Setitik cahaya kebahagiaan untuk Adiba

Setitik cahaya kebahagiaan untuk Adiba
Keputusan Adiba


__ADS_3

Setelah menutup telponnya adiba kembali menatap Keluarganya. "Nanti kita akan bertemu kembali sebelum aku pergi dari kota ini, dan ada seseorang yang ingin aku kenalkan kepada kalian dan aku memohon kepada tuan Bastian untuk menjadi wali nikah aku nanti."


Adiba berdiri dari bangku dan terakhir kali Adiba menatap mereka. Assalamualaikum." Salam Adiba.


"Wa'alaikum salam," jawab mereka.


Sebelum membuka pintu kamar Adiba berhenti dan berbicara. "Aku sudah memaafkan kalian semua, dan aku kagum dengan Anda tuan Bastian, yang telah berani mengakui kesalahan kalian. Akan tetapi, untuk kembali seperti dulu aku harap kalian jangan pernah memaksa, aku masih belum bisa sepenuhnya untuk melupakan semua itu.


Setelah mengatakan semua resah yang ada di dalam hatinya, Adiba merasakan tenang.


Adiba mengendarai mobilnya ke arah taman. Sampai di taman Adiba berjalan ke arah jam 12. Adiba melihat ada seorang laki-laki memakai pakaian atasan coklat dan bawahannya hitam yang sedang menunggunya, senyum adiab terbit begitu saja.


"Assalamualaikum ustadz tampan," gombal Adiba dan tersenyum kemenangan.


"Waalaikumsalam, siapa yang kamu bilang, disini tidak ada ustadz." Laki-laki itu menyilangkan tangan didepan dada dan bersuara tegas.


Hahaha… Adiba tertawa mendengar ucapan laki-laki itu. "Kamu cemburu ya, apabila aku memuji laki-laki lain." Dahi Adiba mengkerut.


Laki-laki itu kesal, karena Adiba yang menertawakan dirinya.


"Umi." Panggil dua anak kecil yang berbeda kelamin itu berlari ke arah Adiba dan hap… mereka memeluk Adiba dengan erat.


Adiba tersenyum bahagia dan memeluk kedua dengan erat juga, baru 2 hari mereka berpisah, entah kenapa Adiba selalu kangen dengan kedua bocah cantik dan tampan itu.


Seorang laki-laki dan kedua bocah itu adalah Gus Adnan, Zayyan dan Syila, mereka diam-diam merencanakan pergi ke Jakarta tanpa sepengetahuan Abi hamza dan Umi Ayu.


"Kenapa kamu cepat sekali menjemput aku, bukannya aku sudah bilang 4 hari, baru kalian boleh kesini." Adiba menatap curiga kepada Gus Adnan dan kedua bocah itu.


"Umi jangan marah ya, ini permintaan aku sama Abang Zayyan, kami kangen dengan umi, kami juga sudah bilang sama nenek dan kakek akan pergi?" Raut wajah Syila sedih, dan matanya berkaca-kaca.


Melihat kesedihan Syila dan Zayyan membuat Adiba percaya begitu saja dengan kedua bocah itu. "Umi tidak akan marah dengan kalian. Ya sudah lebih baik kita jalan-jalan disekitar sini." Ajak Adiba.

__ADS_1


Mereka menganggukkan kepalanya, Zayyan memegang tangan kiri dan yang tangan kanan adiab di pegang Syila, sedangkan Gus Adnan hanya mengikuti dari belakang.


"Alhamdulillah anak-anak sangat pintar dalam berakting, jadi aku tidak perlu kuatir Adiba akan marah." Batin Gus Adnan dan tersenyum licik.


***


Di pondok pesantren As-Salam mereka digemparkan dengan perginya Gus Adnan dan kedua anak-anaknya tanpa pamitan.


"Ya Allah, umi ingin sekali memukul kepala anak sulung Abi itu, seperti anak kecil saja, malu banget umi mempunyai anak yang tidak tahu malu, bisa-bisa Iya bekerja sama dengan kedua cucu kita untuk pergi ke Jakarta secara diam-diam," curhat Umi Ayu kepada Sang suami.


Abi hamza hanya tersenyum lembut melihat Umi Ayu yang sangat kesal. "Biarkan saja Adnan pergi, nanti mereka juga akan kembali ke rumah ini."


"Iya umi tahu itu, tapi tetap saja umi sangat kesal dan greget, anak itu sudah umi ingatkan berkali-kali untuk tidak menemui Adiba dulu, tapi apa kenyataan, anak itu tetap saja pergi, seperti baru pertama kali jatuh cinta saja, ditinggalkan sehari saja sudah kangen." ungkap Umi Ayu.


Abi hamza memeluk sang istri dan mencium keningnya dengan lembut agar umi Ayu bisa tenang. "Lebih baik kita melakukan ibadah saja, mumpung anak-anak dan cucu-cucu kita tidak ada dirumah." Abi Hamza mengedipkan sebelah matanya menggoda sang istri, sedangkan umi ayu wajahnya memerah karena malu.


Abi hamza berdiri dari bangku dan mengulurkan tangannya kepada sang istri. Melihat tangang sang suami Umi ayu menyambut uluran tangan Abi Hamza dan pergi ke dalam kamar. (Para pembaca pasti tahu apa yang akan dilakukan oleh pasangan suami istri 🤭)


***


Di Jakarta setelah puas dengan jalan-jalan sekarang mereka berada di sebuah restoran untuk makan siang bersama. " Anak-anak umi mau makan apa sayang?"


"Aku mau makan ayam goreng, es krim rasa strawberry dan black forest cake," ucap Syila semangat.


Pandangan Adiba teralihkan kepada Zayyan. "Anak umi yang tampan mau pesan yang mana?"


"Aku mau ayam teriyaki, es krim rasa mangga dan minumannya es cappucino cincau," ucap Zayyan kalem.


Adiba menatap ke arah pelayanan dan membaca pesanan mereka. Orang yang melihat Adiba, Gus Adnan dan anak-anak seperti keluarga yang sangat bahagia bahkan yang melihat kecantikan dan ketampanan mereka membuat mereka iri dan gemas.


"Mereka pasangan yang sangat serasi," ucap orang.

__ADS_1


"Aku juga ingin menikah, rasanya sangat manis melihat mereka."


"Jiwa jomblo aku merunta-runta ingin punya pasangan seperti itu."


Dan banyak lagi omongan orang lain, yang memuji Adiba, Gus Adnan dan kedua bocah itu.


Adiba, Gus Adnan dan kedua bocah itu asyik bercanda sambil menunggu makanan. "Kamu nanti tinggal dimana?"


"Aku sudah memesan 2 buah kamar hotel di sekitar apartemen kamu, mungkin aku akan menyusahkan kamu, anak-anak pasti akan ikut dengan kamu." Gus Adnan sebenarnya tidak tega dengan Adiba yang selalu mengurus anak-anaknya.


Gus Adnan ke Jakarta tidak sendiri, iya bersama dengan dua kang ndalem yang menemaninya dalam perjalanan, jadi selama jalan-jalan tadi Gus adnan dan Adiba tidak hanya berdua saja.


"Tidak apa-apa Abang, aku senang mereka tidur di apartemen aku nanti, jadi aku tidak sendiri." Adiba tersenyum lembut.


Tidak lama makanan mereka datang dan diletakkan di atas meja. "Hore… makanan sudah datang, seperti es krim itu sangat enak." Syila sangat senang dan bahagia, bahan sedari tadi Iya tidak pernah diam, ada saja yang iya lakukan dan untuk sang Abang tetap diam dan tidak banyak berbicara, Zayyan hanya memasang wajah datarnya.


Adiba senang melihat antusias Zayyan dan Syila, Adiba juga memperhatikan makan mereka dan membersihkan mulut keduanya yang cemong/kotor sisa makanan di pipi keduanya.


Setelah selesai makan Syila dan Zayyan pergi bersama salah satu kang ndalem, mereka ingin membeli mainan di sebelah restoran tempat makan mereka.


"Abang," panggil Adiba pelan.


Gus Adnan yang mendengar suara kecil Adiba, ingin rasanya Gus Adnan tertawa. "Apa adik."


"Hmmm… Adiba sudah memutuskan bahwa Adiba…..


Bersambung


Hello semua…. Silahkan like comment and vote dan beri rating 5 kakak ❤️🥰🥰


Salam kenal semua…

__ADS_1


__ADS_2