
Paula sedang bersantai di kediamannya, baru kemarin dia pulang dari Paris mengakhiri masa kontraknya dengan pihak management. Sekarang dia hanya akan berkarir di Indonesia saja sambil fokus mencari keberadaan putranya, anak yang pernah dia buang karena egonya.
"Ada apa?" tanya Paula begitu menerima panggilan telepon dari orang yang dia minta mencari keberadaan putranya dan juga memantau kegiatan Alea.
"Aku akan kesana." ucap Paula memberi tahu.
Disinilah Paula sekarang berada, ditempat permainan anak-anak seperti yang diinformasikan orang kepercayaannya. Melihat orang tua bermain bersama anak-anaknya, membuat Paula semakin menyesal kehilangan putranya.
"Mengapa Alea dan Bagas berada ditempat ini?" gumam Paula sambil mencari keberadaan Alea dan Bagas seperti yang diberitahukan orang suruhannya.
Matanya menemukan orang yang dia cari, keduanya bercanda dan tertawa bahagia menikmati permainan bersama anak-anak yang Paula tidak tahu siapa mereka.
Kata andai dan jika berbaris di kepalanya, tapi Paula sadar bukan lagi waktunya berandai-andai ataupun berjika-jika tentang sesuatu yang sudah terjadi pada dirinya.
"Hai Alea." sapa Paula begitu melihat Alea duduk sendiri dan cukup jauh dari penglihatan Bagas.
"Aku butuh teman yang bisa di ajak berbagi. Apa kamu ada waktu?" pinta Paula.
Disinilah Alea dan Paula duduk berhadapan, setelah Alea berhasil menghindar dari penglihatan Zio dan Dini. Seperti permintaan Radit untuk sebisa mungkin tidak mempertemukan Zio dan Paula.
Sebelumya Alea juga berpamitan pada Bagas, mengatakan yang sebenarnya jika dia akan bicara berdua Paula, meskipun mantan istri Bagas itu memohon agar Alea tidak memberitahu suaminya.
"Jangan biarkan Bagas tahu, please." pinta Paula begitu Alea meminta waktu untuk pamit pada Bagas.
"Kita tidak bisa bicara kalau aku tidak pamit pada suamiku." jawab Alea.
Mendengar jawaban Alea, dengan terpaksa Paula memberikan waktu pada Alea untuk pamit pada Bagas yang cukup terkejut dengan kehadiran dan permintaan Paula.
"Dia mau apa sayang?" tanya Bagas ragu untuk memberikan izin nya.
"Hanya ingin bicara, dan kita tidak bisa selamanya terus menghindar Bee." jawab Alea menjelaskan. Bagas membenarkan apa yang Alea ucapkan, diapun mengizinkan Alea bersama Paula.
"Jangan jauh-jauh." ucap Bagas yang diangguki Alea.
__ADS_1
"Lea duduk disana." tunjuk Alea food court yang ada di seberang arena bermain anak-anak.
Bagas mengiyakan, setidaknya dia masih bisa memantau istrinya dari jauh karena tempat yang ditunjuk Alea tidak terlalu jauh darinya. Bagas mengecup kening Alea sebelum istrinya berlalu dan itu menjadi perhatian Paula.
"Aku cemburu sama kamu, Lea" ucap Paula mengawali perbincangan mereka.
Melihat perhatian dan cinta yang Bagas berikan pada Alea tentu saja membuat Paula cemburu. Selama ini tidak ada lagi orang yang mencintainya dengan tulus seperti Radit, pria yang dia tinggalkan demi karirnya sebagai model.
"Awalnya tante Helen meminta aku menghadiri pesta pernikahan kamu dan Bagas untuk membuatmu cemburu, tapi kenyataanya hari itu aku yang cemburu." ucap Paula lalu terkekeh.
Sejak awal perbincangan, Alea hanya menjadi pendengar yang baik dengan menyimak semua cerita yang mengalir dari mulut Paula, yang sebagian besar dia sudah tahu ceritanya. Hanya sesekali saja Alea menanggapi saat menjawab pertanyaan Paula, membiarkan mantan istri Bagas itu mencurahkan semua isi hatinya.
Paula mengakui Alea orang yang sangat berbeda dari kebanyakan orang yang sering dia ajak bicara. Istri Bagas itu bisa menghargai orang yang bicara dengannya, membuat Paula langsung merasa nyaman berteman dan berbagi kisah dengan Alea. Kali ini dia sudah menemukan orang yang tepat untuk dia ajak bertukar pikiran yang selama ini dia cari.
"Aku menyesal Lea." ucap Paula mengakhiri ceritanya.
