
Adiba sangat senang dengan kedatangan umi Ayu dan Ning Kinan, sedangkan Pak Kyai Ali bersama keluarga yang lain mereka langsung pergi ke hotel Gus Adnan menginap.
Mereka sedang duduk di kursi disertai dengan teh dan cemilan yang enak, Adiba juga sudah mengenalkan semua teman-temannya dan juga Bu Anna.
Waktu terus berjalan dan tidak terasa waktu malam pun sudah tiba, jam menunjukkan pukul 20.00 keluarga Pak Kyai dan yang lainnya sudah berkumpul di apartemen Adiba, tinggal menunggu Keluarga Adiba yang belum datang.
Adiba merasakan sedih dan malu, kenapa mereka belum juga datang, Adiba sudah mengatakan jam 19:00 mereka sudah datang, tapi ini mereka tidak ada yang datang, bahkan handphone sang ayah tidak aktif.
Perasaan gelisah, sedih, sesak dan malu, semuanya dirasakan oleh Adiba, Bu Anna dan umi juga berulang kali menenangkan Adiba.
saat ini Adiba sedang sendirian di dalam kamarnya, menunggu telepon dari Andrian.
Drrtt….
Bunyi handphone berbunyi Adiba langsung mengangkatnya.
Adiba
"Ada apa?"
Andrian
"Saya sudah menemukan mereka, ternyata keluarga Alexander diserang oleh orang yang tidak dikenal saat diperjalanan, dan satu dari saudara anda yang bernama Kenzi mengalami luka sayat di tangan kanannya, kami juga sudah menangkap beberapa dari mereka dan sudah ada di markas, jadi itulah alasannya kenapa mereka bisa telat.
Adiba
"Syukurlah mereka tidak ada yang luka parah, perketat penjagaan, saya tidak ingin hari bahagia saya Ada masalah, perhatian orang-orang yang mencurigakan.
Andrian
"Siap laksanakan nona, nona ini permintaan dari Abang nona yang bernama Kenzi, bisakah nona menunda ijab Kabul nya?"
Adiba
"Hmmm, bilang saja insya Allah, yang pasti ayah saya harus datang lebih dulu kesini, saya tidak ingin Keluarga dari calon suami saya harus menunggu terlalu lama.
Andrian
"Baiklah akan saya sampaikan?"
Tut..Tut…Adiba mematikan teleponnya, dan menatap kosong ke arah jalan melalui kaca jendela. "Apakah aku harus selalu melindungi mereka, sampai saat ini aku masih belum bisa untuk melupakan rasa sakit yang mereka berikan, apakah aku bisa berubah, aku takut…aku takut membuat orang-orang yang aku sayangi terluka gara-gara aku.
"Aku ingin egois, tetapi hati ini selalu melarang, sekarang apa yang harus aku lakukan, bisakah aku…aku melindungi mereka." Adiba memukul dadanya yang sangat sesak, dan air matanya mengalir sangat deras.
__ADS_1
"Rahasia apakah yang masih Adiba simpan selama ini, dan mampukah Adiba melindungi orang-orang yang dia sayangi?".
Bu Anna yang ingin memanggil Adiba untuk ke ruang tamu, karena keluarganya sudah datang, ketika membuka pintu Bu Anna sangat terkejut melihat Adiba yang terduduk dan menangis sesenggukan dan pingsan. "Ya Allah Adiba…!" teriak Bu Anna.
Karena teriakan Bu Anna yang sangat keras, membuat mereka yang berada di ruang keluarga langsung berlari ke kamar Adiba.
Gus Adnan dan ayah Adiba yang pertama kali sampai dan
Deg…
Deg…
Deg…
Jantung mereka berdetak kencang ketika melihat Adiba yang sudah tidak sadarkan diri dan Gus Adnan melihat pergelangan tangan kiri Adiba berdarah, rasanya runtuh sudah pertahanannya melihat calon istrinya yang terluka seperti itu.
Untuk kedua orang tua, kakek dan adik Adiba, hanya bisa terdiam, syok dan tubuh mereka bergetar melihat keadaan Adiba, sang ibu dan Zea meneteskan air matanya, begitu juga dengan sang ayah, kakek dan nenek. Mereka sekarang sadar, karena perbuatan yang telah mereka lakukan itulah yang sudah menyebabkan fisik, batin dan trauma yang Adiba dapatkan.
Bastian segera berlari ke arah sang anak mengangkatnya secara perlahan-lahan dan meletakkannya di atas kasur.
Bu Anna juga dengan sigap membersihkan darah yang yang keluar dari tangan Adiba. Alhamdulillah luka Adiba tidak terlalu serius.
Para laki-laki sedang berkumpul di ruang tamu, mereka membicarakan hal yang serius. "Jadi bagaimana sekarang, apa yang harus kita lakukan, apakah pernikahan ini kita lanjutkan atau dibatalkan?" ucap pak penghulu.
Setelah 5 menit mereka berdiam, tiba-tiba Bu Anna datang bersama Bu nyai ayu dan duduk di lantai yang dilapisi dengan karpet yang berbulu tebal. "Kita segerakan saja pernikahan adiba dan Gus Adnan, saya yang akan bertanggung jawab atas semuanya, dan juga nanti saya dan Bu nyai Ayu yang akan berbicara dengan Adiba.
Mendengar keputusan itu, mereka siap-siap untuk melakukan ijab kabul.
Gus Adnan sudah duduk didepan penghulu dan para saksi di akad pernikahannya, sebentar lagi Iya akan mengucapkan ijab kabul.
Jantung Gus Adnan semakin berdetak kencang, saat pembacaan ayat suci Al-Quran.
"Sudah siap?" tanya penghulu.
"Insya Allah," jawab Gus Adnan dengan gugup.
"Baiklah mari kita mulai akad nikahnya, silahkan bapak Bastian." ucap penghulu.
Gus Adnan dan Bastian berjabat tangan. "Saya terima nikah dan kawinnya Adiba Afsheen Myesha binti Bastian Jordan Alexander dengan maskawin tersebut, Tunai.'' ucap Gus Adnan dengan satu tarikan nafas.
"Bagaimana para saksi,"
"Sah.."
__ADS_1
"Sahhh,"
"Sahhh.."
Mata Gus Adnan berkaca-kaca menahan tangisnya, bahkan sepanjang penghulu membacakan doa pernikahan.
Bastian memeluk Gus Adnan dengan lembut. "Saya mohon sama kamu, tolong jaga dan sayangi Adiba, saya sudah gagal menjadi orang tua untuk anak saya sendiri, bahkan sudah membuat Adiba sangat menderita. Saya melihat ada kebahagiaan ketika bersama dengan kamu dan keluarga kamu, itu saja yang ingin saya sampaikan, hanya satu permintaan ayah sebagai seorang ayah, jangan sakiti Adiba." Bastian melepaskan pelukannya dengan Gus Adnan seraya mengusap air matanya.
"Insya Allah, saya akan berusaha untuk selalu membahagiakan Adiba, saya tidak bisa berjanji, karena sebuah janji bisa diingkari." Gus Adnan tersenyum lembut.
Semua orang yang ada di ruang tamu, mereka mencicipi makanan yang disajikan.
Di dalam kamar Adiba masih belum bangun. Adiba ditemani oleh Zayyan dan Syila yang tidak mau pergi meninggalkan sang umi tercinta, dan juga ada mama kandung dan sang adik yang ikut menemani.
Untuk Kenzo dan Kenzi mereka hanya sebentar saja di dalam kamar Adiba, mereka kembali ke ruang tamu, untuk bergabung dengan yang lain.
Bu nyai Ayu dan Bu Anna datang ke kamar Adiba. Bu Anna mempersilahkan mama Adiba dan Zea untuk makan terlebih dahulu.
Mereka berdua awalnya enggan untuk meninggalkan Adiba, karena bujuk rayu Bu Anna akhirnya mereka keluar dari kamar Adiba.
"Aghh… Adiba membuka matanya dan yang pertama kali Adiba lihat adalah Zayyan dan Syila, kemudian beralih ke tempat duduk ada Bu Anna dan Bu nyai.
"Umi sudah makan," ucap Syila antusias.
Adiba tersenyum lembut. "Maafkan umi ya, telah membuat kalian berdua khawatir, dimana Abi?" Adiba sedih melihat Zayyan dan Syila dengan mata yang bengkak, Adiba sangat yakin itu semua karena Iya.
"Abi ada di luar, nanti biar Zayyan yang panggil Abi." Zayyan turun dari ranjang dan berjalan menuju ruang tamu.
"Umi, ibu bagaimana dengan pernikahan Adiba sama Gus Adnan?" Adiba sangat takut pernikahan mereka akan batal.
"Sebaiknya kamu makan dulu dan minum obat ya, baru nanti kami akan menceritakan semuanya," perintah Bu nyai.
Bu Anna mengambil makanan yang sudah disiapkan dan membawanya ke hadapan Adiba.
Adiba mulai memakan makanan itu dengan pelan, sekali-kali Adiba juga menyuapi Syila dengan telaten. Adiba menggunakan makanan yang baru untuk menyuapi Syila.
Setelah semuanya habis dan meminum obat, Bu Anna dan Bu nyai Ayu mulai menceritakan. "Kamu dan Gus Adnan sudah sah menjadi pasangan suami dan istri, jadi tidak ada yang perlu ditakutkan lagi, sekarang hiduplah dengan bahagia, bukalah lembaran baru bersama suami dan anak-anak kamu.
Brak….
Bersambung
Hello semua…. Silahkan like comment and vote dan beri rating 5 kakak ❤️🥰🥰
__ADS_1
Salam kenal semua…