
Sudah tiga hari Radit dirawat, dan sore ini dia diizinkan pulang dengan catatan tidak boleh banyak bergerak dibagian lengan kiri yang terkena luka tembak.
"Terimakasih Dok, akan saya ingat pesannya." jawab Radit ucapan dokter yang memberikan peringatan padanya.
Dokter melirik pada Ratna yang sedang membantu Ita membereskan barang-barang milik Radit yang akan dibawa pulang. Kemarin Ratna hanya dirawat satu hari dan sudah bisa beraktifitas lagi setelahnya, karena itu sore ini dia bisa ikut menjemput Radit. Mereka berdua sudah didamaikan oleh Zaki dan meneruskan rencana pernikahan mereka yang akan dilaksanakan dua hari lagi.
"Beri pengertian pada calon istri anda untuk menunda malam pertama." bisik dokter yang hanya bisa didengar Radit. Dokter itu terkekeh sendiri dengan ucapannya, diikuti Radit.
"Baiklah, semoga cepat sembuh dan acara pernikahannya lancar." ucap dokter itu lagi.
"Terimakasih Dok." jawab Radit dan Ratna bersamaan.
"Kompak sekali ya calon pengantin ini." ucap dokter senior itu menggoda Radit dan Ratna.
Dokter pamit untuk memeriksa pasiennya yang lain. Ratna dan Ita juga sudah selesai memasukkan semua barang-barang yang aka dibawa pulang.
"Radit, sebaiknya kamu pulang kerumah uwak saja." ucap Ita memberi saran pada Radit.
"Kalau tidak merepotkan Uwak Radit tidak masalah, Wak." jawab Radit.
"Anak-anak dimana?" ucap Radit lagi bertanya pada Ratna.
"Dini ada di rumah, Zio..." Ratna tidak tahu harus jujur apa berbohong masalah Zio yang dua hari ini dibawa Paula ke apartemennya.
"Zio dimana?" tanya Radit melihat Ratna hanya diam.
"Anak kamu ada bersama ibunya, Kinan yang memberikan izin model itu membawa Zio pulang ke apartemennya." Ita yang menjawab.
"Sudahlah tidak apa-apa, dia tidak mungkin menyakiti anakmu. Sekarang fokus sama kesehatan dan acara pernikahan kamu dulu." ucap Ita lagi.
Radit hanya diam, biarlah Paula mengambil kesempatan ini untuk bersama Zio. "Semoga saja dia tidak mencemari pikiran Zio." gumam Radit.
Sementara itu di Buana Group Alea sedang memeriksa beberapa gambar denah untuk beberapa type perumahan di lahan yang baru akan Buana Group kembangkan. Lahan yang uang pembebasannya dikorupsi oleh Tika dan ayahnya sehingga proyeknya terbengkalai.
"Leoni, aku butuh yang lebih detail lagi, tolong sampai kan pada mereka untuk kirim secepatnya." ucap Alea pada Leoni.
__ADS_1
Tidak ada sahutan dari sekertarisnya membuat Alea terpaksa mengangkat kepala untuk melihat Leoni yang ternyata melamun.
"Leoni." panggil Alea lagi pada sahabatnya. Yang dipanggil masih saja tidak menjawab.
Puk. "Aduh." ucap Leoni begitu Alea menepuk tangannya.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Alea sambil menatap menyelidiki.
"Tidak ada." jawab Leoni berbohong.
"Kamu tidak bisa berbohong sama aku Leoni." ucap Alea.
"Apa kamu masih terus menghindar dari Galang?" ucap Alea lagi bertanya pada Leoni.
"Apa yang kamu butuhkan?" tanya Leoni. mengalihkan pembicaraan.
Alea hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap Leoni yang tidak mau terbuka kali ini. "Besok pagi tolong temani David menemui klien baru, aku tidak bisa karena ada janji sama Bu Nayla dari perusahaan Harley." jawab Alea.
"Dan ini aku minta tambahan keterangan, secepatnya." ucap Alea lagi.
"Baiklah Bu Bos, sekertarismu ini akan lakukan yang terbaik." jawab Leoni.
"Iya... iya, sekarang kita rapikan lalu simpan semuanya, karena Bu Bos sudah ditunggu sama pak bos." ucap Leoni sambil menunjuk pada Bagas yang melihat ke arah mereka. Alea selalu lupa waktu bila sudah serius dalam bekerja.