"Nasi yang sudah menjadi bubur bukan berarti tidak bisa di makan. Kita bisa menambahkan bahan lain yang bisa membuat bubur itu menjadi enak untuk dinikmati." ucap Alea.
"Jangan pakai istilah, Lea. Aku tidak akan paham." jawab Paula.
"Maksud Lea, apa yang sudah terjadi biarkan saja terjadi karena tidak mungkin kita bisa merubahnya. Tapi kita bisa memperbaiki apa yang sudah terjadi itu dengan memperbaiki diri kita terlebih dulu. Baru kita akan mendapatkan hasil, meskipun hasilnya tidak akan sama seperti yang kita inginkan." jelas Alea agar Paula mengerti.
"Dan penyesalan tidak ada gunanya jika tidak didampingi keinginan kuat untuk memperbaikinya." tambah Alea penjelasannya.
"Karena itu, aku ingin orang masa laluku bersamaku untuk mencari putra kami." ucap Paula memberitahu Alea.
Sampai saat ini Paula masih menyembunyikan identitas ayah anaknya, dia tidak tahu jika Alea mengenal Radit orang yang dia ceritakan sebagai orang masa lalunya
"Tidak selamanya memperbaiki kesalahan itu harus dengan orang yang pernah ada dalam kesalahan kita." jawab Alea.
Satu sisi Alea merasa kasihan pada Paula, tapi disisi lain Alea juga ingin Radit bahagia bersama Ratna. Hari ini Alea bisa mengenal sosok Paula lebih dalam, bukan hanya dari cerita Bagas dan yang lainnya.
Mengenal lebih jauh Paula, membuat Alea yakin ibu dari Zio itu tidak akan bisa bersama Radit dengan kondisi Radit saat ini. Paula tetaplah Paula wanita yang egois seperti yang Bagas katakan, dia hanya memikirkan apa yang dia inginkan, tidak peduli dengan apa yang diinginkan orang lain.
__ADS_1
"Menurutmu apa yang harus aku lakukan, membiarkan ayah dari putraku bahagia?"
"Kenapa tidak, cobalah untuk bahagia melihat kebahagiaan orang lain." jawab Alea.
"Sulit." jawab Paula.
"Kata sulit hanya akan diucapkan orang yang putus asa, orang yang tidak ingin berusaha menjadi kan diri mereka jauh lebih baik."
Ucapan terakhir Alea membuat Paula diam, bukankah selama ini dia memang orang yang sering putus asa.
"Apakah Alea bisa melihat keputus asaan itu pada diriku?" ucap Paula dalam hati sambil menatap kagum pada istri Bagas itu.
"Alea pantas saja Bagas sangat mencintaimu, dia laki-laki yang beruntung. Dan mantan suamimu adalah orang yang bodoh, karena melepaskan wanita sempurna seperti dirimu."
"Paula, bagaimana jika kamu tahu jika laki-laki itu adalah orang yang sejak tadi kamu bicarakan." gumam Alea di dalam hati.
"Jangan berlebihan dalam memuji. Mantan suamiku tidak bodoh tapi karena memang aku yang tidak sempurna untuk dia."
Dari tempat bermain anak-anak, sesekali Bagas memperhatikan Alea. Melihat Alea dan Paula yang tertawa Bagas sedikit merasa lega, itu berarti Alea baik-baik saja.
Bukan hanya Bagas yang melihat mereka berdua, tanpa Alea dan Paula tahu seseorang sedang memperhatikan mereka yang sesekali berbicara serius dan sesekali tertawa. Membuat orang yang memperhatikan mereka merasa penasaran, dan mencari kesempatan untuk membalas dendam pada keduanya.
"Hei coba lihat, mantan istri dan calon mantan istri calon suami saya sedang bertemu. Sepertinya kalian sedang menyusun rencana untuk menyingkirkan aku." ucap Tika dengan sedikit keras sehingga menjadi perhatian banyak orang.
Alea hanya tersenyum melihat si sekretaris halu yang berdiri disampingnya. Sementara Paula langsung membulatkan matanya, tidak suka dengan kehadiran Tika.
"Apa yang kalian rencanakan?" tanya Tika.
"Merencanakan membawa kamu ke psikiater, agar halu yang bersemayam di kepalamu itu bisa di keluarkan." jawab Alea.
Paula tertawa keras mendengar jawaban dari Alea, teman barunya ini benar jika Tika adalah orang yang halu.
"Kamu berani-beraninya menghina aku gila." teriak Tika.
__ADS_1
...💔💔💔...
...Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya...