Setitik cahaya kebahagiaan untuk Adiba

Setitik cahaya kebahagiaan untuk Adiba
Keluar dari rumah


__ADS_3

Adiba menatap rumah yang selama ini tempat tinggalnya, dengan dada yang sesak dan air mata yang mengalir.


"Aku harus kuat, kamu pasti bisa Adiba, kamu pasti akan mendapatkan kebahagiaan di tempat lain, jangan pernah menyerah, harus tetap semangat." Adiba mengepalkan tangannya.


***


Di Sisi lain, seorang perempuan cantik sedang duduk di kamar yang berwarna pink, iya tersenyum bahagia.


"Akhirnya aku berhasil mengeluarkan Adiba, ha…ha… aku berhasil membuat semua orang di rumah ini semakin membenci Adiba, dan aku akan menjadi satu-satunya cucu perempuan di keluarga Alexander," guman Zea.


Zea memandang langit-langit kamarnya yang berwarna pink dan tersenyum licik. "Maafkan aku Kakak, aku harus egois, aku tidak mau kasih sayang mereka terbagi sama kamu, kamu sudah terbiasa hidup menderita, aku akan melakukan segala cara agar kamu dilupakan oleh mereka, sorry Adiba semoga kamu hidup baik-baik saja di luar sana." Zea menyeringai kejam.


Tanpa sepengetahuan Zea, ternyata ada yang merakam perkataannya. "Pada hari itu tiba kamu juga akan mendapatkan balasan yang setimpal, kamu telah salah berurusan dengan nona muda Adiba, bersenang-senang lah selama 3 bulan ini, dan pada saat waktunya kamu akan mendapatkannya lebih kejam dari yang kamu lakukan kepada nona Zea." 


***


Sekarang Adiba berada di apartemen miliknya, sedang berbicara dengan seseorang.


Adiba


"Bagaimana?….


Seseorang


"Ternyata apa yang dipikirkan oleh nona semuanya benar, Nona Zea yang telah memfitnah anda.


Adiba


"Kumpulkan saja semua bukti-bukti yang kamu dapat dan tetap awasi mereka, apabila ada hal yang aneh segera hubungi saya,"


Seseorang


"Ada salah satu orang kita, mereka mendapatkan rekaman suara Zea, nanti akan saya kirim,"


Adiba


"Hmm….


Adiba mematikan teleponnya, ia memandang ke arah langit yang sebentar lagi akan tenggelam. "Kamu sudah berbuat jauh Zea, aku menyayangi kamu tetapi ini balasan yang kami lakukan kepada aku, maaf aku harus tetap memberikan hukuman untukmu, agar kamu nanti menjadi lebih baik dan dewasa.

__ADS_1


Air mata Adiba mengalir, pergelangan tangan Adiba banyak terdapat garis-garis kecil, sekarang garis itu bertambah.


"Besok aku harus pergi ke dokter Anna, aku tidak mau kembali seperti dulu, aku harus pergi ke pondok pesantren As-Salam, semoga kita kembali bertemu." Tersenyum bahagia.


Selama ini Adiba mengalami Self-harm adalah sebuah tindakan menyakiti diri sendiri untuk menghilangkan rasa frustasi, stres, dan berbagai macam emosi.


Adiba mengalami gangguan itu sejak berumur 13 tahun, karena sering mengalami kekerasan fisik, dan mentalnya juga terguncang.


Adiba selalu merasakan stres, sedih kesepian dan putus asa, bahkan adiba pernah melakukan percobaan untuk bunuh diri. Akan tetapi Allah selalu menolong Adiba.


Keluarganya tidak ada yang tahu, bahkan bibi yang merawatnya dari kecil juga tidak mengetahui itu, karena Adiba bisa memerankan peran yang sangat bagus, di hadapan orang adiba terlihat ceria, dan bahagia, tetapi sebaliknya apabila di kamar Adiba akan menumpahkan rasa sakit hatinya dengan cara menangis dan melukai tangannya, ketika darah mengalir entah mengapa perasaan Adiba menjadi tenang.


Alhamdulillah selama 2 tahun ini, Adiba sudah mengalami perubahan, bisa mengatur emosi menjadi lebih baik, akan tetapi karena kejadian semalam Adiba kembali menyayat tangannya dan bersyukur Adiba masih bisa mengontrol emosinya sehingga tidak terlalu parah.


Jika laki-laki itu tidak memberikan Adiba motivasi dan semangat, mungkin saat ini Adiba bisa saja menyerah dengan kehidupannya.


Setelah pertemuan itu Adiba mulai sadar dan mencoba untuk bangkit menjadi lebih baik dan Adiba juga memulai pergi ke psikiater untuk berobat dan bisa mengendalikan emosi.


***


Bulan yang indah berganti dengan sinar matahari, Adiba membuka matanya dan menatap sinar matahari yang cerah.


Adiba pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah mandi Adiba memakai pakaiannya berlengan panjang karena menutupi luka yang ada di lengannya.


Adiba


"Selamat pagi ****Bu Anna**** ini Adiba maaf ya mengganggu waktu paginya,"


Bu Anna


"Pagi Adiba, apakah kamu melukai tangan kamu,"


Adiba


"Iya Bu Anna, saya tidak bisa mengontrol emosi saya sehingga melakukan itu," suara Adiba sendu.


Bu Anna


"Jam 09:00 kamu datang saja ke ruangan saya, akan saya tunggu, kamu ceritakan semuanya disana, saya tunggu," Bu Anna sangat kuatir dengan keadaan Adiba.

__ADS_1


"Apakah kamu bisa pergi, apabila tidak bisa nanti akan saya pesankan taksi,"


Adiba


"Terima kasih Bu Anna, saya bisa pergi kesana sendiri, ibu jangan kuatir,"


Adiba mengakhiri panggilannya, Adiba Sangat bersyukur bertemu dengan Bu Anna, dengan beliaulah Adiba bisa menjadi diri sendiri, iya nyaman berbicara dan curhat, perkembangan yang Adiba dapat selama ini juga faktor dari Bu Anna, karena beliau selalu mengingatkan Adiba dalam segala hal yang berkaitan dengan kesehatannya.


Jam 08.30 Adiba pergi ke rumah sakit anggrek tempat kerja Bu Anna. Sampai di depan ada perawat yang berjaga.


Perawat itu tersenyum kepada Adiba. "Nona Adiba silahkan masuk sudah di tunggu dokter Anna."


"Adiba juga tersenyum manis. "Terima kasih, saya masuk ke dalam dulu ya."


Adiba mengetuk pintu, dan membukanya karena sudah dipersilahkan oleh Bu Anna untuk masuk.


Melihat Adiba yang masuk, Bu Anna memeluk Adiba dengan kasih sayang, sejak Adiba berobat kepadanya iya menganggap Adiba seperti anaknya sendiri.


Adiba juga membalas pelukan Bu Anna. "Kita duduk dulu ya."


"Sekarang kamu bisa cerita, hari ini saya free sampai jam 12:00," ucap Bu Anna.


Adiba menghela nafasnya, air matanya mengalir di pipinya. "Aku sekarang sudah tidak tinggal di rumah itu, aku tidak masalah dengan orang tua dan Kedua Abang tidak peduli dengan aku, perlakuan yang mereka lakukan sudah biasa, tetapi yang menyuruhku pergi adalah Kakek dari pihak Mama, aku pernah bilang sama Bu Anna hanya Kakek yang masih peduli dengan ku, tapi sekarang kakek juga ikut membenci aku."


Bu Anna langsung memeluk Adiba, tangis yang Adiba tahan selama ini akhirnya adiba keluar kan dipelukan Bu Anna.


"Aku… aku… sekarang tidak mempunyai siapa-siapa lagi, sekarang aku sendiri, sakit Bu… aku tidak tahan lagi dengan kehidupan yang aku jalani, tidak ada yang bisa aku percaya, aku takut…aku ingin mati."


"Kamu jangan bicara seperti itu, masih ada saya, jangan pernah menyerah, masih ada yang sayang sama kamu yakinlah di ujung dunia ini pasti ada seseorang yang menunggu kamu." Bu Anna menghapus air mata Adiba dengan lembut.


Adiba hanya menganggukkan kepalanya. "Apakah aku bisa mendapatkan kebahagiaan seperti yang lain?"


"Insyaallah, yakinlah kamu akan mendapatkan kebahagiaan itu, meskipun bukan dari keluarga kamu akan tetapi dari orang lain, mungkin saja sudah yang menunggu kamu," canda Bu Anna.


Adiba tersenyum lembut mendengar candaan Bu Anna. Sekaran Adiba sudah merasa lega dan tenang. 


Apakah aku bisa bertemu dengan kalian kembali….


Bersambung

__ADS_1


Hello semua…. Silahkan like comment and vote dan beri rating 5 kakak ❤️🥰🥰


Salam kenal semua…


__ADS_2