Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya

Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya
45. Ibu Sambung


__ADS_3

Waktu terasa cepat sekali berlalu, tidak terasa sudah satu minggu Alea dan Bagas menghabiskan waktu kebersamaan mereka di Paris. Satu janji terucap, selalu bersama sampai akhir usia. Meski mereka tahu akan banyak halangan dan rintangan dalam menjalaninya. Setia dan saling percaya, mereka ikrar kan untuk menjaga keutuhan cinta dan rumah tangga mereka.


Tiba di kediaman keluarga Bagas yang ada di Jakarta, Alea disambut baik oleh oma Sundari, Haikal ayah Bagas dan juga Lisa.


"Mbak Lea, pesanan aku mana?" tanya Lisa yang langsung membongkar barang-barang yang dibawa Alea.


Oma Sundari dan Haikal hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Lisa. Selalu saja menodong oleh-oleh setiap ada keluarga mereka yang pulang dari luar negeri.


"Bagaimana liburannya, menyenangkan?" tanya Haikal pada Alea saat menantunya itu mencium punggung tangannya.


"Menyenangkan sekali, Pa." jawab Alea.


"Syukurlah kalau kalian bisa menikmati liburan kalian." balas Haikal sambil menepuk punggung Bagas.


Bukan tanpa maksud Haikal menanyakan pertanyaan tersebut, karena Helen sang istri tiba-tiba saja terbang ke Paris. Seperti yang dia tahu hanya istrinya yang tidak menyukai kehadiran Alea di keluarga Buana, tentu saja Haikal takut Helen membuat masalah dengan menantunya.


Jika Helen bertemu Alea mungkin bulan madunya dan dengan Alea akan berantakan. Untungnya Bagas sudah mendapatkan informasi lebih awal tentang penerbangan sang mama yang menyusul mereka ke Paris. Sehingga Bagas merubah rencana bulan madunya dengan membawa Alea berkeliling ke kota-kota lain yang ada di perancis yang tak kalah indah dengan kota Paris.


"Ayo makan, setelah itu kalian istirahat. Menginaplah satu malam, baru kalian boleh pulang ke kediaman kalian." ajak dan ucap oma Sundari.


Untuk menghormati oma Sundari, Alea mengangguk setuju. Dia tidak bisa menolak permintaan orang yang sangat di hormati suaminya. Mengabaikan ketidak hadiran Helen menyambutnya dan Bagas, Alea mengikuti langkah oma Sundari ke meja makan yang juga diikuti oleh Bagas dan Haikal.


Alea tidak tahu jika saat ini di kediaman keluarga Buana yang ada di Paris Helen sedang marah besar dengan pelayan yang ada disana, karena tidak ada yang mau memberitahu dimana keberadaan Bagas dan Alea padanya.


"Kami tidak tahu tuan muda dan nyonya muda ada dimana, Nyonya." jawab kepala pelayan mewakili semua pelayan yang di minta Helen untuk berkumpul.


"Jangan coba-coba membohongi saya. Ingat! Saya bisa saja memecat kalian kalau saya mau. Sekarang saya yang jadi nyonya kalian." ancam Helen pada para pelayan tersebut.


Tidak ada yang takut dengan ancaman Helen, dia tidak memiliki kekuasaan apapun di kediaman ini. Kediaman ini sudah di hadiahkan oma Sundari pada almarhum ibu kandung Bagas. Sebagai putra satu-satunya, saat ini Bagas yang lebih berhak atas siapa saja yang di pekerjakan di kediaman ini.


"Sayang kamu tidak apa-apa menginap satu malam disini?" tanya Bagas. Berdiri disamping Alea yang sedang menatap kolam renang dari balkon kamar mereka.


"Tidak apa-apa Bee." jawab Alea melihat kearah Bagas dan tersenyum lebar.


"Terimakasih, Kamu sudah menuruti keinginan oma, dan itu membuatnya senang." balas Bagas jawaban Alea.


"Oma juga sudah banyak membuat Lea senang." jawab Alea sambil menyandarkan kepalanya di bahunya Bagas.

__ADS_1


"Terimakasih Bee, terimakasih sudah mencintaiku." ucap Alea tulus.


Bagas meraih tubuh Alea dan memeluk istrinya dengan erat lalu membelai lembut wajah istrinya. Bukan Alea yang harusnya berterimakasih mendapatkan cinta darinya, tapi dirinya lah yang harus bersyukur yang akhirnya mendapatkan cinta dari Alea.


"Sudah malam, angin malam tidak baik untuk kesehatan. Sebaiknya kita masuk dan istirahat, Bee." ucap dan ajak Alea yang di setujui Bagas.


