
Haikal mengajak putra dan menantunya untuk makan siang bersama setelah dia membahas sesuatu hal yang penting dengan Bagas.
Di sinilah sekarang mereka berada, disebuah restoran bintang lima. Bukan karena mereka orang yang mampu, sehingga memilih restoran ini. Tapi karena Bagas dan Haikal akan menemui rekan bisnis mereka di restoran tempat mereka berada saat ini.
"Senang bertemu dengan anda, Pak Heru." ucap Haikal menyapa rekan bisnisnya yang baru saja tiba.
"Sama-sama pak Haikal, senang bertemu dengan anda." balas Heru dengan menjabat tangan Haikal.
"Ini Bagas, putra saya yang memimpin Buana Group saat ini." Haikal memperkenalkan Bagas pada rekan bisnis mereka.
"Kami sudah pernah bertemu beberapa kali, tapi saat itu Pak Bagas masih memimpin di kantor cabang." jawab Heru memberitahu Haikal.
"Betul sekali Pak, kita bekerja sama mendesain resort milik Harley waktu itu." ucap Bagas menimpali.
"Dan ini nona Alea yang membantu merancangnya, bukan?" tanya Heru begitu melihat Alea.
Alea menagkupkan tangannya didada untuk memberi hormat, "Saya tidak bekerja sendiri, tapi banyak dibantu Bu Nayla adik Bapak." jawab Alea merendah.
"Kalian berdua itu sama, sama-sama memiliki ide desain yang luar biasa" timpal Heru memuji Alea dan adiknya.
"Sepertinya kita bisa mengadakan kerja sama lagi untuk resort kami yang baru." tawar Heru.
"Tentu saja, kenapa tidak. Selama ini kita selalu bekerja sama." sahut Haikal.
Mereka tertawa sejenak lalu menikmati makan siang setelah pelayan menghidangkan makanan yang mereka pesan di meja.
Seperti biasa, Bagas akan memanjakan istrinya setiap kali mereka makan di luar, Bagas yang memotongkan daging di piring Alea, menjadi perhatian Tika yang juga ikut makan disana tapi di meja yang berbeda dari Alea dan Bagas.
"Gue heran, selera Bagas cari istri kok begitu sih." ucap Tika pada David yang juga ikut makan siang disana. Karena setelah bertemu dengan pimpinan Harley, dia akan mendampingi Alea yang akan bertemu klien mereka yang lainnya.
"Begitu gimana?" tanya David tidak mengerti. Menurutnya, Alea itu wanita luar biasa, baru setengah hari saja dia menjadi asisten Alea, David sudah kagum dengan kecepatan dan ketelitian Alea dalam memeriksa berkas. Tutur katanya juga sopan dan yang pasti Alea menganggapnya teman padanya, bukan bawahan.
"Paula jauh lebih cantik dari Alea. Sama gue aja dia kalah, cantikan gue." jawab Tika.
"Siapa yang cantik?" tanya Alvin asisten Bagas yang baru tiba karena ada berkas yang tertinggal di mobil.
"Gue dong." sahut Tika.
__ADS_1
"Menurut gue enggak, Bu Alea jauh lebih cantik dari Paula, apalagi elo kalah jauh dari dia." jawab David.
"Gue setuju, kalau bukan istri bos aja gue juga akan kejar wanita sempurna seperti dia." sahut Alvin.
"Wanita dengan penampilan apa adanya begitu." sanggah Tika tidak terima dia dikatakan kalah cantik dari Alea.
"Itu yang jadi nilai lebihnya. Mau tahu kenapa?" jawab dan tanya David.
"Kenapa?" tanya Tika.
"Karena cantiknya alami, itu yang menjadi nilai lebih nya dimata Pak Bagas." jawab Alvin yang diacungi jempol oleh David.
Tika diam, dia tahu maksud ucapan Alvin yang menyidir cara dia berdandan dan berpakaian. Bagas sudah beberapa kali mengingatkan dia untuk berpakaian lebih sopan dan tidak terlalu tebal menggunakan make up.
"Jangan bangga dulu jadi istri Bagas. Baru berapa hari doang, nanti klo dia udah bosan juga elo di cerai sama dia." ucap Tika mengejutkan Alea yang baru saja keluar dari bilik toilet.
"Astaghfirullah." ucap Alea terkejut.
Saat ini mereka sedang berada di toilet yang ada di restoran. Alea pamit pada Bagas, Haikal dan Heru untuk ke toilet, Tika yang melihatnya menyusul Alea. Dia ingin bicara empat mata dengan Alea yang sekarang jadi rivalnya. Sejak kecil dia tumbuh besar dan dekat dengan Bagas, membuatnya merasakan yang namanya jatuh cinta pada sosok Bagas. Sayangnya Bagas selalu saja menganggapnya sebagai saudara. Bertahun-tahun dia coba menarik perhatian Bagas, berharap pria yang membuatnya jatuh cinta itu akan jatuh cinta padanya. Tika tidak terima jika kalah dengan orang seperti Alea, dia tidak akan menyerah begitu saja untuk mendapatkan perhatian Bagas lagi seperti dulu saat mereka sering bersama-sama, biarpun Alea sudah menjadi istri bosnya saat ini.
