Setitik cahaya kebahagiaan untuk Adiba

Setitik cahaya kebahagiaan untuk Adiba
Kembeli ke pondok


__ADS_3

"Apa yang ingin Abang bicarakan, sepertinya sangat penting?" tanya Adiba.


"Ini tentang keluargamu, kakek menitipkan pesan, mereka ingin bertemu dengan kamu untuk terakhir kalinya, sebelum kamu pergi ikut dengan aku, apakah kamu bisa menemui mereka." Gus Adnan mengusap lembut kepala Adiba yang masih memakai kerudung.


Melihat Adiba yang hanya terdiam, Gus Adnan mengecup kening Adiba. "Cup… jangan terlalu dipikirkan, apabila kamu tidak bisa, maka kita tidak akan pergi, biar nanti aku yang akan berbicara dengan mereka."


"Aku ikut Abang saja, mungkin ini juga yang terbaik agar trauma aku bisa sembuh, aku harus berusaha untuk melawannya, tapi dengan satu syarat." Adiba menatap lembut laki-laki yang berwajah tampan, hidung mancung dan yang paling indah adalah matanya berwarna biru.


"Mulai saat ini, kemana pun adik pergi, insya Allah akan Abang usahakan untuk selalu menemani istri Abang yang cantik ini," puji Gus Adnan.


Mendengar pujian dari sang suami Adiba menutup wajahnya dengan kedua tangan, agar sang suami tidak melihat rona merah di wajahnya.


"Lebih baik sekarang kita tidur, ini sudah tengah malam." Cup sekali lagi Gus Adnan mencium kening Adiba dan membawanya ke dalam pelukannya.


Untuk kedua bocah itu, mereka tidur dengan Bu nyai Ayu, karena mereka akan mendapatkan mainan baru jika mau ikut dengan nenek dan kakeknya.


Malam yang indah bagi kedua pengantin baru itu, dinginnya malam tidak membuat Gus Adnan dan Adiba kedinginan karena sudah ada pelukan yang hangat.


Suara adzan subuh berkumandang dengan indah di masjid, membuat Gus Adnan yang tertidur nyenyak bangun begitu saja. "Ya Allah aku melewatkan sholat malam." Karena ini pertama kalinya Gus Adnan tidak mengerjakan sholat malam.


Gus Adnan melihat seseorang yang terlihat cantik masih memejamkan matanya, tidur saja kamu sangat cantik sayang, aku beruntung bisa menikah dengan kamu, semoga nanti kita akan selalu bersama dunia dan akhirat.


Cup…


Cup…


Cup…


Cup…


Gus Adnan mencium dari kening, pipi kanan, pipi kiri dan terakhir di hidung. Melihat sang istri masih betah dengan tidurnya membuat Gus Adnan semakin gemas.


Adiba tidak merasa terganggu sama sekali dengan ciuman sang suami, karena ini adalah tidur yang pertama kali bagi Adiba sangat nyaman, dan nyenyak.


"Sayang bangun, ini sudah subuh." Gus Adnan membangunkan Adiba dengan lembut dan mengelus pipi tembem Adiba.


Merasa ada yang mengelus pipinya, Adiba membuka matanya dan… gedebug suara jatuh.

__ADS_1


Yang jatuh adalah Gus Adnan dari kasur, Adiba tidak sengaja mendorong Gus Adnan dengan kaki nya.


"Aduh… sakit dik, kenapa kamu mendorong Abang sih, bokong Abang rasanya sakit sekali." Gus Adnan mengusap bokongnya agar sakitnya berkurang.


"Hehehe… maaf bang, aku lupa kalau kita sudah menikah, habis Abang dekat banget dengan wajah aku." ucap Adiba tanpa ada rasa bersalah justru Adiba menyalahkan Gus Adnan.


Pepatah mengatakan setiap apapun yang dilakukan dan dikatakan perempuan selalu benar, dan Setiap apapun yang dilakukan dan dikatakan laki-laki selalu salah dimata perempuan. (Benar atau salah teman-teman).


Mendengar ucapan sang istri, Gus Adnan tidak ingin membuat sang istri marah, lebih baik Iya diam, baru satu hari menikah masa harus marahan cuma gara-gara itu.


"Sekarang lebih baik kita sholat subuh berjamaah dulu, waktu subuh sudah hampir selesai."


Setelah menyelesaikan shalat dan membaca Alquran bersama, sekarang Adiba berada di dapur untuk membuat sarapan pertama untuk sang suami.


Rencananya Adiba hanya memasak yang simpel saja, yaitu nasi goreng, telor ceplok dan perkedel.


Adiba sangat serius dalam memasak sehingga Iya tidak menyadari sang suami sedari tadi berdiri di dinding melihat Adiba yang sedang menggoreng telur.


