Setitik cahaya kebahagiaan untuk Adiba

Setitik cahaya kebahagiaan untuk Adiba
Malam pertama


__ADS_3

Acara pernikahan Gus Adnan dan Adiba berjalan dengan lancar, pernikahan mereka juga sudah resmi secara agama dan hukum. 


Tanggal pernikahan mereka diambil dari hari kelahiran Adiba, maka dari itu pernikahan mereka sangat spesial bagi Adiba dan Gus Adnan.


Tiba-tiba datang seorang santri membawa microphone dan menyerahkannya kepada Gus Adnan. 


"Terima kasih," ucap Gus Adnan.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, mohon maaf mengganggu waktu kalian sebentar, saya hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun sayang dan juga terima kasih banyak sudah mau menerima segala yang ada pada diriku ini, disini di hadapan kalian semua saya ingin membawakan satu lagu khusus istri yang saya cintai." Gus Adnan tersenyum lembut kepada Adiba.


Adiba sangat terkejut mendengar ucapan sang suami, Adiba tidak pernah mengira Gus Adnan melakukan ini semua hanya untuknya.


Gus Adnan menyanyikan lagu yang berjudul Albi nadak (hatiku memanggil kamu) dengan suara yang merdu serta menghayatinya, membuat semua orang dan Adiba yang mendengarkannya menjadi larut dalam nyanyian Gus Adnan.


Sepenggal lirik Albi nadak


Albi nadak


(Hatiku memanggil)


Liik, ana milki liik


(Hanya padamu, diri ini hanya milikmu)


Ta'ala arrob dummini, makhtaga liik


(Datanglah mendekat, mataku mengalir, mengharapkanmu)


Liik, u rukhi fiik


(Hanya padamu dan jiwaku padamu)


Ya hobba 'umrana' umri kullu hakhyishu liik


(Wahai kasihku usiaku, seluruh hidupku untukmu)


Hawak huwal hayah


(Cintamu adalah hidupku)


Wintall ana ba'ashyak hawa


(Dirimu membuat kita merasakan 


sebenar-benarnya cinta)


Kaan Albi muna Agmal malak


(Hatimu disini, keindahan milikmu)


Yikuun ma'ah


(Jadi bersatu)


Yah albi nadak witmannak tib anta wayaya


(Hatiku memanggil, mengharapkan engkau senantiasa setia)


Yah ba'd esniin shuk wa haniin alaiik hina ma'aya

__ADS_1


(Selepas bertahun-tahun lihatlah sayang kita berjumpa disini dan bersama)


Yah dummini liik, danta habibi hayati liik


(Air mataku mengalir karena mu, engkaulah kasih, hidupku hanya untukmu)


Wa ha'iish 'umri' ashana 'ineek wa' umri fadak


(Seluruh hidupku, usiaku, karena matamu, aku serahkan segalanya)


Yah albi nadak witmannak tib anta wayaya


(Hatiku memanggil, mengharapkan engkau senantiasa setia)


Yah ba'd esniin shuk wa haniin alaiik hina ma'aya


(Selepas bertahun-tahun lihatlah sayang kita berjumpa disini dan bersama)


Yah dummini liik, danta habibi hayati liik


(Air mataku mengalir karena mu, engkaulah kasih, hidupku hanya untukmu)


Wa ha'iish 'umri' ashana 'ineek wa' umri fadak


(Seluruh hidupku, usiaku, karena matamu, aku serahkan segalanya)


Adiba yang mendengarkan Gus Adnan bernyanyi, Adiba tidak bisa berkata apa-apa lagi, air mata kebahagiaannya mengalir membasahi pipinya.


Bagi Adiba ini adalah hadiah ulang tahun yang tidak akan pernah Adiba lupakan sampai kapan pun.


Setelah menyelesaikan lagunya, Gus Adnan mendekati sang istri dan cup, Gus Adnan mencium kening sang istri.


"Aku cinta sama kamu, wahai istriku." bisik Gus Adnan.


"Aku juga mencintaimu kamu, i love you my husband," ucap Adiba.


Tidak terasa acaranya berakhir. Saat ini kedua mempelai pengantin sedang berada di dalam kamar.


"Sayang kamu duluan saya mandinya, aku mau kebawah dulu," ucap Gus Adnan.


"Baiklah, jangan lama-lama," ucap Adiba pelan.


"Hehehe, kenapa sayang, kamu tidak bisa jauh dari Abang ya?" Gus Adnan menaik turunkan alisnya menggoda sang istri.


Adiba mencubit pinggang Gus Adnan dan berlari kecil menuju kamar mandi.


Gus Adnan hanya tersenyum kecil melihat tingkah laku sang istri yang masih seperti anak-anak.


Hari berlalu cepat, siang berganti malam.


Di kamar Gus Adnan, Gus Adnan cemberut melihat kedua anaknya yang sedari tidak mau ke kamar masing-masing. "Sudah waktunya Kalina tidur, ini sudah jam 22:00."


"Kami mau tidur sama Abi dan umi," ucap Zayyan.


