Setitik cahaya kebahagiaan untuk Adiba

Setitik cahaya kebahagiaan untuk Adiba
Hamil?


__ADS_3

Sudah tiga bulan setelah pulang dari liburannya. Gus adnan kembali dengan rutinitas nya, sedangkan Adiba menjadi ibu rumah tangga yang setiap harinya menyiapkan semua keperluan anak-anak dan suaminya.


Gus Hanan juga sudah kembeli ke Kairo Mesir setelah liburan 1 bulan. Ning Kinan juga melanjutkan studinya di Kairo Mesir bersama dengan sang kakak.


Untuk hubungan Ning Kinan dan Andrian, mereka sudah tunangan, Andrian tetap tinggal di pondok pesantren As-Salam untuk membantu Gus Adnan.


Pagi hari yang cerah, Adiba mengalami sedikit pusing dan mual. Meskipun merasakan tidak enak badan Adiba tetap berusaha untuk menyiapkan keperluan anak-anak dan suaminya.


Adiba sudah selesai memasak dan membuatkan bekal untuk Zayyan dan Syila. Karena pusingnya semakin bertambah Alifa hanya bisa menunggu mereka datang.


Gus adnan yang terlebih dahulu datang ke ruang makan, melihat wajah sang istri yang pucat, langsung berlari dan memeriksa sang istri.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Gus Adnan kuatir.


"Aku tidak apa-apa mas, hanya saja aku merasakan pusing, maaf ya aku tidak bisa memasangkan dasinya," ucap Adiba sendu.


"Tidak apa-apa sayang, mas bisa melakukan sendiri, kamu bukan lah pembantu tapi kamu adalah istri mas," ucap Gus Adnan lembut.


"lebih baik kamu istirahat saja sayang, anak-anak biar aku yang mengantarkan mereka ke sekolah," ujar Gus Adnan.


"Aku masih kuat mas, kamu tenang saja." Alifa mengelus lembut tangan sang suami.


Alifa kembali ke dapur untuk mengambil bekal Zayyan dan Syila, tapi baru beberapa langkah Adiba merasakan pusing yang tidak tertahankan, dan setelahnya Adiba tidak merasakan apapun lagi karena pingsan.


Gus Adnan yang melihat istrinya pingsan, langsung berlari dan mengangkat Adiba ke pangkuan nya. "Sayang, bangun sayang, kamu kenapa?"


Zayyan dan Syila yang baru saja turun, mereka berdua langsung berlari ke arah sang ayah yang sedang berusaha untuk membangunkan Adiba.


"Ayah… umi kenapa?" tanya Zayyan matanya berkaca-kaca, sedangkan Syila jangan ditanya lagi, air matanya mengalir membasahi wajahnya.


Karena Alifa yang tidak bangun, Gus Adnan menatap kedua anaknya. "Sayang apakah Abi boleh meminta tolong," ucap Gus Adnan bergetar.


"Apa Abi?" ucap Zayyan serak.


"Tolong beritahu kakek dan nenek ya, umi Abi bawa ke rumah sakit," pinta Gus Adnan.


Tanpa menunggu lama Zayyan langsung berlari ke rumah kakek dan neneknya bersama dengan sang adik berlari kencang dengan kaki yang kecil, air matanya keduanya terus mengalir. Zayyan dan Syila takut Adiba meninggalkan mereka.

__ADS_1


Setelah melihat kepergian sang anak, Gus Adnan langsung mengangkat Adiba dan membawanya kerumah sakit bersama dengan Andrian yang sudah ada didepan rumahnya. Gus Adnan menyempatkan diri untuk menghubungi Andrian untuk menyiapkan mobil.


Gus Adnan dan Adiba sudah tidak tinggal di rumah Pak kyai Hamza, mereka sudah mempunyai rumah sendiri. Rumah mereka tidak terlalu jauh, cuma butuh waktu 5 menit saja untuk berjalan dari rumah Gus Adnan ke rumah pak kyai Hamza.


Di dalam mobil Gus Adnan tidak henti-hentinya menyuruh Adnan untuk menyetir dengan cepat, karena Adiba masih saja pingsan, Gus Adnan sudah ketakutan.


"Andrian apakah tidak bisa lebih cepat?" ucap Gus Adnan kesal.


"Ya Allah Gus, ini sudah cepat, sebentar lagi kita akan sampai," ucap Andrian dengan sabar.


Setelah sampai di rumah sakit, Gus Adnan langsung mengangkat Adiba dan berteriak untuk memanggil perawat.


Perawat yang melihat ada yang minta tolong, dengan sigap para perawat itu menolong Adiba dan membawanya ke ruang ICU untuk diperiksa.


Gus Adnan tidak diizinkan untuk masuk ke dalam.


Gus Adnan sangat mencemaskan keadaan Adiba, karena ini pertama kalinya Adiba sakit, hatinya sudah tidak bisa tenang, Gus Adnan ingin sekali menangis, tapi selalu ditahan.


Gus Adnan yang sibuk dengan pikiran, tidak menyadari dengan kedatangan orang tua dan anak-anaknya.


Gus Adnan yang merasa ada yang memeluknya langsung menatap orang yang memeluknya, dan air mata yang Gus Adnan tahan sedari tadi langsung bercucuran membasahi wajahnya. "Umi,"


"Aku takut umi, Adiba akan meninggalkan aku, aku tidak bisa menjalani hidupku apabila Adiba tidak ada bersama dengan aku," ucap Gus Adnan sesegukan.


Gus Adnan tidak memperdulikan image yang selama ini Gus Adnan lihat kan. Gus Adnan juga manusia biasa.


Setelah menunggu beberapa menit, dokter yang memeriksa Adiba akhirnya keluar. Gus Adnan langsung mendekati dokter itu dan menanyakan keadaan sang istri.


"Dokter bagaimana keadaan istri saya, apakah baik-baik saja?" tanya Gus Adnan cepat.


Dokter itu hanya tersenyum melihat kekuatiran seorang suami. "Alhamdulillah istri bapak baik-baik saja," ucap dokter itu.


"Bagaimana istri saya baik-baik saja dokter, istri saya pingsan!" ucap Gus Adnan kesal.


"Istri bapak memang baik-baik saja, setiap ibu yang mengandung pasti akan merasakan pusing, jadi maklum saja," ucap dokter itu pelan.


"Maksudnya bagaimana sih dokter, kenapa anda bilang istri saya pingsan karena hamil begitu?" ucap Gus Adnan tanpa sadar.

__ADS_1


"Istri bapak memang hamil, selamat ya anda akan menjadi seorang ayah, saya permisi dulu, masih ada beberapa pasien yang sudah menunggu saya, dan saya sarankan istri anda diperiksa ke dokter kandungan supaya lebih mengetahui detailnya." Dokter perempuan itu pergi meninggalkan Gus Adnan yang masih terdiam.


"Umi," Gus Adnan menatap sang umi dengan mata berkaca-kaca.


"Selamat ya, anak umi akan menjadi seorang ayah, akhirnya Zayyan dan Syila akan menjadi seorang kakak." ucap umi Ayu seraya memeluk Gus Adnan.


Di dalam hati Gus Adnan tidak lupa membawa shalawat dan terus bersyukur karena Allah telah memberikan mereka keturunan.


"Abi," panggil Zayyan yang sedari tadi hanya terdiam, sedangkan Syila berada di gendungan Adrian tertidur.


Gus Adnan menggendong Zayyan dan menciumnya. "Boy, apakah kamu setuju jika umi memberikan kamu dan Syila seorang adik," ucap Gus Adnan lembut.


Zayyan menganggukkan kepalanya dengan antusias. "Aku mau Abi, sekarang dimana adik kecilnya?" tanya Zayyan polos.


"Hahaha… lucu banget sih, anak ayah ini, adiknya masih berada di dalam perut umi, nanti setelah sembilan bulan baru adik kecilnya lahir," kata Gus Adnan.


"Ooch seperti itu, berarti adik kecilnya masih lama dong keluarnya, berarti Abang harus rajin belajar agar nanti bisa mengajarkan adik berhitung dan menulis," ujar Zayyan tersenyum bahagia dan semangat.


" Nak ayo kita jenguk istri kamu, kata suster, istri kamu sudah dipindahkan ke ruang VIP," ajak umi Ayu.


Gus Adnan melihat sang istri yang masih tertidur. Sudah 2 jam Adiba tertidur, pak Kyai, umi Ayu anak-anak dan Andrian sudah kembali ke pondok pesantren, hnya Gus Adnan saja yang menunggu Adiba.


"Sayang kapan kamu bangun, aku ingin mengatakan kabar baik sayang." Gus Adnan mengusap perut Adiba dengan lembut.


Adiba membuka matanya dan melihat sang suami yang sedang menatapnya. "Mas aku dimana?" ucap Adiba dengan suara serak.


"Kamu sekarang ada di rumah sakit, aku terpaksa membawa kamu, karena kamu mendadak pingsan," papar Gus Adnan lembut.


"Apakah aku…


Belum Alifa menyelesaikan ucapannya handphone Gus Adnan tiba-tiba berbunyi, Gus adnan dengan cepat mengangkatnya,


Seseoran


"Apa…


Bersambung

__ADS_1


Hello semua…. Silahkan like comment and vote dan beri rating 5 kakak ❤️🥰🥰


Salam kenal semua…


__ADS_2