
Hari ini mereka kembali pulang ke tanah air, dan Gus Hanan juga akan ikut pulang.
"Sayang apakah semuanya sudah siap?" tanya Gus Adnan.
"Sudah beres semuanya mas," jawab Adiba.
"Sayang duduk sini, ada yang ingin mas bicarakan!" Gus Adnan menepuk sofa sebelah kanan untuk Adiba duduk.
Adiba berjalan ke arah sofa dan duduk di samping sang suami. "Ada apa mas?"
"Kamu harus tahu satu fakta yang mas simpan selama ini, keluarga mas tidak ada yang tahu!" ucap Gus Adnan sendu.
"Apa yang ingin mas sampaikan kepada aku?" Adiba menyentuh tangan Gus Adnan.
"Ini tentang kelahiran Zayyan dan Syila," ucap Gus Adnan menundukkan kepalanya.
"Kenapa dengan anak-anak?" tanya Adiba penasaran.
"Mereka berdua sebenarnya bukan anak kandung aku, Zayyan dan Syila anak kandung mantan istriku dengan pacarnya?" ucap Gus Adnan.
"Maksudnya apa mas, jangan bertele-tele, aku tidak paham," desak Adiba.
Gus Adnan menceritakan semuanya dari pernikahan mereka sampai dengan kelahiran Zayyan dan Syila, Adiba yang mendengarkan cerita Gus Adnan tidak bisa menahan Air matanya. Perasaan Alifa sesak, sedih, benci dan marah, kepada wanita yang selalu menelantarkan anaknya hanya demi kebahagiaan sesaat.
Gus adnan memeluk sang istri dengan erat. Gus Adnan tahu bagaimana perasaan sang istri sekarang, sama seperti perasaannya dulu, ketika mantan istrinya dengan tega meninggalkan anak yang masih kecil demi bisa bersama dengan orang lain, bahkan mantan istri Gus Adnan rela membuat skenario yang sangat baik, sehingga orang-orang percaya begitu saja.
"Mas," ucap Adiba tersedu-sedu.
"Ada apa sayang?"
"Aku mohon jangan berikan Zayyan dan Syila kepada wanita itu, mereka harus tetap menjadi anakku, aku tidak rela apabila iya dengan beraninya datang ke pondok untuk mengambil anak-anakku, wanita itu sudah tidak menganggap Zayyan dan Syila anaknya setelah membuang kedua anak itu dengan tega," minta Adiba dengan menggebu-gebu.
__ADS_1
"Tenang saja sayang, aku sudah menyiapkan semuanya, apabila iya bener-benar datang, maka dengan senang hati aku akan membuatnya malu, Zayyan dan Syila akan selalu menjadi anak kita sampai kapanpun tidak ada yang bisa memisahkan kita dari mereka kecuali maut," ucap Gus Adnan dengan lembut, agar Adiba bisa merasakan tenang.
"Kamu benar kan mas, tidak sedang asal bicarakan!" lirih Adiba.
"Tidak sayang, mas tidak akan pernah berbohong dengan kamu, cup," Gus Adnan mencium bibir Adiba sekilas.
"Sayang mas ingin minta pendapat kamu, apakah mas harus jujur dengan keluarga mas?" tanya Gus Adnan.
"Pendapat ku lebih baik kita jujur saja dengan Abi, umi, Hanan, dan Kinan, aku tidak mau mereka nantinya merasakan kecewa, karena mas tidak jujur dari awal?" ucap Adiba lembut.
"Baiklah setelah kita datang nanti, aku akan langsung menceritakan semuanya, jika wanita itu datang maka Abi dan umi akan bisa mengantisipasi hal-hal yang nantinya akan terjadi," tutur Adiba.
Gus Adnan setuju dengan ucapan sang istri, jika wanita itu datang dan ingin memutar balikkan fakta, maka kedua orang tuanya tidak akan percaya dengan ucapan wanita karena sudah tahu kebenarannya dari Gus Adnan.
"Terima kasih kamu sudah mau jujur dengan aku mas?" ucap Adiba tiba-tiba.
"Kamu tidak perlu berterima kasih kepada mas, karena sudah seharusnya mas jujur dengan istri mas, karena kejujuran itulah yang membuat pernikahan kita tidak berantakan," ucap Gus Adnan lembut.
"Sekarang lebih baik kita istirahat, masih ada waktu 2 jam untuk tidur," ajak Gus Adnan.
Melihat sang suami sudah tidur, Adiba mengelus pipi sang suami dengan lembut. "Terima kasih mas, karena kamu selalu berbagi kisah dengan aku, aku tidak akan melepaskan siapa saja yang ingin menghancurkan keluarga kecil kita, tidak ada satupun." batin Adiba seraya menutup matanya mengikuti sang suami yang sudah tertidur nyenyak.
***
Waktu berangkat pun tiba, sekarang Gus adnan dan keluarga sudah berada di bandara, menunggu keberangkatan.
"Alhamdulillah akhirnya kita kembali lagi ke reunitas yang dulu," ucap Gus Adnan.
"Kamu bener mas, kamu akan kembali sibuk dengan pekerjaan yang sudah menunggu, dan aku akan menunggu kamu di rumah," ucap Adiba polos.
Gus Adnan memandang sang istri dengan bingung. "Kamu tidak ingin melanjutkan sekolah kamu sayang," tanya Gus Adnan.
__ADS_1
Adiba menggelengkan kepalanya. "Masalah belajar aku bisa belajar secara online saja atau ikut kursus apabila ada bidang yang ingin aku kuasai, tapi untuk sekarang aku ingin menjadi ibu rumah tangga saja dulu, merawat suami dan anak-anak ku?" ucap Adiba lembut.
"Baiklah bila itu keputusanmu, nanti ketika sudah mau bilang saja sama mas ya?" Gus Adnan memeluk Adiba dengan erat dan mencium kening Adiba.
Setelah perjalanan jauh, akhirnya Gus Adnan dan keluarga selamat sampai rumah.
Di depan pintu masuk sudah ada Abi Hamza dan umi Ayu menunggu kedatangan anak-anak, menantu dan cucunya.
Pandangan umi Ayu ke arah sosok seorang yang selalu umi Ayu tunggu kedatangannya, dia adalah Gus Hanan.
"Umi," Gus Hanan berlari ke arah sang umi dan memeluknya dengan erat, melepaskan rasa rindu yang selama ini disimpan.
Setelah melepaskan rasa rindu, mereka sekarang ini sedang duduk di ruang keluarga membicarakan tentang liburan yang menyenangkan.
Zayyan dan Syila tidak kalah antusias menceritakan setiap yang meee lihat, dan apa saja yang mereka lakukan.
Gus Adnan menatap sang istri dengan isyarat Gus Adnan menyuruh Adiba membawa anak-anaknya ke kamar terlebih dahulu, Adiba yang mengerti maksud suaminya langsung mengajak Zayyan dan Syila untuk tidur dengan ditemani oleh nya.
Setelah melihat Adiba dan anak-anaknya sudah masuk ke dalam kamar, Gus Adnan menatap Keluarganya dengan serius.
"Abi, umi dan adik-adik Abang, ada sesuatu yang harus Abang bicarakan dengan kalian semua?"
"Ada apa nak, apakah kamu ada masalah dengan Adiba?" ucap umi Ayu cemas dengan rumah tangga anaknya.
Gus Adnan hanya bisa tersenyum melihat kekuatiran sang umi. "Ini bukan masalah rumah tangga kami umi, tapi ini tentang mantan istri aku umi!"
"Maksud kamu apa Adnan!" tegas Abi Hamza.
"Maksudnya adalah …..
Bersambung
__ADS_1
Hello semua…. Silahkan like comment and vote dan beri rating 5 kakak ❤️🥰🥰
Salam kenal semua…