
Radit kecewa begitu melihat Alea menemuinya bersama Bagas, dia lupa jika Alea melakukan hal ini sejak dulu. saat masih bersamanya, Alea selalu meminta Radit untuk menemaninya jika dia harus bertemu dengan orang yang berlawanan jenis baik Radit kenal maupun tidak kenal. Sayangnya Radit merasa itu adalah permintaan Alea yang berlebihan, membuatnya sering mengabaikan permintaan Alea itu. Dia membebaskan Alea bertemu dengan lawan jenis, karena dia juga ingin bebas bertemu dengan banyak wanita diluar sana.
"Apa kabar Lea, Pak Bagas?" sapa Radit sambil berdiri dari duduknya menyambut kedatangan Bagas dan Alea.
"Kabar baik Mas." jawab Alea dengan menagkupkan kedua tangannya membalas uluran tangan Radit yang langsung Radit alihkan pada Bagas.
"Silakan duduk." ucap Radit lagi.
Bagas menarik kursi untuk Alea duduk sampai istrinya itu benar-benar nyaman dan itu semua menjadi perhatian Radit yang dulu tidak pernah melakukan hal seperti itu pada Alea, tapi dia lakukan pada wanita lain yang bukan istrinya.
"Mas Radit ingin mengembalikan kunci rumah, apa Mas Radit sudah punya tempat tinggal?" tanya Alea karena melihat Radit yang hanya diam.
"Aku sudah membeli rumah, memang tidak terlalu besar tapi cukup untuk aku tempati bersama Zio." jawab Radit.
"Hanya berdua Zio? Apa Mas Radit tidak ingin menambah anggota keluarga baru? Zio butuh sosok ibu." tanya Alea sambil memberikan saran pada Radit, walau Alea sudah tahu tentang permintaan Radit pada Ratna.
"Aku sudah memikirkan itu." jawab Radit.
"Tapi..." Radit ragu melanjutkan ucapannya, dia merasa malu pada Bagas dan juga Alea.
"Tapi kenapa?" tanya Alea karena Radit tetap diam setelah dia menunggu beberapa saat.
"Mas Radit meminta bertemu Lea, bukan hanya untuk mengembalikan kunci, kan." ucap Alea memancing Radit untuk bercerita seperti biasanya.
"Lea, aku minta maaf. Sebenarnya Zio... dia anak kandungku. Aku... aku juga sebelumnya tidak tahu jika... Zio itu putraku, sungguh Lea." ucap Radit sambil memberanikan diri melihat Alea.
"Aku tahu, tidak usah merasa bersalah. Antara kita sudah selesai, jadi tidak ada yang perlu kamu permasalahkan lagi Mas." jawab Alea.
"Kamu sudah tahu?" tanya Radit tidak percaya yang dijawab anggukan oleh Alea.
Berdasarkan kecurigaan Alea, dia meminta tolong Deri mencari tahu siapa nama orang tua kandung Zio yang tercatat di panti asuhan, atau nama orang yang menitipkan Zio di panti asuhan setelah Bagas menceritakan masa lalunya dengan Paula.
"Aku juga tahu siapa ibunya." jawab Alea.
"Dari siapa?" tanya Radit melirik Bagas.
"Aku tidak sengaja melihat video pertengkaran kamu dan ibunya Zio, Mas." jawab Alea agar Radit tidak menuduh Bagas yang hanya diam saja.
Diamnya Bagss bukan tidak peduli dengan Radit, tapi dia menghargai mantan suami istrinya itu untuk bicara dengan Alea yang sekarang menjadi istrinya. Dia hadir hanya untuk mendampingi Alea sebagai suaminya, bukan untuk ikut campur dalam pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Aku bingung." ucap Radit.
"Memilih antara ibu Zio dan mbak Ratna?" tebak Alea.
"Mereka punya posisi yang sama." jawab Radit.
"Posisi yang sama bagaimana?" tanya Alea tidak mengerti.
"Dini, putri kecil Ratna itu... dia juga putriku."
Alea tersedak minumannya begitu mendengar ucapan Radit. "Hati-hati sayang." ucap Bagas mencoba membantu Alea menghentikan batuknya.
"Terimakasih Bee." jawab Alea begitu sudah bisa meredakan batuk nya.
Alea tidak tahu hubungan seperti apa antara Ratna dan Radit di masa lalu, tapi menurutnya Ratna jauh lebih baik Dari pada Paula. Setidaknya saudari sepupunya itu tidak menyia-nyiakan putrinya, meskipun kasus Ratna dan Paula berbeda situasi yang harus mereka hadapi.
"Kenapa harus bingung Mas. Kamu bisa melihat diantara keduanya mana yang bisa menjadi ibu yang baik." ucap Alea mengajak Radit untuk menilai antara Ratna dan Paula.
"Ibu dan wanita yang baik tidak akan menelantarkan anaknya sendiri, apapun alasannya." lanjut Alea ucapannya, meniru ucapan yang pernah Bagas katakan padanya saat menjelaskan mengapa dia bercerai dengan Paula.
Flash back
"Kamu anggap aku ini apa?" tanya Paula pada Bagas yang hanya diam saja menghadapi kemarahan Paula.
"Aku ini istri kamu, BAGAS!" bentak Paula.
Bagas tetap diam, bukan takut menghadapi Paula, tapi dia menahan amarah yang sudah dia simpan sejak hari pertama pernikahan mereka.
Tanpa Paula tahu, Bagas tidak sengaja mendengar percakapan antara Paula dan Helen yang menasehati Paula untuk hati-hati jangan sampai Bagas tahu jika Paula akan menggunakan darah perawan palsu untuk membohongi Bagas agar tidak mengetahui kebenaran tentang Paula.
"Tenang saja Ma, aku pintar dalam memuaskan laki-laki. Bagas tidak akan tahu jika itu darah palsu. Aku juga sudah menghilangkan bekas luka operasi caecar, Bagas tidak akan tahu jika aku sudah pernah melahirkan seorang anak." ucap Paula menenangkan Helen.
"Bagus, Mama percaya sama kamu." balas Helen.
Setelah mendengar itu, Bagas mengurungkan niatnya yang akan mencoba mencintai Paula. Setiap hari, Bagas memilih untuk menyibukan diri dengan pekerjaannya dari pada menghabiskan waktu di rumah. Bagas pulang hanya untuk membersihkan diri, berganti pakaian lalu pergi lagi.
Malam ini Paula sudah habis kesabarannya dan melarang Bagas untuk pergi lagi, dia meluapkan semua kekesalannya pada Bagas yang mengabaikannya sejak malam pertama mereka. Bahkan Bagas membatalkan bulan madu mereka.
"Sudah selesai marahnya?" tanya Bagas begitu Paula diam.
__ADS_1
"Katakan dimana anak yang pernah kamu lahirkan berada saat ini?" lanjut Bagas ucapannya dengan pertanyaaan yang mengejutkan Paula.
Amarah Paula yang tadi meluap kini berganti rasa takut, karena Bagas mengetahui masa lalunya tanpa menyentuhnya.
"Aku tidak tahu... aku tidak tahu apa maksud kamu." jawab Paula memberanikan diri untuk membantah ucapan Bagas.
"Mau jujur atau mau terus berbohong?" tanya Bagas lagi.
"Jujur atau bohong?" ulang Bagas pertanyaannya dengan nada penuh penekanan karena menahan kesal dan marah.
Merasa terancam dengan kemarahan Bagas, Paula terpaksa jujur pada suaminya itu. Dia menceritakan semuanya tanpa ada yang dia tutupi.
Setelah mencapai kesepakatan, malam itu juga Bagas menceraikan Paula yang mengejutkan keluarga Buana keesokan harinya. Tidak ada yang tahu pasti penyebab perceraian Bagas dan Paula kecuali Helen, karena Bagas berjanji menutupi aib Paula jika Paula menerima pemintaan cerai dari Bagas.
Flash back end.
"Maaf, Kami tidak bisa lama-lama." ucap Bagas pada Radit yang hanya diam setelah mendengar nasehat dari Alea.
Bagas ingin segera mengajak Alea pulang, dia tahu istrinya sangat lelah hari ini dan dia ingin Alea segera istirahat. Setidaknya dia sudah menjembatani Radit yang ingin berkeluh kesah pada istrinya, dan Alea juga sudah memberikan jawaban yang Radit butuhkan.
Bagas juga setuju dengan Alea, Ratna jauh lebih baik dari pada Paula. Radit bisa akan lebih baik didampingi wanita seperti Ratna, asal kan dia benar-benar ingin berubah dan memperbaiki dirinya.
"Ini." ucap Radit menyerahkan kunci kediaman Alea.
"Dan ini" lanjut Radit memberikan sebuah amplop.
"Aku mengembalikan semua uang yang pernah diberikan ayah untuk aku membuka percetakan. Maaf itu bukan uang warisan kakekku, tapi uang pemberian ayahmu." ucap Radit.
"Ayah sudah memberikannya untuk kamu Mas. Itu berarti sudah menjadi hak kamu, bukan hak aku." jawab Alea menolak amplop tersebut.
"Lea dan Kak Bagas pamit, Mas. Salam untuk Zio." ucap Alea.
"Kami pamit" ucap Bagas sambil berdiri lalu menepuk bahu Radit, menyemangati mantan suami istrinya itu agar bisa mengambil keputusan yang baik dan benar.
Radit menatap punggung keduanya yang semakin menjauh sambil tersenyum, "Wanita sepertimu memang pantas bersanding dengan pria seperti dia, bukan seperti diriku yang penuh dengan dosa. Aku bahagia melihat kamu bahagia, Alea." ucap Radit.
...💔💔💔...
...Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya...
__ADS_1