
"Sayang, apakah kedua orang tua kamu sudah menghubungi kamu?" tanya Gus Adnan hati-hati takut membuat sang istri sedih.
Adiba hanya menggelengkan kepalanya. "Tidak ada mas, tapi ya sudahlah, aku juga tidak pernah mengharapkan mereka."
"Apakah perlu mas yang menghubungi mereka agar nanti saat kamu lahiran kedua orang tua kamu datang?" tanya gus Adnan lembut.
"Mas tidak perlu melakukan itu, aku tahu semua itu hanya akan sia-sia, aku tahu sebenarnya mereka tidak terlalu sibuk hanya saja saat acara kita, mereka harus pergi liburan bersama keluarga besar kakek, aku sudah tidak peduli lagi apa ingin mereka lakukan," papar Adiba sendu.
Adiba sudah diberitahu oleh Aileen, jika saat ini kedua orang tuanya dan kakeknya sudah berbaikan, dan mereka juga kembali terlihat rukun. Adiba memang sudah terbiasa diabaikan oleh keluarganya sendiri, jadi tidak pernah mengharapkan apapun lagi dari mereka.
Meskipun di hati kecil Adiba masih ada setitik harapan agar kedua orang tuanya bisa berbuat adil, tapi ya sudahlah, Adiba kembali mendapatkan kekecewaan tapi Adiba masih bisa tersenyum jika sang mama meneleponnya. Adiba memiliki hati yang baik, sehingga banyak yang beranggapan jika Adiba pasti akan memaafkan kesalahan mereka, tanpa mereka ketahui Adiba juga bisa tegas dan kejam.
"Apakah kamu ingin melakukan sesuatu agar mereka tidak mengabaikan kamu?" tanya Gus Adnan.
"Tidak perlu mas, nanti kita lihat saja seperti apa mereka nantinya, aku juga tidak pernah ada niat untuk kembali ke sana, bagiku disini adalah rumah ku, aku mempunyai suami yang sangat pengertian dan tentunya menyayangi dan menerima aku apa adanya, aku juga mempunyai mertua yang sangat baik dan sudah menganggap aku sebagai anak kandung sendiri, adik-adik ipar yang sangat baik, dan sekarang aku juga mempunyai anak," ungkap Adiba senang.
"Jadi mulai saat ini mas jangan memikirkan hal itu lagi, aku sudah mendapatkan kebahagiaan bersama keluarga kamu," ucap Adiba senang.
"Baiklah jika itu keinginan kamu Sayang, tapi jika nanti kamu merasakan sesuatu yang mengganjal bicarakan sama mas ya, jangan disimpan sendiri," pinta Gus Adnan.
"Oke." Adiba kembali mengeratkan pelukannya di badan sang suami, dan Gus Adnan juga tidak ketinggalan memberikan satu ciuman di kening Adiba.
Mereka berdua tertidur nyenyak karena kelelahan setelah acara terakhir, yaitu pengajian yang diadakan untuk umum, dan yang menjadi penceramah ada beberapa Kyai besar yang secara khusus Gus Adnan dan pak kyai Hamza undangan untuk meramaikan acara tujuh bulanan menantunya.
Hari, Minggu dan bulan berlalu, kandung Adiba sudah masuk ke delapan, saat ini Adiba, Gus Adnan dan kedua anaknya sedang duduk di ruang tv.
Anak-anak dan Adiba sedang asyik menonton film kartun, sedangkan Gus Adnan memeriksa file pekerjaannya yang dikirim oleh asistennya.
"Maaf Ning, didepan ada tuan Andrian," ucap mbak Ijah.
"Suruh masuk aja mbak," ucap Adiba.
Adrian datang dan duduk di bangku single.
__ADS_1
Adiba tersenyum melihat tingkah Andrian seperti orang yang takut dimarahi.
"Ada apa, tumben datang?" tanya Gus Adnan.
"Aku hanya ingin melihat keponakan aku saja," jawab Andrian.
"Masa sih, aku sepertinya tidak begitu percaya dengan ucapan kamu, kita sudah lama kenal Andrian, dan aku tahu apakah kamu berbohong atau tidak," sindir Adiba.
"Apa yang kamu inginkan, insya Allah saya akan bantu kamu," ucap Gus Adnan tenang.
"Aku ingin…" Adnan menundukkan kepalanya takut.
"Katakanlah dengan jujur, aku dan mas Adnan tidak akan memarahi kamu, tenang saja," ucap Adiba.
"Paman kenapa?" tanya Zayyan yang kebingungan melihat pamannya yang tertunduk.
"Abang, paman itu sedang sedih, paman kan sudah pernah curhat kepada kita, paman ingin menikah dengan Aunty Kinan, tapi kata paman, paman tidak mempunyai keluarga untuk melamar aunty, jadi paman sedih," ungkap Syila dengan raut wajah yang polos.
"Benar paman, kami pasti akan bantu, jadi jangan sedih lagi, anggap saja kami ini adalah keluarga paman, kami juga sangat menyayangi paman." ungkap Syila seraya tersenyum lebar.
Andrian yang mendengar ucapan Zayyan dan Syila, begitu terharu karena kedua anak ini memiliki hati yang baik. "Pantas saja Adiba begitu menyayangi Zayyan dan Syila, anak-anak ini selalu saja membawa kebahagiaan bagi orang yang disekitarnya," batin Andrian terharu dan matanya berkaca-kaca.
Di Sisi lain Gus Adnan dan Adiba tersenyum melihat kedekatan mereka, Adiba dan Gus Adnan bangga dengan sifat kedua anaknya. "Semoga kamu tidak berubah sayang sampai kalian dewasa," batin Adiba.
"Sekarang kamu bilang kepada kami, apa ke kamu inginkan, insya Allah saya dan istri saya akan membantu kamu," ucap Gus Adnan.
"Aku hanya ingin meminta Adiba menjadi perwakilan dari aku, karena aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi," ucap Andrian sendu.
"Saya sendiri yang akan mendampingi kamu, disisi Kinan sudah ada yang lain, jadi aku dan Adiba yang akan mengurus semua keperluan kamu," ucap Gus Adnan tegas.
"Abang serius, Abang sedang tidak bercanda kan!" ucap Andrian terbata-bata dan raut wajah berbinar bahagia.
"Aku serius karena aku juga sudah menganggap kamu sebagai adik kandungku sendiri, selama ini kamu sudah banyak berkorban demi melindungi keluarga ku, jadi disaat kamu kesulitan maka aku yang akan menjadi orang yang pertama akan membantu kamu. Jadi, jangan pernah sungkan jika ingin meminta sesuatu kepada kami," ucap Gus Adnan.
__ADS_1
"Terima kasih banyak, aku senang bisa bertemu dengan kalian semua, aku sekarang sudah menjadi lebih baik, dan akan terus berusaha menjadi yang lebih baik lagi, dan aku ingin meminta Abang dan Adiba mendoakan dan merestui acara pernikahan kami berjalan lancar nantinya," lirih Andrian dengan air matanya mengalir membasahi wajahnya.
"itu sudah pasti, kami akan selalu mendoakan kamu dan Kinan akan menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah, dan jika kamu sudah mengucapkan ijab Kabul maka, kamu akan menjadi suaminya, dan aku hanya meminta satu hal kepada kamu, tolong jangan membuat Kinan menangis dan menyakitinya," pinta Gus Adnan.
"aku akan berusaha untuk menjaga Kinan, apapun yang terjadi di rumah tangga nanti, aku akan berusaha menjadi orang yang dewasa dan berpikiran terbuka," ucap Andrian tegas.
"Andrian, ini untuk kamu." Adiba memberikan sebuah map hijau kepada Andrian.
"Anak-anak umi yang cantik dan tampan, kalian sekarang sudah waktunya tidur, ini jam sudah menunjukkan pukul 21.00, ayo kita ke kamar," pinta Adiba.
"Baik umi." Setelah berpamitan Zayyan, Syila dan Adiba pergi dari ruang tv dan menuju ke kamar Zayyan dan Syila.
Setelah melihat Adiba dan anak-anak sudah pergi, Andrian langsung membuka map tersebut dan membacanya dengan serius, raut wajah berubah-ubah ketika membaca tulisan yang ada di dalam map hijau.
"Abang, maksudnya apa ini?" tanya Andrian tidak mengerti.
"Apakah kamu sudah membacanya dengan serius, bukannya disana sudah sangat jelas, dan mudah kamu pahami, kenapa masih bertanya?" tanya gus Adnan tegas.
"Tapi, ini rasanya aku tidak bisa menerima semua ini, aku…" ucapan Andrian dipotong oleh Gus Adnan.
"Kami harus menerimanya atau kamu aku membatalkan pernikahan kamu dan Kinan, apakah itu yang kamu inginkan?" tanya gus Adnan dingin.
Badan Andrian langsung bergetar dan keringatnya bercucuran membasahi wajahnya. "Tapi ini semua……
Bersambung…
Apa yang ada di dalam map itu, sampai membuat seorang Andrian tidak bisa menerimanya?....
Bersambung
Hello semua…. Silahkan like comment and vote dan beri rating 5 kakak ❤️🥰🥰
Salam kenal semua…
__ADS_1