
Sekarang Adiba sudah dipindahkan ke ruang VVIP. Alhamdulillah keadaan Adiba juga sudah mulai membaik, tinggal menunggu sadar saja.
Kondisi Adiba sempat memburuk, dan dokter sudah ingin mengatakan Adiba tidak akan bisa diselamatkan, akan tetapi gus Adnan tidak bisa begitu saja percaya.
Gus Adnan, Zayyan dan Syila masuk ke dalam ruang operasi untuk dan membisikkan kata-kata cinta, Zayyan dan Syila juga tidak kalah, mereka terus mengajak Adiba berbicara.
Karena mukjizat Allah, detak jantung Adiba kembali berdetak. Membuat mereka yang melihatnya merasakan terharu.
Hanya kasih sayang yang tulus, yang bisa membuat seseorang kembali semangat.
Gus Adnan yang saat itu sudah pasrah, dengan keadaan Adiba yang tidak bergerak lagi, hanya bisa menunduk dan menyalahkan dirinya sendiri dengan air mata yang mengalir.
Tetapi tidak dengan kedua anaknya yang tidak pernah menyerah bahkan mereka berdua memeluk Adiba untuk memberikan kehangatan, dan apa yang dilakukan anak-anak itu berhasil membuat jantung Adiba berdetak kembali.
Pak Kyai, Bu nyai Ayu, Ning Kinan, Zayyan dan Syila mereka tidak menginap di rumah sakit atas perintah Gus Adnan.
Gus Adnan tidak ingin Keluarganya kelelahan, apalagi Zayyan dan Syila masih kecil tidak baik terlalu lama berada di rumah sakit dan juga mereka baru saja mengalami hal yang menakutkan.
Gus Adnan berjanji akan mengabari mereka, apabila Adiba sudah bangun. Gus Adnan duduk di samping sang istri dan terus memegang tangan Adiba seraya mencium tangan Adiba.
"Terima kasih banyak kamu sudah mau berkorban untuk melindungi ayah aku sayang, kamu rela menukar nyawa kamu demi menyelamatkan nyawa ayah,"
"Aku beruntung bisa menikah dan memiliki kamu, kamu adalah wanita yang kuat, sederhana, baik, penyayang dan sabar, bagiku kamu adalah bidadari yang dikirim Allah kepada laki-laki yang tidak sempurna ini,"
"Terima kasih banyak kamu sudah menyayangi keluarga aku dengan tulus, dan menerima Zayyan dan Syila sebagai anak kamu dengan hati yang lapang,"
"Aku tahu semua yang kamu lakukan kepada adik-adik aku, kamu selalu mendengarkan curhatan mereka dan juga selalu berusaha untuk mengabulkan permintaan mereka, aku kagum dengan kamu, ketika bersama dengan kedua adikku kamu akan menjadi seorang kakak," ucap Gus Adnan pelan.
Air matanya mengalir membasahi wajahnya, dan suara Gus Adnan serak. "Kamu tahu tidak sekarang Abi dan Umi lebih menyayangi kamu daripada aku, hehhe… kata mereka aku adalah laki-laki yang tidak bisa diandalkan.
__ADS_1
Cup Gus Adnan mencium kening dan bibir Adiba. " Good night sayang, semoga mimpi indah.
Waktu menunjukkan jam 4 pagi, Adiba membuka matanya dan orang yang pertama kali Adiba lihat adalah sang suami yang tertidur dan Adiba melihat ada jejak air mata di pipi sang suami.
Adiba mengelus lembut kepala Gus Adnan, membuat tidur Gus Adnan terganggu dan membuka matanya. Pandangan mata Gus Adnan bertemu dengan mata sang istri yang tersenyum.
"Ya Allah sayang, akhirnya kamu bangun juga, apakah ada sesuatu yang kamu inginkan?" tanya Gus Adnan semangat.
"Aku haus mas, pengen minum," ucap Adiba pelan.
Gus Adnan langsung memberikan air putih kepada Adiba. Ketika Adiba minum air putih, Gus Adnan memencet tombol yang ada di dalam kamar untuk memanggil dokter.
Alhamdulillah keadaan Adiba sudah lebih baik, dan setelah diperiksa Adiba kembali tidur, karena badannya masih terasa lemah.
Gus Adnan tidak kembali tidur, Gus adnan memutuskan untuk sholat tahajud dan tadarus Al-Qur'an, seraya menunggu adzan subuh.
***
Begitu juga dengan teman sekamar Adiba, mereka lebih mengkhawatirkan keselamatan Adiba ketimbang dengan adegan Gus Adnan yang menggendong Adiba
"Bagaimana ya keadaan Adiba, apakah iya baik-baik saja, aku takut terjadi sesuatu, pasti luka tembak itu sangat mengerikan." Zahra merinding membayangkan Iya yang tertembak maka pasti akan langsung pingsan.
"Aku kagum dengan keberanian Adiba, Iya rela berkorban demi menolong Pak Kyai Hamza, dan saat pak Kyai Hamza ingin keluar dari masjid, Adiba sempat saja melarang Pak Kyai, padahal Adiba sudah tidak kuat saat itu, tapi Iya tetap bisa menahannya dan berusaha untuk tetap tenang, seakan-akan itu hanya luka kecil." Aisyah meneteskan air matanya, jika bukan Adiba yang berani menolong Pak Kyai, maka beliau lah yang masuk rumah sakit, maka itu akan membuat pondok pesantren As-Salam semakin terguncang.
"Sekarang aku akan menjadi fans adiba, Iya adalah wanita yang luar biasa, pemberani, kuat dan yang penting Iya tidak pernah pelit sama kita, aku senang mendapatkan teman seperti Adiba," ucap Zahra menggebu.
"Nanti kita cari saja Ning Kinan, pasti Ning Kinan tahu bagaimana keadaan Adiba, Ning Kinan juga sangat dekat dengan Adiba, bahkan mereka terlihat seperti keluarga? Bagaimana ya kalau Adiba mempunyai hubungan dengan Gus Adnan, pasti romantis banget, mereka berdua juga terlihat seperti pasangan yang sangat serasi, yang satu cantik, baik dan pintar, yang satu dingin, tegas dan tampan." papar Zahra.
"Aku sih setuju saja apabila Gus Adnan menikah dengan Adiba, kita juga sering melihat keakraban Adiba dengan ning Syila dan Gus Zayyan, mereka terlihat seperti ibu dan anak." ucap Zahra.
__ADS_1
"Aku juga mendukung Gus Adnan dan Adiba bersama, aku juga yakin mereka akan mendapatkan restu dengan mudah, karena Adiba sudah menolong nyawa pak Kyai Hamza. Tapi ada satu hal yang aku takutkan, Adiba akan mendapatkan cemoohan dari santriwati yang juga menyukai Gus Adnan, bahkan ada beberapa orang yang terobsesi," ucap Aisyah.
"Itu baru sebagian, aku melihat secara langsung ada satu ustadzah yang memberikan Gus Adnan beberapa hadiah, akan tetapi selalu ditolak, Iya juga sering caper dengan pura-pura baik dengan Gus dan Ning kecil. Tapi sayang semua yang dilakukan tidak di diterima oleh mereka." bisik Zahra.
"Siapa nama ustadzah itu?" tanya Aisyah penasaran.
"Nanti kamu juga akan tahu, pasti setelah ini akan dan pro dan kontra, tentang kedekatan Adiba dengan keluarga ndalem. Kita sebagai teman harus melindungi Adiba dari orang-orang yang ingin berbuat jahat." ucap Zahra menggebu.
Di tempat lain di kamar yang di khususkan untuk ustadzah. Ada satu ustadzah yang sangat kesal dengan perbincangan para santri dan santriwati tentang kedekatan Adiba dengan Gus Adnan.
"Aku tidak akan membiarkan Adiba dekat dengan calon suami aku, aku harus memperingatkannya, aku tidak membiarkan hidup kamu tenang setelah ini." Tersenyum licik.
***
Di rumah sakit, Gus Adnan sedang menyuapi Adiba makan dengan telaten. "Kapan aku pulang?"
"Nanti sayang, kamu masih belum sembuh total, dan lukanya juga belum kering, sabar ya." Gus Adnan mencium kening Adiba.
"Abi dan Umi akan datang siang nanti, karena Abi sedang mengadakan rapat dan live streaming kepada semua orang tua santri. Abi tidak ingin mereka mendengar dari orang lain, maka dari itu Abi dengan sigap mengadakan rapat, kamu tahu tidak ini usulan dari siapa?" Gus adnan meletakkan mangkuk bubur ke atas meja.
Adiba menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu mas, kamu tahu siapa yang mengusulkan itu?"
"Calon adik ipar kita nantinya," ucap Gus Adnan dan tersenyum licik.
"Siapa?"
"Dia adalah….
Bersambung
__ADS_1
Hello semua…. Silahkan like comment and vote dan beri rating 5 kakak ❤️🥰🥰
Salam kenal semua…