"Tidak bisa, kalian harus tidur dikamar kalian," ucap Gus Adnan kesal.


"Kalau Abi tidak ingin kami tidur disini bersama, maka lebih baik Abi saja yang tidur sendiri," kekeh Zayyan.


"Benar apa yang Abang bilang, kami ingin tidur bersama umi," pinta Syila dengan wajah sendu.

__ADS_1


Gus Adnan mengusap wajah kasarnya. Adiba yang melihat perdebatan suami dan anak-anaknya hanya tersenyum kecil.


"Zayyan, Syila," panggil Adiba.


"Iya umi," ucap Zayyan dan Syila bersama.


"Anak umi yang sholeh dan Sholehah, sekarang sudah waktunya tidur, umi temani kalian berdua di kamar ya, besok kan kita mau jalan-jalan," bujuk Adiba.


Mendengar ucapan sang umi, Zayyan dan Syila langsung setuju, dan mereka senang, karena mereka akan dia ajak pergi jalan-jalan.


Gus Adnan dengan senang hati menunggu sang istri untuk menidurkan anak-anak.


Selama 15 menit menunggu Adiba masuk ke dalam kamar dan langsung menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


Adiba melihat tubuhnya yang hanya memakai baju tipis pemberian dari adik iparnya. "Apakah aku harus memakai baju ini, seperti tidak memakai baju saja, aku malu sekali."


Sedangkan di luar Gus Adnan yang menunggu Adiba, selalu melihat ke arah kamar mandi karena sudah 30 menit Adiba juga belum keluar.


"Tok…tok… sayang kamu tidak apa-apa kan?" tanya Gus Adnan.


"Aku tidak apa-apa mas, sebentar lagi aku akan keluar," jawab Adiba.


Adiba memberanikan diri untuk keluar, sudah seharusnya iya memberikan hak batin untuk sang suami. Adiba keluar dari kamar mandi.


Gus Adnan yang mendengar suara pintu terbuka langsung melihat ke arah sang istri dan gleg… Gus Adnan menelan ludahnya melihat sang istrinya hanya memakai pakaian seksi.


Adiba yang melihat tatapan sang suami kepada dirinya merasakan malu sekali. "Apakah aku tidak cocok memakai pakaian ini," Adiba menundukkan kepalanya.


"Tidak sayang kamu sangat cantik dan seksi, aku suka melihat kamu seperti ini, bila perlu setiap malam kamu memakai pakaian ini saja." ucap Gus Adnan tanpa dosa seraya berjalan mendekati sang istri dan memeluknya.


Gus Adnan sudah tidak kuasa lagi menahan sejak lama, iya rangkuh wajah cantik Adiba. Mendaratkan kecupan, tak ada penolakan, kini ******* bibir tipis dan ranum itu. Kedua tangan Adiba memeluk leher Adnan, kini Adiba membalas ******* itu. 


"Respon yang cukup baik," batin Gus Adnan.


Semakin memperdalam ciumannya dan menerobos memasuki rongga mulut Adiba yang lembut. "Enggh" lenguh Adiba di sela kedahsyatan ciuman mereka. Keduanya sudah dikuasai kenikmatan yang meminta lebih, Adnan dengan sigap membopong tubuh kecil dan molek Adiba ke ranjang kedua mata mereka sudah buram.


Adnan sudah berada di atas tubuh Adiba yang mengeluarkan aroma strawberry, keduanya melanjutkan pergulatan bibir. Sebagai pria normal Adnan sudah puasa hampir 5 tahun, rasanya ingin meraup semua saat berbuka puasa selama ini.


"Sayang, bolehkah bolehkah meminta hak ku," bisik Gus Adnan lembut.


Adiba hanya menganggukkan kepalanya.( Untuk seterusnya silahkan kalian bayangkan saja ya🤭)


Suara adzan subuh berkumandang, dua insan yang sudah resmi menjadi pasangan, masih terlalap tidur yang saling memberikan kehangatan.


Adiba yang lebih dulu bangun, menatap sang suami. "Mas bangun, sudah adzan subuh." Bisik Adiba ditelinga.


Gus Adnan yang mendengar ucapan sang istri langsung membuka matanya. "Astaghfirullah sayang kita hampir saja meninggalkan sholat subuh." tanpa menunggu jawaban sang istri gus Adnan langsung menggendong Adiba dan membawanya ke dalam kamar mandi.


Pagi yang cerah, Adiba dan Gus Adnan masih berada di dalam kamar menikmati waktu berdua seraya memandang matahari yang akan terbit.


Adiba bersandar di dada bidang sang suami, dan tangan Gus Adnan memeluk Adiba dengan erat.


Disaat mereka menikmati waktu berdua, Gus Adnan mencium bibir sang istri sebelum **********, tiba-tiba ada suara yang membuat mereka berdua terkejut….


Bersambung


Hello semua…. Silahkan like comment and vote dan beri rating 5 kakak ❤️🥰🥰


Salam kenal semua…

__ADS_1


__ADS_2