dan menggemaskan adalah anugrah terindah yang dia dapatakan.
Tamat.
Cerita Alea, author akhiri sampai disini. Author minta maaf jika ada kata atau tulisan yang tidak berkenan dihati para reader.
Tidak lupa author ucapkan terimakasih untuk para reader yang setia membanca cerita ini sampai tamat.
Author juga ucapkan terimakasih yang sebanyak-bayaknya pada reader yang sudah memberikan bintang, vote, hadiah, like dan komentarnya. Apapun itu bentuknya, sudah membuat author semangat dalam menyelesaikan novel ini.
__ADS_1
...💔💔💔...
...Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya...