
Selama seminggu lebih Adiba berada di apartemen miliknya, Adiba sudah menyelesaikan pekerjaannya dan 2 hari yang lalu Adiba membuka cabang cafe baru dan Alhamdulillah berjalan dengan lancar.
Kondisi Adiba juga sudah lebih baik, lebih tenang dan dapat mengontrol emosi. Bantuan dari Bu Anna sangat luar biasa dan orang pertama yang ia percaya.
Untuk urusan bisnis Adiba percayakan kepada Vega. Hari ini Adiba akan pergi ke pondok pesantren As-Salam untuk bertemu seseorang yang telah menolongnya dan yang membuat Adiba sadar.
"Sekarang perjalanan aku akan dimulai, harus semangat, aku juga berharap bisa bertemu kembali dengan Kedua bocah itu, umi kangen kalian, semoga kalian selalu sehat." Adiba tersenyum bahagia.
Sekarang Adiba berada di dalam bus menuju Bandung. Ini adalah perjalanan jauh pertama Adiba, karena selama ini Adiba hanya pergi di sekitar Jakarta saja.
Adiba begitu menikmati perjalanannya kali ini, karena perasaannya sangat bahagia Adiba tidak merasakan ngantuk, Adiba lebih banyak melihat ke arah jalan yang dilalui.
Jam 14:00 Adiba sampai di terminal Bandung, turun dari bus mencari taksi, setelah mendapatkan taksi Adiba memberikan alamat kepada Pak supir.
"Berapa lama kita akan sampai ke pondok pesantren As-Salam?" tanya Adiba.
"Kurang lebih 2 jam nona, karena pondok pesantren As-Salam itu berada di desa," jawab Pak supir.
Adiba takjub dengan pemandangan yang yang iya lalui, banyak terdapat gunung-gunung yang tinggi, ada persawahan dan binatang seperti sapi kerbau dan lain sebagainya, dan yang lebih menyenangkan adalah udaranya sejuk tidak seperti di kota.
Adiba sekarang memakai pakaian panjang, celana longgar dan memakai kerudung pashmina, Adiba tahu sopan santun, meskipun Adiba tidak sering mengerjakan sholat tetapi apabila pergi ke tempat agama Adiba akan memakai pakaian tertutup.
"Nona sekarang kita telah sampai di depan gerbang pondok pesantren As-Salam," ucap Pak supir.
"Terima kasih." Adiba memberanikan 1 juta untuk Pak supir dan tersenyum lembut.
"Ini kebanyakan nona, uang ongkos nya 150 ribu saja." Pak sopir ingin mengembalikan uang itu kepada Adiba.
"Terima saja Pak anggap saja ini rezeki untuk anak dan istri bapak dirumah, saya senang bapak mau mengantar saya ke tempat yang sangat jauh ini," ucap Adiba.
Pak sopir itu mengeluarkan air matanya karena iya tidak pernah mengira mendapatkan rezeki yang lebih.
Adiba memandang gerbang yang bertuliskan pondok pesantren As-Salam, sangat indah tulisan Arabnya.
Adiba masuk ke dalam pondok dan berhenti di depan pos Pak satpam.
"Maaf Pak mengganggu waktunya, apakah boleh saya kerumah Pak Kyai," tanya Adiba sopan.
"Iya silahkan boleh, akan saya tunjukkan jalannya," ucap Pak satpam.
Adiba berjalan di belakang Pak satpam, Adiba merasa takjub dengan para santri dan santriwati yang memakai pakaian tertutup.
__ADS_1
Banyak bangunan yang berjajar rapi ada juga taman dan masjid yang besar, selama 15 menit akhirnya Adiba berada di depan rumah Pak kyai.
"Silahkan nona ini rumahnya, saya permisi dulu kedepan," ucap Pak satpam.
"Terima kasih banyak Pak, ini ada sedikit rezeki untuk bapak." Adiba memberikan 5 lembar uang merah.
"Saya tidak bisa menerima ini nona, saya ikhlas mengantarkan nona," ucap Pak satpam.
"Terima saja saya juga ikhlas memberikan untuk bapak." Adiba tersenyum lembut.
"Baiklah saya terima, terima kasih banyak, saya doakan semoga rezekinya selalu dilancarkan sama Allah," ucap Pak satpam.
Setelah melihat kepergian Pak satpam, Adiba berjalan ke rumah Pak kyai.
Tok…tok… "Assalamualaikum," salam Adiba.
Pintu terbuka, dan terlihat seorang wanita yang berusia kurang dari 50 tahun, terlihat cantik tetapi auranya sangat hangat, lembut dan orang yang mempunyai ilmu agama yang tinggi.
"Waalaikumsalam," silahkan masuk dulu nak," ucap Bu nyai.
Adiba duduk di kursi dengan tenang sedangkan Ibu tadi pergi ke belakang memanggil Sang suami.
"Maaf ya menunggu lama, saya baru saja datang dari masjid," ucap Pak kyai.
Adiba mengambil cangkir yang berisi air teh dan meminumnya.
"Maaf sebelumnya Pak Kyai dan Bu nyai apakah ini benar pondok pesantren As-Salam." tanya Adiba hati-hati.
Mereka tersenyum lembut mendengar pertanyaan Adiba. "Benar nak ini pondok pesantren As-Salam, apakah ada yang perlu saya bantu?"
"Hmmm… saya kesini ingin belajar tentang agama, pemahaman saya tentang agama nol, saya ingin belajar dari awal," Adiba menundukkan kepala.
Mereka berdua saling tatap. "Sangat bisa nak apabila kamu benar-benar mau mempelajari ilmu agama, nanti istri saya yang akan mengajarkan secara khusus."
Adiba menatap mereka dengan pandangan haru, Adiba mengeluarkan air matanya, iya bersyukur bisa diterima di tempat ini dengan mudah.
Bu nyai mendekati Adiba dan memeluknya dengan lembut, mendapatkan pelukan itu, Adiba juga membalasnya.
"Jangan menangis ya, apabila kamu ada masalah kamu bisa curhat sama umi.
Adiba hanya menganggukkan kepala, iya merasa nyaman dan damai berada di pelukan Bu nyai.
__ADS_1
"Bolehkah kami tahu, siapa nama kamu nak," tanya Pak Kyai.
"Nama saya Adiba Afsheen Myesha saya dari Jakarta,"
"Ya Allah perjalanan kamu jauh banget nak, naik kendaraan apa nak Adiba kesini?" Bu nyai.
"Saya naik bus dari Jakarta, dan untuk kesini saya naik taksi," Jawab Adiba sopan.
"Kamu sendiri saja datang kesini nak, apakah tidak ada yang mendampingi kamu nak Adiba?" tanya Pak Kyai.
Adiba menundukkan kepalanya, iya tidak bisa menjawab pertanyaan dari Bu nyai.
Melihat Adiba yang menunduk, Bu nyai menatap Sang Kyai untuk tidak bertanya kembali. "Apabila nak Adiba belum siap untuk menjawab pertanyaan Abi, tidak perlu dijawab?" Bu nyai mengusap lembut kepala Adiba.
"Tidak umi, Adiba akan menjawab pertanyaan Pak Kyai, Adiba tidak mau berbohong kenapa Adiba pergi kesini?" Adiba menatap mereka berdua.
"Sebenarnya saya mempunyai keluarga, tetapi karena ada kesalahpahaman kecil saya keluar dari rumah itu, hmmm… sebenarnya saya kesini karena ada seseorang yang memberikan alamat pondok pesantren As-Salam ini." Adiba mengeluarkan kertas yang iya simpan selama ini.
Bu nyai dan pak kyai melihat tulisan itu, mereka kaget karena tulisan itu mereka tahu siapa orangnya, tapi tidak mereka perlihatkan dihadapan Adiba.
Adiba menatap Pak Kyai dan Bu nyai bingung karena mereka terdiam saat melihat tulisan itu.
Pak kyai menatap Adiba dan tersenyum agar Adiba tidak tenang. "Apakah saya tahu siapa yang memberikan alamat ini?"
"Hmmm… saya tidak tahu siapa namanya yang memberikan alamat itu kepada saya, akan tetapi ciri-ciri orang itu saya masih ingat," jawab Adiba.
"Boleh saya tahu ciri-cirinya seperti apa?" tanya kembali Pak kyai.
"Dia memakai baju Koko warna biru dan celana warna hitam, iya memakai peci warna putih, tingginya kurang lebih 180, dan warna matanya biru, hanya itu yang saya ingat karena pertemuan kami sudah lama sekitar 5 tahun.
"Satu lagi pak kyai orang itu sangat mirip dengan Pak Kyai," papar Adiba.
Deg…
Deg…
Jantung Pak Kyai dan Bu nyai berdetak kencang. "Apakah wanita ini adalah….
Bersambung
Hello semua…. Silahkan like comment and vote dan beri rating 5 kakak ❤️🥰🥰
__ADS_1
Salam kenal semua…