
Gus Adnan yang mendengar kabar bahwa sang istri pingsan langsung pulang ke rumah, dengan kecepatan yang tinggi.
Begitu juga dengan Andrian, pak kyai Hamza dan Bu nyai Ayu langsung pulang, karena mengkhawatirkan keselamatan menantu kesayangan.
Setelah sampai di depan rumah Gus Adnan langsung berlari ke kamarnya, brak… Gus Adnan membuka pintu kamar secara kasar.
Melihat sang istri yang masih terbaring membuat hati Gus Adnan sedih, kecewa, menyesal dan matanya berkaca-kaca. "Maafkan aku sayang sudah membuat kamu seperti ini," Gus Adnan mengusap kepala Adiba.
Setelah memeriksa keadaan sang istri Gus Adnan menatap ke arah bibi yang masih berdiri di dekat pintu. "Apa yang terjadi?"
"Pertama Ning Adiba sangat kuatir dengan keadaan Gus dan Ning kecil. Setelah memeriksa setiap sudut rumah, kami belum juga mendapatkan mereka berdua. Ketika Ning Adiba semakin kuatir dengan keadaan mereka berdua tiba-tiba handphone Ning Adiba berbunyi, saya rasa Ning Adiba seperti ini karena pesan yang masuk di handphonenya," papar mbak Ijah dengan menundukkan kepalanya takut kalau Gus Adnan marah.
Mendengar ucapan dari mbak Ijah Gus Adnan langsung memeriksa handphone Adiba dan memeriksanya.
Gus Adnan mengepalkan tangannya ketika membaca isi pesan tersebut.
"Assalamualaikum, bagaimana kabarnya, hahaha…
"Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu yang yang sangat penting untuk kamu, aku sedang bersama dengan anak-anak bodoh itu, jika kamu ingin menyelamatkan maka kamu harus berpisah dengan Adnan,"
"Aku beri kamu waktu 24 jam, jika lewat dari itu maka kamu tidak akan pernah melihat mereka lagi,"
"Oooch… satu hal lagi yang harus kamu lakukan, aku ingin kamu membawa semua harta yang kamu miliki, dan surat perceraian kamu dengan Adnan,"
"Ingat, jangan pernah memberitahu kepada siapapun, termasuk Adnan dan keluarganya, harus kamu sendiri yang datang ke alamat xxxxx,"
"Aku tunggu, selamat berjuang by…
"Brengsek…!" teriak Gus Adnan marah.
"Kamu sudah kelewatan, jangan salahkan jika aku akan membuat kamu menderita seumur hidup kamu, karena sudah berani mengganggu kehidupanku, tunggu sebentar lagi aku akan menangkap kamu, tidak akan ada mampu lagi," batin Gus Adnan marah.
Seraya menunggu sang istri bangun, Gus Adnan membuka laptopnya dan melacak nomor tersebut, tidak butuh lama Gus Adnan mencari informasi orang tersebut, karena mereka memang tidak memiliki keahlian hacker.
Gus Adnan tersenyum misterius. "Kamu sudah membangunkan singa yang sedang tertidur, kamu tidak tahu siapa sebenarnya yang kamu lawan," batin Gus Adnan menyeringai kejam.
Alifa membuka matanya dan melihat sang suami yang sedang sibuk dengan laptopnya. "Mas." panggil Adiba pelan dan air matanya kembali mengalir.
__ADS_1
Gus Adnan yang mendengar panggilan sang istri langsung menutup laptopnya dan berjalan ke arah sang istri. "Sayang bagaimana keadaanmu."
"Mas…" tangis Adiba semakin pecah.
Melihat sang istri menangis Gus Adnan langsung membawa Adiba ke dalam pelukannya. "Kamu yang tenang ya, mas akan selalu ada untuk kamu, jangan sedih lagi nanti adik-adik bayi juga ikut sedih," hibur Gus Adnan dengan mata berkaca-kaca.
Setelah merasakan tenang Adiba melepaskan pelukan dari suaminya dan menatap dengan tatapan sendu. "Mas selamatkan anak-anak kita, kamu harus tangkap mereka, buat mereka masuk ke penjara dengan hukuman yang berat, tapi sebelum itu aku ingin kamu menghukum orang-orang itu dan buat mereka menderita seperti apa yang telah mereka lakukan terhadap anak-anak ku" ucap Adiba sendu dengan perasaan marah.
Gus Adnan langsung memeluk sang istri dengan erat dan air matanya mengalir membasahi wajahnya. "Terima kasih, kamu tetap mau bertahan denganku, dan mengabaikan pesan itu, aku tadi sudah sangat takut jika kamu mengambil keputusan itu."
Adiba membalas pelukan sang suami dan tersenyum lembut. "Aku bukan wanita yang lemah hanya sebuah pesan seperti itu, aku pingsan tadi itu hanya terkejut karena anak-anakku harus mengalami hal yang mengerikan seperti itu, aku yakin setelah ini mereka akan mengalami trauma yang mendalam,"
"Maka dari itu aku mohon sama kamu, sebelum 24 jam, mas harus sudah menemukan mereka, karena aku tidak yakin dengan alamat yang dikirim oleh orang itu," papar Adiba sedih.
"Mas janji akan menyelamatkan anak-anak kamu tenang saja, doakan saja agar semuanya berjalan lancar dan selamat." Gus Adnan mencium kening Adiba.
"Sebaiknya kamu istirahat ya, nanti setelah umi datang aku kan langsung pergi membebaskan anak-anak kita," ucap Gus Adnan lembut.
Adiba yang matanya masih mengantuk dan juga pengaruh obat yang diberikan, maka Adiba langsung menutup matanya.
Setelah melihat sang istri tertidur kembali, Gus Adnan turun kebawah untuk menunggu anak buah dan orang tuanya.
"Iya Gus, apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya Mbak Ijah.
"Tolong jaga istri saya, jangan keluar dari kamar sebelum umi datang!" perintah Gus Adnan tegas.
"Baik Gus." Mbak Ijah langsung pergi menuju kamar majikannya.
Sekitar 1 jam lebih menunggu akhirnya kedua orang tuanya dan Andrian datang.
"Adnan dimana putri umi." Teriak umi Ayu dari luar.
"Umi… jangan teriak tidak baik," tegur pak kyai Hamza.
"Adnan dimana putri dan cucu-cucu umi?" tanya umi Ayu kuatir.
Adnan menghela nafas kasar. "Adiba baik-baik saja umi, baru saja tidur, untuk cucu-cucu umi mereka diculik," jawab Gus Adnan sendu.
__ADS_1
"Astaghfirullah, ya Allah, sekarang kenapa kamu diam saja, cepat cari Zayyan dan Syila, mereka pasti ketakutan," perintah umi Ayu sendu.
"Ini aku juga akan berangkat, aku ingin umi dan Abi menjaga Adiba dan doakan aku sama Andrian untuk menyelamatkan cucu-cucu umi," pinta Gus Adnan dengan penuh harap.
"Kamu pergilah, Abi dan santri disini akan mendoakan kamu, masalah istri kamu tenang saja Abi dan umi akan menjaganya," ucap Abi Hamza lembut.
Setelah mendengar ucapan sang Ayah, Gus Adnan dan Andrian langsung berangkat menuju tempat yang sudah dilacak oleh Gus Adnan. Gus Adnan juga membawa anak beberapa anak buahnya. Gus Adnan juga memerintahkan anak buah Andrian untuk tetap berjaga di sekitar pondok, takutnya mereka akan datang kesini.
Di dalam mobil, raut wajah Gus Adnan langsung berubah 180 derajat, menjadi dingin dan tajam.
"Apakah Abang tahu siapa saja yang sudah berani menculik keponakan aku?" tanya Andrian dingin.
"Kamu tenang saja, Abang sudah mencari informasi mereka dan siapa saja dibalik ini semua," ucap Gus Adnan dingin.
"Siapa?" tanya Andrian penasaran.
"Nanti kamu juga tahu siapa mereka," ucap Gus Adnan santai.
"Ayolah Abang, jangan main rahasia seperti ini," rengek Andrian.
"Kamu tidak cocok merengek seperti ini, tidak cocok dengan wajah kamu," sindir Gus Adnan seraya tersenyum lebar.
"Aku seperti ini hanya kepada Abang," ceplos Andrian.
"Oooch, begitu ya, jadi Kinan tidak tahu jika kamu bisa bersikap seperti ini," ucap Gus Adnan tenang.
"Iya, Abang benar," ucap Andrian polos.
tanpa Andrian sadari, Gus Adnan merekam Andrian dan dikirimnya kepada sang adik.
"Bagaimana dengan pertanyaan aku tadi Abang, tolong kasih tahu aku siapa saja orang-orag yang terlibat di dalamnya?" tanya Andrian serius.
"Salah satunya adalah Ning Farah dan…..
Bersambung
Hello semua…. Silahkan like comment and vote dan beri rating 5 kakak ❤️🥰🥰
__ADS_1
Salam kenal semua…