
Tiba dikamar rawat inap Ratna, Alea melihat sepupunya itu sedang bicara dengan asisten rumah tangganya melalui sambungan telepon, karena terdengar Ratna sedang menanyakan keadaan Dini putrinya pada sang asisten.
"Bagaimana kondisi kamu, Rat?" tanya Anita begitu Ratna menutup panggilan teleponnya.
"Sudah lebih baik tante." jawab Ratna. "Kapan kalian datang?" tanya Ratna yang memang tidak menyadari kehadiran Alea dan Anita juga Zio.
Ratna tersenyum pada Zio, "Zio, sini sayang." panggil Ratna agar Zio mendekat.
"Kamu sudah bertemu ayah?" tanya Ratna pada Zio sambil mengusap kepala calon anaknya itu.
"Sudah, tapi ayah masih tidur Bu" jawab Zio mengadu, karena sejak pagi dia datang Radit masih tidur karena pengaruh obat.
"Tidak apa-apa, biar Ayah cepat sembuh. Nanti kalau sudah sembuh ayah bisa main lagi sama Zio dan adik Dini." ucap Ratna sambil menyuruh Zio naik ketempat tidurnya.
"Sini peluk Ibu. Ibu kangen sama Zio." pinta Ratna pada Zio yang langsung disetujui kakak putrinya itu.
Zio suka berada dalam pelukan Ratna, dia merasakan rasa yang sama seperti pelukan Alea yang dulu sering dia rasakan. Zio bisa merasakan memiliki seorang ibu yang selalu dia rindukan. Berada dalam pelukan Ratna maupun Alea, Zio merasakan ketenangan dalam jiwanya. Karena kedua wanita itu tulus menyayanginya.
"Mama, peluk Zio juga." pinta Zio pada Alea.
Alea tidak mungkin menolak permintaan Zio, dia menyayangi Zio bahkan sebelum dia tahu anak laki-laki ini putra Radit. Ketiganya berpelukan saling menyayangi.
"Zio, Oma nggak diajak nih?" tanya Anita menggoda Zio.
"Oma sini." panggil Zio tanpa melihat Anita karena wajahnya tertutup tubuh Alea.
Anita tersenyum, dia berjalan mendekat pada ketiganya lalu memeluk ketiganya.
"Sudah jangan lama-lama, nanti ibu kamu tidak bisa bernafas." ucap Anita pada Zio setelah mengurai pelukannya.
Zio tertawa lepas, dia bahagia dikelilingi orang-orang yang menyayanginya. Walau ibunya tidak menginginkan kehadiran dirinya, tapi Zio masih bisa merasakan kasih sayang tiga wanita yang menyayanginya.
"Zio sayang Ibu, Mama dan Oma." ucap Zio sambil tersenyum lebar.
"Ibu juga sayang Zio." jawab Ratna kembali memeluk anak laki-laki itu.
"Mama sudah sayang Zio dari Zio masih bayi." sahut Alea sambil menunjukan gaya menggendong bayi.
"Oma biarpun baru bertemu kamu, tapi Oma juga sayang sama Zio." balas Anita ungkapan sayang Zio.
Tanpa mereka tahu, Paula menyaksikan kedekatan putranya dengan Alea, Ratna dan Anita dari balik pintu dengan perasaan yang tidak bisa dia gambarkan. Air matanya jatuh tanpa bisa di tahan, rasa yang dia rasakan saat ini adalah rasa bersalah dan rasa sakit diabaikan.
__ADS_1
"Rasa sakit ini hukuman untuk mama, karena mama sudah menyia-nyiakan kamu Zio, darah daging mama." ucap Paula lirih.
Tadinya Dia hanya penasaran bagaimana hubungan Zio dan Ratna, tapi rasa pemasarannya menjadi rasa sakit dan bersalah.
***
Melihat Zaki dan Riki sedang bicara dengan tim keamanan Buana yang berjaga di rumah sakit, Bagas memilih untuk bergabung bersama keduanya. Bagas akan menyusul Alea dan ibu mertuanya menemui Ratna setelah urusannya selesai.
Bersama Riki dan Zaki, Bagas membahas musibah yang menimpa Ratna dan Radit yang ternyata didalangi oleh Hana dan Boy.
"Bagaimana menurut kamu, Bagas?" tanya Zaki setelah mereka menerima laporan dari tim keamanan Buana yang menceritakan kronologi kejadian kecelakaan yang menimpa Radit.
"Laporkan saja, Om." jawab Bagas.
"Bukankah kita memang sedang mencari cara untuk mengamankan wanita itu." ucap Bagas lagi melanjutkan jawabannya.
"Iya, kamu benar. Kita tidak perlu mencari cara lagi bagaimana harus memasukkan wanita itu kedalam penjara menyusul ibunya." jawab Zaki.
"Bagaimana Radit, apa dia belum sadar juga?" tanya Bagas.
