
Di ndalem Pak Kyai Hamza dan keluarga sedangkan berkumpul di ruang keluarga, membicarakan tentang fitanah yang Adiba dapatkan.
Gus Adnan yang mendengar itu, mengepalkan tangannya menahan amarahnya. "Aku akan mengumumkan pernikahan aku dengan Adiba."
"Umi juga setuju, tinggal 2 bulan lagi Adiba lulus," ucap umi Ayu.
"Assalamualaikum pak Kyai,"
"Wa'alaikum salam, Zahra kenapa kamu kesini, sepertinya ada hal yang penting?" tanya Ning Kinan.
"Bener Ning, saya hanya ingin bilang, Adiba sekarang berada di rumah ustadzah Zulaikha, saya takut mereka akan berkelahi," ucap Zahar.
Gus Adnan yang mendengar ucapan dari teman istrinya, langsung berlari menuju kamar para ustadzah, Bu nyai, Ning Kinan, dan Zahra juga menyusul Gus Adnan.
Pak Kyai bersama dengan Andrian juga pergi menyusul mereka.
***
Adiba tersenyum menyeringai melihat ustadzah Zulaikha yang terdiam dan gemetaran. "Ada apa ustazah, kenapa wajah anda terlihat pucat."
"Saya tidak apa-apa, saya hanya sedikit lelah saja," ucap ustadzah Zulaikha gugup.
Tiba dari jauh ada yang memanggil Adiba. "Adiba."
Adiba tidak memperdulikan panggil dari Gus Adnan, Adiba merasakan cemburu, karena banyak yang suka dengan Gus Adnan.
Sampai di samping Adiba, Gus Adnan mengucapkan salam. "Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Ini apa yang terjadi?" tanya Gus Adnan basa-basi.
Adiba tetap diam, tidak menjawab pertanyaannya Gus Adnan, Adiba masih menatap ustazah Zulaikha dengan tatapan tajam.
"Ustazah kenapa anda diam saja, ini calon suami anda sudah datang di hadapan anda, kenapa diam saja?" tanya Adiba polos.
"Apa yang kamu bilang Adiba." Gus Adnan menatap Adiba dengan dingin, Iya tidak suka mendengar ucapan Adiba.
"Aku bilang, kamu adalah calon ustadzah Zulaikha, karena Dia suka sama kamu, aku juga dengar Dia sering memberikan kamu makanan dan perhatian, puas." Tekan Adiba seraya menunjuk ustadzah Zulaikha.
__ADS_1
"Kamu mau tahu, fitnah yang aku dapatkan itu dari ustadzah Zulaikha ini, karena Dia cemburu dengan kedekatan Aku sama keluarga kamu. Aku benci dengan orang yang ingin merebut milik aku." Tegas Adiba.
"Aku juga sedih, orang yang aku sayang menatapku dengan tajam dan berkata dingin." Air mata Adiba berkaca-kaca dan setetes air matanya mengalir.
Tanpa menunggu ucapan Gus Adnan, Adiba pergi begitu saja, Adiba merasakan sesak saat orang yang dia cintai membentaknya.
Umi yang melihat menantunya pergi dengan raut wajah yang sedih, umi langsung menatap tajam Gus Adnan dengan tajam.
Sedangkan Gus Adnan yang sadar dengan ucapannya, mengusap wajahnya dengan kasar, iya sudah menyakiti hati sang istri, dan ketika mata Gus Adnan bertatapan dengan sang umi langsung kecut.
Gleg…Gus Adnan menelan ludahnya kasar.
Gus Adnan menatap semua santriwati dan ustadzah Zulaikha dengan tatapan tajam dan dingin. "Buka telinga kalian baik-baik dan dengar apa yang akan aku ucapkan, aku bukan calon suami dari ustadzah Zulaikha, sekali lagi kalian memfitnah Adiba maka dengan tegas kalian akan keluar dari pondok pesantren As-Salam ini,"
"Sekolah di pondok pesantren ini, bukan untuk belajar memfitnah, mencaci, membenci, bahkan saling menusuk sesama teman dari belakang, itu bukan karakter seorang santriwati. Seorang santriwati adalah belajar untuk memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik, belajar ilmu agama, dan belajar menjadi orang yang akan dibanggakan, ingat orang tua kalian menitipkan kalian disini untuk apa, ingat itu baik-baik." Tekan Gus Adnan.
"Untuk Anda ustadzah Zulaikha, nanti saya tunggu anda di ndalem, saya tidak akan mentoleransi orang-orang yang suka menyebarkan fitnah," ucap Gus Adnan tegas.
Semua santriwati yang berada di sana dan ustadzah Zulaikha, merasakan takut luar biasa, dan apalagi yang dikatakan Gus Adnan itu sangat menusuk mereka. Mereka tidak ada yang berani menatap Gus Adnan, mereka hanya menundukkan kepala.
"Satu hal lagi yang harus kalian ingat baik-baik, saya sudah menikah dengan seorang wanita, satu tahun yang lalu, karena istri saya masih sekolah maka saya tidak bisa mengumumkannya kepada kalian, tidak lama lagi akan saya perkenalkan siapa wanita itu," ucap Gus Adnan tegas.
Pak kyai Hamza yang baru datang, langsung menyuruh mereka semua untuk kembali ke kamar masing-masing, dan juga memberitahu mereka untuk berkumpul di dalam masjid nanti setelah shalat isya.
Pak kyai Hamza mendekati sang anak yang masih berdiri, mengusap lembut punggung sang anak. "Apabila kamu sudah merasakan tenang, sekarang kamu susul istri kamu!"
Gus Adnan mengeluarkan nafas kasarnya. "Apakah Abi tahu dimana Adiba berada?"
"Menantu Abi sekarang ada di rumah, jangan terlalu keras ketika berbicara dengan menantu Abi, kamu beruntung mempunyai Adiba, dia sudah berusaha keras untuk menjadi lebih dewasa, kamu juga tahu Adiba itu seumuran dengan adik kamu yang masih menikmati hari-harinya dengan bermain, belanja, dan berkumpul bersama dengan teman-temannya,"
"Tapi berbeda dengan Adiba, iya tetap berusaha untuk mengurus kalian bertiga, ketika Zayyan dan Syila ada tugas sekolah, Adiba dengan sigap membantu dan menemani mereka, kamu tahu tidak, aktivitas Adiba itu sangat sibuk, Abi yang melihatnya saja tidak akan bisa seperti Adiba, belajar, mencuci pakaian kalian, memasak, dan Adiba selalu menyempatkan membuat bekal untuk Zayyan dan Syila, Adian juga selalu berusaha untuk menyiapkan pakaian yang akan kamu pakai ketika mengajar dan berdakwah,"
"Kamu beruntung mendapatkan Adiba yang sangat tulus menyayangi dan mencintai keluarga kita, bahkan Adiba rela menukarkan nyawanya demi Abi, pengorbanan Adiba tidak akan pernah bisa dilupakan, maka dari itu Umi kamu lebih menyayangi Adiba daripada kamu." Pak Kyai Hamza tersenyum bahagia.
Mendengar semua ucapan sang ayah membuat hati Gus Adnan sedih, sedih karena telah membuat sang istri menangis. Gus Adnan menutup matanya untuk menahan tangisnya agar tidak keluar.
Setelah merasa cukup tenang, Gus Adnan pamit kepada sang ayah untuk kembali lebih dulu.
"Assalamualaikum,"
__ADS_1
"Wa'alaikum salam,"
Sebelum Gus Adnan berjalan jauh, tiba-tiba pak kyai Hamza berbicara yang membuat Gus Adnan terdiam dan takut.
"Adnan hati-hati ketika ingin menemui istri kamu, kamu harus menghadapi Umi, Kinan, Zayyan dan Syila terlebih dulu, Abi yakin sekali Umi akan menghukum kamu, karena sudah membuat menantu kesayangannya menangis, dan siap-siap kena pukul dari anak-anak kamu." Pak kyai Hamza tersenyum bahagia melihat wajah sang anak yang pucat.
Di sebuah kamar yang hanya ditempati satu orang, wanita itu sedang ketakutan dengan ancaman Adiba.
"Kamu harus tahu aku da Gus Adnan sudah menikah satu tahun lalu, bajakan para ustadz dan ustadzah juga sudah mengetahui status kami.
"Aku bukan wanita yang bisa kamu tindas begitu saja, aku bukan mereka yang hanya diam ketika kamu memperingati mereka, aku akan mempertahankan apapun yang aku miliki, jika ada yang berani merebutnya maka kematian lah yang akan menjemputnya.
"Kamu salah lawan, aku tahu siapa kamu sebenarnya dan apa motif kamu tinggal disini, apabila kamu bertindak macam-macam, maka kamu tidak akan pernah bisa lepas dari genggaman tanganku, meskipun kamu sembunyi di ujung dunia.
Ucap Adiba tenang, dingin dan tegas.
***
Gus Adnan sampai di depan pintu rumah, Gus Adnan ragu untuk masuk, karena takut tidak akan diizinkan sang Umi.
Gus Adnan mengintip apakah ada orang di dalam atau tidak. Jika ada orang yang melihat Gus Adnan ketakutan, pasti wibawanya sebagai orang yang tegas dan dingin, akan hilang begitu saja.
"Sepertinya aman," guman Gus Adnan.
Gus Adnan berjalan secara perlahan-lahan agar suara kakinya tidak berbunyi. Ketika ingin menginjakkan kakinya ke atas tangga..
Stop…..suara yang sangat keras
Deg…
Deg…
Deg…
Bersambung
Hello semua…. Silahkan like comment and vote dan beri rating 5 kakak ❤️🥰🥰
Salam kenal semua…
__ADS_1