
Alea masuk ke kamar ditemani Bagas, mami dari Adzkiya itu malam ini bisa tidur dengan tenang. Keinginannya untuk hidup rukun dan damai bersama keluarga, kerabat dan sahabat-sahabatnya kini bisa terwujud. Satu hal yang selalu mengganjal dihatinya lenyap sudah setelah dia menerima permintaan maaf Sugeng. Laki-laki tua itu duduk di hadapannya sambil berlutut merendahkan dirinya agar sejajar dengan Alea yang duduk di sofa.
Tidak ada bantahan atau kata-kata yang melukai hati pamannya saat Alea menjawab penjelasan Sugeng tentang kesalahan yang dia lakukan. Alea bahkan berpesan pada Sugeng, meminta pamanya itu selama menjalani hukuman menggunakannya untuk bertobat dan berbuat baik.
Seperti yang Alea katakan pada Bagas, meskipun dia memaafkan Sugeng, bukan berarti membebaskan pamannya itu menjalani hukumannya. Pamannya tetap harus bertanggung jawab dengan apa yang dia perbuat, Sugeng memahami akan hal itu dan menerima keputusan Alea.
Sebelumnya, Sugeng juga meminta maaf pada Anita dan Riki. Tidak jauh berbeda dengan Alea, Anita dan Riki juga memaafkan Sugeng. Bagi mereka semua sudah berlalu, dendam juga tidak akan menyelesaikan masalah bahkan akan memperburuk keadaan. Hidup mereka sekarang juga sudah baik-baik saja bahkan bisa dikatakan mereka bahagia bersama orang-orang yang menyayangi mereka.
Bagas menatap Alea yang terpejam sambil menyusui Adzkiya. Setiap hari rasa cinta dan kagum Bagas pada Alea terus bertambah, dia benar-benar bersyukur mendapatkan Alea sebagai istri. Bagas ikut senang kini keluarga istrinya rukun dan damai tanpa ada benci dan dendam.
"Apakah aku juga harus memaafkan dia." gumam Bagas bertanya pada dirinya sendiri.
Pagi ini matahari bersinar terang, langit tampak cerah secerah hati sepasang suami istri yang kini sedang sarapan bersama putra dan putri mereka. Keakraban keluarga kecil itu terganggu dengan suara bel dipintu depan.
"Siapa yang bertamu pagi-pagi begini." ucap Ratna menanggapi bel rumah mereka yang berbunyi.
"Biar ayah yang buka." jawab Radit yang langsung berdiri dan berjalan ke pintu depan.
"Om." sapa Radit begitu melihat sosok Zaki yang berdiri dipintu.
"Panggil kan Ratna." ucap Zaki membalas sapaan Radit.
"Mengapa Om nggak masuk saja?" tanya Radit.
Zaki bergeser barulah Radit bisa melihat ayah mertuanya yang berdiri di belakang Zaki.
"Sebentar aku panggilkan Ratna." ucap Radit menjawab pertanyaannya sendiri.
Ratna menangis dalam pelukan Sugeng, hal yang sudah lama dia rindukan berada dalam pelukan laki-laki yang dia sayangi dan juga dia benci. Sama seperti yang lain, Ratna juga memaafkan Sugeng. Terus membenci ayahnya tidak bisa menghidupkan ibunya kembali, hanya akan membuat hidupnya tidak tenang. Ratna ingin menjalani hidup tanpa dendam masa lalu, bahagia bersama Radit yang mulai mencintainya dan bersama Anak-anaknya.
"Terimakasih, Nak." ucap Sugeng setelah permintaan maafnya diterima oleh Ratna.
__ADS_1
Untuk mencairkan suasana, Ratna mengajak Sugeng dan Zaki untuk ikut sarapan bersama Radit dan anak-anaknya. Selesai sarapan Ratna ikut bersama Zaki mengantarkan Sugeng kembali ke rumah tahanan untuk menjalani hukumannya.
"Om terimakasih." ucap Ratna pada Zaki yang juga memaafkan perbuatan Sugeng.
Zaki tersenyum, "Seburuk apapun kelakuannya, dia tetap kakak Om." jawab Zaki.
Sementara itu ditempat lain, Paula sedang menemani Alvaro menemui Tika di rumah sakit jiwa. Alea yang meminta Alvaro untuk memastikan bahwa Tika selama ini tidak sakit seperti penjelasan dokter yang merawatnya. Kebetulan sekali Alea mengenal dokter tersebut yang merupakan salah satu klien yang menggunakan jasanya sebagai desain interior.
Menurut dokter Tika hanya berpura-pura mengalami ganguan jiwa, dia hanya diam jika ditanya dokter dan sikapnya terlalu tenang untuk orang yang sakit. Kemarahan yang Tika luapkan sampai mengamuk hanya karena dia tidak bisa menerima kenyataan yang terjadi dalam hidupnya.
"Jadi benar informasi yang aku dapatkan kalau kamu itu tidak sakit." ucap Alvaro begitu melihat Tika tampak baik-baik saja.
"Al." panggil Tika yang terkejut dengan kehadiran Alvaro.
Tika langsung membuang muka begitu melihat siapa yang datang bersama Alvaro. Paula salah satu orang yang juga menghalanginya bisa bersama Bagas. Karena itu juga dia menjebak Alvaro untuk membuat Paula dibenci Bagas.
"Mengapa membawa dia?" tanya Tika bertanya pada Alvaro.
"Paula calon istriku, dia akan menemani aku disaat aku menemui seorang wanita. Karena aku tidak ingin ada salah faham diantara kami." jawab Alvaro.
"Al, apa tidak ada wanita lain yang mau sama kamu sampai kamu harus menikahi istri mantan sepupumu?" tanya Tika lagi.
"Apa yang salah, kami saling mencintai. Yang salah itu memaksakan cinta seseorang yang tidak mencintai kita." ucap Paula menjawab pertanyaan Tika.
Kerabat dari Alvaro dan Bagas ini tidak pernah berubah selalu saja merasa dirinya paling hebat, karena itulah dia tidak bisa menerima kekalahan yang akhirnya kecewa
"Tika... Tika, kamu tidak pernah berubah selalu saja ingin terlihat lebih dari pada yang lain." ucap Alvaro.
"Kamu datang untuk menceramahi aku apa mau menjengukku, Al?" tanya Tika kesal mendengar ucapan Paula dan Alvaro.
Alvaro terkekeh, "Kamu tidak sakit untuk apa dijenguk." jawabnya.
__ADS_1
"Kamu memang wanita yang cerdas dan pintar, Tika. Kamu pura-pura sakit agar terbebas dari hukuman. Tapi itu menunjukkan kalau kamu seorang pengecut yang lari dari masalah yang sedang kamu hadapi." ucap Alvaro begitu dia yakin dengan Tika yang memang tidak sakit.
"Kami datang untuk memberikan ini." ucap Alvaro lagi sambil memberikan dua buah undangan.
"Jangan mengejekku, untuk apa mengirim undangan pada orang yang tidak bisa hadir." jawab tika.
"Kalau begitu keluarlah dari tempat ini agar bisa mengahdiri pesta pernikahan kami dan Leoni." ucap Alvaro.
"Keluar dari sini, itu berarti aku harus hidup di penjara." jawab Tika.
"Minta maaf pada Oma dan Bagas kalau begitu." sahut Paula.
"Paula benar, Oma dan Bagas akan membebaskan kamu dari tuntutan Buana Group tentang korupsi yang kamu lakukan, kalau kamu meminta maaf pada mereka. Jangan lari dari masalah seperti ini." ucap Alvaro.
"Mana mungkin mereka mau memaafkan. Bagas dan Oma sudah dipengaruhi wanita itu untuk membuat hidupku terpuruk seperti ini." balas Tika ucapan Alvaro.
"Dia atau kamu sendiri yang menghancurkan hidup kamu. Jangan keras kepala, pikirkanlah baik-baik." sangah Alvaro ucapan Tika.
"Kamu salah menilai Alea, Tika." ucap Paula.
Tika memalingkan wajahnya dengan kesal, dia tidak suka disalahkan apa lagi dikalahkan.
"Kami pamit, banyak hal yang harus kami urus untuk pernikahan kami." ucap Alvaro.
Tugas Alvaro dan Paula yang diminta Alea untuk membuktikan Tika memang baik-baik saja sudah selesai, seperti kata dokter Tika tidak sakit.
Tika berdiri di jendela, menatap keluar pada pasien yang benar-benar sakit.
"Tanyakan pada hati kecilmu, apa yang kamu inginkan Tika"
Ucapan Paula saat pamit kembali terngiang di telinga Tika. "Bagaimana aku bisa tahu apa sebenarnya yang aku inginkan." gumam Tika tanpa berpaling melihat pada pasien yang mengamuk. Seketika dia merinding membayangkan jika terlalu lama di tempat ini, mungkin saja dia akan seperti pasien yang mengamuk itu.
__ADS_1
...💔💔💔...
...Setelah Suamiku Berselingkuh, Aku Menjadi Kaya...