"Om belum melihatnya." jawab Zaki.
"Kita tunggu keterangan dari Radit bagaimana kejadian sebenarnya." ucap Bagas.
"Keterangan mereka hanya sebatas saksi. Kita juga tidak tahu apa yang menyebabkan Radit pergi lagi setelah pulang ke rumahnya." jawab Bagas.
"Dia mencari Zio, itu keterangan dari asisten rumah tangganya, Pak." jawab salah satu anggota tim keamanan Buana.
"Zio pergi malam-malam?" tanya Bagas heran.
"Dia diajak pergi nona Paula." jawab anggota keamanan Buana yang memang bertugas mengawasi kediaman Radit.
"Kesempatan itu digunakan pelaku menjalankan aksinya." ucap Riki.
"Om akan memeriksa keadaan Radit dulu." ucap Zaki.
"Biar Riki saja Om. Om Zaki siap-siap saja ke kantor." sahut Riki memberitahu Zaki.
Zaki setuju dengan saran yang diberikan Riki, dia meninggalkan Bagas dan Riki yang masih ingin berbicara berdua. Belum sampai dia ke kamar rawat inap Ratna untuk mengambil pakaian ganti yang dibawakan Alea dan Anita, Zaki melihat seseorang yang dia kenal duduk di taman rumah sakit dan orang itu menangis.
"Ada masalah apa lagi?" tanya Zaki begitu dia berdiri disamping bangku tempat Paula duduk.
__ADS_1
"Om Zak." panggil Paula begitu melihat Zaki.
Paula berdiri dan langsung memeluk paman dari Alea dan Ratna itu. Hal ini mengingatkan Zaki pada peristiwa delapan tahun yang lalu. Saat itu dia tidak sengaja menemukan Paula menangis seorang diri disela-sela shooting acara di salah satu televisi swasta tempat dia bekerja.
"Om, apakah tawaran yang dulu pernah Om tawarkan padaku masih berlaku?" tanya Paula.
"Kamu kembali melakukan kesalahan yang sama?" tanya Zaki yang di jawab Paula dengan gelengan kepala.
Dulu saat Zaki menemukan Paula menangis, gadis itu menceritakan masalah yang sedang dia hadapi. Paula memberitahu Zaki jika saat itu dia hamil anak dari kekasihnya.
Delapan tahun yang lalu.
"Aku hamil, Om Zak." ucap Paula memberitahu Zaki masalah yang kini dia hadapi.
"Tapi aku tidak ingin ayah anak ini tahu." ucap Paula lagi membuat Zaki menggelengkan kepala.
"Menuru Om, apapun masalah kamu dan ayah bayi itu, sebaiknya kamu jujur dengannya. Dia harus tahu tentang anak yang kamu kandung."
"Tapi aku tidak menginginkan bayi ini Om, karirku bisa hancur dan aku juga tidak mau menikah dengan ayah bayi ini." jawab Paula.
"Jangan pernah berpikir untuk menggugurkan bayi itu. Bukan keinginan dia hadir di dunia ini karena dosa orang tuanya." ucap Zaki dengan nada kesal, sementara Paula hanya diam mendengar ucapan Zaki.
"Temui ayahnya, katakan yang sebenarnya. Jangan tambah dosa kamu dengan melenyapkan bayi itu." ucap Zaki lagi masih berusaha agar Paula tidak melakukan dosa lagi.
"Kalian juga harus menikah agar anak itu punya status." ucap Zaki lagi menasehati.
"Kami sudah berpisah, terakhir kami bertemu, kami bertengkar hebat karena dia tidak mau mendukung karirku, Om. Dan sekarang aku tidak tahu dia dimana." jawab Paula. Paula jujur tentang pertengkarannya, tapi dia berbohong tentang ayah bayi itu yang sebenarnya masih ingin bertemu dengannya. Hanya saja Paula selalu menghindar untuk tidak bertemu.
"Aku akan mengakui anak itu sebagai ayahnya. Kita menikah sampai anak itu lahir. Jika kamu tidak menginginkan anak itu, biar aku yang merawatnya setelah kita bercerai." ucap Zaki.
Zaki hanya ingin menyelamatkan hidup anak bayi yang tidak berdosa itu, jangan sampai Paula menggugurkan bayinya.
Paula tertawa, dia menertawakan Zaki yang mengajaknya menikah. "Om ingin menikah dengan aku?" tanya Paula.
"Jangan bermimpi Om, dengan ayah bayi ini saja aku tidak mau, apalagi sama Om Zak.
Aku ini model Om, sebentar lagi namaku akan naik daun dan akan sangat terkenal, aku bahkan ingin berkarir diluar negeri.
Bagaimana bisa aku menikah dengan Om, yang hanya pegawai televisi swasta seperti ini. Apa kata orang nanti." ucap Paula dengan sombong.
...💔💔💔...
__ADS_1
...Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya...