
Pelan-pelan Bagas melepaskan pelukannya pada Alea yang sudah terlelap, dia sendiri sebenarnya juga sudah tertidur namun suara ketukan di pintu menganggu telinga Bagas yang memaksanya untuk bangun lalu membuka pintu kamar.
"Alea sudah tidur?" tanya Zaki begitu Bagas membuka pintu.
"Sudah Om, ada apa?" jawab dan tanya Bagas, karena tidak mungkin Zaki menganggu istirahat mereka jika bukan ada hal yang penting untuk di bicarakan.
Zaki sedikit melonggokan kepalanya ke dalam kamar Alea, hanya ingin memastikan Alea benar sudah tidur atau belum.
"Kita duduk disana." ucap Zaki sambil menunjuk kursi yang ada tidak jauh dari kamar Alea.
"Sesuatu terjadi, musuh Global Pratama sudah mulai melakukan perlawanan. Untuk saat ini Radit yang jadi korban." ucap Zaki memberi penjelelasan setelah mereka duduk.
"Om akan kerumah sakit, Radit dikabarkan mengalami kecelakaan.
Tadi Ratna yang mengabari Om, dia juga dapat kabar dari Ita kakak ayahnya Radit." ucap Zaki.
"Riki masih di kediaman orang tua Sandra saat Om kabari, tapi sekarang dia sudah dalam perjalan menjemput Ratna untuk langsung meluncur ke rumah sakit." jelas Zaki lagi.
"Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan?" tanya Zaki.
"Tidak perlu khawatir Om, Riki di kawal keamanan Buana." jawab Bagas yang mengerti untuk mengirim pelindungan pada Riki.
"Om tidak tahu apa motif mereka menyerang Radit. Apa sebagai gertakan dari mereka orang-orang mas Sugeng, atau karena nama Radit akan menikahi putrinya." ucap Zaki lagi.
"Akan aku selidiki, Om." jawab Bagas.
Bukan hal sulit bagi Bagas untuk melacak pergerakan musuh apa lagi dia sudah menyiapkan orang kepercayaan Buana untuk mengawasi mereka. Karena bukan hanya Riki yang jadi target mereka, tapi Alea istrinya dan juga Anita ibu mertuanya.
Tapi pihak musuh sepertinya tahu akan hal itu, sehingga mereka gunakan orang-orang terdekat untuk disakiti.
"Baiklah, terimakasih Bagas" ucap Zaki sambil menepuk bahu menantunya.
"Lanjutkan istirahat kamu. Tolong jaga Alea dan ibu mertuamu" ucap Zaki lagi sambil memberikan pesan pada Bagas.
"Jangan takut Om, di luar keamanan Buana sudah berjaga." jawab Bagas memberitahu Zaki.
"Om mau kerumah sakit dulu." pamit Zaki yang di angguki Bagas.
__ADS_1
Selepas kepergian Zaki, Bagas kembali masuk ke kamar, lalu menutup kembali pintu kamarnya dengan pelan, takut Alea terbangun.
Segera Bagas mengambil ponsel yang ada di atas nakas. Dia mengirimkan sebuah pesan pada Alvin untuk segera menyelidiki kecelakaan yang terjadi pada Radit. Setelah mengirim pesan, Bagas menghubungi seseorang.
"Kawal Om Zaki" ucap Bagas memberi perintah.
"Bee, memangnya om Zaki mau kemana?" tanya Alea yang terjaga dari tidurnya saat Bagas memberi perintah.
"Bukan kemana-mana, om Zaki hanya mau menemui Ratna." jawab Bagas.
"Malam-malam begini, apa ada masalah?" tanya Alea karena merasa ada sesuatu yang terjadi. Untuk apa adik ayahnya itu menemui Ratna jika bukan membahas yang penting, bahkan lebih penting dari masalah pernikahan Ratna dengan Radit.
"Tidak ada apa-apa, ayo kita tidur lagi." jawab Bagas sambil kembali membaringkan tubuhnya di samping Alea.
Bagas lupa jika Alea bukan wanita biasa yang langsung diam dan percaya begitu saja saat nalarnya tidak sesuai dengan jawaban yang diberikan.
"Jangan ada rahasia diantara kita, Bee." ucap Alea yang belum menyerah karena jawaban Bagas tidak memuaskan menurutnya.
"Om Zaki mau menemani Ratna yang sekarang dalam perjalanan kerumah sakit."
