Setitik cahaya kebahagiaan untuk Adiba

Setitik cahaya kebahagiaan untuk Adiba
ketabahan hati Adiba


__ADS_3

Ketika namanya dipanggil, Adiba berbalik menatap Keluarganya yang berjalan ke arahnya.


"Ada apa?" Dahi Alifa berkerut.


"Apakah besok kita bisa bertemu, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan kepada kamu Alifa." suara Bastian kedengarannya parau dan tidak berani menatap Alifa.


"Baiklah kita bertemu di rumah sakit tempat kakek dirawat, ada beberapa hal juga yang ingin aku bicarakan dengan kelainan." Adiba tidak mendengarkan Jawaban dari mereka, Adiba langsung pergi dan masuk kedalam mobil.


***


Di pondok pesantren ada dua suara tangisan anak kecil siapa lagi kalau bukan Zayyan dan Syila.


Pagi yang cerah kedua bocah itu sudah bangun dan mandi, karena hari ini rencananya mereka akan mengajak Adiba pergi jalan-jalan bersama.


Ketika sampai di depan pintu kamar Adiba, kedua bocah mengetuk pintu kamar Adiba. "Assalamualaikum umi."


Tidak ada Jawaban dari dalam, Zayyan dan Syila berulang kali mengetuk pintu kamar Adiba bahkan mereka berdua berteriak keras, tetap saja hasilnya tidak ada.


Zayyan dan Syila kembali ke ndalem berlari cepat seraya cairan bening mulai luruh dari netranya. "Abi." Syila berteriak keras.


Gus Adnan yang mendengarkan teriak sang anak, iya langsung turun ke bawah untuk menemui kedua anaknya, Gus Adnan takut terjadi sesuatu kepada Zayyan dan Syila.


Melihat kedua anak itu menangis sesenggukan, membuat hatinya merasakan sakit. Gus Adnan membawa kedua anaknya ke dalam pelukannya.


"Kenapa… umi tinggalkan kita pergi lagi, umi ingkar janji." Suara Syila serak dan air matanya tidak berhenti bercucuran.


"Apakah kami nakal Abi, sehingga Umi tidak bilang?" Air mata Zayyan bercucuran membasahi pipinya.


Mendengar perkataan kedua anaknya, membuat Gus Adnan terdiam. "Apakah kamu meninggalkan aku Adiba, apakah kamu benar-benar tidak mencintai aku, ya Allah kenapa hati hamba rasanya sesak." Batin Gus Adnan.


Di pelukan kedua anaknya Gus Adnan juga mengeluarkan air matanya.


Tidak lama Abi hamza dan Umi Ayu masuk kedalam rumah, mereka terkejut melihat anak dan cucu-cucunya menangis bersama. "Ya Allah nak kenapa kamu menangis, apakah ada terjadi sesuatu?"


Mendengar perkataan Umi Ayu Gus Adnan menatap sang umi dengan tatapan sendu. "Umi kata anak-anak Adiba pergi, apakah umi tahu kemana Adiba pergi?"

__ADS_1


Umi menepuk dahinya, umi hanya bisa tersenyum kaku. "Maaf kan Umi ya nak, umi lupa mengatakan kepada kamu, Zayyan dan Syila, Adiba kembali ke Jakarta karena ada urusan penting yang harus Adiba lakukan, jadi Iya berpesan kepada umi, untuk menjemputnya kembali bersama Zayyan dan Syila."


Mendengar ucapan sang Umi Gus Adnan kembali tersenyum, begitu juga dengan Zayyan dan Syila. "Beneran nenek, umi akan kembali lagi ke rumah ini?" Syila kembali riang gembira begitu juga dengan Zayyan.


"Iya benar, nenek tidak akan membohongi cucu-cucu nenek yang cantik dan tampan." Umi Ayu mencium kening mereka berdua.


"Satu hal lagi yang harus umi sampaikan, setelah 4 Adiba di Jakarta baru boleh kalian menjemputnya, dan Adiba akan memberikan jawaban dari pertanyaan kamu selama ini." ucap Umi Ayu.


Gus Adnan sangat bahagia akhirnya sebentar lagi iya dan Adiba akan bersatu.


***


Di Jakarta Adiba sudah rapi dari jam 08:00. "Kuatkan lah aku ya Allah, semoga aku bisa melawan trauma ku." guman Adiba.


Sebenarnya Adiba tidak ingin bertemu kembali dengan keluarganya, akan tetapi


Iya harus melakukan ini dan juga meminta kepada sang ayah untuk menjadi wali nikahnya nanti.


Adiba sudah sampai di depan rumah sakit. Adiba terus berjalan menuju ruang VVIP di lantai 4.


"Silahkan masuk dik, ayah sama yang lainnya sudah menunggu," Kenzi mempersilakan Adiba untuk masuk.


