
Adiba berhasil melumpuhkan lawannya dan juga berhasil menyelamatkan nyawa pak kyai Hamza.
Adiba mendapatkan luka tembak di tangan kirinya. Pak Kyai dan Bu nyai langsung menghampiri Adiba yang terbaring di lantai.
Adiba masih sadar, iya menganggap luka tembak ini tidak seberapa, hanya luka kecil saja baginya.
Umi Ayu menangis sesenggukan dan langsung memeluk Adiba dengan erat. Adiba hanya bisa tersenyum menenangkan, dan menatap Abi Hamza. "Abi tolong perbankan dulu luka ini, untuk mengurangi darah yang keluar."
Mendengar ucapan Adiba, Pak Kyai Hamza langsung merobek sorbannya untuk menutupi luka Adiba, dengan telaten dan hati-hati Pak kyai Hamza melilitkan robekan sorban itu ke pergelangan tangan menantunya.
Pak Kyai yang terkenal sabar dan jarang terlihat meneteskan air matanya. Ketika melihat luka Adiba hatinya sedih dan merasakan perasaan bersalah, karena sebagai orang tua Iya tidak bisa menjaga dan melindungi anak-anaknya. Mata pak Kyai Hamza berkaca-kaca dan setetes air matanya mengalir membasahi pipinya.
Adiba begitu bahagia mendapatkan kasih sayang yang luar biasa, dari kedua mertuanya, Adiba sudah menetapkan dalam hatinya akan selalu menjaga mereka dengan nyawanya sendiri.
"Saya baik-baik saja, Umi dan Abi tidak perlu kuatir, saya adalah anak yang kuat, luka ini tidak seberapa dengan luka yang saya dapatkan selama ini," ucap Adiba pelan.
"Bagaimana Umi bisa tenang saja melihat kamu yang tertembak, sekarang lebih baik kamu diam saja jangan banyak bergerak, kita tunggu dulu Gus Adnan, semoga Adnan cepat datang," suara umi Ayu serak dan air matanya tidak berhenti bercucuran.
"Bagaimana kalau Abi saja yang memanggil Adnan agar cepat datang, kamu harus segera dibawa ke rumah sakit, agar luka kamu segera diobati." ucap pak Kyai.
Ketika Pak Kyai Hamza ingin keluar dari masjid, Adiba segera bangun dan berdiri berjalan cepat ke arah pak Kyai Hamza, dan memegang tangan beliau. "Saya mohon, Abi jangan keluar dari sini, saya tidak ingin terjadi apapun kepada Abi." Adiba meneteskan air mata, Adiba tidak akan membiarkan ayah mertuanya keluar dengan sendirinya, karena beliau lah yang menjadi target utama mereka.
Umi juga mendekati Adiba dan sang suami. "Kita turuti saja, permintaan nak Adiba, Umi juga tidak tenang Abi keluar sendiri, sekarang lebih baik kita berdoa bersama semoga Adnan dan yang lainnya selamat."
santri dan santriwati yang melihat adegan tersebut juga meneteskan air mata, para ustadz dan ustadzah berusaha untuk menenangkan mereka semua, dan para ustadz berjaga di setelah pintu masjid.
"Kamu masih kuat kan menahannya?" tanya umi Ayu.
"Insya Allah Adiba masih kuat, Adiba boleh tidur di pangkuan Umi," pinta Adiba.
Umi Ayu hanya bisa mengangguk kepala tanda setuju. Air matanya terus mengalir, ketika Adiba mengatakan itu, umi Ayu takut luka Adiba semakin parah.
Pak Kyai memulai memimpin membaca ayat-ayat Al Qur'an dan doa-doa agar Allah melindungi mereka.
Tanpa mereka sadari, Zayyan berlari keluar dari masjid dan Ning Kinan dan Syila tidak menyadarinya. Ketika melihat sang Umi yang terluka, Zayyan mengepalkan tangannya, Iya sangat marah kepada orang yang sudah membuat Umi nya sakit. "Maaf Umi, Zayyan belum bisa jaga Umi, Zayyan janji nanti, apabila sudah dewasa, Zayyan yang akan menjaga Abi, umi, kakek, nenek, aunty dan adik-adik." Tekat Zayyan dalam hati dan menghapus air matanya yang mengalir dengan kasar.
Zayyan baru berumur 5 tahun lebih sedikit, akan tetapi pemikiran tidak seperti sang adik dan teman-temannya, Zayyan sudah bisa berpikir dewasa sebelum waktunya, Zayyan pintar dalam memahami situasi dan mulai bisa mengerti pembicaraan orang yang lebih tua darinya.
__ADS_1
Ketika semua orang lengah, Zayyan bocah kecil pemberani itu pergi keluar untuk memanggil saya Ayah.
Zayyan terus menerus berlari dengan kedua kaki kecilnya, Zayyan tidak memperhatikan kondisi sekitarnya, yang Zayyan pikiran adalah bagaimana caranya Iya bisa cepat bertemu dengan sang Ayah, dan air matanya kembali jatuh.
Di sisi lain, Gus Adnan sudah bisa melumpuhkan lawan-lawannya dan sang paman tiri. Gus Adnan tidak sendiri akan tetapi bersama dengan kepolisian.
Gus Adnan sudah melaporkan kejadian yang terjadi di pondok pesantren As-Salam kepada kepolisian, dan bukti-bukti semua kejahatan mereka juga Gus Adnan serahkan.
Setelah Andrian datang ke pondok pesantren As-Salam, Gus Adnan memerintahkan Andrian dan salah satu anak buahnya untuk mencari bukti-bukti kejahatan yang mereka lakukan selama ini.
Gus Adnan dan Andrian sedang menatap para polisi memasukkan mereka semua ke dalam mobil. "Alhamdulillah semuanya sudah beres, dan selamat." ucap Andrian.
Andrian sudah masuk Islam sebelum kejadian ini terjadi, dan yang membimbingnya adalah Gus Adnan sendiri.
Gus Adnan hanya menganggukkan kepalanya, Iya juga merasakan senang akhirnya pondok pesantren As-Salam kembali damai, tetapi tidak dengan hati Gus Adnan, iya merasakan takut dan hatinya tidak merasakan tenang, Gus Adnan merasa akan ada sesuatu yang buruk akan terjadi, akan tetapi Gus Adnan berusaha berpikir positif dan berdua semoga semuanya baik-baik saja.
Dari kejauhan Zayyan melihat sang Ayah berdiri. "Abi." Teriak Zayyan dan berlari cepat.
Gus Adnan yang mendengar panggilan dari sang anak.
Deg…
Deg…
Deg…
Gus Adnan berjongkok, agar sang anak dapat memeluknya.
Hap Zayyan memeluk sang ayah dengan erat dan tangisnya semakin kencang membuat hati Gus Adnan semakin tidak tenang. "Sayang kenapa kamu bisa kesini?" Gus Adnan berusaha menenangkan sang anak dengan mengusap lembut kepala dan punggungnya.
Masih dalam tangisannya Zayyan berusaha untuk berbicara. " Umi… umi…" tangisan Zayyan kembali pecah.
Mendengar ucapan sang anak, Gus Adnan menyerahkan Zayyan kepada Andrian. Tanpa banyak kata Gus Zayyan berlari kencang menuju masjid dengan pikiran yang kacau, dan takut.
Brak… Gus Adnan mendobrak pintu masjid dengan kasar dan orang pertama Iya cari adalah istri kecilnya, dan tatapan Gus Adnan teralihkan kepada sang Umi yang memangku Adiba pahanya, yang membuat Gus Adnan semakin takut adalah sang umi tidak berhenti menangis begitu juga dengan sang Abi.
Gus Adnan langsung masuk dan mendekati sang Umi. "Umi."
__ADS_1
Umi Ayu menatap sang anak yang sudah datang merasakan bahagia. "Adnan cepat bawa istri kamu ke rumah sakit secepatnya, tangan sebelah kiri Adiba terkena tembakan.
Deg…
Deg…
Deg…
Jantung Gus Adnan berdetak kencang, bahkan Guntur saja kalah. Hatinya sangat terluka dan air matanya mengalir membasahi pipinya.
Tanpa memperdulikan orang-orang yang melihatnya, Gus Adnan langsung mengangkat Adiba dengan cara seperti pengantin baru.
Gus Adnan berlari menuju ke arah mobil yang sudah disiapkan oleh salah satu anak buah yang mengikuti Gus Adnan ke masjid.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Gus Adnan tidak melepaskan tangan Adiba, dan membisikkan Kata-kata cinta.
15 menit, akhirnya mereka tiba di rumah sakit, Gus Adnan langsung turun dari mobil dan berteriak kencang. "Suster… Suster tolong istri saya."
Mendengar teriakan dari keluarga pasien, suster yang berjaga dengan sigapnya menolong Adiba.
Gus Adnan dengan pelan meletakkan sang istri diatas ranjang. Para dokter juga datang untuk memeriksa kondisi Adiba.
"Silahkan anda tunggu di luar dulu, saya akan berusaha sebaik mungkin untuk melakukan yang terbaik," ucap dokter itu.
Gus Adnan tidak menjawab ucapan dari dokter itu, Iya langsung keluar dan tatapan kosong. Gus adnan merasakan ketakutan yang luar biasa, apabila Iya kehilangan Adiba maka hidupnya akan hancur.
Umi ayu dan Abi Hamza datang bersama Ning Kinan, Zayyan dan Syila, dan ada beberapa anak buah Gus Adnan yang menjaga mereka. Sedangkan untuk urusan disana pak Kyai Hamza serahkan kepada Andrian, ustadz dan ustadzah.
Melihat sang anak yang terduduk di lantai dan menatap kosong, langsung memeluk sang anak dengan erat dan membisikkan Kata-kata pemenang.
Mendengar ucapan sang ibu Gus Adnan menangis sejadi-jadinya, melupakan kesedihannya.
2 jam berlalu dokter keluar dari kamar dan mengatakan sesuatu yang membuat mereka semua terdiam…
Bersambung
Hello semua…. Silahkan like comment and vote dan beri rating 5 kakak ❤️🥰🥰
__ADS_1
Salam kenal semua…