
Keputusan Radit untuk menjadi mata-mata dan membantu Alea untuk mendapatkan kembali apa yang menjadi milik mantan istrinya itu adalah keputusan yang tepat. Hal itu membuat Radit di terima dengan baik oleh keluarga Alea. Riki dan Anita bahkan memberikan kembali kepercayaan mereka pada Radit, dengan menarik Radit untuk bekerja di Global Pratama membantu Riki.
Tidak hanya keluarga Alea yang menerima Radit dengan baik. Sundari, oma dari Bagas tersebut juga menghargai keputusan Radit yang dengan lapang dada mau membantu Alea, meskipun itu sebagai penebus rasa bersalah laki-laki itu pada Alea.
Memiliki kembali pekerjaan, tidak membuat hidup Radit menjadi baik, dia merasa hidupnya sepi tanpa orang yang dicintainya. Dua kali dia kehilangan hanya karena kebodohan dan egonya yang tinggi. Radit menghalau niatannya untuk kembali berumah tangga, impian itu terpaksa dia kubur karena keadaan dan kesehatan dirinya yang sangat tidak baik.
"Apa yang membuat kamu tetap bahagia setelah berpisah dari Boy?" tanya Radit pada Ratna di sela-sela mengerjakan pekerjaan mereka.
"Putriku." jawab Ratna.
"Putriku mampu menghibur sedihku dan menghilangkan rasa penatku. Dia yang membuat aku menjadi semangat menjalani semuanya ini." lanjut Ratna jawabannya.
"Anak." gumam Radit mengingat jawaban Ratna lalu berpikir untuk mengadopsi seorang anak.
Permintaan Alea untuk mengadosi anak laki-laki di panti asuhan melintas di kepalanya. Radit berpikir, tidak ada salahnya jika sekarang dia mencoba mengadopsi anak meskipun dia akan merawat anak itu hanya seorang diri.
Membulatkan tekadnya, Radit menyempatkan diri menuju panti asuhan Permata Bunda. Dia ingin bertemu anak yang pernah Alea ceritakan padanya, yang pernah diinginkan Alea untuk mereka adopsi.
Melangkah pasti Radit pun menemui ibu pemimpin panti asuhan Permata Bunda.
"Ada yang bisa kami bantu Pak?" tanya ibu pimpinan panti asuhan tersebut pada Radit..
"Saya ingin bertemu dengan salah satu anak panti, anak laki-laki yang sempat ingin di adopsi Alea." jawab Radit.
"Apa mbak Alea yang mengirim bapak?" tanya ibu pimpinan panti itu lagi.
"Iya, dia yang merekomendasikan anak itu untuk saya adopsi." jawab Radit, biarlah kali ini dia sedikit berbohong.
"Apa Bapak ingin mengadopsinya?" tanya ibu panti itu untuk meyakinkan lagi.
"Jika hati saya cocok dengan anak itu, hari ini juga saya akan langsung mengadopsi anak itu." jawab Radit menjelaskan.
"Baiklah Pak, silakan ikut saya untuk melihat langsung anak laki-laki yang Bapak maksud" jawab ibu panti itu mengajak Radit menemui anak yang akan dia adopsi.
"Itu anaknya, kebetulan sekali sekolahnya sedang libur." tunjuk ibu kepala panti pada Zio yang sedang menemani anak panti yang masih balita bermain.
Melihat Zio untuk pertamakalinya hati Radit langsung jatuh cinta, dadanya berdegup kencang. Entah mengapa dia seakan sudah mengenal anak itu. Anak laki-laki itu sangat tampan, dan juga mengingatkan Radit pada seseorang.
__ADS_1
"Bagaimana Pak?" tanya ibu kepala panti begitu melihat Radit hanya diam terpaku menatap Zio.
"Boleh saya bicara dengan Zio, Bu?" tanya Radit meminta izin.
"Tentu saja silakan Bapak mengenal Zio terlebih dulu." jawab ibu kepala panti itu lalu memanggil Zio.
"Zio." panggilnya sambil mengayunkan tangannya agar Zio mendekat.
Satu jam Radit menghabiskan waktu bersama Zio, dia mengajak Zio bicara dan bermain sambil sesekali memperhatikan sikap dan sifat anak itu. Alea benar, jika Zio adalah anak yang baik dan juga pintar.
Semakin Radit memeperhatikan Zio, Radit merasa seperti sudah mengenal lama anak laki-laki itu. Radit merasa melihat Zio seperti melihat dirinya dan seseorang dari masa lalunya.
"Boleh saya tahu, Bagaimana Zio bisa berada di panti asuhan ini?" tanya Radit begitu dia kembali menemui ibu pimpinan panti asuhan permata Bunda.
Radit bukan hanya ingin tahu, tapi entah mengapa dia mencurigai seseorang yang dia kenal yang telah menitipkan Zio ketempat ini.
"Tentu saja, pihak yang ingin mengadopsi harus tahu tentang anak yang akan mereka adopsi. Dari mulai siapa orang tuanya dan mengapa dia ditempatkan di panti asuhan ini." jawab ibu pimpinan panti.
"Zio diantar dan dititipkan oleh sepasang suami istri, mereka juga memberikan uang cukup banyak untuk panti ini agar kami mau menerima bayi yang akan mereka titipkan." jelas ibu panti.
"Saat itu mereka tidak mau menjelaskan apapun. Mereka hanya meminta dan mempercayakan kami merawat Zio dengan baik"
"Ibu tahu nama sepasang suami istri yang membawa Zio ke panti ini?" tanya Radit lagi.
"Mereka tidak menyebutkan nama mereka, tapi mereka mencantumkan nama ayah biologis Zio saat menyerahkan Zio." jawab ibu pimpinan panti sambil memberikan berkas tentang Zio.
"Ini, semua data Zio ada disana termasuk nama ayah biologisnya, tapi sayangnya mereka tidak mau menyebut nama ibu biologis Zio." jelas ibu pimpinan
Radit mengambil berkas yang diberikan ibu pimpinan panti, dia langsung mencari nama ayah biologis dari Zio.
"Raditya Angkasa." gumam Radit begitu membaca nama yang tertera sebagai nama biologis dari Zio.
Mata Radit membulat tidak percaya, apa yang dia pikirkan ternyata benar. Zio putranya bersama orang yang namanya Radit lupakan begitu orang itu pergi meninggalkan Radit begitu saja demi karirnya.
Satu nama masa lalu Radit kembali hadir mengisi ingatanya. Radit harusnya marah karena tidak pernah di beri tahu tentang keberadaan Zio, tapi rasa marah itu dia buang jauh karena saat ini takdir mempertemukan dia kembali dengan anak biologisnya di saat dia di vonis tidak bisa memiliki keturunan.
"Apa Alea tahu nama ayah biologis Zio." tanya Radit untuk memastikan jika Alea tidak tahu yang sebenarnya.
__ADS_1
"Mbak Alea belum sampai melihat berkas Zio, dia baru bicara ingin mengadopsi Zio dan akan membicarakan keinginanya dengan suaminya." jawab ibu pimpinan panti itu.
"Tapi sayangnya belum sempat keinginannya tercapai, dia punya masalah dengan suaminya." lanjut ibu pimpinan panti itu membuat Radit terdiam.
"Ayah." suara Zio yang memanggilnya menarik Radit dari lamunannya.
"Zio sudah selesai." ucap Zio lagi.
"Ayo pulang kalau gitu." ajak Radit menggandeng tangan Zio.
"Zio belum selesai makannya Ayah." tolak Zio yang belum ingin pulang.
"Makanannya sudah dibersihkan pelayan karena dikira kita sudah pergi. Kita makan ditempat lain saja bagaimana?" jawab Radit membujuk Zio.
Radit tidak akan kembali kemeja dimana Paula masih berada disana. Dia tidak ingin Paula tahu tentang siapa Zio, Radit tidak ingin Paula mengambil hak asuh Zio darinya. Salah Paula yang sudah menyia-nyiakan putra mereka dengan menempatkan Zio di panti asuhan.
Sementara itu di kamar hotel, Alea sedang membereskan pakaiannya kedalam koper. Dia dikejutkan oleh suara ponsel milik Bagas yang berada diatas nakas. Alea mendekati nakas itu untuk menjawab panggilan telepon, takut jika itu panggilan penting. Namun dia mengurungkan niatnya saat melihat nama yang tertera di layar yang menghubungi suaminya.
"Paula." gumam Alea.
Untuk apa wanita itu menghubungi suaminya? Bukankah hubungan mereka sudah berakhir lama. Alea tidak tahu jika Bagas dan Paula masih saling berhubungan selama ini, apa tujuan Paula kembali hadir di kehidupan Bagas? Alea harus tahu itu. Cukup sekali dia tersakiti dan gagal, tidak akan ada kata yang kedua kalinya.
"Siapa yang telepon sayang?" tanya Bagas begitu keluar dari kamar mandi.
"Tidak tahu." jawab Alea berbohong sambil kembali merapikan koper miliknya setelah dia terdiam sesaat.
Bagas meraih ponselnya dan melihat ada panggilan tak terjawab dari Paula. Bagas yakin Alea tahu tapi istrinya pura-pura tidak tahu. Bagas mendekati Alea lalu memeluk istrinya dari belakang. Cup, Bagas mengecup pipi Alea.
"Aku tidak punya hubungan apa-apa lagi dengannya." bisik Bagas.
Alea diam, dia tidak bereaksi apa-apa untuk menjawab penjelasan Bagas. Alea tidak tahu harus bersikap seperti apa menanggapi penjelasan itu untuk saat ini. Hatinya masih diliputi banyak pertanyaan. Dia meyalakan dirinya sendiri yang tidak tahu apa-apa tentang hubungan Bagas dan Paula di masa lalu, yang dia tahu keduanya sepakat untuk bercerai karena tidak saling mencintai. Itupun Alea mengetahuinya dari Lisa sang adik ipar, bukan dari mulut Bagas sendiri.
Kasusnya berbeda dengan Radit dan dirinya, Bagas banyak mengetahui tentang hubungan dan kehidupan Alea sebelumnya. Lalu, salahkah jika Alea cemburu dengan Paula yang kembali menghubungi Bagas saat ini?
...💔💔💔...
...Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya...
__ADS_1