
Bukan Bagas jika tidak bisa menyingkirkan orang-orang yang akan mengusik kebahagiaannya bersama Alea. Tentu saja dengan menggunakan kekuasaan dan kekayaan yang dia miliki, dengan mudah Bagas mampu membuat jera orang-orang yang berani mengusiknya.
Kesombongan dan ancaman Wika membuat Bagas ingin kerabat oma Sundari itu merasakan hidup susah tanpa harta, apa lagi dia sudah menyelidiki kekayaan yang sekarang keluarga itu miliki bukan dari usaha sampingan yang mereka katakan selama ini, melainkan hasil korupsi di Buana Group.
"Kerjakan secepatnya." ucap Bagas memberi perintah pada Alvin untuk menarik semua fasilitas yang dinikmati keluarga Tika lalu menjebloskan mereka ke penjara.
Alvin berlalu dari hadapan Bagas setelah dia menerima perintah, baru kali ini dia melihat sisi Bagas yang kejam, pria yang bersahaja itu bisa menunjukkan taringnya saat kebahagiaannya terusik.
Di pintu dia bertemu Alea yang ingin menemui Bagas. "Apa yang diperintahkan pak Bagas sama kamu, Al?" tanya Alea.
Alea melihat wajah Bagas yang serius berbicara dengan Alvin dari ruang kerjanya, hal yang tidak pernah Alea lihat sejak mengenal Bagas. Seserius apapun suaminya dalam bekerja, tidak pernah diiringi dengan aura kemarahan.
"Memberi pelajaran pada pak Tio dan keluarganya, Bu." jawab Alvin.
Mendengar jawaban Alvin, Alea segera masuk untuk bicara pada suaminya.
"Bee, jangan terlalu keras memberi pelajaran sama mereka." ucap Alea mengingatkan suaminya.
Bagas yang tidak melihat kedatangan Alea segera melihat pada istrinya.
"Duduk dulu sayang." ucap Bagas sambil menunjuk kursi dihadapannya.
Alea pun duduk mengikuti apa yang diucapkan suaminya. Bagas meraih tangan Alea dan mengenggamnya.
"Ini bukan pelajaran tapi hukuman untuk mereka yang berkhianat, Sayang." jawab Bagas menanggapi permintaan Alea sambil menatap wajah istrinya itu yang selalu membuat Bagas tenang.
"Bukan karena kedatangan tante Wika kerumah tadi pagi, tapi memang ada kesalahan besar yang sudah dilakukan om Tio dan Tika. Orang keuangan memberikan laporan, Tika dan om Tio bekerja sama melakukan korupsi." ucap Bagas memberikan penjelasan pada Alea.
"Jadi apa yang akan kamu lakukan pada mereka Bee?" tanya Alea.
"Melaporkan om Tio dan Tika atas kasus korupsi yang mereka lakukan pada yang berwajib, serta mengambil semua fasilitas yang mereka dapatkan dari Buana Group." jawab Bagas.
"Tapi Tika sedang sakit Bee."
Bagas menatap istrinya lekat, terbuat dari apa hati istrinya ini yang masih saja memikirkan kesehatan orang yang jelas-jelas sudah berbuat jahat padanya.
"Bee." Alea kembali memanggil suaminya yang hanya melihatnya dalam diam.
"Itu resiko mereka yang sudah melakukan kecurangan, sayang. Tidak akan ada kata maaf untuk mereka yang sudah mencuri uang perusahaan biarpun masih kerabat." jawab Bagas.
__ADS_1
Alea diam, dia tidak bisa ikut campur lebih jauh. Ini masalah perusahaan dan kewenangan sekarang ada di tangan Bagas sebagai pemimpin. Pantas saja suaminya menunjukkan aura kemarahan yang berlebihan, kesalahan mereka memang besar karena sudah merugikan perusahaan dan juga para karyawan.
"Tapi izinkan Lea bertemu Tika, Bee."
"No... tidak sayang. Jangan pernah menemuinya." jawab Bagas tegas.
Alea sedikit kecewa dengan jawaban Bagas, dia hanya ingin melihat keadaan mantan sekertaris suaminya itu sebagai saudara dari suaminya, tapi dia tidak bisa membantah larangan suaminya.
Bagas tahu Alea kecewa, tapi dia tidak akan membiarkan Alea kembali berhadapan dengan Tika. Mengenal Tika sejak kecil, tentu Bagas tahu apa yang bisa dilakukan wanita itu pada Alea. Bagas pun berdiri dan memeluk istrinya dari belakang dan mengecup pipi Alea.
"Ayo ikut." bisik Bagas di telinga Alea.
"Ikut kemana Bee?"
"Bukan kejutan kalau dikasih tahu sekarang." jawab Bagas sambil kembali mencuri cium di pipi istrinya.
