
Kedua orang tua Ning Farah sangat malu dengan kelakuan anak perempuan mereka. "Kamu sudah menghancurkan nama baik keluarga kita, dimana hati nuranimu, kenapa kamu menjadi seperti ini?" bentak pak kyai Hasan.
"Bukan aku yang salah, tapi karena kalianlah aku jadi seperti ini, kalian selalu menuntutku untuk selalu menjadi yang terbaik, tanpa memikirkan keinginan aku," teriak Ning Farah.
"Kamu berani meninggikan suara kamu dengan orang tua kamu sendiri, apakah seperti ini sikap kamu yang sebenarnya!" bentak pak kyai Hasan.
"Aku seperti ini juga karena kalian, aku sudah pernah bilang, kalau aku tidak ingin dijodohkan dengan Gus Adnan, aku juga pernah bilang kalau aku sudah mempunyai calon suami, tapi apa jawaban kalian, kalian tetap keras kepala dan selalu mengambil keputusan tanpa ada persetujuan dengan aku," jerit Ning Farah.
"Saya sudah pernah bilang jangan pernah dekat dengan laki-laki seperti itu, ini buktinya kamu menjadi anak yang liar, bahkan kamu sudah melakukan dosa besar sebelum nikah, kamu sudah melakukan zina. kamu juga sudah belajar zina itu hukumnya haram dan mendapatkan dosa besar, kamu sekarang sudah mempunyai anak perempuan, bagaimana nasib anak itu?" Frustasi pak kyai Hasan menghadapi anaknya.
"Dia bisa menikah dengan wali hakim, apa susahnya sih," ucap Ning Farah tanpa rasa bersalah.
Gus adnan yang mendengar perkataan Ning Farah langsung menatapnya tajam dan dingin. "Benar kata istriku, kamu adalah wanita yang tidak mempunyai hati nurani sedikitpun, kamu tidak memikirkan bagaimana perasaannya ketika besar, kamu tidak memikirkan bagaimana sedihnya anak itu ketika mengetahui dia anak dari perbuatan orang tuanya yang melakukan zina sebelum menikah, bagaimana tanggapan orang-orang dan mertuanya nanti," bentak Gus Adnan.
"Pak kyai Hasan, saya mohon bawa istri dan anak anda dari rumah saya, saya tidak berniat untuk mengusir pak kyai, tapi jika anak anda masih disini, saya bisa saja melakukan kekerasan kepadanya, saya tidak tahan dengan sikap egois dan keras kepala anak anda ini," pinta Gus Adnan dengan mata yang memerah karena menahan tangisnya.
Pak kyai Hasan tidak banyak berbicara, langsung menarik tangan Ning Farah dan istrinya.
Ning Farah yang tidak menerima ucapan Gus Adnan berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman sang ayah.
"Lepaskan tanganku Abi," jerit Ning Farah.
"Kamu jangan bikin malu lagi Farah, sudah cukup kamu membohongi orang tua kamu, jangan melakukan kesalahan yang kedua kalinya," bentak pak kyai Hasan.
"Kamu Gus Adnan aku akan membuat kalian menderita, kamu tunggu saja, aku akan melakukan sesuatu yang lebih ekstrim kepada keluarga kecil kamu itu," teriak Ning Farah.
Setelah kepergian Ning Farah dan keluarganya, Gus Adnan menundukkan kepalanya, tangisan yang sedari tadi di tahan akhirnya Gus Adnan tumpukan.
"Abi," panggil Gus Adnan serak.
Abi Hamza mendekati sang anak dan memeluknya untuk memberikan ketenangan. "Abi tahu apa yang kamu pikirkan selama ini, setelah Syila sudah mengerti kita ajak mereka berbicara tapi pelan-pelan saja, agar mereka paham dan tidak terlalu kecewa," ucap Abi Hamza lembut.
"Untuk Zayyan aku tidak pernah memikirkannya, Dia laki-laki yang kuat, tapi Syila berbeda, sejak dulu sampai sekarang aku masih memikirkan nasib Syila, aku takut nantinya Syila tidak ada yang mau menerimanya, aku tidak ingin Syila menderita," keluh Gus Adnan.
"Kita akan selalu ada untuk Syila, jika suatu saat nanti, ada yang melamarnya maka kita akan cari tahu dulu, siapa laki-laki itu dan bagaimana sikap kedua orang tuanya dan keluarganya, jika mereka menghina Syila maka kita harus membatalkan," ucap Abi Hamza.
Setiap putra dan putrinya ingin menikah, Pak kyai Hamza tidak pernah memandang seseorang dari hartanya, tapi dari kesetiaannya, agama, kesetiaannya, keluarganya yang mau menerima anaknya dengan baik, shalatnya terjaga, dan bisa membimbing dunia dan akhirat.
"Syila masih mempunyai kita, apapun yang terjadi dengan Zayyan dan Syila, kita yang pasang badan untuk melindungi mereka, bagi Abi Zayyan dan Syila adalah cucu pertama Abi tidak akan pernah berubah sampai kapanpun," ucap Abi hamza.
"Abi benar, mereka tetap akan bersama dengan kita apapun yang terjadi, aku tidak akan memberikan Zayyan dan Syila kepada mereka," putus Gus Adnan.
"Bagus, lebih baik sekarang kita ke masjid ini sudah waktunya shalat ashar," ajak Abi Hamza.
Gus Adnan dan Abi Hamza pergi ke masjid sedangkan para istri dan anak-anak sedang berada di dalam kamar Adiba dan Gus Adnan.
Di dalam kamar, saat ini Adiba sedang video call dengan kedua adik iparnya, sedangkan umi Ayu sedang menemani Zayyan dan Syila tidur.
Ning Kinan dan Gus Hanan
"Assalamualaikum, kakak ipar yang cantik," puji Ning Kinan.
__ADS_1
Adiba
"Wa'alaikum salam, Adik iparku yang cantik dan tampan,"
Ning Kinan dan Gus Hanan
"Pasti ada sesuatu yang ingin kakak ceritakan kepada kami," ucap Gus Hanan.
Adiba
"Kamu memang adik yang selalu tahu tenang kakak mu ini," Adiba terkekeh.
Ning Kinan dan Gus Hanan
"Iya dong, setiap kakak yang menelepon pasti akan ada berita baru yang akan kakak ceritakan," ucap Ning Kinan semangat.
Adiba
Kamu tahu tidak, mantan istri kakak kamu itu datang kesini,"
Ning Kinan dan Gus Hanan
"Apa," teriak mereka bersama.
"Apa yang dilakukan oleh wanita itu?" tanya Gus Hanan.
Adiba
Ning Kinan dan Gus Hanan
"Maksudnya!"
Adiba
"Wanita itu hanya ingin mengambil Zayyan saja, karena iya hanya ingat dengan anak laki-lakinya saja," ucap Adiba kesal.
Ning Kinan dan Gus Hanan
"Astaghfirullah, wanita itu sudah stress, lebih baik bawa saja ke rumah sakit jiwa," ucap Ning Kinan menggebu-gebu.
Adiba
"Sebenarnya aku sangat ingin melakukan itu, tapi aku capek melihat wajahnya, aku merasakan muntah,"
Ning Kinan dan Gus Hanan
"Wah… hebat keponakan aku, di dalam kandungan saja, iya sudah mengerti mana wanita yang baik dan tidak," ucap Gus Adnan antusias.
Adiba
"Hahaha… kamu benar sekali,"
__ADS_1
Ning Kinan dan Gus Hanan
"Kakak," rengek Ning Kinan.
Adiba
"Apa,"
Ning Kinan dan Gus Hanan
"Hehehe, kami 4 hari mendapatkan liburan, jadi apakah boleh kami pergi liburan," pinta Ning Kinan dan Gus Hanan penuh harap.
Adiba
"Kenapa bilang sama kakak, kalian kan bisa izin sama umi dan Abi?"
Ning Kinan dan Gus Hanan
"Kami takut, jika kakak ipar yang bilang pasti akan di izinkan, please!"
Adiba
"Baiklah, sebagai kakak ipar yang baik hati dan suka menabung akan selalu membantu adik-adiknya." ucap Adiba dramatis.
Ning Kinan dan Gus Hanan
"Hehehe… sayang kakak ipar banyak-banyak," ucap Ning Kinan semangat.
"By kakak ipar ku, assalamualaikum,"
Adiba
"Wa'alaikum salam,"
Setelah selesai berbicara dengan adik-adiknya, Adiba memutuskan untuk tidur.
***
Di dalam kamar Ning Farah sedang berbicara dengan seseorang.
Ning Farah
"Kamu perintah semua anak buah kamu untuk…..
"apa yang akan direncanakan Ning Farah selanjutnya?
Bersambung
Hello semua…. Silahkan like comment and vote dan beri rating 5 kakak ❤️🥰🥰
Salam kenal semua…
__ADS_1