Adiba langsung masuk ke dalam, tidak memperdulikan ucapan Kenzo bahkan melirik nya saja tidak. Raut wajah adiba berubah menjadi dingin.


Kenzo melihat sang adik yang tidak menganggapnya, hanya bisa menghela nafas panjang, Kenzo tidak berani untuk protes karena takut Adiba akan lebih membencinya.


Adiba saat ini berhadapan dengan keluarganya atau yang disebut mantan, karena Adiba sudah bukan lagi menjadi keluarga dari  Alexander setelah keluar dari rumah itu.


"Silahkan kamu duduk dulu, baru kita akan berbicara," ucap ayah mempersilahkan Adiba untuk duduk di kursi.


Adiba duduk di atas kursi yang hanya bisa di diduduki satu orang saja. Adiba masih belum bisa untuk kembali dekat dengan mereka. "Silahkan, kalian yang terlebih dulu untuk berbicara, baru nanti saya?"


Melihat keluarga yang lain hanya diam, Bastian memberanikan diri untuk berbicara. "Sebelumnya saya sebagai perwakilan untuk berbicara, kami semua meminta maaf atas semua kesalahan yang pernah kami lakukan, apalagi saya pribadi yang sudah membuat kamu semakin kecewa, kami sadar selama ini selalu membanting ego dari hati,"


"Saya juga ingin mengungkapkan terima kasih banyak atas pertolongan yang kamu berikan kepada kami, sebenarnya kami sangat malu menerima bantuan dari kamu, kami yang selalu berbuat jahat, tetapi balasan mu kepada kami sangat luar biasa, dan nyawa kami saja tidak akan mampu untuk membalas kebaikan hati kamu." Bastian menghapus air matanya yang keluar dengan kasar. 

__ADS_1


Adiba masih diam, tidak memotong ucapan dari Bastian, dan memandang mereka satu persatu yang sejak tadi hanya diam dan menundukkan kepalanya.


"Apakah anda sudah selesai berbicaranya?" tanya Adiba dingin.


"Iya saya sudah selesai, sekarang kami akan mendengarkan kamu Adiba," ucap Bastian.


Adiba tersenyum tipis, melihat tingkah laku dari mantan keluarganya, Adiba menggelengkan kepalanya dan tersenyum geli. "Pertama, aku membantu kalian karena aku ingin membalas setitik kebaikan kalian, terutama kepada seorang ibu yang sudah mau melahirkan aku ke dunia ini. Kedua, alasan aku menolong kakek dari pembunuhan itu karena aku ingin berterima kasih kepada kakek yang sudah memberikan aku kasih sayang selama 15 tahun ini dan mau menerimaku. Meskipun akhirnya aku kembali kecewa. 


"Untuk selanjutnya kalian semua harus peka dan lebih waspada terhadap orang-orang yang ingin menghancurkan bisnis kalian, bisnis yang kalian jalankan bukan sekedar bisnis kecil, tetapi sudah sangat besar, jadi kemungkinan besar banyak orang-orang yang iri dan benci dengan kalian,  dan yang terpenting adalah jangan memutuskan sesuatu hanya mendengarkan omongan orang lain, carilah dulu informasi yang yang benar, kalian mempunyai anak buah yang banyak bahkan sudah terlatih tidak sudah bagi mereka untuk mencari bukti," 


Adiba menajamkan matanya sebentar menahan gejolak yang ada di hatinya, Adiba berusaha sebisa mungkin mengendalikan dirinya untuk tidak terlihat lemah di depan mereka semua.


Untuk saat ini Adiba sudah bisa menerima nasibnya, dan akan tetap keluar dari marga Alexander, meskipun mereka sudah meminta maaf dan menyesali semua perbuatannya tetap saja Adiba belum bisa kembali untuk berhubungan baik dengan keluarga Alexander. 


Adiba juga Sudah mencoba ikhlas dan tabah menerima semua cobaan hidup yang diberikan Allah, berkat bantuan dari Umi ayu yang selalu menasehati dan meningkatkan Adiba untuk selalu memaafkan keluarganya.


Adiba kembali menatap mereka semua yang hanya bisa terdiam mendengar perkataan dari Adiba, belum sempat Adiba melanjutkan perkataannya bunyi handphone Adiba berbunyi dan mengambilnya, Adiba melihat layar handphone nomor tidak dikenal


Adiba


"Assalamualaikum, mohon maaf ini siapa ya?"


Seseorang…


….


Adiba


"Apa, kapan dimana…


Adiba sangat terkejut mendengar si penelepon berbicara, siapakah orang itu ?


Bersambung


Hello semua…. Silahkan like comment and vote dan beri rating 5 kakak ❤️🥰🥰

__ADS_1


Salam kenal semua…


__ADS_2