Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya

Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya
46. Mengunjungi Global Pratama


__ADS_3

Sepuluh hari Bagas cuti dari pekerjaannya sebagai pemimpin Buana Group, hari ini suami Alea itu sudah harus kembali melakukan aktifitas nya di perusahaan sebagai pimpinan.


"Kamu hari ini masih dapat izin untuk tidak masuk kerja, jadi manfaatkan waktu mu untuk istirahat." ucap Bagas menasehati Alea.


"Bee, hari ini Lea mau ke Global Pratama." jawab Alea.


"Suami mu ini lupa sayang." sahut Bagas.


Alea sudah dari kemarin meminta izin padanya untuk pergi ke Global Pratama. Kemarin mereka tidak bertemu Riki, sementara Alea masih penasaran dengan kunjungan kakak kandungnya itu ke toko perhiasan. Mencoba bertanya dengan sang bunda yang ternyata juga tidak tahu dan Riki tidak bercerita apapun pada ibunya.


"Sopir yang akan mengantarkan kamu, jangan coba-coba untuk membawa kendaraan sendiri." lanjut Bagas ucapannya.


"Siap Bos." jawab Alea dengan mengangkat tangannya memberi hormat.


Bagas terkekeh melihat istrinya, jika boleh memilih rasanya lebih nyaman dirumah bersama orang yang dicintainya. Tapi tugasnya sebagai pemimpin sudah menunggunya, dan Bagas harus bertanggung jawab. Oma Sundari sudah mempercayakan dia untuk memimpin Buana Group. Bukan karena dia cucu kesayangan, tapi karena Bagas dinilai lebih mampu dari pada Dave kakak sepupunya untuk memimpin Buana Group.


"Selamat bekerja Bee, semangat." ucap Alea setelah Bagas mengecup keningnya.


Bu Tuti melihat sepasang suami istri itu tersenyum lebar, bayi laki-laki yang dia asuh sejak lahir itu sekarang menemukan pasangan hidup yang dicintainya, bu Tuti ikut bahagia dengan kebahagiaan Bagas.


Sementara itu di Paris, Helen menemui Paula yang sudah kembali melakukan aktifitas nya sebagai model. Kebetulan sekali Paula sedang ada pemotretan di Paris saat Helen menghubunginya dan di sinilah mereka bertemu, disebuah cafe yang tidak jauh dari tempat Paula pemotretan.


"Percuma saja kamu itu jadi model cantik tapi buat Alea cemburu saja tidak bisa." ucap Helen sedikit kesal dengan kegagalan keponakannya itu.


"Aduh tanteku sayang, aku sudah bilang aku hanya akan datang di pesta pernikahan Bagas, selanjutnya tante yang harusnya berperan."


"Tante minta kamu untuk mempermalukan Alea di pesta itu, tapi kenyataannya kamu malah bersikap baik padanya." ucap Helen lagi.


Paula tertawa, "Aku yang cemburu dengan Alea hari itu." jawab Paula jujur yang langsung mendapatkan mata membola dari Helen.


"Terkadang aku menyesal meminta cerai dari Bagas, jika saja saat itu aku tidak jujur tentang diriku mungkin sampai saat ini aku masih menjadi istrinya." ucap Paula.


"Tante bisa bantu kamu kalau kamu mau kembali jadi istrinya." sahut Helen.


"Sayangnya aku tidak menginginkan itu lagi." jawab Paula.


"Apa lagi jika aku harus menuruti semua yang tante inginkan." lanjut Paula ucapannya membuat Helen membuang muka, kesal dengan ucapan Paula.


"Ku rasa Alea bukan wanita yang perlu tante takutkan, dia tidak menginginkan harta ataupun saham Buana Group. Itu hanya ketakutan Tante sendiri, karena Tante yang tidak ingin kehilangan apa yang Tante miliki. Dia wanita sederhana, bukan harta yang dia pikirkan tapi kebahagiaan."

__ADS_1


"Aku jadi terinspirasi oleh Alea untuk bahagia, karena apa yang aku cari selama ini tidak membuat aku bahagia" lanjut Paula ucapannya.


"Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Helen penasaran, mengapa Paula bisa berubah. Keponakannya itu wanita yang berambisi, selalu harus mendapatkan apa yang dia inginkan.


"R a h a s i a." jawab Paula sambil terkekeh membuat Helen kesal.


Tiba di gedung Global Pratama Alea disambut dengan baik. Sebagai putri pemilik perusahaan ini, Alea tentu saja di hormati. Tapi bukan Alea namanya jika dia bangga dengan perlakuan istimewah, dia meminta karyawan untuk bersikap biasa saja padanya. Cukup tersenyum, tidak perlu menunduk hormat.


"Lea." panggil Ratna yang melihat kedatangan Alea.


"Mbak Ratna apa kabar?" tanya Alea.


"Pengantin baru yang apa kabar?" Ratna balik bertanya.


"Alhamdulillah baik Mbak. ini aku bawa untuk Mbak Ratna dan Dini." Alea menyerahkan dua paper bag yang dibawakan sopirnya.


"Aku titip juga, ini untuk mas Radit dan Zio." Alea kembali mengambil dua paper bag yang dibawakan sopirnya dan menyerahkannya pada Ratna.


"Kenapa tidak kamu kasih sendiri saja?" tanya Ratna.


Alea menggeleng, dia tidak akan menemui Radit jika tidak ada kepentingan, jika harus bertemu itupun harus ada Bagas yang menemani atau orang terdekatnya yang lain. Alea tidak ingin ada fitnah dalam rumah tangganya, karena dia sadar akan ada orang yang akan mencari kesempatan untuk membuat rumah tangganya yang baru dia bina ini berantakan.


"Aku faham, tidak apa-apa." jawab Ratna.


"Pak, Bapak bisa tunggu saya di bawah. Terimakasih sudah membantu membawakan barang-barang saya." ucap Alea pada pak Tono adik dari bu Tuti, sopir yang disiapkan Bagas untuk Alea.


"Baik Mbak." jawab Pak Tono yang langsung berlalu dari hadapan Alea dan Ratna.


"Ada apa?" tanya Alea begitu mereka duduk di meja kerja Ratna.


"Ini tentang Radit."


"Apa kamu tahu Radit dulu memiliki hubungan dengan Paula model cantik itu?" tanya Ratna.


"Mas Radit tidak pernah cerita tentang dia." jawab Alea santai, dia sudah mendapat sedikit penjelasan dari Bagas tentang hubungan Paula dan Radit.


"Apa yang membuat Mbak Ratna mempermasalahkan ini?" tanya Alea heran. Ratna yang dia kenal bukan orang yang suka ingin tahu masalah orang lain.


"Radit mengajak Mbak menikah."

__ADS_1


Jawaban Ratna mengejutkan Alea. Dia menatap Ratna, tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Apa alasan Radit mengajak Ratna menikah, Alea ingin tahu tapi dia sadar untuk tidak lagi ikut campur urusan mantan susminya, antara mereka sudah selesai.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Ratna.


"Lea tidak akan ikut campur masalah ini." jawab Alea.


Ratna diam, dia belum berani mengatakan jika Dini sebenarnya adalah putri Radit pada Alea. Bagaimanapun Alea pernah terikat ikatan pernikahan dengan Radit, Ratna takut akan melukai Alea.


Keluar dari ruangan Ratna, Alea berpapasan dengan Radit dan dua karyswan yang lain. Mereka akan masuk ke ruangan Ratna yang juga ruangan Radit dan tiga tim mereka yang lain.


"Lea, apa kabar?" sapa Radit.


"Kabar baik, Mas. Bagaimana dengan Zio?" jawab dan tanya Alea.


"Zio juga baik." jawab Radit sedikit kecewa, karena Alea hanya menanyakan kabar Zio, tidak menanyakan kabar dirinya. Sebenarnya Radit butuh orang yang bisa di ajak bicara, orang yang seperti Alea. Yang mau menyimak dan juga memberikan solusi, tapi dia sadar tidak mungkin dia memberi tahu Alea, karena itu akan menyakiti hati mantan istrinya.


"Tadi aku titip bingkisan sama mbak Ratna, untuk Zio." ucap Alea.


"Terimakasih, Zio pasti senang dapat hadiah dari mamanya." jawab Radit yang kembali menyesali kebodohannya di masa lalu.


"Aku mau ke ruangan kak Riki." pamit Alea yang langsung berlalu dari hadapan Radit tanpa menunggu jawaban.


Radit menatap punggung Alea yang semakin menjauh, sementara itu Ratna memperhatikan Radit dari jauh.


"Bagaimana kita bisa menikah, jika cara mu memandang Alea tidak pernah berubah." gumam Ratna.


Sementara itu Alea sudah berdiri di depan lift menunggu pintunya terbuka sambil membalas pesan yang dikirimkan Bagas.


"Lea." Alea melihat kearah suara yang memanggilnya.


"Leoni." panggil Alea cukup terkejut melihat kehadiran teman masa kecilnya yang sekarang sudah menjadi anggota keluarga Buana, berada di Global Pratama.


"Kamu mau mengunjungi kak Riki?" tanya Leoni yang diangguki Alea.


"Kamu sendiri ada keperluan apa ada di Global Pratama?" bukan menjawab, Alea balik bertanya pada Leoni yang terkekeh mendengar pertanyaan Alea.


"Aku mau bertemu orang yang mau kamu temui." bisik Leoni, karena saat ini mereka sudah berada dalam lift.


Sekarang Alea tahu, untuk apa kakaknya membeli perhiasan. Dia yakin kakaknya punya perasaan lebih pada Leoni. Bukankah keduanya memang dekat saat masih sama-sama di panti? Alea tersenyum membuat Leoni curiga, karena senyum Alea terlihat berbeda.

__ADS_1


...💔💔💔...


...Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya...


__ADS_2