
Suara ketukan dipintu depan membuat Ratna yang baru saja akan duduk menemani putrinya bermain kembali berdiri untuk melihat siapa tamu yang mengunjunginya pagi ini.
Dan Ratna terkejut begitu dia membuka pintu, sosok yang selalu menganggu pikirannya akhir-akhir ini yang berdiri di hadapannya.
"Apa aku menganggu?" tanya Radit begitu melihat Ratna yang terkejut melihatnya, sambil tersenyum.
"Maaf kalau menganggu. Sebenarnya, aku sudah mengirim pesan tapi hanya ceklis satu." lanjut Radit ucapannya karena Ratna hanya diam terpaku.
Mendengar penjelasan Radit, Ratna baru ingat jika sejak semalam dia belum mengaktifkan ponselnya.
"Ayah, mana adik Zio?"
Suara Zio menarik Ratna dari ingatannya yang belum menyalakan ponsel. Dia merendahkan pandangannya dan melihat anak laki-laki yang tersenyum padanya.
"Aku mengajak Zio, untuk mengenal adiknya." ucap Radit lagi.
"Dini ada di dalam, silakan masuk." jawab Ratna kecewa. Radit datang untuk Dini, bukan untuknya.
Radit kembali tersenyum, "Akhirnya Ratna bicara juga." ucapnya didalam hati.
"Sebentar aku panggilkan Dini dulu." pamit Ratna meninggalkan Radit dan Zio di ruang tamu.
Ratna menghembuskan nafas lega, entah mengapa dia jadi merasa gugup di hadapan Radit pagi ini.
"Dia bukan menagih jawabannya." gumam Ratna sambil mendekati Dini yang sedang bermain bersama boneka nya.
Ratna belum mengambil keputusan apa dia akan menerima ajakan Radit untuk menikah atau menolak. Ratna melihat masih besarnya cinta Radit pada Alea sepupunya, dia ragu bisakah Radit kelak mencintainya? Ratna mencoba mengabaikan perasaannya yang mulai jatuh cinta pada Radit, tapi itu tidak mudah.
"Dini, sini sayang." panggil Ratna.
Gadis kecil yang sangat penurut itu tanpa banyak bicara segera mendekat kearah ibunya.
"Sayang, mainnya udahan dulu, ya. Ayo kita kedepan, ada yang mau bertemu sama Dini." ucap dan ajak Ratna pada putri kecilnya.
"Capa Ma? Papa." tanya dan tebak Dini, yang semenjak Ratna bercerai dari Boy tidak pernah lagi bertemu sosok laki-laki itu, laki-laki yang dia tahu sebagai ayahnya.
Radit langsung berdiri begitu melihat kehadiran Dini yang di gandeng Ratna. Ini pertemuan pertamanya dengan Dini setelah tahu gadis kecil itu adalah putrinya. Dulu dia pernah bertemu Dini satu kali saat mengantar Hana menemui Ratna yang ternyata menemui Boy.
"Dini ini Kak Zio, kakak Dini." ucap Ratna memperkenalkan Zio. Untuk apa lagi dia menyangkal kebenaran, akan lebih baik dia memberi tahu putrinya. Jika tidak, mungkin saja kelak saat dewasa mereka bertemu dan saling jatuh cinta. Ratna tidak ingin hal seperti itu terjadi, karena itu juga salah satu hal yang membuat Ratna jujur pada Radit.
__ADS_1
"Ayah, apa dia adik Zio?" tanya Zio yang dijawab Radit dengan anggukan.
Radit merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan Dini. Dia mengusap rambut Dini dengan lembut. Dini yang tidak mengerti apa-apa bertanya.
"Oom capa?" tanya Dini.
"Ini Ayah, sayang." ucap Radit pada putrinya.
Ratna tahu putrinya bingung dengan jawaban Radit mencoba membantu menjelaskan. Sedikit membungkukkan tubuhnya Ratna menjelaskan pada Dini.
"Dini sayang, Dini kan adiknya kak Zio, ini." tunjuk Ratna pada Radit, "Ayah kak Zio, itu berarti ayah Dini juga." jelas Ratna.
"Holee, Dini puna Ayah Dini juga puna Kakak." ucap Dini meloncat kegirangan.
Radit yang sangat ingin memeluk putrinya pun bersuara. "Dini." panggil Radit. "Sini sayang." pinta Radit yang merentangkan tangannya agar putrinya itu masuk kedalam pelukannya.
Radit bersyukur, ditengah ujian atas kesalahannya pada Alea ada sebuah kebahagiaan yang ditunjukkan Tuhan padanya. Siapa sangka jika dia sudah memiliki sepasang putra dan putri darah dagingnya, meski jalannya salah.
"Tuhan, apakah ini cara mu menunjukkan padaku bahwa aku telah memilik keturunan." gumam Radit di dalam hati dengan mata berkaca-kaca, dia menahan air matanya jangan sampai terjatuh.
Sayangnya Ratna melihat mata Radit dengan jelas. Dia tahu Radit sebenarnya orang yang baik, hanya karena kelemahannya yang tidak bisa menahan hasrat menjadikan dia seperti saat ini.
Sekarang mereka hanya duduk berdua sambil memperhatikan Zio dan Dini yang sudah langsung akrab bermain.
"Aku terima." jawab Ratna.
"Terimakasih, tapi aku ingin kamu tahu satu hal yang penting. Saat ini hanya aku dan Alea yang tahu dan aku juga ingin kamu tahu." ucap Radit.
Ratna tampak berpikir, dia bertanya-tanya hal penting apa itu? Apa lagi Alea juga tahu.
"Milikku sudah tidak berfungsi, apa kamu bisa menerima itu juga." jelas Radit yang membuat Ratna tersenyum.
Radit tahu, itu senyum kekecewaan Ratna. Radit pasrah jika Ratna sekarang menolaknya, biarlah dia hidup tanpa pasangan selamanya. Sayangnya Radit salah, Senyum Ratna menertawakan dirinya sendiri.
Saat memutuskan akan menikah dengan Boy, pria itu juga mengalami hal yang sama dengan Radit. Demi cintanya pada Boy, Ratna menerima kekurangan kekasihnya tersebut dan membantu Boy mengembalikan kejantanannya.
Boy menghianati Ratna begitu miliknya berfungsi, Boy mencelupkan miliknya ke banyak lubang yang membuat Ratna sakit hati dan marah. Dia pergi ke club hanya untuk minum, namun pada akhirnya dia harus berakhir di ranjang bersama Radit.
Bagaimana sekarang, maukah Ratna menerima Radit dan membantu mengembalikan kejantanan ayah anaknya itu?
__ADS_1
Di kediaman Bagas dan Alea, keduanya sedang kedatangan tamu yang membuat kediaman mereka yang sepi menjadi ramai dan juga jadi sedikit berantakan.
"Ante, aku mau di cini catu minggu." ucap Ria yang tak mau kalah dari saudara kembarnya yang mengatakan ingin menginap di kediaman Bagas dan Alea selama tiga hari.
"Satu bulan juga boleh." jawab Alea menggoda keduanya.
Reina dan Deri hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan si kembar putra dan putri mereka. Keduanya seakan lupa jika mereka adalah orang tua keduanya begitu bertemu Alea.
Reina dan Deri pamit setelah menitipkan Rio dan Ria bersama Alea dan Bagas. Hari ini jadwal Deri dan Reina yang mengantar ibu Deri melakukan kemoterapi.
Bagas selalu memperhatikan Alea yang berinteraksi dengan si kembar sambil sesekali menciumi keduanya dengan gemas. Hatinya berdoa agar rumah tangga mereka segera di karunia momongan.
"Ante, alan-alan." pinta Rio pada Alea.
"Rio memangnya mau jalan-jalan kemana sayang?" Bukan Alea yang bertanya tapi Bagas.
"Beli es cleam lagi boyeh, Om?" tanya Rio sambil melihat memohon pada Bagas. Anak laki-laki itu masih ingat bagaimana Bagas dengan sabar membantunya menyuap ice cream saat mereka bermain di tempat permainan anak-anak.
"Lia juga mau es cleam, Om." sahut Ria yang menyimak percakapan saudara kembarnya dengan Bagas.
"Ok, kita beli ice cream." putus Bagas yang mendapat loncatan kegirangan dari keduanya.
Bukan hanya membeli es cream, Bagas kembali mengajak keduanya bermain ke tempat bermain anak-anak. Tentu saja hal ini membuat Alea senang, senang Bagas menyukai hal yang sama dengannya.
Alea duduk sendiri dan memperhatikan Bagas yang sedang bersama Rio dan Ria bermain lempar bola.
"Hai Alea."
Alea memalingkan wajah untuk melihat siapa yang bertanya padanya, cukup terkejut tapi Alea mencoba tersenyum, namun dia tetap memasang sikap waspada.
"Hai Mbak Paula." balas Alea.
Alea waspada terhadap Paula bukan takut merusak rumah tangganya dengan Bagas, tapi dari jauh mata Alea melihat Zio dan Dini berjalan ke arahnya. Dia sudah berjanji pada Radit untuk tidak memberitahu siapa Zio sebenarnya pada Paula.
"Aku butuh teman yang bisa di ajak berbagi." ucap Paula.
"Apa kamu ada waktu?" lanjut Paula dengan bertanya pada Alea.
...💔💔💔...
__ADS_1
...Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya...