
Setelah mempertimbangkan baik dan buruknya, Zaki akhirnya bersedia membantu dan bekerja di perusahaan Global Pratama milik keluarga kakak ipar nya itu. Seperti permintaan yang pernah diajukan Riki dan Anita secara langsung padanya.
Ini hari pertama Zaki datang ke perusahaan, setelah satu minggu dia menyelesaikan pekerjaannya di kampung tempat dia tinggal selama ini. Wajah Zaki yang tampan tentu saja menjadi perhatian banyak karyawan wanita, usianya yang terpaut tidak terlalu jauh dari Riki membuat Zaki terlihat seperti kakak dari Riki bukan pamannya.
Kedatangan Zaki yang satu mobil dengan Riki yang sekarang menjadi pimpinan perusahaan, sudah dapat para karyawan tebak jika Zaki adalah orang penting di perusahaan ini.
Disaat bersamaan Paula juga tiba disana, hari ini Paula akan menandatangani kerja sama sebagai model yang akan mempromosikan salah satu produk yang dikeluarkan Global Pratama. Wajah Zaki tidak asing bagi Paula, bukan hanya pernah melihatnya bersama Ratna tempo hari, tapi Paula merasa dia pernah bertemu sebelumnya dengan Zaki, sayangnya dia lupa waktu dan tempatnya.
"Om ini pekerjaan pertama Om." ucap Riki menyerahkan sebuah Map pada Zaki.
Zaki membuka map yang diberikan Riki, satu-satu dia baca dan pelajari isi dari lembaran kertas yang ada didalam map tersebut.
"Jadi hari ini mereka datang, managernya atau model itu sendiri yang akan datang?" tanya Zaki.
"Aku kurang tahu Om, nanti asistenku yang akan menjelaskan." jawab Riki.
"Om berpengalaman dalam hal ini, jadi sangat cocok kalau Om yang menanganinya." Riki melanjutkan ucapannya.
Zaki hanya tersenyum, sebelum kecelakaan dia adalah karyawan di salah satu televisi swasta, dia ditempatkan di divisi yang megurus kontrak kerja sama dengan artis, model dan pengisi acara yang lainya. Mungkin karena itulah Riki meminta dia menangani pekerjaan ini, pekerjaan yang memang dia kuasai.
Sementara itu masih di Global Pratama Radit yang terlambat tiba di perusahaan di kejutkan dengan kehadiran Paula.
"Mau apa dia." gumam Radit yang memang tidak tahu kepentingan Paula datang ke Global Pratama.
"Radit." panggil Paula yang melihat kedatangan mantan kekasihnya itu.
Radit yang tadinya akan menghindar terpaksa melihat kearah Paula yang memanggilnya.
"Ada apa?" tanya Radit begitu dia sudah berdiri didekat Paula.
"Sekarang kamu bekerja disini?" tanya Paula.
"Iya, apa ada pekerjaan yang kamu lakukan disini?" tanya Radit.
"Iya kontrak kerja aku diluar negeri sudah selesai, dan sekarang aku memilih untuk berkarir didalam negeri saja sambil mencari dia, putra kita. Apa kamu mau membantuku?" jawab Paula sambil menjelaskan dan bertanya pada Radit.
"Jika aku ada waktu." jawab Radit.
"Apa kamu tidak ingin bertemu putramu?" tanya Paula lagi.
"Aku tidak menuntut apapun dari kamu, aku hanya ingin menemukan putraku dan hidup bahagia dengannya."
__ADS_1
Radit mencoba menilai Paula dengan menatap lekat wajah itu, wajah wanita yang dulu dia cintai sebelum Alea. Radit merasa bersalah menyembunyikan Zio Dari Paula, tapi Radit tidak ingin Paula mengambil Zio darinya jika kelak Paula tahu tentang Zio sebenarnya. Radit tidak tahu harus bersikap seperti apa saat ini, dia masih menunggu Ratna memberikan keputusannya.
"Mbak kita ditunggu di ruang pertemuan." ucap asisten Paula memberitahu yang dijawab dengan anggukan oleh Paula.
"Aku harus menandatangani kontrak kerja." ucap Paula pamit pada Radit.
"Silakan." jawab Radit.
"Tolong pikirkan permintaanku." bisik Paula pada Radit yang terlihat seperti mencium pria itu oleh Ratna yang memperhatikan mereka sejak tadi.
Radit masuk ke ruangannya, dia melihat Ratna sudah ada disana tampak sibuk dengan komputernya dan berkas-berkas yang ada di meja kerja ibu dari anaknya itu. Sampai detik ini, Ratna belum memberi jawaban apapun. Wanita itu juga tidak banyak bicara seperti pertama mereka jadi satu rekan kerja.
Zaki masuk ke ruangan yang disiapkan untuk dia bertemu model yang akan mempromosikan salah satu produk Global Pratama. Dia sudah membaca nama model yang akan dikontrak perusahaan, model yang dia kenal cukup dekat, dulu saat dia masih bekerja di televisi swasta dan model yang dia kenal itu belum memiliki nama sebesar sekarang.
"Maaf saya terlambat." ucap Zaki saat masuk keruangan itu, dia ditemani Pandu asisten Riki.
"Tidak apa-apa Pak." jawab manager Paula.
"Maaf kalau saya salah, sepertinya kita pernah bertemu." ucap asisten Paula saat melihat wajah Zaki yang seperti dia kenal.
"Sepertinya begitu." jawab Zaki lalu melihat pada Paula. Dia tersenyum pada wanita yang pernah berbagi cerita padanya.
"Ini kontrak kerjanya bisa dibaca dulu." ucap Pandu memberikan berkas yang sejak tadi dia bawa pada manager Paula.
Sementara itu di Buana Group, Bagas tidak bisa bekerja dengan tenang. Pasalnya sudah tiga kali dia ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.
Alea meminta Leoni segera menghubungi dokter pribadi keluarga buana untuk datang memeriksa Bagas. Dan disinilah sekarang dokter itu berada di ruang pribadi pimpinan.
"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" tanya Alea.
"Sejak kapan mulai sakitnya?" tanya dokter Sam.
"Pagi ini." jawab Alea.
"Subuh." jawab Bagas.
Berawal dari Bagas yang terjaga dari tidurnya, dan dia tidak menemukan Alea dalam pelukan seperti biasanya. Melihat jam yang ada di dinding masih menunjukkan waktu pukul satu dini hari.
Meskipun mengantuk, Bagas harus mencari keberadaan Alea, dua bulan menikah baru kali ini Alea hilang dari pelukannya saat tidur.
Sementara itu orang yang di cari Bagas tengah menikmati segelas coklat hangat dan beberapa potong cheese cake di hadapannya.
__ADS_1
"Sayang." panggil Bagas begitu menemukan Alea di pantry.
"Bee, mau?" Alea menjawab panggilan Bagas dengan menawarkan cheese cake makanan kesukaan suaminya.
Makanan ini makanan wajib yang selalu ada dan disimpan oleh Bu Tuti di lemari pendingin. Karena itu saat Alea mencari kudapan yang menemani secangkir coklat hangatnya dia mengeluarkan makanan itu untuk dia makan.
Bagas menggeleng, biasanya dia akan senang menyantap hidangan itu, tapi entah mengapa malam ini dia seperti tidak berselera melihatnya. Dia lebih tertarik memperhatikan Alea yang menyantap cheese cake itu dengan lahap.
"Bee, aaak" ucap Alea menyodorkan sendok yang sudah berisi makanan kesukaan Bagas tersebut.
Sebenarnya Bagas benar-benar tidak berselera, tapi dia tidak ingin mengecewakan istrinya. Akhirnya Bagas menerima suapan dari Alea.
"Aaak" ucap Alea lagi.
"Untuk kamu saja sayang." tolak Bagas secara halus dia benar-benar tidak berselera.
Bagas menemani Alea hingga istrinya itu menghabiskan semua cheese cake yang ada di hadapannya dan secangkir coklat hangat.
Merekapun kembali ke kamar. Alea kembali terlelap di pelukan Bagas, sementara orang yang memeluknya tidak bisa memejamkan mata dengan lelap. Cheese cake yang dia makan seperti ingin keluar lagi dari tenggorokannya.
Pelan-pelan Bagas melepaskan pelukannya agar Alea tidak terganggu tidurnya. Dia segera ke kamar mandi dengan sedikit berlari dan mengeluarkan apa yang tadi dia makan.
Alea menatap tidak percaya pada Bagas, saat subuh Alea melihat suaminya baik-baik saja. Bahkan menganggu dia yang sedang membuat sarapan di dapur bersama bu Tuti. Bagas juga sarapan dengan lahap tadi pagi, tidak mengeluh apa-apa.
"Apa dia kurang tidur terus masuk angin." ucap Alea dalam hati merasa bersalah, karena semalam Bagas ikut terjaga menemaninya yang kelaparan ditengah malam.
"Bagaimana kalau ibu saya periksa juga." ucap dokter Sam setelah memeriksa Bagas.
"Saya Dok?" tanya Alea untuk meyakinkan lagi.
Dokter Sam tersenyum, "Iya, ibu juga harus saya periksa." jawab dokter Sam.
"Tapi saya baik-baik saja Dok." jawab Alea menolak untuk diperiksa.
"Sayang, tidak apa-apa kamu diperiksa juga sama dokter Sam." ucap Bagas membujuk istrinya.
Alea tidak bisa menolak jika Bagas yang memintanya. Mau tidak mau dia harus menuruti permintaan Bagas agar dia juga diperiksa oleh dokter keluarga Buana.
...💔💔💔...
...Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya...
__ADS_1