Alea bangun dari tidurnya, "Ratna kerumah sakit, apa sesuatu terjadi dengan Ratna?" tanya Alea lagi begitu mendengar penjelasan Bagas.
Alea diam setelah mendengar jawaban Bagas. Dia kembali membaringkan tubuhnya lalu masuk kedalam pelukan sang suami yang menyambutnya dengan senang hati. Alea tidak akan memperpanjang pembicaraan mereka jika itu menyangkut Radit, dia harus mejaga perasaan Bagas meskipun sudah tidak ada rasa pada Radit.
Ratna berjalan menyusuri koridor rumah sakit diikuti Riki disampingnya, rumah sakit dimana Radit kini tengah berjuang antara hidup dan mati. Dokter jaga yang ada di UGD memberitahu mereka, jika saat ini Radit ada di kamar operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuh calon suaminya.
"Oh Ratna, masih pantaskah kamu menyebut Radit sebagai calon suamimu. Bukankah kamu sendiri yang mengumumkan membatalkan rencana pernikahan kamu dengannya"
"Untung saja warga cepat membawa pasien ke rumah sakit." ucap dokter tersebut.
"Peluru, itu berarti ada orang yang sengaja ingin mengakhiri hidup Radit. Siapa?" tanya Ratna dalam hati.
"Kak, Radit ditembak bukan kecelakaan, itu berarti ada orang yang sengaja ingin menghabisinya." ucap Ratna pada Riki.
"Iya." jawab Riki singkat.
Orang kepercayaan Bagas sudah memberi laporan padanya. Seperti yang Zaki pikirkan, Sugeng papa Ratna adalah dalangnya.
__ADS_1
"Siapa yang ingin Radit pergi meninggalkan anak-anaknya, Kak?" tanya Ratna dengan mata berkaca-kaca.
Dia memang marah pada Radit karena cemburu dan terlalu memikirkan ucapan Paula. Tapi dia tidak ingin orang yang dicintainya, ayah dari anaknya mengalami musibah seperti ini.
"Paman." jawab Riki yang langsung menjadi perhatian Ratna.
"Papa? Apa yang dia inginkan? Apa dia tidak ingin aku menikahi Radit atau apa ada alasan lainnya, Kak?" tanya Ratna beruntun.
"Tenangkan dirimu, sebentar lagi kita tiba didekat kamar operasi, akan ada keluarga calon suamimu disana." ucap Riki mencoba menenangkan Ratna.
"Katakan Kak, mengapa papa ingin mengakhiri hidup Radit?"
Riki menarik nafas panjang, "Papa mu berhasil diamankan pihak berwajib, karena Radit yang berhasil membongkar rahasia besar papa kamu dengan menjadi mata-mata." jawab Riki menjelaskan.
"Ratna." suara Ita yang memanggil nama Ratna menghentikan pertanyaan yang akan kembali Ratna tanyakan pada Riki.
"Wak, bagaimana keadaan Radit?" tanya Ratna.
"Dia masih di dalam, belum ada dokter atau perawat yang bisa ditanya." jawab Ita.
Sudah satu jam lebih Ratna duduk menunggu didepan kamar operasi bersama keluarga Radit, tapi pintu kamar operasi itu belum juga terbuka. Perasaan takut dan khawatir menyelimuti hati dan pikiran Ratna saat ini.
"Ratna sebaiknya kamu pulang saja, besok kamu bisa kembali lagi." ucap Ita menasehati Ratna karena melihat wajah calon istri keponakannya itu tampak pucat dan lelah.
Tentu saja Ratna lelah, dia baru saja selesai membersihkan diri dan ingin segera berbaring sambil memeluk putrinya saat Ita menghubunginya.
"Aku akan pulang setelah operasi Radit selesai Wak." jawab Ratna.
"Wajah kamu pucat Rat." ucap Ita memberitahu.
"Saya tidak apa-a..." belum selesai Ratna bicara dia sudah jatuh tidak sadarkan diri.
"Ratna." panggil Ita terkejut.
Zaki dan Riki yang sedang berbincang membahas penembakan terhadap Radit ikut terkejut melihat Ratna yang jatuh tidak sadarkan diri.
Ratna dilarikan ke UGD oleh suster yang kebetulan lewat tak jauh dari mereka untuk mendapatkan perawatan medis.
__ADS_1
...💔💔💔...
...Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya...