Setitik cahaya kebahagiaan untuk Adiba

Setitik cahaya kebahagiaan untuk Adiba
Perdebatan


__ADS_3

Gus Adnan dan Andrian sudah berjalan ke pondok pesantren As-Salam.


"Gus bagaimana tanggapan kamu dengan ucapan Ning Farah?"


"Aku tahu Dia adalah orang yang nekat, maka dari itu perketat lah penjagaan Adiba, Zayyan dan Syila. Mungkin yang menjadi target utama Dia adalah mereka bertiga," ucap Gus Adnan dingin.


"Akan aku usahakan sebaik mungkin untuk menjaga keluarga anda," ucap Andrian dengan penuh keyakinan.


"Andrian," panggil Gus Adnan.


"Iya gue ada apa?" tanya Andrian.


"Jika kita sedang berdua saya ingin kamu memanggil saya dengan sebutan kakak, bagaimanapun juga kamu sekarang ini menjadi tunangan adik saya," pinta Gus Adnan.


"Baiklah, aku akan membiasakan diri mulai sekarang," ucap Andrian.


Di tengah jalan mereka bertemu dengan ustadz Yusuf. 


"Gus," panggil ustadz Yusuf sedikit berteriak.


"Ada apa ustadz, kenapa anda berlari-lari seperti ini, Apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya Gus Adnan kuatir.


"Alhamdulillah tidak ada terjadi apa-apa, saya hanya ingin menyampaikan pesan dari pak kyai Hamza. Kata beliau anda disuruh pulang ke ndalem, ditunggu Bu nyai Ayu, dan waktu ada hanya 5 menit untuk sampai kesana," ucap ustad Yusuf seraya menghapus keringatnya.


"Terima kasih atas pemberitahuannya, saya pergi dulu, assalamualaikum," Gus Adnan berlari cepat ke arah ndalem.


"Aku yakin ini, pasti akan ada sesuatu yang terjadi, sehingga umi menyuruhku untuk pulang lebih cepat, kenapa perasaanku menjadi tidak nyaman seperti ini, seperti ada sesuatu hal yang tidak baik yang akan terjadi dengan ku," batin Gus Adnan sedih.


Gus Adnan sampai di depan rumah, ada rasa takut ketika melihat pintu rumah. Setelah merasa cukup tenang Gus Adnan memberanikan diri untuk masuk. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, masuk Adnan umi sudah menunggu kamu," ucap pak kyai Hamza lembut.


"Aku takut abi," rengek Gus Adnan.

__ADS_1


"Kamu ini sudah dewasa nak, sudah mempunyai anak, dan istri, masa seperti ini kelakuan kamu, nanti dilihat oleh istri dan anak-anak kamu apakah kamu tidak malu," ejek Abi hamza.


"Abi… jangan berbicara seperti itu, ini kenapa umi memanggil Adnan, apakah aku memiliki kesalahan sehingga umi menyuruh aku untuk langsung menemuinya?" tanya Gus Adnan.


Abi hamza menghela nafasnya. "Ini masalah yang lumayan serius, ini tentang masalah pertemuan kamu dengan Ning Farah, sepertinya ada yang melihat kalian," papar Abi Hamza.


"Ya Allah Abi… aku lupa bilang kepada Adiba, bagaimana ini, pasti umi juga ikut salah paham," frustasi Gus Adnan.


"Nanti Abi bantu kamu, yang penting sekarang kamu temui umi kamu dulu," ucap Abi Hamza lembut.


Gus Adnan dan Abi Hamza masuk ke dalam menuju ruang tamu, dan seperti perkiraan mereka umi Ayu sudah menunggu dengan raut wajah yang dingin dan menatap tajam ke arah Adnan.


Gleg…Gus Adnan menelan ludahnya. "Duduk," perintah uji Ayu tegas.


Gus Adnan duduk di kursi single, sedangkan Abi Hamza duduk di samping sang istri.


"Jelaskan!" ucap umi Ayu tenang.


Gus Adnan menjelaskan dari awal hingga akhir, tidak yang ditutupinya dan Gus Adnan juga mengeluarkan rekaman suara yang Gus Adnan merekam secara diam-diam. "Seperti itu umi," ucap Gus Adnan lirih.


"Sekarang dimana istriku umi?" tanya Gus Adnan penuh harap.


"Sekarang ini Istri kamu lagi istirahat, Adiba baru saja tidur dengan anak-anak, mati biarkan umi yang ngomong sama Adiba, sebaiknya kamu juga istirahat," ucap umi Ayu.