"Bee ini kantor." ucap Alea mencoba mengingatkan suaminya.
Bagas terkekeh, bukan berhenti dia justru semakin gemas dan kembali mencium pipi Alea berkali-kali.
"I love you." bisik Bagas dengan lembut.
"I love you too, Bee." balas Alea melihat pada Bagas dengan senyum sempurna yang membuat Bagas kembali jatuh dalam pesona istrinya.
Entah kejutan apa yang akan diberikan Bagas sampai matanya harus di tutup kain begitu mereka hampir tiba di tempat tujuan.
Sambil berpegangan pada tangan Bagas, Alea turun dari mobil. Bagas menutup mata Alea sangat rapat, hingga dia tidak bisa sama sekali melihat dimana dia berada saat ini. Bagas berdiri dihadapan Alea, lalu dia membuka ikatan kain yang menutupi mata istrinya.
"Ini..." Alea tidak bisa meneruskan ucapannya.
Bagas membawa Alea ketempat dimana mereka pertama kali bertemu, kenangan masa lalu itu kini kembali terlintas dalam ingatan Alea. Bagaimana dulu suaminya terluka dan berdarah karena di pukul anak-anak pengangguran yang sekarang dipekerjakan Bagas sebagai office boy.
"Ayo."
Suara Bagas yang mengajak Alea menarik istri Bagas itu dari lamunannya. Bagas kembali menutup mata Alea lalu menggandeng istrinya berjalan hingga ke ujung jalan, dimana toko milik ayah Alea berada.
"Bee." ucap Alea tidak percaya begitu Bagas membuka kain yang menutup matanya.
Tanpa sepengetahuan Alea, Bagas membereskan toko yang dulu ditempati ayah Alea untuk mencari nafkah. Alea sudah merancang dan mendesain ulang toko itu untuk dijadikan sebuah toko pakaian.
__ADS_1
Bagas tidak sengaja menemukan gambar yang sudah dirancang dan didesain Alea untuk toko ayahnya. Saat itu Bagas tengah membantu istrinya membereskan meja kerja sang istri di kantor lama.
Ada catatan kaki tertulis disana, membuat Bagas tahu gambar rancangan dan desain itu untuk apa. Tidak disangka, tenyata istrinya punya tujuan mulia, Alea mempunyai niat membuka toko pakaian yang mana akan dikelola anak-anak panti yang sudah tamat sekolah menengah atas tapi kesulitan mencari kerja.
Bukan hal sulit bagi Bagas untuk mewujudkan keinginan Alea, diam-diam Bagas meminta Jaya, Lukman dan tim yang dulu satu divisi dengan Alea untuk merealisasikan gambar desain toko seperti yang Alea inginkan.
"Selamat datang." suara Lukman mengejutkan Alea yang masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Mas bro."
Lukman mendekat sambil terkekeh, sudah lama sekali dia tidak mendengar panggilan itu.
"Bagaimana, sudah sesuai keinginan kah?" tanya Lukman sambil menunjuk kedalam toko yang sudah dia buat seperti yang Alea gambar.
"Terimakasih Mas Bro." ucap Alea begitu memeriksa kedalam toko.
"Semua sudah siap, tinggal kamu rekrut karyawan dan isi tokonya, sayang." ucap Bagas setelah mereka selesai bertugas.
"Iya Bee, terimakasih." ucap Alea sambil menatap penuh cinta dan rasa syukur memiliki suami seperti Bagas.
"Mas Bro, bagaimana kabar Lala dan maminya?" tanya Alea.
"Main lah ke rumah, kamu bisa melihat bagaimana aktifnya Lala sekarang." jawab Lukman.
"Akan Alea sempatkan untuk main dan bertemu Lala. Tapi tolong Mas Bro sampaikan pada mbak Meta, Lea minta mami Lala yang menjalankan toko ini." ucap Alea yang mendapat tatapan tidak percaya dari Lukman.
"Bagaimana Bee?" tanya Alea meminta pendapat Bagas.
"Ide bagus." jawab Bagas.
"Maksudnya kamu menerima istriku jadi karyawan pertama kamu, Lea."
Alea mengangguk membenarkan ucapan Lukman, "Mba Meta pintar dalam memilih pakaian yang sedang trend untuk wanita berhijab." jawab Alea.
"Dia pasti senang mendengar kabar ini, Lea. Terimakasih." ucap Lukman.
"Terimakasih Pak." ucap Lukman pada Bagas.
Kejutan yang diberikan Bagas, membuat Alea senang dan bahagia. Merekapun akhirnya melanjutkan perjalanan mereka ke panti asuhan yang biasa Alea kunjungi. Tujuannya hanya satu, segera memberi kabar baik ini untuk anak-anak panti yang masih menganggur.
__ADS_1
...💔💔💔...
...Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya...