Setitik cahaya kebahagiaan untuk Adiba

Setitik cahaya kebahagiaan untuk Adiba
Sindiran


__ADS_3

Adiba masih kesal dengan sang suami, yang tidak ingin memberitahunya siapa yang akan menjadi calon suami Ning Kinan.


"Sudah dong sayang, jangan cemberut, nanti tidak cantik lagi?" Gus Adnan tidak sadar dengan ucapannya, kata-kata itu seharusnya tidak boleh diucapkan meskipun niatnya untuk bercanda.


"Kamu bilang aku tidak cantik, oke sekarang juga kamu keluar dari kamar ini, aku ingin sendiri saja." Lirih Adiba dan menutup kepalanya dengan selimut.


Mendengar ucapan sang istri Gus Adnan hanya bisa menyesali perbuatannya. "Bodoh banget kamu Adnan, sudah tahu istri kamu ini sensitif, masih saja bercanda." batin Gus Adnan.


"Sayang," panggil Gus Adnan lembut.


Adiba tetap tidak bergeming, tidak peduli dengan ucapan Gus Adnan. "Lebih baik kamu diam aja mas, aku tidak akan mendengarkan ucapan kamu.


"Tapi…


"Aaauu, Gus Adnan berteriak keras, ketika telinganya ada yang menjewer. Adian yang mendengar teriakan sang suami, membuka selimutnya dan hahaha… Adiba tertawa melihat sang suami yang kesakitan. 


"Kamu ini ya, selalu saja membuat anak saya sedih, apabila sekali lagi kamu ketahuan membuat anak umi sedih maka kamu tidak akan bertemu dengan istri kamu, umi sendiri yang akan memisahkan Kalina. Peringkat umi tegas.


"Jangan begitu dong umi, bagaimana nasib aku nantinya, aku tidak bisa hidup tanpa Adiba umi, umi mau aku bunuh diri." Gus Adnan terlalu dramatis.


"Terserah kamu, silahkan saja apabila ingin bunuh diri, umi tidak akan melarang kamu," ucap umi serkas.


"Sudah-sudah kalian ini selalu saja berdebat, dimanapun kalian berkumpul, kasian mantu kita harus mendengarkan perdebatan kalian, Adiba harus banyak-banyak istirahat." ucap  pak kyai.


Mereka berdua hanya terdiam, ketika pak Kyai Hamza sudah berbicara, tidak ada yang berani berbicara.


"Kami hanya sebentar saja disini, karena setelah ini umi akan menemani Abi pergi ke undangan ceramah, kamu tidak apa-apa kan sayang. " Umi mengusap lembut kepala Adiba.


"Aku baik-baik saja umi, aku juga tidak sendiri ada mas Adnan yang selalu ada disamping aku, bener kan mas." Adiba menatap sang suami.


"Iya benar sayang, dan Alhamdulillah kesehatan Adiba juga lebih baik, jadi kalian tidak perlu kuatir," ucap Gus Adnan.


Selama satu jam mereka habiskan dengan berbicara santai dan tenang masalah yang sudah diatasi dengan baik, orang tua santri dan santriwati juga tidak ada yang marah.


Mungkin ada satu atau dua orang yang tidak terima, tapi semua itu sudah diatasi dengan baik oleh pak Kyai dan Andrian.


untuk Zayyan dan Syila mereka akan pergi menjenguk sang Umi setelah balik dari sekolah bersama dengan Ning Kinan dan Andrian.


Setelah sepuluh hari Adiba dirawat di rumah sakit, hari ini Adiba bisa kembali pulang. 


"Akhirnya aku bisa pulang juga," ucap Adiba senang.

__ADS_1


Gus adnan yang melihat Adiba sangat bahagia, Iya juga senang akhirnya sang istri sudah sehat. "Kamu sudah siap sayang?" 


"Sudah mas, ayo kita pulang." Adiba turun dari ranjang dan menggandeng tangan sang suami.


***


Di pondok pesantren, Pak Kyai, Bu nyai, Ning Kinan dan Andrian sedang duduk di kursi dengan suasana yang serius.


"Abi bagaimana ini, semua orang sudah membicarakan Adiba," ucap Ning Kinan sedih.


"Baru saja kita merasa tenang, sekarang malah ada kabar Adiba yang merebut calon suami dari ustadz Zulaikha.


"Kita harus tetap tenang, jangan membuat Adiba sedih, hari ini Adiba pulang dari rumah sakit," ucap Bu nyai.


Berita yang beredar adalah, tentang Adiba yang mengambil calon suami ustadzah Khodijah, entah siapa yang menyebarkan fitnah tersebut.


Selama 2 hari Adiba menghabiskan waktunya di ndalem, jadi Adiba tidak mengetahui bahwa Iya sedang difitnah.


Hari ini Adiba kembali ke kamar yang ditempati bersama temannya. Selama di perjalanan menuju kamarnya Adiba bingung dengan tatapan dan ekspresi mereka. Adiba merasakan tidak nyaman dengan tatapan mereka seperti menghina dan jijik.


Pembicaraan santriwati


"Aku tidak pernah menyangka Adiba melakukan hal seperti itu,"


"Mukanya terlihat polos ternyata suhu,"


"hati-hati kamu dengan orang itu, jaga calon suami kamu dengan baik nanti bisa diambil olehnya.


Dan banyak lagi omongan pedas mereka tentang Adiba.


Adiba berjalan cepat tanpa memperdulikan ucapan mereka, bagi Adiba omongan mereka itu tidak terlalu menyakitkan bagi Adiba yang sudah merasakan dibenci dan dicaci oleh keluarga sendiri.


Adiba sampai di depan kamar, ketika ingin membuka pintu Adiba mendengar ucapan Zahra dan Aisyah.


"Bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan, aku sangat yakin Adiba tidak pernah melakukan itu," ucap Zahra gusar.


"Aku juga tidak yakin, masalahnya siapa calon suami ustazah Zulaikha itu dan siapa yang menyebarkan berita seperti itu," ucap Aisyah.


Adiba yang mendengarkan ucapan mereka, langsung membuka pintu tanpa mengucapkan salam.


"Aku ingin kalian menceritakan semuanya Sekarang juga, tidak ada yang perlu ditutup-tutupi," ucap Adiba tegas.

__ADS_1


Mendengar ucapan Adiba, seketika mereka merinding. "Aku yang akan menceritakan semuanya dan aku juga tahu siapa  calon yang dimaksud oleh mereka," ucap Zahra cepat.


"Kamu pasti tidak tahu kan, bahwa Gus Adnan itu banyak sekali yang suka dengan beliau, meskipun beliau sudah duda, tidak membuat mereka berkecil hati untuk mendapatkan Gus Adnan, dan salah satunya adalah ustadzah yang mengajar disini, aku sering melihat beliau memberikan makanan, dan perhatian kepada Gus Adnan, tetapi semua itu ditolak mentah-mentah oleh Gus Adnan sendiri.


"Aku mempunyai firasat, Bahwa yang menyebarkan berita bohong itu adalah ustadzah itu, karena saat kamu di rumah sakit, pondok sempat dihebohkan dengan Gus Adnan yang menggendong kamu, mereka berpikir bahwa antara kamu dan Gus Adnan mempunyai hubungan.


"Ada hal yang membuat mereka semakin yakin, yaitu tentang kedekatan kamu dengan keluarga ndalem, bahkan kamu dengan mudahnya mendekati guz Zayyan dan Ning Syila." Zahra sampai ngos-ngosan menceritakan semuanya.


Mendengar ucapan dari Zahra, membuat Adiba sangat marah. "Siapa nama wanita itu?"


"Ustazah Zulaikha," ucap Zahra cepat.


Kalian berdua ikut aku, aku akan berbicara langsung kepada ustadzah Zulaikha. Kedua teman Adiba dengan hati berat dan takut tetap mengikuti Adiba, mereka tidak mungkin membiarkan Adiba pergi sendiri menemui ustazah Zulaikha.


Adiba mengetuk pintu kamar ustadzah Zulaikha dengan keras. "Assalamualaikum."


Pintu terbuka lebar dan terlihat seorang wanita dewasa, terlihat cukup cantik, memakai pakaian panjang berwarna biru dengan kerudung yang senada. "wa'alaikum salam."


"Zahra sebaiknya kamu pergi ke ndalem, panggil Bu nyai, aku takut masalah ini akan panjang." bisik Aisyah.


Zahra langsung pergi meninggalkan adiba yang masih terdiam, dan menatap tajam ustadzah Zulaikha.


Santriwati juga sudah banyak berkumpul di tempat itu, mereka ingin melihat apa yang akan terjadi.


"Ada apa kamu mengetuk pintu kamar saya," ucap ustadzah Zulaikha lembut.


Adiba menyeringai kejam. "Saya datang kesini hanya ingin memberitahu kepada kalian semua, pasti kalian semua ingin tahu siapa sih calon suami ustadzah Zulaikha ini."


"Saya akan beritahu kalian semua, calon suami ustadzah Zulaikha adalah…"


"Stop Adiba, kamu ingin memberi tahu mereka bahwa kamu dan calon suami saya akan menikah, kenapa kamu merebut calon suami saya, apa salah saya kepada kamu Adiba." Ustadzah Zulaikha dengan air mata yang mengalir.


Santriwati yang melihat itu, semakin membenci Adiba, karena sudah membuat ustazah kesayangan mereka sedih.


Adiba masih diam, tidak ada perubahan di raut wajah Adiba. Adiba hanya tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya melihat akting ustazah Zulaikha yang sangat profesional seperti pemain film horor.


Adiba mendekati ustadzah Zulaikha dan tepat di telinga ustadzah Zulaikha, Adiba membisikkan sesuatu yang membuat tubuh ustazah Zulaikha bergetar dan ketakutan.


Apa yang diucapkan adiba?.....


Bersambung

__ADS_1


Hello semua…. Silahkan like comment and vote dan beri rating 5 kakak ❤️🥰🥰


Salam kenal semua…


__ADS_2