Gus Adnan hanya mengikuti saran dari uminya, Gus Adnan kembali ke rumahnya untuk membersihkan diri, mungkin nanti malam baru iya akan menjemput Adiba.


***


Di tempat lain di kota yang Sama sedang terjadi perdebatan antara anak dan Ayah.


"Kamu membuat saya semakin malu, kenapa kamu menggunakan nama saya untuk bertemu dengan Adnan, apa yang kamu inginkan, Farah," bentak pak kyai Hasan.


"Aku hanya ingin mengambil Zayyan, apakah itu salah?" tanya Ning Farah santai.

__ADS_1


"Yang kamu lakukan itu salah, kamu masih tidak sadar apa yang telah kamu lakukan selama ini kepada anak-anak kamu," bentak pak kyai Hasan.


"Aku tidak pernah merasakan salah, Abi itu harusnya mendukung aku untuk mendapatkan cucu satu-satunya laki-laki, kenapa Abi marah sama aku," ceplos Ning Farah.


"Zayyan memang cucu ku, apakah kamu tidak sadar apa yang telah kita lakukan kepada anak-anak kamu itu, kita sudah meninggalkan sejak mereka kecil, biarkan mereka hidup bahagia bersama dengan keluarga Adnan, Abi mohon jangan ganggu lagi kebahagiaan mereka," nasehat pak kyai Hasan tegas.


"aku tetap dengan pendirian aku, aku kan tetap mengambil Zayyan begaimana pun caranya, " ucap Ning farah dengan suara yang lumayan besar.


"Kamu selalu saja berani menjawab ucapan dari Abi kamu sendiri, Abi malu dengan kelakuan kamu itu sama sekali tidak mencerminkan pendidikan dan nama baik keluarga besar kita, kamu lihat kakak kamu itu, dia bisa dibanggakan tidak seperti kamu," bentak pak kyai Hasan.


"Terus saja bela anak ayah itu, dia itu munafik," sindir Ning Farah seraya menatap sang kakak.


"Mulai saat ini kamu tidak akan pernah abi izinkan untuk ke luar dari rumah ini, dan semua aset yang sudah Abi berikan sekarang akan Abi sita," geram Pak Kyai Hasan.


Tanpa disuruh Ning Farah melemparkan semua barang-barang yang diberikan oleh Abi nya. "Aku juga tidak butuh ini semua, aku bisa mencarinya sendiri." Ning Farah pergi meninggalkan ruang keluarga tanpa memperdulikan ucapan sang Ayah.


Pak kyai Hasan menatap sang istri dengan tatapan kecewa, marah dan sedih. "Sekarang kamu lihat sendiri kan anak yang kamu manjakan dan apapun yang dia inginkan selalu kamu turuti, tapi lihat lah dengan mata kepala dan hati bagaimana kelakuan anak tersayang kamu itu," 


"Saya kecewa dengan kalian berdua, saya adalah seorang pemimpin yang gagal mendidik anak dan istri saya sendiri, jika orang tua kamu dan orang tua aku mengetahui ini, pasti mereka juga akan ikut sedih," ucap pak kyai Hasan sendu matanya berkaca-kaca.


Mendengar ucapan dari sang suami ibunya Ning Farah hanya bisa terdiam, dihatinya tahu bahwa apa yang dia lakukan selama ini salah, tapi setiap kali melihat sang anak sedih, membuat hatinya juga tidak tega, maka dari itu setiap apa yang akan dilakukan oleh Ning Farah selalu dikabulkan oleh ibunya.


Seharusnya sebagai orang tua kita harus bisa mendidik anak sejak dini, boleh kita memberikan sesuatu yang diinginkannya tapi lebih baiknya kita terapkan dengan cara mendiri, contoh: ada anak yang ingin meminta mainan, maka berikanlah pengertian dengan cara disuruh menabung terlebih dahulu atau ketika anak itu mendapat nilai bagus saat di sekolah, bisa kita berikan dengan hadiah untuk menghargai usaha yang dilakukannya. Jangan pernah memanjakan seorang anak berlebihan itu akan berakibat tidak baik saat iya dewasa nantinya. 


Setelah berdebat dengan sang ayah, Ning Farah masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Ning Farah mengambil handphonenya untuk menghubungi seseorang.


Ning Farah


"Sekarang juga kamu……


Bersambung


Hello semua…. Silahkan like comment and vote dan beri rating 5 kakak ❤️🥰🥰

__ADS_1


Salam kenal semua…


__ADS_2