
Seminggu setelah pertemuan Gus Adnan dan Ning Farah dan ibunya. Adiba yang mendengarkan penjelasan dari umi Ayu merasakan tenang karena sang suami menemui Ning Farah tidak sendiri.
Abi Hamza dan Andrian juga ikut menjelaskan semuanya. Adiba yang mendengar semua penjelasan dari mereka Adiba mau memaafkan sang suami, bagaimanapun juga Adiba tidak bisa tidur jika tidak memeluk sang suami.
Selama seminggu ini Ning Farah tidak mengganggu keluarga mereka lagi, tapi Gus Adnan tetap memerintahkan Andrian untuk tetap berjaga-jaga.
Di dalam kamar, Adiba sedang menyiapkan semua keperluan sang suami, karena hari ini Gus Adnan akan pergi ke kantor.
"Sayang," panggil Adnan manja.
"Kenapa mas," ucap Adiba tersenyum lembut.
Gus Adnan berjalan ke arah Adiba dan memeluknya erat.
Cup
Cup
Cup
Gus Adnan mencium kening dan bibir Adiba dengan lembut. Gus Adnan juga mencium perut Adiba yang sudah terlihat besar dan mengusapnya dengan lembut.
"Kalian baik-baik ya di dalam, jangan membuat umi kesulitan, ayah pergi kerja dulu untuk mencari uang yang banyak untuk kalian, Abang dan kakak," ucap Gus Adnan di depan perut Adiba.
"Iya Abi," ucap Adiba menirukan suara anak kecil.
"Sayang aku saja yang mengantarkan anak-anak, kamu di rumah saja istirahat," ucap Gus Adnan.
"Iya Abi, tapi aku bolehkan jemput mereka, sekaligus aku ingin mengajak mereka ke supermarket yang ada di depan ada yang ingin aku cari," ucap Alifa memalas dan raut wajah yang memohon.
"Oke Abi izinkan tapi harus bersama dengan mbak Ijah, jangan sendiri," ucap Gus Adnan tegas.
"Baiklah," ucap Adiba pasrah.
Adiba tahu suaminya ini takut terjadi apa-apa dengan dirinya dan anak-anak, maka dari itu setiap ingin keluar Adiba dan anak-anaknya harus ditemani dengan yang lain. Adiba juga tidak ingin membantah ucapan sang suami, karena bagi Adiba apa yang dilakukan oleh sang suami karena Dia sangat menyayangi dirinya dan anak-anak.
Adiba mengantarkan sang suami dan anak-anaknya.
"Anak umi yang sholeh dan Sholehah kalian belajar yang baik ya, jangan nakal harus rajin, dan harus nurut apa yang ibu guru bilang," pesan Adiba seraya mencium kening kedua anaknya.
"Baik umi, siap laksanakan," ucap serampak Zayyan dan Syila dengan semangat.
Setelah melihat kepergian sang anak Adiba kembali ke dalam untuk membersihkan diri.
Drt… drt… handphone Adiba berbunyi dan tersenyum melihat nama yang ada di layar handphonenya.
__ADS_1
Adiba
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,"
Mama Keyla
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, bagaimana kabarnya sayang?"
Adiba
"Alhamdulillah aku baik-baik saja, mama bagaimana kabarnya?"
Mama Keyla
"Alhamdulillah mama baik-baik juga, maaf ya mama tidak bisa hadir di acara 4 bulanan kehamilan kamu," suara mama Keyla terdengar sendu.
Adiba
"Aku tidak apa-apa mama, aku juga mengerti dengan keadaan mama,"
Mama Keyla
"Ketika kamu mau lahiran, akan mama usahakan untuk datang dan menemani kamu," ucap mama Keyla yakin.
Adiba
Mama Keyla
"Aminn… mama akan selalu mendoakan kamu sayang, ini mama tutup dulu ya teleponnya ada adik kamu datang, assalamualaikum,"
Adiba
"Wa'alaikum salam,"
Adiba menghela nafas panjang. Adiba tidak pernah mengharapkan mereka, tapi Adiba akan selalu berbuat baik kepada mereka, bagaimanapun juga mereka tetap lah keluarga kandungannya.
Adiba melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 11:00, Adiba dan mbak Ijah berjalan kaki menjemput anak-anaknya karena sebentar lagi mereka akan pulang.
Sampai di depan sekolah Adiba langsung pergi menuju kelas kedua anak-anaknya, tapi setelah sampai Adiba tidak menemukan satupun dari mereka.
Adiba pergi ke ruangan guru untuk menanyakan kepada wali kelas Zayyan dan Syila.
"Assalamualaikum," salam Adiba.
"Waalaikumsalam, silahkan masuk Ning Adiba, apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya wali kelas Zayyan dan Syila.
__ADS_1
"Dimana Zayyan dan Syila Bu, kenapa mereka tidak ada di kelasnya?" tanya Adiba kuatir.
"Mereka sudah pulang Bu, hari ini pulangnya lebih awal dari jam biasanya, dan tadi ada seorang laki-laki yang menjemput Zayyan dan Syila karena perintah dari Gus Adnan," papar wali kelas Zayyan dan Syila.
Mendengar ucapan dari wali kelas anak-anaknya, Adiba langsung menelpon suaminya.
Sudah 4 kalo Adiba menelepon sang suami, tapi belum juga diangkat, membuat Adiba semakin cemas dan air matanya mengalir membasahi pipinya.
Panggil yang keenam akhirnya Gus Adnan menjawabnya.
Gus Adnan
"Assalamualaikum, sayang ada apa?"
Adiba
"Apakah mas ada menyuruh seseorang untuk menjemput anak-anaknya?" tanya Alifa bergetar.
Gus Adnan
"Tidak ada sayang, bukannya kamu yang akan menjemput mereka?"
Adiba
"Tapi kata wali kelas Zayyan dan, mereka sudah dijemput oleh orang suruhan mas,"
Gus Adnan
"Mungkin Andrian yang jemput anak-anak, kamu tenang saja ya, lebih bisa kamu pulang, bisa saja anak-anak sudah ada dirumah.
Adiba
"Baiklah,"
Adiba berjalan dengan cepat, entah kenapa perasaannya tidak nyaman, Adiba merasakan akan ada sesuatu yang akan terjadi.
Sampai dirumah Adiba langsung teriak dan mencari anak-anaknya, tapi semuanya nihil, dan Adiba juga mendapatkan kabar bahwa Andrian sekarang ini sedang di luar kota menemani Abi Hamza dan umi Ayu pergi.
Perasaan Adiba semakin takut, dan kuatir, tiba-tiba handphone Adiba berbunyi dan ada sebuah pesan masuk. Adiba langsung membuka pesan tersebut dan membacanya.
Air matanya kembali mengalir. "Ini…..
Bersambung
Hello semua…. Silahkan like comment and vote dan beri rating 5 kakak ❤️🥰🥰
__ADS_1
Salam kenal semua…