
Zayyan sudah 2 bulan mengalami koma, dan tidak ada tanda-tanda bangun. Adiba juga selalu menemani sang Anak, dengan telaten merawat Zayyan.
Kembali pada kejadian 2 bulan yang lalu, Adiba yang pertama kali datang untuk menjenguk anak-anaknya tapi adiba justru mendapatkan kabar jika Zayyan sudah tidak bernyawa lagi.
Adiba berjalan cepat ke arah kamar Zayyan dirawat, tanpa memperdulikan ucapan perawatan dan dokter Adiba langsung mendekati sang anak.
Adiba menatap tajam ke arah para suster yang akan mencabut alat-alat yang ada di atas tubuh Zayyan. "Jangan pernah kalian menyentuh alat-alat itu, anakku masih hidup, kalian bukan Tuhan yang bisa memutuskan nyawa seseorang," bentak Adiba.
"Sekarang juga kalian semua keluar dari ruangan ini, jika tidak maka aku akan menghancurkan rumah sakit ini, bukan rumah sakit ini saja, tapi aku juga akan membuat kalian menderita beserta dengan keluarga kalian, jadi sebaiknya kalian turuti saja perkataan aku," bentak Adiba dengan wajah yang dingin disertai dengan air mata yang mengalir.
Para suster itu takut dengan tatapan tajam dan ancaman Adiba langsung pergi ke luar, dan membiarkan Adiba sendirian.
Adiba menatap sang anak yang wajahnya terlihat pucat, Adiba membawa Zayyan ke dalam pelukannya. "Sayang ini umi, bukannya Abang sudah berjanji akan membantu umi dan Abi untuk menjaga adik-adik, umi mohon bertahanlah sayang, umi tidak mau kehilangan anak tampan umi ini," racau Adiba tangisannya semakin kencang.
"Jika Abang tidak ingin bangun maka umi akan ikut Abang juga, umi tidak ingin hidup jika Abang meninggalkan umi," lirih Adiba dan terus mencium kening Zayyan.
Adiba memang sangat menyayangi Zayyan dan Syila dengan tulus, karena dengan adanya merekalah Adiba bisa bersama dengan Gus Adnan, dan yang lebih membuat Adiba bahagia adalah Adiba mendapatkan kasih sayang yang tulus dari mereka.
Di luar Gus Adnan tidak bisa berdiri lagi, karena Dia sudah kelelahan, dari siang sampai siang ini Gus Adnan tidak tidur. Gus Adnan juga tidak makan, karena rasa takutnya lebih banyak.
Umi Ayu dan Abi Hamza berusaha untuk menyadar kan Adnan, karena bagaimanapun juga Gus Adnan sudah tidak berdaya. Gus Adnan sangat menyayangi Zayyan dan Syila, sejak kecil Gus selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, meskipun bukan anak kandungnya.
Abi Hamza yang melihat kondisi Sang anak sepertinya harus membutuhkan dokter, akhirnya abu Hamza memanggil dokter untuk memberikan perawatan kepada Gus Adnan.
Adiba masih di dalam kamar dan terus memeluk sang anak dengan erat, ketika Adiba sudah memasrahkan semuanya kepada Allah tiba-tiba detak jantung Zayyan kembali berdetak, Adiba langsung memanggil dokter untuk memeriksa keadaan sang anak.
Adiba dengan menunggu sang anak dengan perut yang besar, tidak membuat Adiba kesusahan. "Nak, kenapa kamu diluar?" tanya umi Ayu serak.
__ADS_1
"Umi." Adiba langsung memeluk ibu mertuanya dengan erat.
"Zayyan kembali umi, anakku masih hidup, sekarang dokter sedang memeriksanya," ucap Alifa terbata-bata dengan air matanya yang bercucuran tanpa henti.
"Kamu tidak berbohong kan nak, bukannya dokter ini bilang jika cucu umi sudah meninggal!" ucap umi Ayu tidak percaya karena takut itu semuanya hanya halusinasi Adiba saja.
"Benar umi aku tidak berbohong, kita tunggu dokter keluar, nanti dokter baru itu yang akan menjelaskannya," ucap Alifa pelan.
Tidak lama menunggu, akhirnya dokter yang bernama Cristian keluar. "Apakah kamu adalah ibunya?" tanya dokter Cristian.
"Benar Dokter saya adalah ibunya, bagaimana dengan keadaan anak saya, Dia baik-baik saja kan?" tanya Alifa sendu.
"Ini benar-benar mukjizat dari Tuhan, sekali lagi saya mendapatkan pasien yang masih diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk hidup kembali, saya sudah memeriksa keadaan anak ibu, keadaannya masih koma, tapi ada kabar baiknya, kondisi tubuh anak ibu baik-baik saja, bahkan bisa dikatakan pulih, tapi ya yang saya katakan tadi, anak ibu masih tetap tidak mau bangun, jadi kita tinggal menunggu kesadarannya saja, itu saja yang ingin saya sampaikan, nanti saya akan kembali lagi untuk memeriksanya," jelas Dokter Cristian.
"Saya permisi dulu," pamit dokter Cristian.
Adiba dan umi Ayu kembali masuk ke dalam kamar, Adiba langsung berjalan ke arah Zayyan. Adiba mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Zayyan dan memberikan ciuman di keningnya. "Anak umi yang sholeh cepat bangun ya, adik-adik sudah menunggu Abang."
"Umi," teriak Syila yang di sebelah Zayyan, matanya masih terpejam.
Adiba yang terkejut dengan teriakan anak perempuannya segera mendatangi Syila. "Sayang bangun nak, ini umi." bisik Adiba di telinga Syila seraya memeluknya dengan erat untuk memberikan ketenangan, Adiba berusaha untuk tidak panik, jika iya ikut panik maka tidak akan pernah selesai.
Syila yang merasakan ada yang memeluknya langsung membuka matanya, orang yang pertama dilihatnya adalah umi yang sangat disayanginya. "Umi, Syila takut, tante itu memukul adik dan Abang, sakit umi," adu Syila dengan suara tangisnya.
Adiba meneteskan air matanya kembali, apa yang Adiba pikiran ternyata benar, anak-anaknya pasti mendapatkan kekerasan fisik, saat ini perasaan Adiba sangat marah kepada pelaku-pelaku itu.
"Sekarang anak sholehah umi jangan takut lagi, ada umi, abi, Kakek, nenek dan Aunty dan uncle yang akan menjaga kamu nak," bisik Adiba ditelinga Syila.
__ADS_1
Adiba berusaha untuk tetap tenang, Adiba tidak mau terlihat lemah di depan anak-anak, untuk saat ini dan seterusnya anak-anak membutuhkan dirinya, karena trauma yang mereka alami akan berakibat dengan keseharian mereka.
"Umi." panggil Syila yang dipelukan Adiba.
"Iya sayang kenapa?" tanya Alifa lembut.
"Tante dan paman jahat itu selalu memukul Abang, Abang selalu melindungi Adik, mereka jahat umi, paman dan Tante itu juga selalu memukul kepala Abang, Abang kesakitan umi, tolong Abang," racau Syila.
Syila kembali berteriak, Adiba saja sampai tidak bisa memeluk Syila karena Syila terus saja memberontak. Umi Ayu yang melihat cucu perempuannya seperti itu langsung pergi untuk memanggil dokter.
Setelah diberikan obat penenang, Syila kembali tidur, hati Adiba semakin sakit, melihat keduanya anaknya yang harus mengalami seperti ini, jika bisa diulang kembali Adiba akan menyerahkan dirinya saja, dari pada harus kedua anaknya.
"Bagaimana dengan anak perempuan saya dokter?" tanya Adiba serak.
"Anak perempuan anda sepertinya mengalami trauma yang mendalam, Dia sepertinya melihat sesuatu yang tidak seharusnya Dia lihat, jadi saya sarankan anak ibu dibawa ke psikologi atau psikiater, dan satu lagi jangan tinggalkan anak anda sendiri, selalu dampingi Syila, ajaklah Syila ke hal-hal yang positif agar Syila bisa melupakan trauma nya sedikit demi sedikit.
Setelah mengantarkan dokter keluar dan memeriksa keadaan Adnan umi Ayu kembali ke kamar Zayyan dan Syila dirawat.
Cleck… pintu kamar terbuka, umi Ayu tersenyum melihat Adiba yang duduk di tengah antara Zayyan dan Syila. "Bangun nak," panggil umi Ayu.
Tapi ketika ingin membangunkan Adiba kembali tiba-tiba…..
Bersambung
Hello semua…. Silahkan like comment and vote dan beri rating 5 kakak ❤️🥰🥰
Salam kenal semua…
__ADS_1