"Ayo masuk." Bagas merangkul istrinya berjalan masuk kedalam kamar yang mereka tempati.


Pagi harinya setelah selesai sarapan bersama oma Sundari dan Haikal, Alea dan Bagas langsung pamit pulang ke kediaman mereka.


Bagas sudah membangun kediaman sendiri, untuk dia tempati bersama Alea jauh sebelum rencana pernikahan mereka. Bagas tahu Alea tidak suka tinggal bersama keluarganya maupun keluarga Alea sendiri, sama seperti dirinya.


Bagas dan Alea memiliki keinginan yang sama, mereka akan membangun rumah tangga mereka tanpa campur tangan orang lain meskipun itu keluarga mereka sendiri. Mereka yang akan membawa kemana biduk rumah tangga mereka akan berlayar.


"Bee, kita kerumah ibu dulu bagaimana?" tanya Alea meminta pendapat suaminya. Alea merindukan ibunya, dia juga ingin segera memberikan oleh-oleh untuk sang bunda.


"Ide bagus sayang, ibu juga pasti merindukan kamu." jawaban Bagas membuat Alea tersenyum senang.


"Terimakasih Bee." ucap Alea lalu mengecup pipi suaminya yang kini membalas mengecup pucuk kepala Alea yang bersandar di pundaknya.


Alea baru tahu saat di Paris, jika Helen ternyata bukan ibu kandung Bagas. Alea melihat foto yang terpajang di ruang keluarga, ada seorang wanita berwajah campuran Eropa dan Indonesia sedang memangku anak laki-laki usia sekitar lima tahun bersama Haikal.


"Bee, ini kamu waktu kecil?" tanya Alea sambil menunjuk foto anak laki-laki yang ada di hadapannya.


"Iya dan ini mama kandung Kakak." tunjuk Bagas pada foto wanita itu.


Sekarang Alea tahu dari mana Bagas mendapatkan wajah Eropanya, mama kandung suaminya seorang keturunan Francis Indonesia. Bagas menjadi piatu di usianya masih sangat kecil, karena itu dia lebih dekat dengan oma Sundari dari pada Helen yang hanya ibu sambung.


"Ada apa?" tanya Bagas begitu melihat Alea yang terlihat melamun.


"Sejak kemarin, Lea belum melihat mama Helen." jawab Alea.


"Mama sedang tidak ada di Indonesia." jawab Bagas.


Alea tidak menanggapi jawaban Bagas, karena saat ini matanya tertuju pada seseorang yang dia kenal baru saja keluar dari toko perhiasan.


"Sayang apa yang kamu lihat?" tanya Bagas sambil mencoba melihat kearah yang Alea lihat.

__ADS_1


"Kak Riki." tunjuk Alea pada Riki yang baru saja masuk kedalam mobil.


"Untuk apa kakak ke toko perhiasan?" gumam Alea.


"Sayang, mungkin kakakmu ingin membelikan perhiasan untuk kekasihnya." jawab Bagas.


"Kak Riki belum punya kekasih, Bee." jawab Alea.


"Kamu yakin?" tanya Bagas yang langsung medapatkan anggukan dari Alea.


Tiba di kediaman orang tuanya, Alea dan Bagas disambut Anita.


"Bu." sapa Alea mencium punggung tangan Anita yang dilanjutkan dengan mencium pipi kanan dan kiri ibunya.


"Kapan kalian sampai?" tanya Anita pada Bagas saat menantunya itu mencium punggung tangannya.


"Kemarin Bu. Maaf, Lea nya Bagas bawa menemui oma lebih dulu." jawab Bagas.


"Tidak apa-apa, Nak. Ayo masuk." jawab dan ajak Anita.


Alea memberikan beberapa paper bag yang baru saja di bawa Bagas masuk. "Ini untuk Ibu dan kakak." ucap Alea.


"Banyak sekali sayang, harusnya kamu tidak perlu repot begini." jawab Anita.


"Bukan Lea, Bu. Tapi menantu kesayangan Ibu." jawab Alea menunjuk Bagas yang menuju halaman belakang.


"Lea yang pilih, kak Bagas yang bayar." lanjut Alea ucapannya sambil berbisik, membuat Anita tertawa.


"Kamu itu, sama seperti ayah." ucap Anita setelah menghentikan tawanya.


Seketika suasana hening, tidak ada yang bicara begitu nama ayah terucap dari mulut Anita.


"Ayahmu pasti bahagia disana melihat kamu disini bahagia sayang." ucap Anita.


...💔💔💔...


...Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya...

__ADS_1


__ADS_2