Alea tersenyum, "Apa kamu tidak sadar, kalau kamu sudah merendahkan orang yang seharusnya kamu hormati." ucapnya.
"Aku sudah kenal Bagas lebih lama dari kamu, kami tumbuh bersama sejak kecil. Bagas itu selalu bersiksp baik kepadaku, dia itu sayang dan cinta sama aku." ucap Tika percaya diri hanya karena sudah lama mengenal Bagas sejak kecil.
Alea yang sudah menjauh dari Tika menghentikan langkahnya. "Benarkah?" tanya Alea membalikkan badanya menghadap Tika.
"Mengapa bukan kamu yang dipilih dia menjadi istrinya kalau dia benar-benar sayang dan mencintai kamu?" tanya Alea lagi.
Alea tidak takut diancam oleh pelakor. Menghadapi wanita seperti Hana saja dia tidak takut, apalagi menghadapi orang seperti Tika yang tidak punya etika.
"Tidak bisa menjawab?" tanya Alea lagi sambil memindai Tika dengan matanya. Penyakit seperti Tika tidak akan Alea diamkan, dia harus bicara pada Bagas untuk menganti sekretarisnya. Sebaik apapun Tika dalam pekerjanya, tetap saja tidak pantas menjadi sekretaris pimpinan. Masih banyak orang yang baik yang layak jadi sekertaris suaminya.
"Temui saya kalau kamu sudah mendapatkan jawabannya." tantang Alea.
"Kenapa lama sekali sayang." tanya Bagas berbisik, karena dia mengkhawatirkan Alea.
"Antri Bee." jawab Alea sambil tersenyum seakan dia tidak ada masalah saat di toilet.
__ADS_1
Tika datang mendekati Bagas sambil membawakan berkas yang akan diserahkan pada Heru.
"Terimakasih Tika." ucap Bagas tanpa melihat ke arah sekretarisnya berdiri.
Alea hanya bisa tersenyum geli memperhatikan Tika yang mencoba mencari perhatian Bagas, sayangnya sedetik pun suaminya itu tidak melirik ke arah wanita itu.
"Papa kembali ke kantor. Kalian berdua saja yang menemui klien kita dari Andromega." ucap Haikal.
"Tika, ayo kita kembali ke kantor." ajak Haikal.
"Tapi Bagas masih disini untuk bertemu rekan bisnis kita, Om." tolak Tika.
"Ada Alvin dan David yang lebih menguasai bahan kerjasamanya dari pada kamu." jawab Haikal yang tidak bisa dibantah oleh Tika, karena apa yang diucapkan Haikal adalah benar.
"Kenapa sayang?" tanya Bagas melihat Alea seperti orang yang menahan tawa.
"Tidak apa-apa, Tika itu ternyata lucu." jawab Alea.
"Lucu bagaimana?" tanya Bagas tidak mengerti, yang dia tahu Tika itu jadi orang menyebalkan sejak mereka mulai duduk di bangku SMA.
"Sok jago dengan orang baru, tapi tidak bisa berkutik di depan papa."
Jawaban Alea langsung menarik perhatian Bagas, " Apa dia melakukan sesuatu sama kamu, sayang?" tanyanya.
Bagas memeriksa wajah, dan pakaian yang Alea kenakan. Dia tadi melihat Tika menyusul Alea ke toilet dan Bagas takut apa yang pernah terjadi antara Tika dan Paula terjadi pada Alea. Keduanya pernah bertengkar hebat, entah siapa yang memulai. Yang Bagas tahu mereka saling mencakar dan saling menjambak rambut, membuat oma Sundari murka kerena kejadian itu mempermalukan keluarga Buana.
Bagas lupa jika Alea itu seperti air sungai yang tenang, di permukaan dia tampak biasa, tapi di dalam dia mampu menggulingkan musuhnya dengan akal bukan otot. Wanita cerdas selalu menggunakan akalnya untuk menaklukan lawan, bukan dengan otot yang bisa mempermalukan dirinya sendiri. Karena kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah, tapi bisa menambah masalah.
"Aku baik-baik saja Bee. Kenapa kamu seperti orang yang ketakutan aku terluka?" jawab dan tanya Alea.
"Orang baru yang kamu katakan tadi itu kamu, kan?" bukan menjawab, Bagas kembali bertanya lagi. Alea hanya tersenyum menjawab pertanyaan Galih, ternyata suaminya peka dengan maksud yang dia katakan.
"Sebenarnya Kakak sudah tidak nyaman dia menjadi sekretaris Kakak." keluh Bagas.
Alea kembali tersenyum, tanpa dia minta ternyata suaminya sudah merasa sendiri jika Tika tidak cocok jadi sekretarisnya.
"Kenapa tidak Leoni saja yang jadi sekretaris kamu, Bee. Dan Tika yang akan jadi sekretaris Lea." tawar Alea yang langsung mendapat gelengan kepala dari Bagas.
__ADS_1
...💔💔💔...
...Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya...