
Begitu banyaknya undangan yang di sebar oma Sundari membuat pesta pernikahan Alea dan Bagas di bagi menjadi dua sesi. Saat ini Bagas dan Alea sedang istirahat sebelum melanjutkan ke sesi kedua yang acaranya akan lebih santai dari pada sesi yang pertama.
"Lea makan dulu, Nak." ucap Anita begitu melihat pelayan membawakan makanan untuk putri dan menantunya.
"Kamu juga Bagas." lanjut Anita ucapannya.
"Tidak usah sok perhatian dengan putra saya." ucap Helen menyela Bagas yang akan menjawab ucapan Anita.
"Ma, tolong jangan rusak hari bahagiaku" ucap Bagas untuk menghentikan ucapan Helen yang sudah dapat Bagas pastikan akan merendahkan istri dan mertua nya.
"Bagas, mereka itu kaya karena merebut kekayaan keluarga Hana" jawab Helen.
"Ma, aku mencintai Alea buka karena harta dan kedudukan." jelas Bagas.
"Kamu itu buta, Bagas. Paula yang sempurna kamu lepaskan dan lebih memilih wanita seperti ini." jawab Helen lagi.
"Ma, jangan ganggu Bagas dan Alea." panggil Haikal ayah Bagas.
"Bapak dan anak sama saja." ucap Helen sambil berlalu dengan menghentakkan langkah kakinya.
"Maafkan istri saya." ucap Haikal pada Anita.
"Tidak apa-apa Pak Haikal, saya bisa mengerti." jawab Anita
"Bunda maafkan mama saya." ucap Bagas yang juga meminta maaf atas perlakuan mamanya.
"Tidak apa-apa, Nak." jawab Anita yang tidak menghiraukan ucapan Helen. Oma Sundari sudah memberitahu tentang sifat Helen yang sebenarnya.
"Sayang maafkan mama." ucap Bagas beralih pada Alea.
"Lupakan saja Bee, Lea tidak apa-apa." jawab Alea meskipun sebenarnya dia merasa tidak nyaman karena Helen membandingkan dirinya dengan Paula yang Alea akui sangat sampurna.
Dulu dia sangat di sayang oleh mama Radit, sekarang dia mendapatkan mertua yang membencinya. Apa yang harus Alea lakukan kedepan nya?
"Terimakasih sudah mau mengerti." ucap Bagas lagi sambil menggenggam erat tangan Alea yang membalasnya dengan senyuman.
Menjelang maghrib, Alea baru bisa istirahat di kamar hotel. Dia sudah selesai membersihkan diri saat Bagas masuk ke kamar. Entah mengapa Alea langsung merasa gugup melihat kehadiran Bagas, ini kali pertama mereka berada dalam satu kamar dan hanya berdua saja.
__ADS_1
"Ini handuknya Bee." ucap Alea sambil memberikan handuk pada Bagas.
"Terimakasih sayang." ucap Bagas setelah dia menerima handuk dari tangan Alea sambil tersenyum.
"Saya mandi dulu." lanjut Bagas ucapannya.
Belum sempat Alea mengangguk untuk menjawab ucapan Bagas, suaminya yang baru beberpa jam itu mengecup bibirnya dan langsung berlalu masuk ke kamar mandi.
Blush, rona merah terpancar dari wajah Alea, dia segera menundukkan kepala lalu berbalik. Tidak berani melihat Bagas yang berjalan masuk ke kamar mandi. Suaminya itu sudah membuat jantungnya berdegup lebih kencang dari sebelumnya, Alea benar-benar tidak menyangka Bagas mengecup bibirnya. Laki-laki yang terlihat dingin itu kini mulai menunjukkan siapa dirinya. Alea tidak tahu saja, jika Bagas harus mengumpulkan keberanian untuk melakukan itu.
Melihat Alea yang sedang berdiri di balkon sambil menikmati pemandangan malam hari kota Jakarta, Bagas berjalan mendekat. Dia memeluk istrinya dari belakang lalu mengecup pipi sang istri.
"Terima kasih sudah mau menikah dengan ku." bisik Bagas.
"Lea yang berterima kasih Bee, karena sudah menerima lea yang...."
"Yang cantik, yang smart dan sempurna." potong Bagas ucapan Alea.
Alea tersenyum mendengar ucapan Bagas yang memuji dirinya, dia merasa tersanjung. Namun begitu mengingat kata-kata Helen yang membandingkan dirinya dengsn sosok Paula, Alea merasa Bagas hanya sekedar memujinya saja bukan mengatakan yang sebenarnya. Mantan istri suaminya itu seorang model, tentu tidak bisa disandingkan dengan dirinya yang hanya orang biasa. Pantas saja jika Helen selalu membandingkan dirinya dan Paula.
"Udara malam tidak baik untuk kesehatan." ucap Bagas setelah mereka hening sesaat.
Bagas menatap lekat Alea yang juga menatapnya. Jantung mereka sama-sama berdetak kencang, sama-sama menginginkan satu sama lain.
"Aku tidak akan memaksa jika kamu belum siap." ucap Bagas.
"Aku siap, tapi jangan tinggalkan aku setelah kita melakukannya." ucap dan pinta Alea yang membuat Bagas tersenyum dan mengangguk.
Bagas tidak ingin membuang waktu, dengan lembut dia mengecup bibir Alea yang sejak tadi menggodanya. Ini memang bukan pengalaman pertama bagi mereka, tapi bagi Bagas bercinta dengan orang yang di cintai itu yang membuat rasanya berbeda.
"Terima kasih sayang." bisik Bagas sambil mengeratkan pelukannya seperti yang diinginkan Alea yang tidak ingin ditinggalkan setelah mereka bercinta.
Di tempat lain, Radit bersandar di sandaran tempat tidurnya yang dulu dia tempati bersama Alea. Dia tidak bisa memejamkan mata, karena bayangan Alea yang akan menjadi milik laki-laki lain melintas di kepalanya. Kini Radit merasakan apa yang dulu Alea rasakan, sulit memejamkan mata membayangkan Radit yang bercinta dengan wanita lain.
Drtt, ponsel Radit bergetar, sebuah panggilan masuk dari orang yang kini Radit benci, orang yang menghancurkan hidupnya.
"Apa kamu kesepian sayang?" ucap Hana dari seberang sana.
__ADS_1
"Aku sudah tidak pernah lagi merasakan kesepian." jawab Radit.
Hana tertawa di seberang sana, dia menertawakan Radit yang seakan kuat kehilangan Alea. "Munafik." ucap Hana menghardik Radit.
"Aku atau kamu yang munsfik?" tanya Radit.
"Bukankah kamu yang sekarang kesepian?" tanya Radit sambil tertawa membalas mengejek Hana yang langsung memutus panggilan teleponnya.
"Ayah." seorang anak laki-laki memanggil dan berlari mendekati Radit.
"Zio mau bobo sama ayah, boleh?" tanya anak laki-laki itu.
Radit mengangguk, dia tidak munafik seperti yang Hana tuduhkan. Radit memang tidak lagi kesepian, dia memiliki Zio yang menemaninya saat ini. Anak yang dia adopsi dari panti asuhan, anak laki-laki yang pernah Alea inginkan saat mereka masih bersama. Radit menaruh harapan besar pada Zio, di berharap Zio bisa menemaninya kelak hingga dia tua. Sekarang dia siap menjadi orang tua untuk Zio.
"Tentu Zio boleh bobo sama ayah." jawab Radit yang langsung menyuruh putranya itu untuk naik ketempat tidur dan berbaring di sisinya.
"Ayah sayang sama Zio." ucap Radit sambil mengusap kepala putranya.
"Zio juga sayang Ayah." ucap Zio yang menghadirkan senyum di wajah Radit.
Radit menatap Zio yang terlelap dengan damai, usapan lembut tangan Radit di kepala Zio yang membuat anak laki-laki itu merasa tenang.
"Lea jika saja dulu aku mengijinkan kamu membawa Zio sejak dulu dalam kehidupan kita, dia akan memiliki orang tua yang utuh, punya ayah dan ibu. Tidak seperti sekarang yang hanya memiliki ayah." gumam Radit tanpa sadar meneteskan air matanya.
Alea membuka mata dan menemukan Bagas yang masih memeluknya dengan erat. Suaminya memenuhi janjinya, dia tidak melepaskan Alea walau sebentar saja dari pelukannya. Janji yang dulu tidak bisa di tepati Radit.
"Kamu sudah bangun sayang?" tanya Bagas yang menyadari Alea sedang memperhatikannya.
"Sebentar lagi subuh." jawab Alea.
Bagas mengangguk, "Kita mandi berdua" bisik Bagas.
Alea tidak bisa menolak karena Bagas langsung menggendongnya ke kamar mandi. Sesuatu yang baru Alea rasakan, Bagas benar-benar memperlakukannya dengan lembut dan memanjakannya.
"I love you." bisik Bagas disela-sela kegiatan mandi mereka.
Alea mendonggakkan kepalanya, memberanikan diri menatap Bagas. "I love you too." jawab Alea yang disambut Bagas dengan menautkan bibir mereka.
__ADS_1
...💔💔💔...
...Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya...