
Pak kyai Hamza dan Gus Adnan sudah ada di depan pintu gerbang pesantren As-Salam, terlihat ada beberapa orang preman yang ingin masuk ke dalam pondok.
Dengan tenang Kyai Hamza memandang seorang pria yang terlihat sedikit lebih muda dengan pak kyai Hamza, memakai baju warna abu-abu. Pak Kyai Hamza sangat mengenal pria itu. "Apa yang ingin kamu lakukan di tempat ini?"
Laki-laki baju abu-abu itu tertawa sombong. "Seharusnya kamu tahu apa yang aku inginkan."
"Untuk masalah itu kita bicarakan di dalam saja Burhan, silahkan masuk, tapi saya mohon untuk orang-orang yang kamu bawa tidak boleh ikut masuk, saya tidak ingin mengganggu ketenangan santri saya," ucap pak kyai Hamza tegas.
Dengan perasaan kesal Burhan kedua anak-anaknya mengikuti Pak Kyai ke ndalem.
Saat ini mereka sudah berhadapan, Burhan menatap sinis Pak Kyai. "Saya ingin mengambil setengah tanah yang ada di pesantren ini, seharusnya saya juga memiliki hak tersebut, bukan cuma kamu saja."
Pak kyai tetap tetap tenang, tidak terpancing dengan ucapan Burhan."Kamu tidak ada hak apapun disini, saya sendiri yang membeli tanah ini, dan tidak ada sedikitpun uang dari ayah."
"Jangan pernah berbohong kamu!" Bentak Burhan dengan nada tinggi.
"Saya tidak pernah berbohong, ini semua memang hasil dari kerja keras saya, dan sebagian tanah ini juga milik dari mertua saya." Tegas Pak Kyai.
"Saya tidak bisa mempercayai ucapan kamu begitu saja, ayah sendiri yang bilang kepada saya bahwa tanah ini milik Dia, dan ayah juga yang sudah memerintahkan saya untuk mengambil hak saya, dan kamu tahu apa yang dikatakan ayah selanjutnya, apabila kamu tidak ingin memberikannya maka dengan terpaksa saya akan menggunakan kekerasan." Burhan tersenyum licik.
Mendengar ucapan Burhan, Pak Kyai memejamkan matanya, menahan sesak.
Gus Adnan yang mendengar perkataan sang paman juga mengepalkan tangannya, menahan amarahnya.
Sedikit kisah tentang Pak Kyai :
Ayah pak Kyai Hamza menikah dengan ibunya Burhan, pernikahan ini terjadi tanpa sepengetahuan ibu kandung pak Kyai Hamza.
Setelah dua tahun lebih menikah dengan ibunya Burhan, Sang ayah memutuskan untuk menalak istri pertamanya, dan kasih sayang sang Ayah hanya untuk Burhan dan anak kandungnya bersama istri keduanya.
Demi kebahagiaan sang anak, ibu pak kyai Hamza bekerja keras dan menyekolahkannya di pondok pesantren As-Salam ini dan bertemu dengan Bu nyai Ayu anak dari pemilik pondok pesantren tersebut dan Bu nyai Ayu adalah anak satu-satunya.
Maka dari itu yang meneruskan pondok pesantren As-Salam ini adalah pak kyai Hamza bersama sang istri.
Orang tua Bu nyai Ayu merestui hubungan mereka, karena pak Kyai Hamza memiliki kepribadian yang bagus, kuat, pintar dan tutur kata yang lembut, dan juga pak Kyai Hamza lulusan terbaik dari universitas Al-Azhar dalam jalur beasiswa.
Hubungan Pak Kyai Hamza dengan Ayah kandungannya tidak terlalu baik, begitu juga dengan Burhan dan adik seayah.
Kisah pak Kyai Hamza juga sangat menyedihkan, beliau kehilangan kasih sayang dari seorang ayah, akan tetapi Beliau mendapatkan kasih sayang yang begitu luar biasa dari sang ibu.
***
"Silahkan kamu keluar dari pondok pesantren ini, saya tidak akan memberikan apapun kepada kamu, karena tanah pondok pesantren ini adalah milik mertua saya, bahkan surat-suratnya ada, jika kamu masih memaksa untuk mengambilnya maka saya akan laporkan kamu ke pihak berwajib," tegas pak kyai Hamza.
Mendengar ucapan pak Kyai Hamza Burhan dan kedua anaknya, keluar begitu saja dari rumah pak Kyai Hamza tanpa ada kata pamitan.
Pak kyai Hamza, terus-menerus membaca istighfar, untuk menenangkan hatinya. Pak kyai Hamza memandang sang anak. "Adnan." panggil Abi Hamza.
"Iya Abi ada apa?" tanya Gus Adnan.
__ADS_1
"Abi minta tolong sama kamu, tolong kerahkan sebagian anggota kamu untuk berjaga-jaga, Abi takut mereka menyakiti para santri, dan satu lagi, kamu jangan izinkan istri dan anak-anak kamu untuk keluar, Abi takut mereka menjadi sasaran paman kamu nanti, Abi juga sudah menceritakan sama kamu bagaimana sifat paman dan kakek kamu, mereka akan melakukan segala cara untuk mendapatkan yang mereka inginkan." Abi hamza menghela nafasnya dan terus melafalkan doa.
"Abi jangan kuatir aku pasti akan melakukan itu semua, dan tanpa Abi perintah pun, Adnan akan tetap melakukan." Gus Adnan Menyentuh tangan Abi Hamza dan tersenyum bahagia.
Tanpa mereka sadari, Adiba mendengarkan semua pembicaraan mertuanya dengan burhan.
Adiba berjalan cepat menuju kamar Ning Kinan.
Tok…
Tok..
Adiba mengetuk pintu kamar Ning Kinan, ketika Adian mendengar suara Ning Kinan yang mempersilahkannya masuk, maka Adiba membuka pintu.
"Assalamualaikum," salam Adiba.
"Wa'alaikum salam, Kakak ipar, apakah ada yang adik cantik ini bantu?" canda Ning Kinan.
Hahahaha… mereka tertawa bersama. "Aku hanya ingin meminjam handphone kamu bolehkan?" Mohon Adiba.
"Boleh aja sih, tapi harus ada syaratnya!" ucap Ning Kinan semangat, tersenyum licik, akhirnya aku bisa membeli itu.
"Boleh apa yang kamu inginkan?" Adiba tidak terlalu peduli dengan ekspresi Ning Kinan, jadi Adiba terlihat santai saja.
"Nanti saja aku bilangnya, setelah kakak selesai menelepon." Ning Kinan menyerahkan handphonenya kepada Adiba dan keluar dari kamar, karena Ning Kinan tahu, Adiba ingin berbicara secara pribadi dengan orang yang akan dihubungi.
Adiba menulis nomor telepon Andrian, dan meneleponnya.
Adiba
Andrian
"Iya nona, apakah ada sesuatu yang terjadi, disana?"
Adiba
"Aku ingin kamu menyelidiki seseorang, nanti akan aku kirim namanya, dan tolong kerahkan beberapa anak buah kita ke pondok pesantren As-Salam, untuk berjaga-jaga."
Andrian
"Apakah ada sesuatu yang terjadi nona?"
Adiba
"Sebenarnya ini hanya masalah keluarga saja, akan tetapi orang ini akan bertindak dengan kekerasan, bahkan Dia berani membawa beberapa preman.
"Andrian bagaimana dengan keadaan keluarga Alexander sekarang?"
Andrian
__ADS_1
"Keluarga Alexander sekarang mengalami perubahan, setelah tuan muda Kenzi dan Kenzo memutuskan untuk keluar dari rumah itu, maka kehidupan mereka mengalami perubahan yang dramatis.
"Diluar mereka masih terlihat Keluarga yang bahagia, akan tetapi ketika sudah berada di rumah, mereka seperti sibuk masing-masing, tidak ada lagi obrolan, bahkan berbicara saja hanya seperlunya saja.
"Itu yang dikatakan oleh salah satu anak buah kita yang masih mengawasi mereka.
Adiba
"Tetap awasi saja mereka, kalian tidak perlu ikut campur dalam urusan keluarga mereka."
"Jangan lupa untuk mengirim anak buah kita dan saya harap salah satu dari kalian juga ikut.
Andrian
"Baik nona, saya sendiri yang akan pergi ke sana, disini biarkan saja mereka bertiga yang menghandle semuanya, dan….
Adiba
"Jangan bertele-tele Andrian, katakan saja saya tidak akan marah,"
Andrian
"Bolehkah…saya mempelajari agama Islam, dan masuk masuk," dengan suara yang bergetar.
Adiba
"Datanglah kamu kesini nanti akan kita bahas, apabila kamu sudah yakin untuk memeluk agama Islam, maka saya akan bantu kamu,"
Adrian
"Terima kasih nona,"
Adiba
"Sama-sama.assalamualaikum,"
Andrian
"Wa'alaikum salam.
Adiba sangat bahagia akhirnya salah satu dari mereka mau memeluk agama Islam. Setelah selesai menelepon Adiba meletakkan kembali handphone Ning Kinan ke atas meja belajar.
Adiba berjalan menuju pintu dan membukanya.
Gleg Adiba menelan ludahnya kasar ketika melihat…
Bersambung
Hello semua…. Silahkan like comment and vote dan beri rating 5 kakak ❤️🥰🥰
__ADS_1
Salam kenal semua…