Setitik cahaya kebahagiaan untuk Adiba

Setitik cahaya kebahagiaan untuk Adiba
Persiapan


__ADS_3

Gus Adnan


"Assalamualaikum,"


Umi Ayu


"Waalaikumsalam, kenapa kamu tidak memberitahu Umi, kamu melamar Adiba," geram umi Ayu melihat tingkah laku sang anak.


Gus Adnan


"Setelah acara ini selesai, aku juga akan mengabarkan kepada umi, tetapi umi sudah tahu," cicit Gus Adnan.


Umi Ayu


"Besok kamu tunggu saja di Jakarta, kami akan menyusul kamu, besok juga kita akan bertemu dengan orang tua Adiba untuk melamarnya dan melangsungkan akad," tegas umi Ayu.


Assalamualaikum.


Umi langsung mematikan panggil tersebut.


Di sisi lain Gus Adnan hanya terdiam saja mencerna semua perkataan sang Umi.


"Adiba," panggil Gus Adnan.


"Ada apa, kenapa wajah Abang seperti banyak pikiran?"


"Yang menelpon tadi adalah Umi, umi bilang besok akan ke Jakarta bersama Abi dan Kinan. Mereka juga ingin bertemu dengan kedua orang tua kamu, dan ini yang sangat penting, umi ingin malam besok kita menikah," ucap Gus Adnan.


Adiba sangat terkejut, bukan karena ingin bertemu dengan kedua orang tuanya, tetapi menikah secara mendadak itu yang membuat Adiba syok.


Melihat Adiba yang bengong, Gus Adnan menyuruh Syila untuk menyentuh tangan Adiba.


Melihat Adiba yang sudah kembali sadar Gus Adnan menenangkan adiba. "Kamu tenang saja, umi hanya ingin mempercepat pernikahan kita saja, dan itu ada alasannya. Yang pertama kita sudah sering bertemu dan aku juga sering tidak bisa mengontrol diriku ini untuk tidak memandang dan memikirkan kamu, dan kita juga tinggal di lingkungan yang sama, takut nanti ada fitnah.


"Kamu juga sudah sering mendengarkan bahwa setiap seorang laki-laki yang mampu secara batin dan finansial maka hukumnya wajib untuk menikah. Untuk laki-laki dan perempuan yang sudah siap untuk menikah maka niat itu lebih baik dipercepat. Maka dari itu Umi tahu bahwa sekarang kita berada di Jakarta dan dekat dengan keluarga kamu, maka dari itu umi ingin kita segera menikah.


"Besok sebelum bertemu dengan kedua orang tua kamu, kita akan pergi mempersiapkan semuanya, karena kamu baru berumur 17 tahun, jadi kita nikah siri dulu, tidak apa-apa kan?" tanya Gus Adnan pelan.


"Iya aku tidak apa-apa, itu lebih baik daripada kita sering bertemu tetapi tidak ada ikatan halal, malah akan mendapatkan dosa," ucap Adiba bijak.

__ADS_1


"Tapi aku boleh minta syarat kepada kamu Abang," pinta Adiba.


"Apa yang ingin kamu minta, insyaAllah aku akan mengabulkannya," ucap Gus Adnan.


"Aku mohon sama Abang tolong rahasiakan pernikahan kita dari anak-anak yang di pondok, aku hanya ingin menyelesaikan sekolah aku dulu, boleh ya." Adiba menatap Gus Adnan penuh harap.


"Nanti akan saya pikirkan dulu, setelah kita menikah baru akan saya berikan Jawabannya." Mendengar jawaban Gus Adnan Adiba hanya bisa menunggu saja, di dalam hatinya berharap Gus Adnan akan mengabulkannya.


Setelah makan malam romantis ala keluarga, mereka kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat.


***


Di pondok pesantren As-Salam, sedang dihebohkan dengan video yang dikirim oleh salah satu kang ndalem.


Umi yang tadinya ingin istirahat seraya melihat postingan keluarganya, sangat terkejut ketika salah satu kang ndalem yang menemani Gus Adnan ke Jakarta mengirim sebuah video lamaran Gus Adnan kepada Adiba.


Sebenarnya salah satu kang ndalem itu hanya memvideokan saja atas permintaan Gus Adnan sebagai kenang-kenangan, karena mempunyai anak yang sangat cerdas dan pintar, Zayyan dan Syila mereka pura-pura meminjam handphone kang Agus, dan tanpa sepengetahuannya mereka mengirim video itu kepada Umi Ayu.


Umi langsung pergi ke ruang pribadi sang suami dan brak…suara pintu dibuka secara kasar.


Melihat sang istri yang datang Abi Hamza yang mengelus dadanya karena terkejut. "Ada apa umi, sepertinya ada sesuatu yang sangat penting?"


"Abi coba lihat video ini." Umi Ayu menyerahkan handphone kepada sang suami.


Melihat ekspresi sang suami yang biasa saja membuat umi Ayu gregetan. "Abi kenapa bisa tenang seperti ini, bagaimana nanti video ini ada yang menyebarkan, umi takut anak umi dan calon menantu kita jadi bahan pertimbangan orang."


"Tenang kan dulu pikiran umi, baru nanti kita bicarakan kembali." Abi hamza mengusap lembut kepala sang istri.


Setelah merasa mulai tenang, umi membuka pembicaraan. "Sekarang apa yang harus kita lakukan?"


"Kalau Adnan sudah memutuskan untuk melamar Adiba dan Adiba juga menerima lamaran anak kita, berarti mereka sudah siap untuk meneruskan ke jenjang yang lebih serius,"


"Sebaiknya kita yang harus bertindak cepat, besok juga kita akan pergi ke Jakarta untuk melamar Adiba secara resmi kepada kedua orang tuanya," ucap umi.


"Itu lebih baik, sekarang sudah jam 11 lewat lebih baik kita istirahat, agar besok hari badan kita lebih segar dan semangat untuk mempersiapkan semuanya." Abi hamza menggandeng tangan sang istri.


***


Di kamar penginapan, Adiba tidak bisa tidur. Ini pertama kalinya Adiba merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, sejak dulu selalu luka yang Iya dapatkan.

__ADS_1


Ketika bertemu dengan Gus Adnan dan Allah menemukan mereka kembali untuk membentuk sebuah keluarga,


Hati Adiba berbunga-bunga, tersenyum bahagia ketika melihat jari manisnya sudah ada sebuah cincin dari seseorang.


"Terima kasih sudah mau menunggu aku Gus, aku berjanji akan berusaha untuk menjadi istri dan ibu yang baik untuk kalian, semoga Allah memberikan kemudahan segalanya," batin Adiba seraya menutup matanya.


Pagi hari yang indah, Gus Adnan, Adiba dan anak-anak kembali ke apartemen apartemen miliknya dan Gus Adnan kembali ke hotel.


Adiba juga sudah menghubungi sang ayah untuk bertemu malam ini bersama seseorang.


Setengah hari itu mereka sibuk mengurus segala sesuatu untuk acara malam ini. Kedua orang tua Gus Adnan sudah dalam perjalanan, paling tidak sore ini sudah sampai.


Acaranya akan diadakan di apartemen miliknya, semua sahabat dekat, Bu Anna dan Vega asisten pribadinya juga sudah ada di dalam, mereka sibuk mendekorasi ruangan itu, dan kehadiran dua bocah itu membuat suasana menjadi lebih berisik.


Semuanya sangat terkejut ketika mendapatkan kabar bahagia dari Adiba, bahwa Iya sudah dilamar dan malam ini adalah acara ijab kabul. Maka dari itu mereka semua berbondong-bondong datang ke apartemen milik Adiba untuk mempersiapkan semuanya.


Untuk Keluarganya, adiba meminta mereka datang nanti malam saja.


Saat ini Adiba sedang duduk bersama dengan Bu Anna di kursi ruang TV. "Bagaimana keadaanmu sekarang, apakah sudah lebih baik?"


Adiba menganggukkan kepalanya. "Alhamdulillah sekarang saya sudah lebih baik, apalagi saya bertemu dengan orang-orang yang benar-benar tulus menyayangi saya, kedua orang tua Gus Adnan selalu memberikan saya dukung dan nasehat dan yang paling penting kedua orang tua Gus Adnan dan adik-adiknya menerima saya seperti keluarga sendiri.


"Dengan mereka, saya merasakan kasih sayang yang selama ini saya impikan." Adiba menitikkan air matanya, bukan air mata kesedihan akan tetapi air mata kebahagiaan, karena masih ada orang-orang yang baik dan tulus dengannya.


Bu Anna membawa Adiba ke dalam pelukannya, Bu Anna senang mendengar perkataan Adiba dan raut wajahnya juga lebih bahagia, apalagi ketika bersama dengan kedua bocah itu.


"Ibu juga turut bahagia mendengar kamu bahagia, nanti apabila kamu sudah tinggal bersama dengan suami kamu, jangan pernah lupakan Ibu ya," pinta ibu Anna.


"Adiba menatap Bu Anna. "Saya tidak akan pernah melupakan semua kebaikan dan motivasi yang ibu berikan kepada saya, kita akan selalu berhubungan baik sampai maut memisahkan," tutur Adiba.


"Umi," panggil Zayyan.


"Ada apa sayang?" Menyentuh kepala Zayyan lembut.


"Kata Kakak Ansel ada yang ingin bertemu dengan umi," ucap Zayyan.


Adiba menggandeng tangan Zayyan menuju pintu apartemen miliknya, dan….


Bersambung

__ADS_1


Hello semua…. Silahkan like comment and vote dan beri rating 5 kakak ❤️🥰🥰


Salam kenal semua…


__ADS_2