"Sudah waktunya pulang." ucap Bagas begitu masuk ke ruangan istrinya.
"Iya Bee, ini sedang di rapikan dan disimpan." jawab Alea. Bagas sekarang bukan pimpinan seperti yang Alea kenal dulu, datang yang pertama pulang yang terakhir.
"Hei, kenapa kamu jadi sama seperti Leoni yang beberapa hari ini sering melamun, sayang?" tanya Bagas begitu melihat Alea hanya diam saja, mereka sudah di dalam mobil menuju jalan pulang.
"Lea bukan melamun tapi baru menyadari sesuatu." jawab Alea. Bagas melihat kearah Alea
"Mulai dari kita menginap di rumah ibu, sepertinya kamu sudah tidak mengalami morning sicness lagi Bee." ucap Alea melanjutkan jawabannya.
"Iya kamu benar, sepertinya dedek kasihan sama Papi nya." jawab Bagas sambil mengusap perut Alea.
__ADS_1
"Sayang kapan jadwal periksa?" tanya Bagas begitu ingat bulan ini Alea belum menemui dokter Mery.
Alea menepuk keningnya, tadi pagi asisten dokter Mery sudah menghubunginya untuk mengingatkan sore ini adalah jadwal Alea kontrol. Dia lupa karena terlalu sibuk memeriksa pekerjaannya hari ini yang cukup banyak sedangkan David dia tugaskan untuk memeriksa keadaan da kondisi lahan yang akan mereka bangun untuk pusat perkantoran dan perumahan.
"Lea lupa, Bee. Sore ini jadwal Lea kontrol." jawab Alea memberitahu.
"Pak kita kerumah sakit." ucap Bagas memberi perintah pada sopirnya.
"Maaf Bee." ucap Alea merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, kita belum terlambat, Kan." jawab Bagas. Alea mengangguk membenarkan.
"Sayang, Kakak ingin menarik Lukman untuk membantu kamu di kantor. bagaimana?" tanya Bagas.
"Kakak tidak mau kamu kelelahan, Lukman orang yang bisa kamu percaya untuk membantu kamu selain David." ucap Bagas menjelaskan pada Alea.
"Tidak apa-apa Bee, Lea juga sudah mulai merasa cepat lelah." jawab Alea mengakui jika dia akhir-akhir ini sulit berkonsentrasi karena kehamilannya.
"Bee, dedek minta disayang."
Bagas tersenyum mendengar ucapan Alea, itu bahsa isyarat istrinya minta dipeluk. Sejak Bagas tidak mengalami morning sicness, sekarang Alea yang berubah menjadi manja. Alea tidak ingin berada jauh darinya dan Bagas suka dengan sikap Alea yang seperti ini sikap manja yang hanya Alea tunjukkan padanya.
"Sini." ucap Bagas sambil menggeser duduknya lalu merengkuh Alea dengan satu tangannya.
"Dedek apa maminya yang minta disayang?" tanya Bagas berbisik.
"Dua-duanya, hehehe." jawab Alea membuat Bagas gemas dan mencium pucuk kepala Alea berkali-kali.
Ciuman di kepala seperti yang Bagas lakukan saat ini, mengingatkan Alea saat pertama kali mereka berpelukan.
"Terimakasih untuk luka yang pernah kamu goresan untukku. Kini luka itu membawa aku dalam kebahagiaan. Aku harap kamu juga bahagia bersama mbak Ratna dan kedua anakmu, mas. Kita memang tidak berjodoh untuk waktu yang lama." ucap Alea di dalam hati.
Masih dalam dekapan Bagas, rangkaian peristiwa satu persatu kembali berputar dalam ingatan Alea. Satu persatu orang yang mengusik hidupnya mulai tersingkirkan. Satu persatu pula orang yang dijauhkan darinya kini kembali. Tapi satu yang tidak bisa kembali dalam hidup Alea, laki-laki pertama yang Alea cintai, orang yang selalu melindunginya, "ayah". panggil Alea didalam hati.
Tidak ingin larut dalam kesedihan, Alea mengeratkan pelukannya pada Bagas.
__ADS_1
...💔💔💔...
...Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya...