
"Ayo sayang." suara ajakan Bagas mengejutkan Alea.
"Kemana?"
Tanpa menjawab pertanyaan Alea, Bagas langsung menggandeng istrinya berjalan mendekati menara Eiffel. Dia mengajak Alea masuk ke restoran 58 Tour Eiffel yang terletak di lantai pertama menara Eiffel.
Sebenarnya Bagas ingin mengajak Alea ke Le Jules Vernes, sebuah restoran yang terletak di tingkat kedua menara Eiffel, karena memiliki kelebihan tersendiri dibandingkan dengan restoran Le 58 Tour Eiffel. Dengan tempatnya yang lebih tinggi, mereka bisa memandangi pemandangan Kota Paris lebih jelas dan view yang lebih memikat. Sayangnya tempat itu sudah penuh saat Bagas akan reservasi.
Alea berdiri di jendela besar yang memberikan pemandangan hamparan rumput yang megah di luar menara yang dikenal sebagai Trocadero dan Champs de Mars, Alea juga bisa melihat detail desain besi yang rumit dari menara Eiffel.
"Pemandangannya sangat indah, Bee." ucap Alea mengagumi apa yang dia lihat.
"Kamu suka?" tanya Bagas.
"Hmmm, suka. Terimakasih Bee." jawab Alea.
Alea dan Bagas menikmati menu makanan tradisonal Prancis. Seketika ingatan Alea kembali saat Radit memanjakan Hana dengan makanan mahal seperti yang Bagas lakukan padanya saat ini, sementara saat itu dia hanya bisa menelan ludah untuk bisa menikmati makanan tersebut.
Sekarang Alea bisa merasakannya, bahkan lebih mewah dari tempat Radit memanjakan Hana. Roda kehidupan terus berputar, dan Alea sedang berada di roda tertinggi hidupnya. Harapan Alea hanya satu, menjaga dan mempertahankan apa yang dia dapatkan saat ini.
Terlalu larut dalam lamunannya hingga Alea tidak menyadari jika Bagas sudah berdiri di belakangnya.
"Bee, ini indah sekali." ucap Alea begitu dia menyadari Bagas telah mengalungkan sebuah kalung berlian di lehernya.
"Karena yang memakainya adala wanita yang istimewah." jawab Bagas.
"Terimakasih, Bee." hanya itu yang bisa Alea ucapkan. Dia tidak tahu harus bersikap seperti apa, begitu banyak kejutan yang Bagas berikan padanya.
Tepat pukul sepuluh malam, Alea dan Bagas kembali ke kediaman keluarga Buana Group yang ada di Paris. Alea segera membersihkan diri lalu merebahkan tubuhnya dia atas tempat tidur.
Hari ini melelahkan tapi sangat menyenangkan bagi Alea. Bukan hanya menghabiskan waktu di sekitaran menara Eiffel, Bagas juga mengajaknya berkeliling untuk berbelanja. Perjalanan mereka berakhir dengan makan malam sambil berlayar di sungai Seine.
Menunggu Bagas yang masih berbincang dengan kepala asisiten rumah tangga diruang kerja, Alea meraih ponselnya. Banyak pesan yang masuk, tapi satu yang menjadi perhatian Alea. Sebuah pesan video yang dikirim Reina membuat Alea terperangah.
Ada Radit, Ratna dan juga Paula yang sedang adu mulut membahas anak. Jika Ratna bersama Radit, Alea bisa mengerti karena keduanya sama-sama bekerja di Global Pratama. Tapi Paula, sejak kapan Radit mengenal mantan istri Bagas. Alea bahkan tidak pernah mendengar Radit menyebut nama itu selama bersamanya.
Alea meneruskan membaca pesan yang dikirim Reina.
Reina: [Kamu tahu kalau Radit dan Paula pernah menjalin hubungan?]
__ADS_1
Reina: [ Mereka bahkan punya anak di luar nikah]
Alea menutup mulut tidak percaya dengan pesan yang dikirim Reina. Rahasia apa lagi yang pernah Radit sembunyikan darinya.
"Ada apa sayang?"
Suara Bagas mengejutkan Alea, terlalu fokus dengan ponselnya hingga dia tidak tahu Bagas yang sudah berdiri di hadapannya.
"Tidak ada apa-apa, Bee. Hanya membaca pesan dari mbak Rei." jawab Alea. Memang dia tidak berbohong tapi tetap saja Alea tidak bisa menyembunyikan wajah yang sedang memikirkan hal lain dari pandangan Bagas.
"Pakaian ganti sudah Lea siapkan." jawab Alea lagi menunjuk pakaian yang ada di ujung tempat tidur.
Bagas melihat kearah yang ditunjuk Alea, lalu mengangguk. "Kakak mandi dulu." ucap Bagas sambil mencuri cium di bibir istrinya sebelum berjalan ke kamar mandi.
"Bee." Bagas menanggapinya dengan terkekeh. Dia suka menggoda Alea dan mendengar rengekan istrinya yang memanggil namanya dengan sebutan Bee yang Alea sematkan untuknya.
Alea sudah terlelap begitu Bagas keluar dari kamar mandi, tapi tangan istrinya masih memegang ponsel. Bagas yakin Alea tertidur karena kelelahan, sementara dia belum selesai dengan ponselnya.
Ponsel Alea menyala begitu Bagas ingin mengambilnya, Satu pesan masuk dari Reina. Seperti dugaan Bagas jika istrinya masih berkirim pesan dengan Reina tapi dia sudah tertidur, sambil tersenyum Bagas menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Alea.
Reina: [Lea, lo kok diem aja sih.] Pesan dari Reina yang tertera di notifikasi yang sempat Bagas baca.
Hal itu memancing rasa penasaran Bagas, dia pun akhirnya menempelkan jari Alea untuk membuka kunci ponsel milik istrinya itu.
Terlihat semua pesan yang di kirim Reina pada Alea oleh Bagas. Kini dia tahu apa yang dipikirkan Alea. Bagas pun baru tahu jika kekasih Paula adalah Radit, ayah dari anak Paula yang dia titipkan di panti asuhan.
Menghapus pesan terakhi dari Reina setelah dia membalas memberi tahu saudara alea tersebut jika Alea sudah tidur. Meletakkan ponsel istrinya di atas nakas, Bagas ikut membaringkan diri memeluk Alea.
"Jangan jadikan masalah mereka merusak hubungan kita." bisik Bagas sebelum dia mencium kening Alea dan ikut terlelap.
Suara alarm yang di pasang Alea berbunyi, tidak ada suara adzan yang berkumandang membuat Alea harus mengatur pengingat jadwal sholat nya. Terjaga dari tidurnya, Alea baru sadar jika semalam dia masih berkirim pesan dengan Reina.
Alea menarik nafas lega saat tahu tidak ada pesan lain yang dikirim Reina. Meletakkan kembali ponselnya Alea membangunkan Bagas.
"Bee." panggil Alea sambil mengecup bibir Bagas. Apa Alea tidak tahu jika itu bisa memancing kejantanan Bagas berdiri tegak.
"Bee, sudah waktunya subuh." ucap Alea dengan kembali mengecup bibir suaminya.
Bagas tidak melepaskan kecupan Alea, membuat istrinya itu terkejut.
__ADS_1
"Jangan suka mancing." ucap Bagas setelah melepaskan pangutannya.
Alea terkekeh, "Lea hanya membangunkan Kakak untuk sholat." jawab Alea yang tidak merasa bersalah telah membangunkan yang lain di diri Bagas.
"Sayang, sini." Bagas meminta Alea mendekat padanya. Mereka baru saja selesai sholat subuh berjamaah.
"Apa ada sesuatu yang menganggu pikiran kamu?" tanya Bagas sambil merapikan mukena yang dikenakan Alea.
Alea diam sesaat, tapi dia tidak bisa terus menyimpan perasaan yang menganggu pikirannya pada Bagas.
Alea berdiri untuk mengambil ponselnya, lalu dia membuka pesan dari Reina dan menunjukan video yang dikirimkan saudaranya itu pada Bagas.
Bagas merasa bersalah sudah melihat video itu lebih dulu tanpa ijin Alea.
"Kakak juga baru tahu kalau ternyata Radit adalah ayah dari anak yang Paula lahirkan." ucap Bagas sambil mengembalikan ponselnya pada Alea.
"Bee, Kamu tahu Paula punya Anak sebelum menikah denganmu?" tanya Alea untuk meyakinkan apa yang dia pikirkan. Bagas mengangguk.
"Itu salah satu yang menjadi alasan kami bercerai." jawab Bagas.
"Paula tidak jujur diawal pernikahan kami. Tidak masalah menikah karena di jodohkan, tapi jadi masalah jika diawali dengan kebohongan." lanjut Bagas ucapannya.
"Sayang, itu masalah mereka bukan masalah kita. Meskipun mereka berdua orang masa lalu kita." ucap Bagas lagi sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah Alea.
"Kakak tidak ingin hal itu menganggu hubungan kita. Itu masa lalu mereka, biarkan mereka yang menyelesaikannya. Kita fokus dengan masa depan kita." ucap Bagas lagi.
"Kamu benar Bee." jawab Alea memeluk erat tubuh suaminya.
"Jangan menggoda singa di pagi hari." bisik Bagas yang mendapat kekehan dari Alea yang dihentikan Bagas dengan melu mat bibir istrinya.
"Singa yang halal, kenapa takut." jawab Alea di sela-sela pangutan mereka.
Bagas benar, untuk apa Alea memikirkan masa lalu yang sudah usai untuknya dan juga Bagas. Kini saatnya Alea menikmati masa depannya bersama Bagas pria yang tulus mencintainya.
"I love you, Bee." bisik Alea di tengah percintaan mereka yang di balas Bagas dengan pelukan erat.
"I love you too, sweet heart." bisik Bagas.
...💔💔💔...
__ADS_1
...Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya...