Setitik cahaya kebahagiaan untuk Adiba

Setitik cahaya kebahagiaan untuk Adiba
Pengganggu


__ADS_3

"Hehehe… mas kamu ngapain disini?" tanya Adiba cengengesan.


"Aku yang seharusnya bertanya kenapa istri mas bisa ada di kamar Kinan?'' Gus Adnan menarik turun alisnya.


"Aku… cuma numpang kamar mandi aja, sudah kebelet," ucap Adiba pelan.


"Jangan bohong sayang, aku tahu kamu sekarang ini berbohong, kita sudah menikah hampir 1 tahun, aku tahu sifat kamu," tegas Gus Adnan.


Adiba menundukkan kepalanya, Adiba juga meringis, karena tidak pernah bisa berbohong dengan suami tercinta. Adiba sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menipu Gus Adnan, akan tetapi pasti ketahuan juga.


"Maaf," ucap Adiba pelan.


Gus Adnan hanya menghela nafas panjang, Iya tidak pernah bisa marah dengan Adiba. "Ini yang terakhir kalinya kamu berbohong dengan mas, bukannya sudah berapa kali mas bilang, kerukunan rumah tangga itu adalah keterbukaannya dalam setiap hubungan, jangan pernah ada rahasia, yang melibatkan dua insan,"


"Aku juga tidak pernah memaksa kamu untuk terbuka berkaitan dengan hal pribadi kamu, tapi yang mas inginkan adalah, apabila kamu ingin melakukan untuk keluarga mas, maka bisa kita bicarakan terlebih dahulu." Gus Adnan memeluk sang istri dengan lembut.


Adiba mengeluarkan air matanya. "Maaf, jangan marah, aku tidak suka." ucap Adiba cemberut.


Gus Adnan hanya bisa tersenyum melihat tingkah manja sang istri kecil. "Sekarang katakan apa yang kamu lakukan di dalam kamar Kinan?"


"Aku hanya menelepon Adrian dan memerintahkannya untuk membawa beberapa teman-temannya untuk datang, dan ikut menjaga keamanan pondok pesantren, aku tadi tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian," Adiba menundukkan kepalanya takut kalau Gus Adnan marah.


"Mas tidak marah sayang, mas setuju dengan ucapan kamu, banyak orang yang menjaga keamanan pondok juga lebih terjamin, tapi mas lihat ada kebahagiaan yang sedang istri mas rasakan," ucap Gus Adnan.


"Aku lagi senang aja, Andrian mau memeluk agama Islam, dan Iya meminta izin untuk ikut belajar disini, apakah boleh mas?" tutur Adiba.


"Alhamdulillah, mas juga ikut senang, nanti akan mas carikan salah satu ustadz yang akan membimbingnya."


Cup…


Cup…


Cup…


Cup…


Gus Adnan mencium kening, kedua mata, dan pipi kanan,kiri Adiba. Saat Gus Adnan ingin melanjutkan ciumannya di bibir sang istri, tiba-tiba ada yang memukul pundak Gus Adnan.


Buk…


Aaww…Gus Adnan berbalik dan menatap tajam sang adik dan Gus Adnan berkacak pinggang melihat sang Adik yang tidak merasakan rasa bersalah kepada dirinya.


"Kenapa kamu memukul aku hah… kamu itu ya, suka sekali mengganggu Abang ketika bersama Adiba, bisa tidak sekali saja kamu tidak muncul dulu," gerutu Gus Adnan.


"Abang juga yang salah, kalau ingin berduaan jangan di depan kamar aku juga kali Abang," geram Kinan.


Kinan mendorong sang Abang untuk menjauh dari pintu kamarnya, dan menarik Adiba masuk kembali ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.


Melihat sang adik membawa Adiba, Gus Adnan mengetuk pintu kamar Ning Kinan berkali-kali bahkan teriakannya sampai kedengaran di luar rumah.

__ADS_1


Di dalam kamar Ning Kinan dan Adiba sedang duduk di kursi. "Kakak ipar aku ingin beli ini?" Manja Ning Kinan.


"Serius kamu ingin membeli ini?" tanya Adiba serius.


"Iya aku serius kakak iparku yang sangat cantik," Ning Kinan meyakinkan Adiba dan juga memujinya.


"Ya sudah kamu pesan aja dulu, nanti kakak yang akan membayarnya." Adiba mengeluarkan beberapa lembar uang merah dan menyerahkannya kepada Ning


Kinan.


"Apakah segitu cukup atau kurang?" tanya Adiba.


"Hehehe..cukup sangat cukup, terima kasih, aku senang banget mempunyai kakak ipar seperti kamu yang selalu royal." Ning kinan memeluk Adiba dengan erat.


"Ya sudah aku keluar dulu ya, nanti Abang kamu merajuk, bisa seharian Abang kamu akan bad mood." Bisik Adiba di telinga Ning Kinan.


"Hahaha… kakak benar sekali, selamat berjuang, semangat," ucap Ning Kinan cengengesan, sedangkan Adiba hanya menggelengkan kepalanya.


Adiba lebih tua dari pada Ning Kinan, mereka hanya berbeda 2 bulan saja, akan tetapi masalah kedewasaan, Adiba yang lebih dewasa, mungkin karena faktor Adiba yang harus berjuang sendiri dengan kerasnya kehidupan.


Ketika Adiba sudah keluar dari kamar Ning Kinan, ternyata sang suami masih menunggunya dengan raut wajah yang cemberut. Ingin sekali adiba menertawakan sang suami, tapi itu tidak Adiba lakukan karena sang suami pasti akan merajuk kepada semua orang.


Adiba mendekati sang suami dan memegang tangan dan menariknya menuju kamar mereka.


Sudah dua hari berlalu dari kejadian itu, Andrian dan yang lainnya juga sudah datang, mereka bergiliran untuk berjaga-jaga.


Duarrr…


Duar…


Pak Kyai Hamza segera memberhentikan tausiyahnya dan memerintahkan kepada para ustadz dan ustadzah untuk menjaga mereka dan tidak boleh keluar.


Pak kyai Hamza bersama dengan Gus Adnan berjalan cepat ke arah gerbang pondok pesantren, belum sampai mereka disana, mereka mendengar suara tembakan.


Dor…


Dor…


Dor…


Mendengar suara tembakan, Gus Adnan menghentikan jalannya dan menatap sang ayah. "Abi!"


Abi hamza juga ikut berhenti ketika anak anak memanggilnya. "Ada apa Adnan?"


"Aku mohon Abi kembali ke dalam masjid, situasi sekarang tidak baik-baik saja, aku mohon Abi mendengarkan perkataan aku, aku tidak ingin Umi sedih," pinta Gus Adnan lembut.


Abi Hamza memejamkan matanya sebentar untuk menenangkan hatinya, Abi Hamza menatap sang anak. "Baiklah untuk kali ini Abi akan mendengarkan kamu, tapi kamu harus janji untuk menjaga diri kamu dengan baik, Abi tidak ingin menantu dan cucu-cucu Abi sedih.


Gus Adnan menganggukkan kepalanya, dan memerintahkan salah satu anak buahnya untuk menjaga Sang ayah.

__ADS_1


Gus Adnan tiba di depan dan menatap tajam kepada sang paman. "Lumpuhkan mereka semua." Perintah Gus Adnan dingin.


Mendengar ucapan sang ketua mereka langsung melumpuhkan lawan mereka dengan kejam, dan tanpa ampun.


Bughhh


Bughhh


Krakkk


Akkkhhhh..


Dor…


Dor…


Bunyi pukulan, tembakan, patahan dan terdengar mengerikan bagi yang mendengarnya, Gus Adnan tidak akan mentoleransi orang-orang yang ingin menghancurkan pondok pesantren As-Salam ini.


Sedangkan di sisi lain di dalam masjid, ada beberapa orang yang masuk dan menodongkan pistolnya ke arah semua orang yang ada di dalam masjid, adiba yang berada di antara mereka membisikkan sesuatu kepada Ning Kinan.


"Adik, tolong kamu jaga anak-anak kakak, kakak akan berusaha untuk melumpuhkan lawan."


Mendengar ucapan sang kakak ipar, Ning Kinan menggelengkan kepalanya, tanda tidak setuju, dan memegang tangan Adiba dengan erat, air matanya mengalir membasahi pipinya.


Adiba tersenyum menenangkan. "Aku pasti baik-baik saja, insya Allah semua akan baik-baik saja." Adiba menghapus air mata Ning Kinan.


Adiba menatap kedua anak-anak yang terlihat tidak takut sama sekali. "Anak-anak umi yang sholeh dan Sholehah, apakah kalian bisa bantu Umi untuk menjaga aunty kalian dengan baik, oke!"


"Oke umi, Umi tenang saja aku akan selalu menjaga aunty dan nenek, nanti ketika kami besar, kami juga ingin seperti umi dan Abi yang keren," ucap Zayyan dengan semangat.


Cup


Cup


Syila mencium sang Umi, untuk memberikan semangat, Zayyan juga tidak ingin kalah dengan sang adik.


Ketika perhatian preman itu teralihkan, Adiba diam-diam keluar dari masjid, dan melumpuhkan lawan-lawannya secara perlahan-lahan.


Ketika Adiba ingin melumpuhkan lawannya yang terakhir, Adiba tidak sengaja melihat seorang laki-laki yang berpakaian hitam sedang bersembunyi di pohon mangga seraya memegang senjata api dan arah tujuan adalah kepada…


Dor….


Dor….


Bersambung


Hello semua…. Silahkan like comment and vote dan beri rating 5 kakak ❤️🥰🥰


Salam kenal semua…

__ADS_1


__ADS_2