
Alea dan Bagas memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan mereka hanya dengan berdiam diri dirumah saja. Mereka berdua ingin dua hari ini dinikmati hanya berdua, sambil bersantai dan berbagi cerita baik masa lalu diawal-awal kedekatan mereka dan masa depan yang akan mereka hadapi bersama.
"Lea tahu itu Bee, kamu sengaja menyuruh bu Tuti buat nemenin Lea, kan. Biar kamu bisa punya alasan kita bisa sarapan dan makan malam bersama." ucap Alea setelah mendengar kejujuran Bagas.
"Tidak apa-apa kan sambil menyelam minum air." jawab Bagas sambil mencubit hidung Alea karena gemas.
Ada hal-hal kecil yang terkadang membuat Bagas mentawai dirinya sendiri, bagaimana dia menggunakan kesempatan untuk bisa berdua Alea walau hanya sesaat.
"Itu namanya kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan, Bee." ucap Alea membalas jawaban Bagas.
"Siapa bilang." sangah Bagas.
"Lea yang bilang barusan." jawab Alea lagi.
Bagas tertawa, "Demi cinta tidak apa-apakan, selagi dapat kesempatan mengapa tidak? Daripada dapatnya dana umum." ucap Bagas yang membuat Alea menyatukan alisnya.
"Dana umum." beo Alea.
"Bee... kenapa jadi bahas permainan monopoli." ucap Alea lagi setelah menyadari maksud ucapan Bagas.
"Ini pasti gara-gara minggu kemarin kamu habis ngajarin anak-anak di panti main monopoli." ucap Alea lagi membuat Bagas kembali tertawa.
"Secara tidak langsung kamu mengajarkan mereka berbisnis dengan permainan itu, Bee. Tapi otak pebisnis itu memang selalu mencari kesempatan." ucap Alea lagi.
"Kesempatan untuk mendapatkan istri yang sempurna, kenapa tidak?" jawab Bagas memuji Alea.
"Tidak ada manusia yang sempurna Bee." balas Alea pujian Bagas.
"Tapi kamu sempurna bagiku, sayang. Dan tetaplah seperti ini, jadi Alea yang selalu baik hatinya, kuat dan selalu ada untukku dan anak-anak kita." ucap Bagas sambil menagkupkan kedua tangannya di wajah Alea.
"Bee." panggil Alea sambil mengambil satu tangan Bagas lalu dia genggam.
__ADS_1
"Jangan tinggalkan Lea jika suatu saat Lea tidak lagi sempurna untukmu, Bee." ucap Alea.
Kegagalan rumah tangga bersama Radit tentu tidak bisa Alea lupakan begitu saja. Dulu dia dan Radit juga sering berbagi cerita, tawa dan canda seperti ini diawal pernikahan mereka, tapi ketidak sempurnaannya yang belum bisa memberikan keturunan membuat Radit berpaling dan selingkuh.
Ada rasa takut terkadang hadir didalam diri Alea akan ditinggalkan Bagas, tapi kehadiran buah hati mereka yang kini ada di kandungannya membuat Alea sedikit lega. Namun tidak membuat Alea lengah, karena dia tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Mungkin saja akan ada masalah lain yang akan menguji cinta mereka.
"Tidak akan, aku tidak akan meninggalkan atau memintamu pergi. Selamanya kamu sempurna untukku, Sayang." jawab Bagas.
"Tidak mudah bagi kita untuk bisa bersama seperti ini, dan aku akan jadi orang bodoh jika memilih pergi darimu saat kita ada masalah." ucap Bagas melanjutkan jawabannya.
"Kita akan terus bersama bahkan hingga ke surga." ucap Bagas lagi.
"Terimakasih, Bee." ucap Alea lalu masuk kedalam pelukan Bagas.
Bagas bisa mengerti jika Alea masih menyimpan trauma, "Aku berjanji akan membuat semua yang dulu menjadi luka untukmu menjadi kebahagiaan, Alea." ucap Bagas dalam hati sambil mengeratkan pelukannya pada Alea.
Tanpa keduanya ketahui, seseorang yang tidak diinginkan Bagas menerobos masuk kedalam rumah begitu bu Tuti membukakan pintu.
"Hemm."
"Apa aku mengganggu?" tanya Alvaro orang yang menerobos masuk ke kediaman Bagas dan Alea.
"Sangat mengganggu." jawab Bagas yang langsung mendapat teguran dari Alea karena bersikap tidak sopan pada Alvaro.
Alvaro tertawa, "Sejak kemarin sepertinya kamu tidak suka dengan kepulanganku ke Indonesia." ucap Alvaro sambil melihat ke arah Alea, mengabaikan Bagas yang tidak suka dengan kehadirannya.
Bagas dan Alvaro diperlakukan seperti anak kembar saat mereka masih kecil oleh oma Sundari karena usia mereka yang hanya beda dua bulan. Namun saat Bagas kehilangan ibunya, oma Sundari lebih memperhatikan Bagas di bandingkan Alvaro. Semenjak itu hubungan Bagas dan Alvaro merenggang karena kecemburuan Alvaro pada Bagas.
Bagas tidak menanggapi ucapan Alvaro, dia malah berbisik pada Alea. "Sayang, kamu istirahat saja dikamar." ucap Bagas.
Alea tidak membantah perintah suaminya, dia tahu Bagas hanya ingin bicara berdua saja dengan Alvaro. Dia pun pamit pada Alvaro dengan alasan bayinya butuh istirahat.
__ADS_1
"Sepertinya kamu sangat menjaga istrimu kali ini, dariku. Sangat berbeda saat bersama Paula, mungkin karena itu kamu bersikap biasa saja saat tahu aku meniduri istri pertamanmu itu." ucap Alvaro selepas kepergian Alea.
"Kamu mau apa?" tanya Bagas mengabaikan ucapan Alvaro.
"Istrimu, apa lagi?" jawab Alvaro sambil tertawa.
Bug. Bagas tidak bisa menahan emosinya untuk tidak memukul Alvaro.
"Aku tidak pernah punya masalah dengan mu, tapi aku tidak akan diam saat kamu mengusik keluargaku." ucap Bagas.
"Kamu mengambil milikku yang kini kamu kuasai, jadi kamu harus membayarnya dengan memberikan istrimu untukku." jawab Alvaro yang semakin memancing emosi Bagas.
Namun belum sempat Bagas memukul Alvaro untuk kedua kalinya, dia dihentikan dengan teriakan Haikal.
"Tahan Nak, jangan biarkan kamu terpancing dengan kata-katanya." ucap Haikal.
Alea yang penasaran dengan masalah antara Bagas dan Alvaro berpura-pura masuk ke kamar. Alea bersembunyi tidak jauh dari keberadaan Bagas dan Alvaro untuk menguping pembicaraan kedua sepupu itu.
Begitu terkejutnya Alea saat mendengar ucapan Alvaro. Kini Alea tahu mengapa suaminya tidak mau menginap di kediaman utama. Dapat Alea bayangkan bagaimana perasaan Bagas saat tahu Paula ditiduri Alvaro sepupunya sendiri dengan sengaja meskipun suaminya itu tidak mencintai Paula. Tapi harga dirinya sebagai seorang suami telah dihina dan direndahkan oleh Alvaro.
"Aku tidak pernah mengambil milik siapapun, jika kamu mempermasalahkan pimpinan perusahaan, kamu tanyakan pada oma mengapa dia meminta aku yang memimpin karena aku tidak pernah menginginkannya apa lagi memintanya." ucap Bagas.
"Bagas benar Al, Oma yang memutuskan siapa yang pantas memimpin Buana." ucap oma Sundari.
Oma memerintahkan orang kepercayaannya untuk mengawasi Alvaro yang selalu mencari masalah dengan Bagas setiap pulang ke Indonesia. Dari orang kepercayaannya itulah Oma Sundari tahu kemana Alvaro pergi dan segera menyusul. Oma tidak bisa membiarkan keduanya bertemu, karena Alvaro selalu memancing kemarahan Bagas.
"Mengapa pikiranmu selalu saja dikuasai oleh hal yang buruk. Hidup di luar negeri ternyata tidak membantumu menjadi lebih baik" jawab Bagas.
"Oma yang salah sudah mengirimnya ke Inggris, menitipkan dia dengan keluarga ayahnya. Oma kira di negara asal ayahnya, dia bisa menjadi lebih dewasa, tapi...."
"Ma, jangan salahkan diri mama." ucap Haikal.
__ADS_1
...💔💔💔...
...Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya...