Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya

Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya
82. Adzkiya Naila Taleetha


__ADS_3

Bagas berjalan dengan cepat menyusuri lorong rumah sakit, sejak pagi dia sudah gelisah meninggalkan Alea di rumah hanya bersama bu Tuti dan Pak Joko satpam di kediamannya. Tapi rapat hari ini tidak bisa dia tinggalkan, Bagas harus melaporkan hasil kerjanya bulan ini pada para pemegang saham.


Sampai di ruangan yang dituju, Bagas bisa melihat bu Tuti duduk di bangku tunggu.


"Non Alea didalam, ditemani bu Anita." ucap bu Tuti memberitahu Bagas.


"Den, kalau mau menemani non Alea masuk saja minta izin pada perawat." ucap bu Tuti lagi.


"Apa boleh Bu?" tanya Bagas ragu.


"Kalau suaminya pasien biasanya boleh." jawab bu Tuti.


Bagas berjalan ke meja perawat yang berada tepat di samping kamar bersalin. Bagas bisa menarik nafas lega saat dia diizinkan masuk untuk menemani Alea.


"Bee." panggil Alea begitu melihat suaminya berjalan kearahnya.


"Sayang maaf Kakak terlambat." ucap Bagas penuh penyesalan sambil mengecup kening Alea.


Cukup lama Bagas mencium kening istrinya, kesibukannya membuat dia tidak bisa menepati janjinya menemani Alea di saat istrinya harus bertarung melawan sakitnya melahirkan.


"Tidak apa-apa Bee, ada ibu yang menemani Lea. Prosesnya juga cepat. Putri kita memang pintar, dia tidak menyusahkan maminya." jawab Alea sambil tersenyum menjelaskan pada Bagas kalau dia tidak mendapatkan kesulitan saat melahirkan.


Alea tidak ingin Bagas terus merasa bersalah tidak bisa menepati janjinya untuk menemani Alea saat melakukan proses persalinan. Meski kecewa tapi Alea tahu itu bukan keinginan Bagas, kewajiban suaminya sebagai pemimpin perusahaan yang menghalangi niat Bagas untuk menemaninya. Selain memiliki kewajiban sebagai suami, Bagas juga punya kewajiban sebagai pegawai di Buana Group.


"Dimana putri kecil kita sayang?" tanya Bagas karena Alea hanya sendiri.


"Sedang diperiksa dokter anak, ibu yang menemaninya." jawab Alea.


"Permisi." ucap seorang perawat mendekati mereka.


"Bu Alea, sekarang kita pindah ke kamar perawatan." ucap perawat itu lagi memberitahu.


Tiba di kamar perawatan, putri kecil mereka sudah ada disana bersama Anita. Sudah ada oma Sundari juga bersama Lisa.


"Kakak selamat jadi papi." ucap Lisa menggoda Bagas.


"Kamu juga selamat jadi tante." balas Bagas sambil merangkul adik perempuannya itu.


"Mbak Lea selamat. Putri kecilmu sangat menggemaskan." ucap Lisa.


"Karena maminya juga menggemaskan." ucap Bagas menanggapi ucapan Lisa sambil mencubit gemas hidung Alea.


"Mbak Lea itu hidungnya sudah mancung Kak, jangan ditarik terus nanti tambah panjang seperti pinokio." jawab Lisa melihat kelakuan kakaknya.


"Sayang Kakak mau gendong putri kita dulu." ucap Bagas meminta izin pada Alea.


Begitu melihat putrinya, rasanya di ingin segera mengambil putrinya yang sedang tidur di box bayi. Tapi Bagas sadar, Alea masih butuh perhatiannya. Karena itu Bagas lebih memilih bersama Alea terlebih dulu sampai istrinya sudah nyaman berbaring di bed.


"Iya Bee. Kiya pasti senang bertemu Papinya." jawab Alea.


Bagas mencium pipi Alea sebelum dia berjalan mendekati Adzkiya putri kecilnya yang beberapa hari ini dia tunggu kelahirannya. Tapi sayang disaat dia harus menjalankan tugas yang lain putrinya memilih untuk keluar diwaktu yang bersamaan.


"Bagas, cicit Oma kamu kasih nama apa?" tanya oma Sundari.


"Adzkiya Naila Taleetha." jawab Bagas.


"Nama yang bagus." ucap Haikal yang baru saja datang bersama Helen.

__ADS_1


"Artinya apa Kak?" tanya Lisa.


"Wanita muda yang cerdas dan sukses." Alea yang menjawab pertanyaan Lisa.


"Cucu Opa harus sukses, karena dia yang akan mewarisi Henry company."


"Dia juga cicit dari Sundari Buana Group." sahut oma Sundari ucapan Adam yang baru saja tiba.


Kiya sepertinya tahu jika dia sedang dibicarakan oleh keluarga mami dan papinya, dia memberitahu mereka dengan menangis.


"Kiya tidak suka kalian ribut." ucap Bagas sambil membawa Adzkiya mendekati Alea.


"Dia mungkin lapar sayang." ucap Bagas.


"Sini ibu bantu." ucap Anita membantu membenarkan posisi duduk Alea biar nyaman menyusui putrinya.


Haikal dan Adam tanpa diperintah keluar dari kamar rawat Alea, mereka tahu Alea tidak akan nyaman menyusui bila ada mereka.


Anita juga memilih keluar setelah membantu Alea untuk menyusul Adam, diikuti Helena, Lisa dan yang terakhir oma Sundari.


Bagas tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk memeluk Alea, putri kecil mereka kembali terlelap dan sudah Bagas tidurkan di box.


"Terimakasih sayang." ucap Bagas.


"Kini hidup Kakak sempurna, kamu selalu memberikan Kakak kebahagiaan Sayang." Bagas melanjutkan ucapannya.


"Bee, kamu juga menyempurnakan hidup Lea." jawab Alea membalas ucapan terimakasih Bagas.


"Terimakasih Bee, kamu mau menerima kekurangan Le..." Alea tidak melanjutkan ucapannya, Bagas mengurai pelukannya dan membuat Alea diam dengan meletakan jari telunjuknya di bibir Alea.


"Kamu wanita sempurna sayang, ingat itu. Dulu, sekarang dan akan datang kamu wanita sempurna yang menyempurnakan hidup Kakak." ucap Bagas.


"Lea bahagia bersamamu Bee." ucap Alea.


"Kakak juga bahagia sayang." balas Bagas sambil mencium pucuk kepala Alea.


"Hemm."


Suara deheman Leoni membuat Bagas kembali mengurai pelukannya.


"Aku ganggu ya? Maaf." ucap Leoni merasa bersalah dari balik pintu.


"Diluar sudah antri solnya mau ketemu sama putri kecil kalian." ucap Leoni lagi memberitahu.


"Nggak ganggu kok Leo, sini masuk. Mana yang lain?" jawab Alea sambil menahan tawa karena terlihat jelas wajah Bagas yang menahan kesal dengan sepupunya itu.


"Kak geser sedikit dong." ucap Leoni mengusir Bagas dari samping Alea.


"Selamat ya sayang aku, udah jadi emak-emak Lo sekarang." ucap Leoni begitu sudah berhasil menggeser posisi Bagas.


"Cepat nikah makanya, biar nyusul jadi emak-emak juga." sahut Bagas membuat Alea terkekeh. Biarpun sudah menjawab iya aku mau saat Galang melamar, tapi Leoni masih belum menentukan tanggal pernikahannya.


"Ante... dedek atu mana?" ucap Rio.


Suara Rio mengalihkan perhatian Alea dan Bagas. Mereka langsung melihat kearah pintu.


"Itu dedek Iya." ucap Ria tidak mau kalah.

__ADS_1


"Kesayangan Tante Lea mau lihat adik Kiya?" tanya Alea.


"Ante dedeknya dedek atu, kan." ucap Ria memonopoli Adzkiya.


"Dedek iyo kan Ante."


"Jangan bertengkar, adik Kiya itu adiknya Abang Rio dan Mbak Ria." ucap Alea agar kedua keponakaknnya berhenti berdebat.


"Selamat ya Lea." ucap Reina sambil mencium pipi kanan dan kiri Alea setelah kedua anaknya tenang.


"Terimakasih Mbak Rei." jawab Alea.


"Selamat Pak, semoga putrinya jadi anak soleha." ucap Reina pada Bagas.


"Aamiin, terimakasih." jawab Bagas sambil menjabat tangan Deri yang juga memberikan ucapan selamat.


"Ayo siapa yang mau lihat adik Kiya?" tanya Bagas pada Rio dan Ria


"Iya." jawab Ria.


"Iyo juga Om." jawab Rio.


Bagas menggandeng kedua anak kembar itu mendekati box tempat Adzkiya yang tidak terusik dengan suara berisik kedua saudaranya. Putri kecilnya masih terlelap, terlihat sesekali tangannya yang menggunakan sarung bergerak.


"Bagaimana tadi proses persalinanya?" tanya Reina.


"Ada anak perawan disini Mbak." jawab Alea membuat Reina terkekeh.


"Memangnya aku nggak boleh dengar ya?" tanya Leoni.


"Ini pembicaraan khusus emak-emak. Makanya cepat nikah, biar cepat jadi emak-emak juga." jawab Alea sambil menaik turunkan alisnya menggoda Leoni.


"Nikah lagi... nikah lagi yang ditanyakan." sahut Leoni sambil menjauh dari Alea dan Reina.


Lebih baik dia bersama Ria dan Rio yang sedang melihat adik kecil mereka.


"Assalamualaikum." ucap Ratna.


"Waalaikumsalam." jawab semua yang ada di kamar rawat Alea.


Ratna tidak sendiri, dia datang bersama Radit. Begitu diberitahu Riki tentang Alea yang sudah melahirkan, Ratna mengajak Radit langsung ke rumah sakit sepulang kerja.


"Selamat Lea." ucap Ratna.


"Terimakasih Mbak." jawab Alea lalu melihat pada Radit.


"Terimakasih Mas sudah mau datang." ucap Alea pada Radit yang hanya diam disamping Ratna.


"Selamat Lea, kamu sudah menjadi seorang ibu." ucap Radit.


"Maaf." ucap Radit pelan bahkan tidak terdengar, tapi Alea bisa melihat pergerakan bibir Radit.


Alea diam, jika dulu dia memilih bertahan bersama Radit, mungkin dia tidak bisa merasakan kebahagiaan ini. Tapi Alea tidak bisa pungkiri, apa yang dia dapatkan saat ini karena Radit yang berselingkuh.


"Terimakasih untuk rasa sakit yang pernah kamu torehkan, Mas. Kini semua luka itu berganti dengan kebahagiaan yang diberikan ayah dari putriku."


...💔💔💔...

__ADS_1


...Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya...


__ADS_2