Gus Adnan berjalan ke arah Adiba dan memeluknya dari belakang.


Cup…


"Alhamdulillah kalau Abang suka dengan masakan aku, aku akan berusaha belajar lebih baik lagi untuk menjadi istri Abang." Adiba melepaskan pelukan sang suami.


"Kenapa dilepaskan sayang, Abang masih ingin memeluk kamu," manja Gus Adnan.


Adiba terkekeh melihat kelakuan sang suami yang bisa berubah seperti anak kecil, bahkan suaranya saja mengalahkan kedua anaknya yang sangat imut itu.


Adiba menyentuh tangan sang suami dan mengajaknya berjalan ke arah meja makan. "Mas duduk dulu ya, aku mau mengambil makanan yang sudah masak tadi."


Mendengar ucapan Adiba yang memanggilnya dengan sebutan mas, hati Gus Adnan berbunga-bunga, dan tersenyum lebar.


Setelah selesai makan, mereka bersiap berangkat ke kediaman Alexander. Selama diperjalanan Adiba tidak pernah melepaskan tangan sang suami. 20 menit kemudian mereka sampai di depan gerbang kediaman Alexander, jantung Adiba semakin berdetak, keringat membasahi wajahnya dan gemetaran.


Melihat sang istri seperti itu, Gus Adnan memberikan ketenangan dan membisikkan kata-kata penenang dan memeluknya. "Aku akan selalu ada disisi kamu sayang, jangan takut, lawan trauma kamu, ingat kata dokter Anna kamu harus bahagia dan kontrol emosi kamu."


Setelah merasa mulai tenang Adiba dan Gus Adnan masuk ke dalam rumah tempat tinggalnya dulu, suka duka, sedih frustasi dan segala hal yang menyakitkan ada dirumah ini.

__ADS_1


Skip… setelah dari kediaman Alexander Adiba kembali ke apartemen dan mulai mengemas barang-barang yang harus Iya bawa ke pondok pesantren As-Salam.


Mereka pulang ke pondok pesantren As-Salam setelah selesai shalat isya, karena Zayyan dan Syila masih ingin jalan-jalan di Jakarta bersama dengan Kakek, Nenek dan Aunty nya.


Waktu begitu cepat berlalu, siang berganti malam, didepan apartemen Adiba, teman-temannya berkumpul untuk mengantarkan Adiba. Perpisahan mereka begitu mengharukan, akan tetapi hubungan mereka tetap berjalan karena mereka adalah salah satu kelompok yang luar biasa.


Setelah berpamitan Adian dan Gus Adnan masuk ke dalam mobil, mereka akan pergi ke hotel tempat orang tua Gus Adnan menginap untuk menjemput Zayyan dan Syila.


Saat sampai di depan hotel sudah ada yang menunggu, siapa lagi kalau bukan Zayyan dan Syila.


Kedua bocah itu yang melihat Adiba keluar dari mobil, mereka berlari ke arah Adiba dan hap… mereka memeluk kaki Adian dengan erat. "Kami kangen umi," ucap Syila.


"Iya umi, kami kangen banget dengan umi, tapi tidak dengan Abi?" Ejek Zayyan.


Mendengar ucapan sang anak, Gus Adnan langsung mengangkat Zayyan dan menciumnya bertubi-tubi. "Hahaha… Abi sudah Abi, nanti wajah Zayyan tidak tampan lagi, haha…"


Gus Adnan juga mencium pipi kanan, pipi kiri dan kening Syila. Syila berada di gendongan Adiba, jadi Iya tidak merasakan iri ketika Gus Adnan menggendong Zayyan.


Mereka asyik tertawa bersama, seakan-akan lupa mereka sedang diperhatikan oleh orang-orang yang berlalu lalang.


Abi Hamza, umi Ayu dan Ning Kinan sangat bahagia, melihat kebahagiaan Adnan bersama dengan keluarganya, ini pertama kalinya mereka melihat Gus Adnan tertawa tanpa ada beban.


Umi meneteskan air matanya. "Semoga kamu selalu bahagia sayang, dan senyuman itu umi harap akan selalu ada."


Eehmm Abi Hamza berdehem, untuk menghentikan acara keluarga yang bahagia itu. "Sudah hentikan dulu kangen-kangennya, kita pulang dulu.


Dalam perjalanan, mereka semua memutuskan untuk tidur.


Cittt…. mobil direm mendadak membuat Adiba dan Gus Adnan terbangun. "Ada apa Agus, kenapa kalian berhenti mendadak?" tanya Gus Adnan tegas.


"Maaf Gus tapi….


Bersambung


Hello semua…. Silahkan like comment and vote dan beri rating 5 kakak ❤️🥰🥰


Salam kenal semua…

__ADS_1


__ADS_2