
"Sepertinya mereka sedang kedatangan tamu, sayang." ucap Bagas begitu melihat ada dua mobil mewah yang terparkir di halaman panti.
"Sepertinya, ayo kita lihat siapa mereka Bee." jawab dan ajak Alea pada Bagas karena dia penasaran dengan tamu yang berkunjung ke panti asuhan Permata Bunda.
"Beri kami waktu untuk mencari tempat yang baru." ucap Ibu kepala panti pada tamu-tamunya.
Alea dan Bagas saling bertatapan, "Ternyata tamunya ingin mengusir mereka, Bee." ucap Alea.
Sepasang suami istri itu memutuskan untuk masuk ke ruangan ibu kepala panti.
"Assalamualaikum." ucap Alea dan Bagas bersamaan.
"Waalaikumsalam." hanya ibu panti yang menjawab salam mereka.
"Maaf kalau kami menganggu, jika tidak salah tadi saya mendengar ibu meminta waktu untuk mencari tempat. Ada apa?" tanya Alea yang penasaran.
Ibu panti menceritakan pada Alea dan Bagas kalau rumah panti asuhan ini sudah dijual oleh anak dari pemiliknya yang dulu memberikan rumah ini untuk mereka tempati. Tamu yang datang adalah anak pemilik rumah panti ini dan orang yang membelinya.
Alea melirik Bagas yang langsung mengangguk. Baru kemarin mereka membahas rumah yang dulu ditempati Alea dan Radit akan Alea infak kan untuk anak yatim atas nama ayahnya, pemilik rumah itu sebenarnya. Tentu saja Bagas setuju dengan keinginan mulia istrinya, dan ternyata keinginan istrinya itu akan terwujud hari ini.
"Saya ada rumah yang bisa ditempati anak-anak, Bu." ucap Alea.
Ibu kepala panti menyambut baik uluran tangan Alea, begitu juga dengan anak-anak panti yang sudah mengenal Alea merasa senang. Mereka sempat sedih karena akan di titipkan di tempat yang berbeda jika tidak memiliki tempat tinggal yang baru.
Bagaspun segera memerintahkan orang-orangnya untuk membantu anak-anak panti membereskan barang-barang mereka. Bukan hanya itu, hari ini Bagas juga memesan makanan untuk mereka makan siang bersama.
"Terimakasih Nak Alea dan Pak Bagas untuk bantuannya dan makan siang hari ini." ucap Ibu kepala panti itu.
"Sama-sama Bu. Ini bentuk rasa syukur kami berdua, Karena Allah telah memberikan kepercayaan pada istri saya untuk mengandung anak kami." jawab Bagas.
"Alhamdulillah, ibu ikut senang mendengarnya Nak Alea." ucap Ibu kepala panti itu yang sedikit banyaknya tahu tentang kehidupan Alea.
"Bu, ada tamu." ucap Rara, salah satu anak panti asuhan disana.
"Sepertinya kita banyak kedatangan tamu hari ini." jawab ibu panti tersebut.
"Kamu kenal tamunya?" tanya Alea. Rara menggeleng.
Sementara itu diluar panti, dua orang wanita sedang menunggu untuk diizinkan bertemu pengurus panti, ini adalah panti asuhan terakhir yang dia datangi dari semua panti asuhan yang ada di Jakarta dan sekitarnya.
"Bagaimana kalau dia juga tidak ada disini tante?" tanya Paula pada Helen.
__ADS_1
Ya, kedua wanita yang datang ke panti adalah Paula dan Helen. Mereka mencari keberadaan putra Paula yang dia titipkan ke panti asuhan. Sayangnya dia tidak tahu panti asuhan mana putranya di titipkan oleh sepasang suami istri yang bekerja padanya, karena keduanya juga lupa dan hanya mengikuti sopir taxi yang menunjukkan mereka tempat untuk menitipkan bayi yang mereka bawa.
"Silakan masuk." ucap Rara setelah dia melapor pada ibu kepala panti.
"Bagas." ucap Helen dan Paula bersamaan.
"Hai Alea." sapa Paula ramah pada istri mantan suaminya itu.
Alea berdiri mendekati ibu mertuanya, meraih tangan wanita paruh baya itu yang akhir-akhir ini sudah bisa menerima keberadaan Alea sebagai istri Bagas. Bukan perjuangan yang mudah bagi Alea bisa meluluhkan ibu kandung dari Lisa itu.
"Kalian sedang apa?" tanya Helen pada anak dan menantunya.
"Hanya berbagi rezeki Ma." jawab Bagas.
"Silakan duduk Bu, Mbak." ucap Ibu panti begitu tahu Alea dan Bagas mengenal keduanya.
"Nak Alea memang rutin berkunjung kesini." ucap Ibu panti memberitahu Helen dan Paula.
"Saya mamanya Bagas, dan ini keponakan saya." ucap Helen memperkenalkan dirinya dan Paula.
"Kami sedang mencari anak keponakan saya yang hilang. Mungkin dibawa orang ke panti ini." ucap Helen memberitahu maksud dan tujuannya datang ke panti.
"Bagaimana Bee?" tanya Alea sambil berbisik agar tidak didengar oleh yang lain.
Bagas mengusap punggung tangan Alea untuk tenang, biarlah Paula mengetahui keberadaan putranya. Tapi jangan dari mulut Alea, agar istrinya itu tidak ingkar janji.
"Boleh saya tahu kronologi dan waktu kejadiannya?" tanya ibu panti.
Paula menceritakan apa yang terjadi, tapi dia berbohong jika dia sengaja menyingkirkan bayi itu dengan mengatakan bayinya di pisahkan secara paksa oleh orang tuanya karena membenci ayah sang bayi.
Ibu panti yang tidak mengerti masalah sebenarnya memberi tahu jika ada anak laki-laki seperti yang disebutkan Paula memilik tanda lahir di pahanya.
"Tapi anak itu sudah diambil oleh suami Mbak." ucap Ibu panti itu membuat Paula terkejut.
"Maksud ibu?" tanya Helen tidak mengerti.
"Suami Mbak tadinya datang ingin mengadopsi anak yang sempat ingin di adopsi oleh Nak Alea. Waktu dia membaca nama biologis ayah anak itu, yang tercantum di catatan kami ternyata namanya sendiri." jelas ibu panti.
"Radit." ucap Paula.
"Iya, pak Radit yang membawa Zio."
__ADS_1
Glegar membahana dikepala Paula begitu ibu panti menyebut nama Zio. Anak laki-laki yang pernah dia temui kala itu bersama Radit, ternyata putra yang dia cari selama ini. Radit pasti tahu Zio putranya, tapi Radit menyembunyikan Zio darinya.
"Terimakasih Bu, saya tahu harus menemui siapa." ucap Paula yang pergi begitu saja.
"Alea, apa kamu tahu tentang ini?" tanya Helen yang tahu Radit adalah mantan suami Alea.
"Nak Alea tidak tahu apa-apa, Bu." ibu panti yang menjawab pertanyaan Helen pada Alea.
Helen melihat pada Bagas yang mengangguk membenarkan ucapan ibu panti.
"Mama pulang." ucap Helen pada Bagas.
Mendengar itu Alea langsung berdiri meraih tangan ibu mertuanya untuk dia salimi. Helen tidak menolak, sejak dia sudah bisa menerima Alea jadi menantunya, dia sudah berjanji pada Haikal tidak akan lagi bersikap kasar pada Alea.
"Mama pulang." ucap Helen pada Alea.
"Hati-hati Ma, tolong Paula dijaga dan ditemani." jawab Alea yang diangguki oleh Helen.
Satu tujuan Paula saat ini adalah Global Pratama dimana Radit bekerja.
"Paula." panggil Zaki yang melihat kehadiran model yang mereka kontrak datang ke perusahaan.
Zaki mengira Paula datang untuk urusan pekerjaan tapi ternyata dia salah. Paula hanya menyapanya sekilas dan bertanya dimana ruangan Radit padanya. Zaki yang sudah tahu cerita sebenarnya menunjukkan dimana ruangan Radit dan Ratna berada, dia juga mengikuti Paula dari belakang.
"Sudah waktunya kamu tahu sebelum Radit resmi menjadi menantuku" ucap Zaki dalam hati.
"Kenapa?" tanya Paula begitu dia berada di depan meja kerja Radit.
Ruangan itu hanya ada Radit sendiri disana, karena rekannya yang lain belum kembali dari istirahat siang termasuk Ratna yang pergi bersama Leoni.
"Kenapa kamu tidak memberitahu Zio adalah putraku Radit." ucap Paula sambil meneteskan air matanya.
"Maaf." hanya itu yang bisa Radit ucapkan.
"Aku memang salah telah menitipkannya di panti asuhan tapi bukan berarti kamu berhak memisahkan seorang ibu dengan anaknya." ucap Paula yang sudah duduk di hadapan Radit.
"Lalu bagaimana selama ini dengan kamu yang memisahkan ayah dari anaknya? Bahkan tidak pernah memberitahu keberadaannya." pertanyaan dan ucapan Radit membuat Paula diam.
...💔💔💔...
...Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya...
__ADS_1