
Dikarena panti asuhan Permata Bunda tidak jauh dari kediaman orang tuanya, maka Alea memutuskan untuk menjenguk Anita dan dia pun bisa istirahat disana. Tapi tidak dengan Bagas, suami Alea itu harus kembali ke kantor. Banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan terkait penangkapan Tio dan Tika. Alvin juga membutuhkan tanda tangan pimpinan Buana Group itu untuk menarik sebagian uang yang dikorupsi oleh Tio dan Tika, uang yang belum sempat keduanya gunakan.
"Sayang, kakak harus kembali ke kantor. Kamu istirahat saja disini, biar David yang menyelesaikan pekerjaan kamu." ucap Bagas pamit pada Alea.
"Iya Bee, hati-hati." jawab Alea sambil mencium punggung tangan suaminya.
Bagas mengusap sayang wajah Alea yang terlihat lelah hari ini, lalu dia lanjutkan dengan mengecup kening istrinya. Ritual yang mereka lakukan sebelum berpisah dan saat bertemu.
Sebagai seorang ibu, Anita yang melihatnya tersenyum senang. "Ya Allah, biarkan anak dan menantu hamba tetap saling mencintai dan saling menyayangi seperti ini sampai tua." ucap Anita mendoakan Alea dan Bagas.
"Bu, titip Alea." ucap Bagas pada Anita sambil menyalimi ibu mertuanya.
"Jangan khawatir, istrimu kalau bandel Ibu jewer kupingnya." ucap Anita.
Alea terkekeh, menertawakan candaan sang ibu di ikuti Bagas. Mereka tahu tidak mungkin Anita menjewer kuping putri kesayangannya. Menyakitinya seujung kuku saja dia tidak pernah melakukannya, bagaimana bisa dia melakukan lebih dari itu.
"Jadi anak yang baik, nurut sama ibu jangan lupa...."
"Cuci tangan dan kaki telus bobo ciang." Alea memotong ucapan Bagas dengan menirukan suara anak kecil.
Bagas terkekeh dan gemas melihat istrinya, ingin rasanya dia mencium daging kenyal yang baru saja bicara ini. Untung saja dia ingat, ada ibu mertua yang berdiri didekat mereka, sehingga dia menahan keinginannya itu dengan mencubit gemas hidung Alea.
Alea kembali kedalam rumah bersama Anita setelah mobil yang ditumpangi suaminya sudah tidak terlihat lagi. Keduanya duduk di depan televisi yang ada di ruang keluarga. Tanpa Alea sadari seseorang yang merindukannya, sejak tadi memperhatikan mereka dari seberang jalan.
"Bagaimana dengan kehamilan kamu, sayang? Cucu Ibu baik-baik saja, kan." tanya Anita sambil mengusap-usap perut putrinya.
"Lea dan cucu Ibu baik-baik saja, tapi kak Bagas yang setiap pagi harus mengeluarkan apa yang dia makan" jawab Alea.
__ADS_1
"Sepertinya dia terkena kehamiIan simpatik, itu berarti suami kamu sayang sama kamu, Lea. Perasaanya yang terlalu khawatir sama istri dan anak yang kamu kandung salah satu penyebabnya." ucap Anita memberitahu putrinya.
"Iya Bu, dokter Mery juga bilang seperti itu dan kak Bagas juga tidak masalah jika dia harus muntah setiap pagi. Menurut kak Bagas, lebih baik dia dari pada Lea yang harus mengalami morning sicness."
Anita tersenyum, bersyukur saat ini putrinya memiliki suami yang tulus mencintainya. Terkadang Anita menyesal tidak ada disisi Alea saat putrinya itu tumbuh menjadi dewasa karena perbuatan Sugeng.
Anita juga bersyukur, diusia tuanya, dia bisa kembali berkumpul bersama anak-anak dan menantunya, ditambah sebentar lagi dia akan mendapatkan cucu. Wajah ayah Alea hadir dalam ingatannya ikut tersenyum senang.
"Bu." panggil Alea, karena dia tahu ibunya terkadang masih sedih dengan apa yang terjadi dalam hidup mereka.
"Ibu tidak apa-apa, Nak." jawab Anita, sambil membelai rambut Alea.
Mendapat usapan sayang di kepalanya, Alea mulai merasakan mengantuk, diapun tertidur di sofa depan televisi. Alea memang tidak mengalami morning sicness karena telah diambil alih oleh Bagas, tapi dia tidak bisa menahan kantuk saat melandanya, seperti sekarang ini.
Istri Bagas itu bahkan sering tertidur di meja kerjanya, sampai Bagas harus membopong istrinya untuk dipindahkan ke ruang pribadi mereka yang ada di kantor. Tak jarang Bagas juga ikut tidur disamping istrinya. Tinggalah kedua asisten mereka Alvin dan David yang harus menyelesaikan pekerjaan kedua bos mereka, serta Leoni sebagai sekertaris harus membuat ulang jadwal bertemu klien yang terganggu.
"Bu, mau ada tamu?" panggil dan tanya Alea pada Anita, begitu melihat ibunya sibuk menata meja makan.
Anita melihat Alea yang ternyata sudah mandi dan terlihat lebih segar. Kehamilannya membuat putri satu-satunya itu semakin memancarkan kecantikannya.
"Iya Ibu lupa, sayang. Hari ini kakakmu akan mengajak calon istrinya makan malam bersama kita." jawab Anita
"Oh ya..." ucap Alea tersenyum senang meskipun diawal dia sempat terkejut.
"Kakak kamu juga meminta ibu mengundang kamu dan Bagas ikut makan malam bersama. Untung saja sekarang kamu sudah ada disini." ucap Anita lagi memberitahu Alea.
"Kenapa kakak tidak memberitahu sendiri ke Lea?" tanya Alea lagi.
__ADS_1
"Entahlah, mungkin dia takut lupa jadi dia meminta Ibu yang memberitahu kamu." jawab Anita meskipun tangannya masih sibuk menyusun piring.
"Ternyata Ibu yang lupa." sahut Alea.
Anita terkekeh, "Sudah sana beritahu suamimu untuk makan malam disini. Tolong beritahu Leoni juga, sayang." ucap Anita lagi, yang langsung di iyakan oleh Alea.
Alea tidak berani menelpon Bagas, dia takut menganggu pekerjaan suaminya. Dia hanya mengirimkan pesan pada Bagas dan juga Leoni. Hanya Leoni yang membalas pesan darinya, bahkan saudara angkatnya itu mengirimkan foto Bagas yang masih sibuk dengan Alvin dan David bahkan tampak juga papa mertuanya setelah Alea menanyakan suaminya.
"Pantas saja pesanku tidak dibaca, Kak." gumam Alea setelah melihat foto yang dikirimkan Leoni.
Alea bisa memaklumi kesibukan Bagas, sebagai seorang pemimpin Buana Group, tugas dan tanggung jawabnya bertambah semakin besar.
Anita sudah selesai menata meja makan, dia mengajak Alea bersantai duduk di teras depan. Anita ingin bernostalgia bersama putrinya. Dulu, setiap sore dia duduk diteras menemani Alea bermain di halaman bersama anak-anak tetangga sambil menunggu suaminya pulang dari toko.
Alea mengikuti ajakan Anita untuk duduk di teras depan, sambil menikmati teh hangat dan kudapan sore yang disuguhkan asisten rumah tangga, Alea sibuk berkirim pesan dengan Leoni dan juga Reina. Tidak lupa dia juga mengirim pesan pada Riki, memberitahu kakaknya jika dia tidak sabar bertemu calon kakak iparnya.
Sementara dengan Bagas, Alea cukup mengetahui kegiatan suaminya dari Leoni. Sekertaris suaminya itu terus mengirimkan kabar suaminya lewat foto yang mampu membuat Alea senyum-senyum sendiri. Bagaimana dia tidak tersenyum, dia melihat foto wajah suaminya dengan berbagai pose yang diambil secara candid oleh Leoni.
Senyum Alea bisa dilihat oleh orang yang sejak siang tadi memperhatikan istri Bagas itu.
"Assalamualaikum." ucapnya memberi salam.
Alea merasa mengenali suara yang sudah lama tidak dia dengar. Dan benar saja Alea terkejut saat melihat pria tampan yang kini ada di hadapannya.
"Galang." ucap Alea.
...💔💔💔...
__ADS_1
...Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya...