Setitik cahaya kebahagiaan untuk Adiba

Setitik cahaya kebahagiaan untuk Adiba
Makan romantis bersama


__ADS_3

Hati Gus Adnan sekarang ini sangat bahagia karena Adiba sudah menerima lamarannya.


Gus Adnan mengingat kembali pembicaraannya dengan Adiba saat berada di dalam restoran. 


"Aku menerima lamaran kamu Abang," ucap Adiba pelan.


"Apa yang kamu bilang tadi Adiba, aku tidak jelas mendengarnya, bisakah kamu mengulanginya sekali lagi?" harap Gus Adnan.


"Aku menerima lamarannya Abang." ucap Adiba cepat dan tegas.


"Alhamdulillah ya Allah engkau telah mengabulkan permintaan hamba." Gus Adnan banyak-banyak mengungkapkan syukur dan apabila jika tidak berada di dalam restoran, sudah pasti Gus Adnan akan bersujud kepada Allah.


"Terima kasih kamu telah mau menerima lamaranku, aku akan berjanji kepada kamu, aku akan berusaha untuk selalu membahagiakan kamu, dan juga anak-anak kita nanti," ucap Gus Adnan lembut.


Kembali lagi di dalam hotel Gus Adnan dan kang ndalem sedang duduk santai sambil menikmati suasana sore menjelang malam. 


"Aku ingin melamar Adiba dengan suasana Romantis, menurut kalian tempat mana yang bagus?" tanya Gus Adnan.


"Saya tidak tahu Gus, kita cari aja di google," saran Agus.


"Bagus juga ide kamu, akan saya cari di google, nanti setelah dapat yang bagus, saya ingin kalian membantu saya." Perintah Gus Adnan.


Mereka berdua hanya menganggukkan kepalanya, tanda mereka mengikuti perintah dari Gus Adnan.


***


Di rumah sakit saat ini mereka masih berkumpul dan berbincang masalah yang sedang mereka hadapi.


"Bagaimana perkembangan perusahaan kita?" tanya sang kakek.


"Semuanya sudah lebih baik, dan data-data kita sudah ada yang melindungi, jadi apabila ada yang ingin mencuri data-data perusahaan dan pribadi, mereka akan sulit." Tutur Bastian.


"Siapa yang melakukan itu, bukannya kelemahan kita selama ini adalah kita, tidak memiliki seorang hacker yang hebat?" tanya sang kakek.


"Ini semua Adiba yang melakukannya, Adiba terlalu baik kepada kita." Bastian menundukkan kepalanya dengan perasaan sedih.


Sang kakek menghela nafas panjang. "Untuk saat ini, kita terima saja apa yang diinginkan oleh Adiba, jangan ada yang membantah perkataannya, kita sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal, anggap saja ini karma untuk kita."


"Untuk kamu Zea, hukuman kamu tetap berlaku selama 1 tahun kamu tidak boleh menggunakan fasilitas dari ayah." Tegas Bastian.


"Kamu harusnya bersyukur Zea, Adiba tidak membalas perbuatan jahat yang  kamu lakukan kepadanya, bahkan Adiba tetap mau menolong kamu dari penculikan itu." Sindir Kenzo.


Zea yang mendengar sindiran dari Kenzo hanya bisa terdiam, Zea sekarang mulai merasakan ketidak adilan kepada dirinya, bagaimana keluarganya sudah mulai tidak memperdulikan dirinya, bahkan sekedar berbicara saja sangat sulit, Zea menundukkan kepalanya dan air matanya mengalir membasahi pipinya.


"Sudahlah kalian jangan saling sindir, Zea lebih baik kamu sekarang pulang." Perintah Abimanyu.


Zea langsung berdiri dan keluar dari kamar sang kakek, berjalan tanpa arah, Sekarang Zea sadar, bagaimana  perasaan Adiba saat itu, bahkan lebih sakit daripada dirinya.


***


Di Apartemen, Adiba baru saja menidurkan Zayyan dan Syila tidur siang. Handphone Adiba berbunyi.


Adiba


"Ada apa?"


Andrian


"Saya hanya ingin menyampaikan bahwa keluarga Alexander kembali membuat kesalahan yang sama,"


Adiba


"Maksudnya?"

__ADS_1


Andrian


"Mereka semua sudah tahu bahwa selama ini Zea yang menipulatif tentang anda nona, jadi sebagi hukumannya Zea tidak diberikan fasilitas bahkan diacuhkan oleh mereka,"


Adiba 


"Hmmmm… biarkan saja, saya tidak peduli lagi dengan masalah pribadi mereka, tugas kamu hanya mengawasi mereka dari musuh-musuh yang ingin menghancurkan keluarga Alexander.


Andrian


"Baik akan saya laksanakan, dan ada beberapa file yang harus anda tandatangani.


Adiba


"Hmmmm."


Adiba menutup telponnya dan pergi ke dapur untuk memasak makan malam.


Matahari berganti sinar bulan yang indah, kedua bocah itu sudah bangun dan mandi, Adiba, Zayyan dan Syila baru saja selesai shalat Maghrib.


"Umi kita telepon Abi ya," mohon Syila.


"Oke, umi ambil dulu handphonenya di dalam kamar." Adiba tersenyum lembut dan berjalan ke dalam kamar.


Adiba kembali duduk di samping Zayyan dan Syila, membuka handphonenya dan menelpon Gus Adnan.


Syila dan Zayyan


"Assalamualaikum Abi."


Gus Adnan


"Wa'alaikum salam anak cantik dan tampan Abi, ada apa sayang, kangen ya sama Abi?"


Syila dan Zayyan


Gus Adnan


"Iya besok kita akan pergi ke pantai bagaimana?"


Syila dan Zayyan


"Oke setuju," kami tunggu disini Abi, jangan lupa jemput kami Abi."


Gus Adnan


"Oke sayang, selamat malam, jangan terlalu malam tidurnya.


Syila dan Zayyan


"Oke ayah, nanti aku yang akan mengingatkan adik.


Gus Adnan


"Siip, assalamualaikum."


Syila dan Zayyan


"Wa'alaikum salam."


Sinar rembulan telah berganti dengan sinar mentari pagi. Adiba Zayyan dan Syila sudah siap, mereka sedang menunggu Gus Adnan untuk menjemput mereka.


Tidak lama menunggu, Gus Adnan datang bersama dengan dua ndalem. Selama di perjalanan, di dalam mobil dihiasi dengan suara nyanyian Syila dan raut wajah Zayyan yang cemberut, karena sang adik tidak mau diam.

__ADS_1


"Sampai jam berapa kita nanti di pantai?" tanya Adiba.


"Kita akan menginap disana satu malam, aku ingin melihat sunset bersama kalian," ucap Gus Adnan.


Tidak lama mobil yang mereka kendarai sampai di pantai, Adiba dan anak-anak pergi lebih dulu ke pesisir pantai, sedangkan Gus Adnan pergi mencari penginapan.


"Bagaimana, apakah semuanya sudah kalian siapkan?" tanya Gus Adnan.


"Sudah Gus, tinggal nunggu waktu malam saja, hehehe…," ucap Agus.


Waktu setengah hari itu mereka habiskan dengan bermain, membuat rumah-rumahan dari pasir, dan mencari kerang.


Pancaran kebahagiaan sangat terlihat jelas di raut wajah mereka dengan senyuman bahagia. Rasanya satu hari saja tidak cukup bagi mereka, tidak merasakan lelah sedikit pun.


Sore hari menjelang senja, mereka duduk di atas pasir menunggu tenggelamnya matahari berganti dengan sinar bulan.gus Adnan di kiri, Adiba di kanan dan ditengah-tengah mereka ada Zayyan dan Syila, mereka duduk di atas pasir.


Semoga kebahagiaan mereka akan terus terjadi dan bisa melewati semua cobaan yang Allah berikan.


Malam yang sangat indah dan disinari cahaya bulan dan bintang yang terang bersinar. Malam ini Gus Adnan akan melamar seseorang yang sudah membuat jantungnya berdetak kencang ketika berada disamping adiba.


Gus Adnan, sudah berada di tepi pantai yang dihiasi dengan juntaian bunga-bunga yang sangat indah, ditambah dengan hiasan lampu yang berwarna-warni menambah kesan romantis dan ditengah-tengah itu ada terdapat 4 buah kursi dan meja yang terdapat makanan yang sangat enak.


Gus Adnan memakai baju putih dilapisi dengan jas dan celana panjang berwarna hitam, berdiri dengan gagah menunggu kedatangan Adiba bersama kedua anaknya.


Sekitar sepuluh menit, Gus Adnan melihat seorang gadis yang sangat cantik dengan baju panjang berwarna putih, make up nya sangat natural, iya berjalan digandeng oleh Zayyan dan Syila.


Zayyan dan Syila juga memakai pakaian putih, terlihat sangat cantik, imut, gemes dan tampan.


Adiba melihat pandangan yang di depannya sangat indah dan romantis, merasakan terharu luar biasa.


Ketika Adiba sudah berada di depan Gus Adnan, Gus Adnan berjongkok mengeluarkan sebuah cincin yang terlihat sederhana dan elegan dan ada butiran berlian yang menambah kesan mewahnya.


"Aku tahu ini terlalu cepat untuk kamu, perbedaan kita juga sangat jauh, aku juga memiliki dua orang anak, akan tetapi cinta aku kepada kamu itu bener- bener tulus, aku menginginkan kamu menjadi pendamping hidupku hingga mati nanti, dan semoga kamu mau menerima segala kekurangan yang aku miliki, dan yang lebih penting kamu bisa menerima kedua anak-anak aku," Gus Adnan mengutarakan semua yang Iya simpan selama ini.


"Adiba menitikkan air matanya ketika mendengar ucapan Gus Adnan, perasaan Adiba saat ini sangat bahagia, terharu dan terus bersyukur akhirnya Adiba bisa bersama dengan orang yang Iya impikan selama ini.


"Bagaimana, apakah kamu mau menerima lamaran aku?" tanah Gus Adnan lembut dan penuh harap.


Adiba hanya menganggukkan kepalanya saja, tanda menerima.


Melihat sang umi setuju, maka Syila dengan cepat mengambil cincin yang dipegang oleh sang ayah, dan memasangkannya di jari manis Adiba.


"Hore akhirnya aku juga mempunyai umi." Syila berteriak seraya meloncat- loncat. Sedangkan sang kakak memeluk sang ayah dengan erat.


Saat mereka asyik menikmati makanan yang disajikan.


Drt..drt…handphone Gus Adnan berbunyi. Gus Adnan mengangkat handphonenya.


Gus Adnan 


"Assalamualaikum."


Seseorang….


…..


Gus Adnan


Maksudnya….. 


Bersambung


Hello semua…. Silahkan like comment and vote dan beri rating 5 kakak ❤️🥰🥰

__ADS_1


Salam kenal semua…


__ADS_2