Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya

Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya
56. Sumber Kebahagiaan


__ADS_3

Dengan cepat Ratna meraih tasnya dan bergegas pergi tanpa pamit pada rekan kerjanya yang lain setelah membaca pesan dari Alea. Dia tidak akan menunda waktu untuk bertemu orang yang dia anggap sudah tiada. Ratna merasa ini seperti mimpi dan tidak menyangka adik bungsu dari ayahnya itu ternyata selamat dan masih hidup.


Radit yang melihat Ratna segera menyusul, memanggil dan bertanya. "Ratna ada apa?" tanya Radit yang diabaikan saja oleh Ratna.


Ratna tidak bermaksud mengabaikan Radit, tapi dia tenggelam dengan pikirannya sendiri, sehingga dia tidak mendengar Radit yang bertanya padanya.


"Mau kemana kamu?"


Langkah Ratna terhenti, dia melihat pada orang yang menghalanginya di pintu masuk, orang yang dis benci dan sudah tidak ingin dia pendulikan lagi.


"Minggir, bukan urusan mu." ucap Ratna sambil memberi kode pada security untuk menyingkirkan Hana.


Security yang mengerti perintah dari Ratna segera menjauhkan Hana yang menghalangi jalan Ratna.


"Aku tidak ada urusan dengan kamu lagi, jadi jangan pernah lagi menampakkan diri di hadapanku." ucap Ratna memberikan peringatan pada Hana.


"Kamu merebut Radit dari ku, itu berarti kita masih ada urusan." jawab Hana.


Ratna tersenyum mengejek, bagaimana bisa Hana menuduhnya seperti itu. Bukakah dia juga membuang Radit karena hidupnya terpuruk saat itu dan memilih kembali pada Boy.


"Aku tidak pernah merebut apapun dari siapapun. Jika kamu memang menginginkan Radit kembali, silakan saja. Itupun jika dia masih ingin mengulangi kebodohanya, selingkuh dengan orang yang hanya bisa menghabiskan uangnya saja." jawab Ratna tanpa sadar jika Radit sudah berdiri di dekatnya sejak tadi.


"Apa itu berarti kamu menolakku?" tanya Radit membuat Ratna menoleh padanya.


"Aku sedang ada urusan penting, nanti kita bicarakan lagi." jawab Ratna lalu meninggalkan Radit dan Hana begitu saja.


Hana tersenyum senang, berhasil membuat Radit dan Ratna berselisih paham. Dia berjalan mendekati Radit dan langsung memeluk Radit yang masih setia menatap punggung Ratna yang semakin menjauh.


"Lepaskan." tolak Radit pelukan Hana. Sudah tidak ada hasrat apapun pada wanita yang dulu sering memuaskan nafsunya ini.


"Pergilah, aku harus bekerja."


"Kamu tahu dimana bisa menemuiku kan sayang. Aku menunggu mu dan kita harus bicara."


Tanpa menjawab ucapan Hana, Radit melepaskan tangan Ratna yang melingkar di pinggangnya dengan kasar lalu kembali ke ruangannya tanpa peduli wanita itu terus berteriak memanggilnya. Satu hal yang selalu menjadi sesalan Radit adalah mengenal Hana dan bermain-main dengan wanita murahan itu.

__ADS_1


"Om." panggil Ratna begitu berada dihadapan Zaki.


"Ratna." panggil Zaki membalas panggilan Ratna.


"Om, maafin Ratna." ucap Ratna sambil bersimpuh di hadapan Zaki.


"Bangun, jangan seperti ini. Nanti orang salah sangka sama Om." jawab Zaki sambil mengangkat Ratna agar berdiri.


Ratna menggeleng, "Maafkan Ratna dulu Om, Ratna yang membuat Om kecelakaan." jawab Ratna.


"Apa yang harus Om maafkan, kalau kamu tidak salah apa-apa. Om tahu, papa kamu yang mengatur semuanya dan kamu hanya dijadikan alat tanpa bisa menolak perintahnya." ucap Zaki menjelaskan kalau dia sudah tahu mengapa mobil yang dia tumpangi bisa terbakar.


Ratna berdiri dan memeluk Zaki sambil menangis. Selama ini dia terus menyalahkan dirinya tentang kematian Zaki.


"Duduklah Ratna." Riki yang bicara, karena saat ini mereka menjadi perhatian banyak orang.


Salah satunya Paula yang baru saja tiba disana, dia melihat Ratna yang sedang memeluk seorang pria yang juga membalasnya dengan memeluk erat Ratna sambil sesekali mengusap punggung Ratna.


Suara kamera dari ponsel Paula terdengar, bukan hanya satu kali tapi terdengar beberapa kali. Dia mengambil foto Ratna yang tengah dipeluk Zaki lalu dia mengirimkan foto tersebut pada seseorang. Entah apa yang sedang dipikirkan mantan kekasih Radit itu dengan apa yang sedang dia lakukan saat ini.


Radit tengah menikmati makan siang bersama kedua rekan kerjanya yang satu ruangan, Ratna yang mengabaikan pertanyaannya tadi cukup menganggu pikiran Radit, begitu juga dengan Hana yang kembali menampakkan diri tidak bisa dia abaikan begitu saja. Wanita itu pasti punya rencana lain untuk kembali mengusik hidupnya.


"Paula." gumam Radit begitu tahu siapa yang mengirimkan pesan padanya.


Radit mengamati foto yang dikirimkan Paula, entah apa maksud ibu dari anaknya itu mengirimkan foto Ratna bersama pria yang Radit merasa mengenalinya. Mengabaikan pesan dari Paula, Radit meneruskan makannya. Setidaknya dia tahu kemana Ratna pergi, dan dia tidak bisa melarang. Antara mereka belum ada hubungan apa-apa. Ratna belum menjawab, dia menerima Radit atau menolak setelah Radit memberitahu keadaan dirinya yang sebenarnya.


Kembali ke Pondok Sedap, Paula terus menunggu reaksi Radit. Tapi tidak ada balasan apapun, membuat Paula sedikit kesal. Dan kekesalan Paula berganti dengan keterkejutan saat dia melihat Alea dan Bagas yang sejak tadi membelakanginya ada bersama Ratna dan Zaki.


"Istri Radit mengenal Alea dan Bagas, itu berarti mereka juga mengenal Radit." ucap Paula berbicara dengan dirinya sendiri.


Sementara itu di meja tempat Alea berada, mereka tengah mendengarkan cerita Zaki dan Ratna tentang rencana perencanaan kecelakaan untuk Zaki.


"Jadi kecelakaan itu disebabkan oleh paman?" tanya Alea tidak percaya.


"Sudahlah, yang penting sekarang Om sehat dan bisa kembali berkumpul bersama kalian." ucap Zaki untuk mengganti pembahasan mereka.

__ADS_1


Jika ditanya, jujur Zaki juga tidak tahu mengapa kakak pertamanya itu tega mencelakainya bahkan ingin membunuhnya.


"Om Zaki itu adiknya paman, mengapa dia setega itu pada adiknya sendiri?" tanya Alea lagi.


"Tidak ada yang namanya teman, sahabat maupun saudara bagi orang yang gila harta dan kekuasaan. Mereka bisa melakukan apapun yang mereka inginkan agar tujuan mereka tercapai." jawab Bagas yang dibenarkan Riki dan Zaki.


Alea berdiri di balkon yang ada di kamarnya sambil menunggu Bagas yang masih membahas pekerjaan bersama Alvin diruang kerja.


Menatap jauh kedepan, Alea merasa bahagia. Satu persatu keluarga nya yang pergi kini kembali, dan entah akan ada kejutan apa lagi yang akan Tuhan berikan padanya.


Satu tangan melingkar di pinggang Alea, sudah tidak perlu melihat siapa pemiliknya, siapa lagi kalau bukan Bagas suaminya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan, hmmm?" tanya Bagas sambil mengecup pucuk kepala Alea.


"Tidak ada, Lea hanya merenung dan bersyukur, orang yang hilang dari kehidupan Lea kini satu persatu dikirim Tuhan kembali di kehidupan Lea. Dan itu membuat Lea bahagia." jawab Alea tanpa berpaling, dia tetap menatap lurus kedepan sambil meresapi kecupan-kecupan yang diberikan Bagas yang kini turun di lehernya.


"Apa suamimu ini tidak membuat kamu bahagia?" tanya Bagas lagi.


Alea berbalik menghentikan kecupan Bagas di lehernya, kini mata mereka bertemu dan saling menatap penuh cinta. Alea melingkarkan tangannya di leher Bagas, sementara suaminya masih setia memeluk pinggang Alea yang menurut Bagas mulai berisi.


"Bukan hanya membuat Lea bahagia, tapi Kakak adalah sumber kebahagian Lea." jawab Alea yang mampu melukiskan senyum diwajah Bagas dan melayangkan kecupan di bibir istrinya.


"Angin malam tidak baik, ayo masuk." Bagas mengingatkan perkataan yang pernah Alea ucapkan.


Alea mengangguk menanggapi ucapan Bagas. Belum sempat Alea menurunkan tangannya yang melingkar di leher Bagas, suaminya itu sudah menggendongnya masuk lalu membaringkannya di tempat tidur dengan penuh sayang.


Senyum telukis diwajah keduanya, mereka sama-sama mengingginkan hal yang sama. Tidak menunggu lama, Bagas kembali mendaratkan bibirnya di bibir Alea yang selalu saja membuatnya menginginkannya. Kecupan itu beralih pada leher sementara tangan bagas menarik tali pakaian tidur Alea hinggs terbuka dan menampakkan tubuh putih mulus istrinya.


Kini kecupan Bagas turun ke dada Alea, diantara dua gunung yang Bagas rasakan semakin keras dan berisi. Bagas kembali menatap Alea yang mengangguk mengizinkan Bagas untuk melanjutkan olahraga malam mereka.


Merasa sudah mengantongi izin, Bagas melepaskan segitiga pengaman di pusat inti tubuh Alea. Meski dia bukan pertama yang memasuki Alea, tapi Bagas merasa milik Alea tetap saja sempit meskipun hampir setiap hari mereka melakukannya.


"Terimakasih sayang." ucap Bagas begitu mengakhiri penyatuan mereka, dia mengusap sayang perut Alea dan berdoa agar usahanya segera membuahkan hasil.


Bagas memeluk erat Alea setelah dia mengecup kening istrinya. Seperti keinginan Alea yang tidak ingin ditinggalkan setelah mereka bercinta.

__ADS_1


...💔💔💔...


...Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya...


__ADS_2