
Enam minggu sudah usia Adzkiya Naila Taleetha, putri kecil Alea dan Bagas itu semakin terlihat berisi dan menggemaskan. Sebagai orang tua baru, dalam enam minggu ini banyak pula pengalaman baru yang mereka berdua dapatkan.
Alea banyak belajar untuk jadi ibu yang baik bagi putrinya, dia juga memilih untuk merawat bayinya sendiri tanpa bantuan baby sitter. Anak yang terlahir dari rahimnya adalah anugrah terindah yang Alea dapatkan, karena itu dia ingin dengan tangannya sendiri putrinya tumbuh dan berkembang, dari bayi menjadi balita lalu tumbuh menjadi anak-anak lalu beralih menjadi remaja dan dewasa setelahnya. Alea tidak ingin melewatkan setiap moment perkembangan putrinya.
Untungnya Alea mendapatkan suami yang sangat mengerti dan memahami Alea, sehingga Bagas yang memiliki keinginan yang sama seperti Alea mendukung istrinya yang ingin merawat putri mereka sendiri. Bagas tanpa Alea minta, dia ikut membantu mengurus Adzkiya bila sedang berada di rumah seperti sekarang ini.
"Anak Papi tambah cantik seperti siapa ya..." ucap Bagas sambil membantu Alea yang sedang mengganti popok putrinya.
Bagas yang kebagian tugas menyiapkan pakaian dan popok bersih yang akan Adzkiya pakai setelah Alea membersihkan putri mereka.
"Sini, Papi yang pakaikan pakaian Kiya ya sayang." ucap Bagas sambil memindahkan Adzkiya ketempat yang bersih, tempat yang sudah dia siapkan pakaian bersih untuk Adzkiya.
"Tiga hari Papi nggak lihat kamu, badanmu cepat sekali besarnya. Ini pipi apa bakpau sih sayang." ucap Bagas lagi sambil menoel-noel pipi Adzkiya disela-sela dia memakai kan Adzkiya popok dan pakaian.
"Ya pipi dong Pi, kok bakpau sih." jawab Alea mewakili Adzkiya.
Bagas tersenyum menanggapi jawaban Alea. "Ini karena anak Papi mimik susu Mami terus, ngga bagi-bagi sama Papi." balas Bagas ucapan Alea sambil memberi kode pada istrinya.
Alea tersenyum, sejak melahirkan Bagas belum mendapatkan jatahnya lagi. Masa nifasnya sudah selesai beberapa waktu lalu, tapi Bagas terpaksa keluar kota untuk turun langsung menyelesaikan masalah di kantor cabang yang ada di Surabaya.
"Sabar ya Pi, tunggu Kiya bobok dulu." jawab Alea berbisik di telinga Bagas yang langsung menghadirkan senyum lebar diwajah suami Alea itu.
Bagas baru saja melakukan pemanasan sebelum melakukan olahraga malam, tapi suara tangisan Adzkiya mengganggu kegiatan pemanasnnya.
"Putri kita sepertinya tidak suka papinya menganggu waktu istirahat maminya." ucap Bagas sambil turun dari tempat tidur. Alea yang mendengar ucapan Bagas terkekeh.
"Biar Mami yang periksa Kiya, Bee." ucap Alea yang ikut turun dari tempat tidur.
"Biar Papi saja." ucap Bagas menahan Alea untuk tetap ditempatnya.
Tangisan putri kecil Alea itu langsung berhenti begitu dia diangkat Bagas dari tempat tidur bayi.
"Kiya masih kangen sama Papi kayaknya." ucap Alea yang melihat putrinya kembali terlelap dalam gendongan Bagas.
__ADS_1
"Maminya kangen nggak?" tanya Bagas sambil mendekati Alea, dia sudah meletakkan kembali Adzkiya kedalam box.
"Enggak. Enggak salah" jawab Alea sambil terkekeh membuat Bagas gemas melihat istrinya itu.
Bagas mengulangi pemanasan yang tadi sudah dia lakukan, kali ini olahraganya berhasil sampai pendiginan.
"Terimakasih sayang." ucap Bagas lalu menjatuhkan tubuhnya disamping Alea.
Seperti biasa, Bagas tidak pernah melupakan permintaan Alea yang ingin di peluk setelah mereka bercinta. Suara tangis Adzkiya kembali memenuhi kamar tidur Alea dan Bagas, membuat papi Adzkiya itu terpaksa melepaskan pelukannya. Dia turun dari tempat tidur dan langsung mengambil Adzkiya. Tidak seperti sebelumnya, kali ini tangis Adzkiya tidak mau berhenti meski Bagas sudah mengoyang-goyangkan putrinya agar tenang.
"Sini Bee, biar Lea susui Kiya. Mungkin dia lapar." ucap Alea meminta Kiya dari tangan Bagas.
Bagas meletakkan Adzkiya disamping Alea yang langsung memberikan putri mereka sumber kehidupan. Tagis Adzkiya mereda setelah dia menyecap sumber kehidupannya. Bagas kembali berbaring disamping Alea dan memeluk istrinya itu dari belakang, dia hanya ingin menepati janjinya untuk memeluk Alea setelah mereka bersatu biarpun ada sedikit gangguan dari putri kecil mereka.
Menjelang subuh Alea bangun dan mendapati tangan kekar suaminya masih melingkar di pinggangnya. Adzkiya sudah tidak ada disampingnya, entah kapan Bagas memindahkan Adzkiya ke dalam box. Alea berbalik menghadap Bagas, dia sangat bersyukur karena Bagas banyak membantunya merawat putri mereka.
"Terimakasih Bee, kamu benar-benar suami dan ayah siaga." ucap Alea pelan sambil menatap wajah tampan yang tengah terlelap sambil memeluknya.
"Cucu Opa semakin bulat saja pipinya ya." ucap Adam yang sedang bermain dengan Adzkiya.
Alea dan Bagas membawa Adzkiya berkumpul bersama Anita, Adam dan Riki. Mereka sedang berkumpul di kamar hotel yang ditempati Anita dan Adam. Besok akan berlangsung pernikahan Riki dan sandra yang akan dilaksanakan pagi hari dan dilanjutkan dengan pesta pernikahan di malam hari. Tapi hari ini keluarga inti Global Pratama dan keluarga Sandra sudah tiba di hotel untuk menginap.
"Riki, Bagas dan kamu Alea." ucap Adam memanggil ketiganya.
"Daddy meminta kalian berkumpul karena ingin membicarakan perusahaan." ucap Adam menjelaskan tujuannya.
"Bagas, apa Alvaro sudah bisa menggantikan posisi kamu di Buana Group?" tanya Adam.
"Belum sepenuhnya bisa dilepas, Uncle." jawab Bagas.
"Hei anak muda, apa kamu lupa yang kamu ajak bicara sekarang ini ayah mertua kamu." ucap Adam mengingatkan Bagas untuk memanggilnya daddy seperti Alea dan Riki.
Alea tertawa sementara Anita hanya menggelengkan kepala. Sudah dua bulan Anita dan Adam menikah, tapi Bagas masih saja lupa jika dia diminta memanggil daddy pada Adam.
__ADS_1
"Bukan lupa tapi belum terbiasa." jawab Bagas.
"Daddy mau membicarakan perusahan tentang apa, Dad?" tanya Alea.
"Daddy mau suami kamu segera memimpin Henry company." ucap Adam menjawab pertanyaan Alea.
"Apa sudah bisa?" tanya Adam pada Bagas.
"Bagas bicarakan dulu dengan oma, Dad."
"Baiklah, tapi Daddy harap kamu segera pulang ke Henry company. Sudah cukup kamu mencari pengalaman diluar." ucap Adam menanggapi jawaban Bagas.
"Alea, ibu kalian punya rencana untuk memberikan saham miliknya pada kakakmu Riki." ucap Adam lagi memberitahu Riki, Alea dan Bagas.
Global Pratama tetap dipimpin Riki sebagai pewaris dan juga pemilik saham. Saat ini, saham Riki dan Alea sama, sama-sama duapuluh persen. Anita berencana akan memberikan sahamnya yang tigapuluh persen pada Riki.
Sementara Bagas dan Sandra masing-masing akan mendapatkan sepuluh persen sebagai menantu. Anita juga berencana akan meberikan Zaki saham Global Pratama sebanyak lima persen.
"Kamu tidak apa-apa kan ibu memberikan bagian ibu pada kakakmu, Lea?" tanya Anita pada Alea, dia takut ketidak adilan dalam membagi hak keduanya akan jadi masalah.
"Tidak apa-apa Bu, Kak Riki kan anak laki-laki" jawab Alea.
"Lea, sebagai gantinya kamu akan mendapat saham Henry Company dari Daddy." ucap Adam memberitahu Alea.
"Daddy tidak perlu melakukan itu." jawab Alea.
"Kamu putri Daddy sekarang. Apa yang Daddy miliki itu juga milik istri dan anak-anak Daddy." ucap Adam.
Alea melihat pada Bagas yang mengangguk membuat Alea memilih diam, dia tidak lagi menjawab ucapan Adam. Tidak pernah Alea sangka dia akan sekaya ini, memilik banyak saham dari beberapa perusahaan. Lengkap sudah kebahagiaan Alea saat ini.
...💔💔💔...
...Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya...
__ADS_1